Konsep Daya Tarik Dunia dalam Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Fenomena FOMO

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa manusia pada era keterhubungan digital yang tak terbayangkan sebelumnya. Di tengah kemajuan ini, muncul fenomena psikologis yang kini dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out), yakni kecemasan akan tertinggal dari pengalaman atau informasi yang dimiliki orang lain. Fenomena ini, meski terkesan modern, sesungguhnya memiliki akar yang dapat ditelusuri dalam konsepsi Al-Qur’an tentang daya tarik duniawi atau “zuyyina”. Di mana Al-Qur’an dengan kecermatan linguistik dan psikologisnya telah membahas bagaimana hal-hal duniawi “dihiasi” (zuyyina) bagi manusia.

Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 14, Allah Swt: “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan, berupa perempuan, anak-anak, harta benda bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.”

Bacaan Lainnya

Kata “zuyyina” (زُيِّنَ) berasal dari akar kata “zayn” (زين) yang secara semantik bermakna hiasan atau keindahan. Ibn Manzur dalam Lisān al-‘Arab (13: 201-202) mendefinisikannya sebagai lawan dari “syain” (شين) yang bermakna keburukan atau aib (Ibn Manzur, 1431 H: 201–202). Bentuk pasif ini juga menunjukkan bahwa proses penghiasan bukan pilihan aktif manusia, melainkan sesuatu yang terjadi pada mereka. Penggunaan bentuk pasif “zuyyina” menunjukkan bahwa proses “penghiasan” ini dapat terjadi baik oleh Allah sebagai ujian, setan sebagai godaan, maupun oleh kecenderungan jiwa manusia sendiri. Berdasarkan penelusuran dengan Mu’jam Mufahras li Alfāzh al-Qur’ān, kata “zuyyina” dan derivasinya muncul dalam berbagai konteks dalam Al-Qur’an (’Abd al-Baqi, 1996: 312).

Ibn ‘Ashur dalam Al-Taẖrīr wa al-Tanwīr menjelaskan bahwa “tazyīn” (penghiasan) merupakan proses menjadikan sesuatu tampak indah dengan menghilangkan atau menyembunyikan keburukan dan cacatnya (Ibn ʿĀshūr, 1984: 179–180). Proses ini menciptakan persepsi keindahan yang tidak selalu sesuai dengan realitas objektif – fenomena kognitif yang juga dikenal dalam psikologi modern sebagai bias persepsi. Sementara Al-Maraghi lebih jauh menjelaskan bahwa makna tazyīn ẖubb al-syahawāt (penghiasan kecintaan pada kesenangan) berarti bahwa kecintaan pada kesenangan tersebut dipandang baik oleh orang yang mengalaminya, tanpa melihat keburukan atau cacat di dalamnya (Al-Maraghi, 1365: hlm. 108). Ini menggambarkan kecenderungan psikologis di mana objek hasrat tampak sempurna di mata yang menginginkannya.

FOMO: Manifestasi Kontemporer dari Ketertarikan Duniawi

FOMO, didefinisikan oleh Przybylski dkk. sebagai “ketakutan pervasif bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman berharga yang tidak dimiliki seseorang, ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain”, merepresentasikan bentuk kecemasan sosial kontemporer yang diperkuat oleh perkembangan media sosial (Przybylski dkk., 2013: 1841).

Penelitian oleh Elhai dkk. menunjukkan bahwa FOMO memiliki dua komponen utama: aspek kognitif berupa kekhawatiran akan tertinggal dari pengalaman berharga, dan aspek perilaku berupa dorongan untuk terus terhubung dengan aktivitas sosial (Elhai dkk., 2020, hlm. 203–204). Kedua komponen ini mencerminkan mekanisme psikologis yang juga dapat diidentifikasi dalam konsep zuyyina.

Selain itu studi oleh Alutaybi dkk. dalam penelitiannya tentang desain media sosial dan FOMO mengidentifikasi bagaimana fitur-fitur seperti percakapan, pengelompokan, kehadiran, berbagi, dan impresi dapat memicu dan memperkuat FOMO (Alutaybi dkk., 2020, hlm. 2–3). Ini menunjukkan bagaimana struktur teknologi modern secara sengaja memanfaatkan kecenderungan psikologis yang telah lama ada dalam diri manusia.

Analisis Komparatif: Titik Temu Zuyyina dan FOMO

Meski terpisah oleh rentang waktu lima belas abad, zuyyina dan FOMO menunjukkan kesamaan mekanisme psikologis yang mendasar: (1) keduanya menggambarkan kecenderungan manusia untuk tertarik pada stimulasi eksternal yang dipersepsikan bernilai. Zuyyina menjelaskan bagaimana hal-hal duniawi tampak menarik bagi manusia, sementara FOMO berfokus pada kecemasan akan melewatkan pengalaman bernilai yang dimiliki orang lain.

(2) Dimensi sosial dan komparatif menjadi faktor penting dalam kedua fenomena. Al-Qur’an dalam Surah Al-Hadid: 20 menyebutkan tafākhur baynakum (berbangga-bangga di antara kamu) sebagai karakteristik kehidupan dunia, yang secara konseptual paralel dengan perbandingan sosial yang menjadi inti dari FOMO. (3) Kedua fenomena dapat mengalihkan perhatian dari tujuan jangka panjang yang lebih substansial. Al-Qur’an menggambarkan daya tarik duniawi sebagai mata’ al-ghurur (kesenangan yang menipu), sementara penelitian tentang FOMO menunjukkan hubungannya dengan distraksi dari tugas-tugas penting dan penurunan produktivitas.

Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar memberikan analisis psikologis yang mendalam tentang “zuyyina”. Dia menjelaskan bahwa seseorang yang mencintai sesuatu tanpa dihiasi (zuyyina) cenderung akan meninggalkannya suatu hari, sedangkan orang yang cintanya telah “dihiasi” hampir tidak mungkin melepaskannya (Rashid Rida, 1990: 296–297). Dinamika psikologis ini menunjukkan kesamaan yang mencolok dengan mekanisme kecanduan yang seringkali menyertai FOMO dalam konteks media sosial.

Perbedaan Fundamental dalam Perspektif dan Pendekatan

Meskipun memiliki kemiripan mekanisme, zuyyina dan FOMO berasal dari paradigma yang berbeda. Konsep zuyyina dibahas dalam kerangka normatif Al-Qur’an yang menekankan tujuan teleologis kehidupan dan pentingnya orientasi spiritual. Sementara itu, FOMO umumnya dikaji dalam kerangka psikologi empiris yang cenderung deskriptif tanpa dimensi normatif yang eksplisit. Hal ini dikarenakan cakupan objek zuyyina dalam Al-Qur’an juga lebih luas, meliputi spektrum dari kesenangan material hingga fenomena kosmik dan bahkan keimanan.

FOMO, sebaliknya, lebih sempit berfokus pada pengalaman sosial dan konten yang dibagikan melalui media digital. Sehingga, solusi yang ditawarkan untuk kedua fenomena ini juga berbeda. Al-Qur’an dan tradisi Islam menawarkan pendekatan spiritual dan etis untuk mengatasi daya tarik duniawi yang berlebihan. Sementara itu, pendekatan terhadap FOMO cenderung berfokus pada intervensi teknologi dan strategi regulasi psikologis tanpa dimensi spiritual yang eksplisit.

Implikasi Teoritis dan Praktis

Pemahaman tentang hubungan antara zuyyina dan FOMO membuka beberapa implikasi penting. Secara teoretis, ini menunjukkan kontinuitas pengalaman manusia sepanjang sejarah, dimana bentuk manifestasi mungkin berubah tetapi mekanisme psikologis dasarnya tetap konsisten. Kemudian secara praktis, pandangan Al-Qur’an tentang zuyyina dapat memperkaya pendekatan terhadap FOMO dengan menambahkan dimensi spiritual dan etis. Pemahaman bahwa daya tarik duniawi, termasuk pengalaman sosial digital, merupakan ujian yang bersifat sementara dapat membantu mengembangkan perspektif yang lebih seimbang terhadap media sosial.

Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulum al-Dīn menjelaskan tentang konflik internal antara al-bā’its al-dīnī (pendorong agama) dan al-bā’its al-hawā (pendorong hawa nafsu) yang menentukan respons manusia terhadap daya tarik duniawi (al-Ġazālī, t.t: 63–64). Kerangka ini dapat diaplikasikan untuk mengembangkan pendekatan yang lebih holistik terhadap FOMO, yang mengintegrasikan regulasi teknologi, intervensi psikologis, dan pengembangan spiritual.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftāh Dār al-Sa’ādah menawarkan perspektif yang mencerahkan tentang hikmah di balik penciptaan syahwat dan amarah dalam diri manusia. Ia menjelaskan bahwa keduanya berfungsi sebagai ujian dan sarana untuk mencapai derajat tertinggi atau jatuh ke tingkatan terendah (Ibn Qayyim al-Jawziyya, 1431, hlm. 297). Perspektif ini dapat memberikan dimensi makna yang lebih dalam pada fenomena FOMO, memandangnya bukan sekadar gangguan psikologis, melainkan tantangan spiritual yang perlu dihadapi dengan kesadaran dan kebijaksanaan.

Kesimpulan

Analisis komparatif antara konsep zuyyina dalam Al-Qur’an dan fenomena FOMO kontemporer menunjukkan adanya kontinuitas dalam pengalaman manusia terkait daya tarik hal-hal eksternal dan kecemasan akan kehilangan. Pemahaman tentang keterkaitan ini dapat memperkaya diskusi tentang FOMO dan mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif untuk mengatasinya.

Pada akhirnya, baik zuyyina maupun FOMO mengingatkan kita pada kebenaran fundamental tentang kondisi manusia: kecenderungan alami untuk tertarik pada stimulasi eksternal dan kekhawatiran akan kehilangan. Perspektif Al-Qur’an menawarkan wawasan berharga bahwa kecenderungan ini merupakan bagian dari ujian kehidupan, dan respons yang tepat terhadapnya dapat menentukan perkembangan spiritual dan psikologis kita.

Dalam era digital yang penuh dengan stimulus dan informasi berlimpah, perspektif Al-Qur’an tentang daya tarik duniawi dapat menjadi landasan filosofis yang kokoh untuk mengembangkan hubungan yang lebih seimbang dan bijaksana dengan teknologi dan media sosial.

Referensi

’Abd al-Baqi, M. F. (1996). Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim. Dar al-Hadith,.
al-Ġazālī, A. Ḥāmid. (t.t.). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Vol. 4). Dār al-Ma‘rifah.
Al-Maraghi, A. bin M. (1365). Al-Tafsir al-Maraghi (Vol. 3). Mustafa al-Babi al-Halabi & Sons, Mustafa al-Babi al-Halabi & Sons,.
Alutaybi, A., Al-Thani, D., McAlaney, J., & Ali, R. (2020). Combating Fear of Missing Out (FoMO) on Social Media: The FoMO-R Method. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(17), Article 17. https://doi.org/10.3390/ijerph17176128
Elhai, J. D., Yang, H., & Montag, C. (2020). Fear of missing out (FOMO): Overview, theoretical underpinnings, and literature review on relations with severity of negative affectivity and problematic technology use. Brazilian Journal of Psychiatry, 43(2), 203–209. https://doi.org/10.1590/1516-4446-2020-0870
Ibn Manzur. (1431). Lisan al-‘Arab (3 ed., Vol. 13). Dar Sadir.
Ibn Qayyim al-Jawziyya, S. al-D. M. ibn A. B. ibn A. ibn S. (1431). Miftāḥ Dār al-Sa‘ādah wa Manshūr Wilāyat al-‘Ilm wa al-Irādah. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibn ʿĀshūr, M. al-Ṭāhir. (1984). Al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (Vol. 3). Dār al-Tūnisiyya li al-Nashr.
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
Rashid Rida, M. (1990). Tafsir Al-Qur’an Al-Hakim (Tafsir Al-Manar) (Vol. 3). Al-Hay’ah Al-Misriyyah Al-‘Ammah Lil-Kitab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *