Makna Al-Ẓill dalam QS. Al-Furqān Ayat 45–46: Kajian Semantik dan Tafsir Ilmiah

Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat, bayangan pohon, bangunan, atau tubuh manusia tampak memanjang perlahan. Menjelang tengah hari, bayangan itu memendek, lalu kembali memanjang ketika matahari bergerak ke arah barat. Fenomena ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari sehingga sering kali luput dari perhatian. Padahal, di balik peristiwa yang tampak sederhana itu tersimpan keteraturan alam yang luar biasa.

Al-Qur’an justru mengajak manusia berhenti sejenak untuk mengamati fenomena tersebut. Dalam QS. Al-Furqān [25]:45–46, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang memanjangkan bayangan, menjadikan matahari sebagai penunjuknya, lalu menariknya kembali secara perlahan. Uraian ini bukan sekadar menjelaskan proses alam, tetapi juga mengarahkan manusia agar melihat keteraturan semesta sebagai tanda kebesaran dan kebijaksanaan Allah (Al-Razi, 1981: 88).

Bacaan Lainnya

Menariknya, pilihan kata yang digunakan Al-Qur’an sangat kaya makna. Istilah seperti madda (memanjangkan), al-ẓill (bayangan), dalīlan (penunjuk), dan qabḍan yasīrā (menarik perlahan) membentuk rangkaian makna yang menggambarkan perubahan bayangan secara bertahap dan teratur. Kajian semantik menunjukkan bahwa setiap diksi dipilih secara cermat sehingga tidak hanya menjelaskan fenomena fisik, tetapi juga mengandung pesan teologis yang mendalam (Raghib al-Aṣfahānī, 1412: 535–536).

Di sisi lain, sains modern menjelaskan bahwa perubahan panjang bayangan terjadi karena posisi Matahari terhadap Bumi dan perambatan cahaya yang merambat lurus sebagaimana dijelaskan dalam optik geometri. Menariknya, penjelasan ilmiah tersebut tidak bertentangan dengan gambaran Al-Qur’an, bahkan menunjukkan keselarasan antara wahyu dan hukum alam. Karena itu, mengkaji makna al-ẓill dalam QS. Al-Furqān ayat 45–46 menjadi penting, bukan hanya untuk memahami pesan kebahasaan Al-Qur’an, tetapi juga untuk melihat bagaimana ayat-ayat kauniyah dapat menjadi ruang dialog antara tafsir dan sains modern.

Analisis Semantik Kata Al-Ẓill dalam Surah Al-Furqān Ayat 45–46

Redaksi Q.S. al-Furqan: 45-46:

اَلَمْ تَرَ اِلٰى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّۚ وَلَوْ شَاۤءَ لَجَعَلَهٗ سَاكِنًاۚ ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيْلًا ۙ

Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu? Bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang? Sekiranya berkehendak, niscaya Dia menjadikannya (bayang-bayang itu) tetap. Kemudian, Kami jadikan matahari sebagai petunjuk tentangnya (bayang-bayang itu).

ثُمَّ قَبَضْنٰهُ اِلَيْنَا قَبْضًا يَّسِيْرًا

Kemudian, Kami menariknya (bayang-bayang itu) ke (arah yang) Kami (kehendaki) sedikit demi sedikit.

Kajian semantik terhadap QS. Al-Furqān ayat 45–46 menunjukkan adanya empat kata kunci yang saling berkaitan, yaitu madda, al-ẓill, dalīlan, dan qabaḍnāhu. Keempat diksi tersebut membentuk rangkaian makna yang utuh, dimulai dari proses memanjangnya bayangan, peran matahari sebagai penunjuk, hingga penyusutannya secara bertahap. Melalui pilihan kata yang sangat presisi, Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan sebuah fenomena alam, tetapi juga menghadirkan pesan tentang keteraturan ciptaan Allah yang berlangsung secara sistematis.

Kata madda berakar dari m-d-d, yang bermakna memanjangkan sesuatu secara bertahap dan tidak tiba-tiba (Al-Rāghib al-Aṣfahānī, 1412: 763). Ibn Manẓūr dalam kamus klasiknya menambahkan bahwa madd selalu mengandung unsur keberlangsungan waktu, baik dalam makna fisik maupun abstrak (Ibn Manẓūr, 1414: 396). Al-Zamakhsyari bahkan menyebut ungkapan madda aẓ-ẓill sebagai metafora gerak melalui pemanjangan, berlawanan dengan konsep diam total atau sākinan (Al-Zamakhsyari, 1987: 283).

Kata kedua, ẓill, berasal dari akar ẓ-l-l yang bermakna perlindungan dari sengatan matahari langsung. Ini berbeda dari ẓulmah atau kegelapan total (Ibn Manẓūr, 1414: 416). Al-Jurjānī menjelaskan ẓill sebagai kondisi pertengahan antara gelap gulita dan cahaya menyilaukan, sehingga menjadi keadaan paling nyaman bagi manusia (Al-Jurjānī, 1983: 186). Klasifikasi ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak asal menyebut “bayangan”, melainkan memilih istilah yang mengandung nuansa kenyamanan dan keseimbangan.

Selanjutnya, kata dalīlan berarti penunjuk atau petunjuk. Dalam ayat ini, matahari diposisikan sebagai dalīl indikator yang memungkinkan manusia memahami perubahan bayangan (Al-Suʿūd, 1998: 222). Tanpa cahaya matahari, bayangan tidak akan pernah bisa dikenali; keberadaan satu hal justru dipahami lewat kebalikannya (Al-Baghawī, 1417: 86).

Terakhir, kata qabaḍnāhu berasal dari akar q-b-ḍ, yang berarti menggenggam, menarik, atau menyusutkan sesuatu setelah sebelumnya memanjang. An-Najjar mencatat bahwa istilah ini menggambarkan proses penyusutan yang terkendali dan bertahap, berlawanan makna dengan madda (An-Najjar, 2010: 325). Susunan ini memperlihatkan pola yang sangat teratur: memanjang, lalu menyusut, terus berulang mengikuti pergerakan Matahari.

Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Optika

Yang membuat ayat ini istimewa adalah kesesuaiannya dengan prinsip optika geometris modern. Dalam ilmu fisika, bayangan terbentuk ketika benda buram menghalangi rambatan cahaya lurus, dan panjang-pendeknya bayangan ditentukan oleh sudut datang cahaya (Faridh Suni & Fathoni, 2016: 8). Semakin rendah posisi matahari di horizon, semakin panjang bayangan; semakin tinggi, semakin pendek. Sebuah hubungan berbanding terbalik yang bersifat sangat teratur.

Maurice Bucaille pernah menyoroti bahwa Al-Qur’an tidak mengikuti anggapan keliru di masa lampau bahwa bayangan adalah zat yang menempel pada benda. Sebaliknya, Al-Qur’an secara implisit menempatkan Matahari sebagai penentu arah, gerak, dan panjang bayangan (Bucaille, 1441: 221). Artinya, jauh sebelum ilmu optika modern berkembang, teks wahyu telah menggambarkan fenomena ini dengan akurasi yang konsisten dengan sains empiris.

Kalimat “wa lau syā’a la ja’alahu sākinā” dan jika Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikannya tetap juga menyimpan makna ilmiah menarik. Fakhr al-Dīn al-Razi menegaskan bahwa justru perubahan itulah yang membuktikan adanya sebab dan keteraturan, bukan kebetulan (Al-Razi, 1981: 89). Perubahan bayangan yang halus dan terus-menerus ini pun secara tidak langsung mengisyaratkan gerak rotasi Bumi, karena jika Bumi diam sempurna terhadap Matahari, bayangan tidak akan pernah berubah.

Titik Temu antara Wahyu dan Sains

Sepanjang sejarah, perubahan panjang bayangan telah dimanfaatkan manusia sebagai penunjuk waktu dari jam matahari kuno hingga penentuan waktu salat dalam tradisi Islam. Al-Bīrūnī, misalnya, mempelajari perilaku bayangan dan sudut matahari dengan ketelitian yang sejalan dengan astronomi modern (Al-Bīrūnī, 2002: 337). Fenomena istiwā’, saat Matahari tepat di titik kulminasi dan bayangan berada pada titik terpendek, menjadi rujukan penting dalam ilmu falak.

M. Quraish Shihab dalam tafsirnya menghubungkan variasi panjang bayangan dengan rotasi dan revolusi bumi terhadap matahari (Quraish Shihab, 1999: 489). Pemahaman ini menegaskan bahwa Al-Qur’an dan sains modern sesungguhnya sedang berbicara tentang fenomena alam yang sama, hanya dengan cara pandang dan tujuan yang berbeda.

Di sinilah letak keunikan pendekatan tafsir ‘ilmī: sains menjelaskan bagaimana hukum alam bekerja, sedangkan wahyu menjelaskan mengapa hukum itu ada dan siapa yang mengaturnya (Abdullah, 2006). Kuntowijoyo menyebut cara pandang ini sebagai upaya menyatukan wahyu dan akal manusia dalam bingkai “ilmu integralistik” (Kuntowijoyo, 2007). Bayangan, dengan demikian, bukan lagi sekadar objek fisika, melainkan juga jendela untuk merenungkan keteraturan ciptaan.

Catatan Akhir

Analisis semantik terhadap kata madda, ẓill, dalīlan, dan qabḍ dalam QS. Al-Furqān 45–46 menunjukkan bahwa Al-Qur’an menggambarkan bayangan sebagai proses yang teratur, terukur, dan penuh makna. Bukan kebetulan bila deskripsi ini pun selaras dengan prinsip-prinsip optika geometris yang dipelajari di bangku sekolah. Fenomena sesederhana bayangan yang memanjang di sore hari ternyata menyimpan dua lapis pemahaman: lapisan fisik yang bisa dijelaskan sains, dan lapisan makna yang mengajak manusia merenungkan kebesaran serta ketelitian pengaturan-Nya. Melalui ayat ini, Al-Qur’an mengingatkan bahwa mengamati alam bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga soal ketakjuban dan kesadaran akan keteraturan kosmis yang menaunginya.

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin. Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Al-Bīrūnī, Abū al-Raiḥān Muḥammad ibn Ahmad. Al-Qānūn Al-Mas’ūdī. Beirut: Dar Kutub Ilmiyah, 2002.

Al-Baghawī, Muḥyī al-Sunnah Abū Muḥammad al-Ḥusayn ibn Mas’ūd. Ma’ālim at-Tanzīl fī Tafsīr Al-Qur’ān. Dār Ṭayyibah li al-Nashr wa at-Tawzī’, 1417.

Al-Jurjānī, Alī Muḥammad. Al-Ta’rīfāt. Beirut: Dar al-Kutub al-’Alamiyyah, 1983.

Al-Rāghib al-Aṣfahānī. Mufradāt fī Gharīb Al-Qur’ān. Damaskus: Dar Qalam, 1412.

Al-Razi, Fakhr al-Dīn. Mafātīḥ Al-Ghayb. Jilid 24. Lebanon: Dār al-Fikr, 1981.

Al-Suʿūd, Abū. Irshād Al-’Aql Al-Salīm ilā Mazāyā Al-Kitāb Al-Karīm. Jilid 6. Beirut: Dār Iḥyāʾ al-Turāth al-’Arabī, 1998.

Al-Zamakhsyari. Al-Kasyāf. Jilid 3. Kairo: Dar ar-Rayan al-Turats, 1987.

An-Najjar, Zaghlur. Tafsīr Al-Āyāt Al-Kawniyyah fī Al-Qur’ān Al-Karīm. Jilid 2. Kairo: Maktabah al-Shurūq al-Dawlah, 2010.

Bucaille, Maurice. Al-Tawrāh wa Al-Injīl wa Al-Qur’ān Al-’Ilm. Beirut: Al-Maktabah al-’Ilmiyyah, 1441 H.

Faridh Suni, Alfa, dan Khoirudin Fathoni. “Klasifikasi Shadow Algorithm.” Jurnal Teknik Elektro 8, no. 2 (2016): 8–2.

Ibn Manẓūr. Lisān Al-’Arab. Beirut: Dār Ṣādir, 1414.

Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007.

Quraish Shihab, M. Tafsir Al-Misbah. Edisi ke-9, jilid 9. Jakarta: Lentera Hati, 1999.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *