Sekilas Biografi Schleiermacher
Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, seorang tokoh yang lahir pada tanggal 21 November 1768 di Breslau, Silesia (kini termasuk wilayah Polandia), memiliki latar belakang sosio-kultural dalam lingkungan keluarga Protestan. Pembekalan awal intelektual dan spritualnya dipengaruhi secara signifikan oleh didikan yang diterima dari kedua orang tuanya. Mengingat potensi retorika dan kemampuan oratorialnya yang menonjol, Schleiermacher kemudia melanjutkan pendidikan formalnya di sebuah seminari di Barby/Elbe. (Shafwatul Bary,2020:52)
Di lingkungan inilah Schleiermacher terpapar pada spektrum literatur ilmiah dan filosofis, termasuk karya-karya fiksi sekuler seperti roman-roman Goethe, yang kemudian memicu kontemplasi mendalam mengenai jalur karirnya di masa depan, antara mempertahankan profesi sebagai pengkhotbah atau beralih menuju orientasi keilmuan. Pada akhirnya, Schleiermacher memutuskan untuk menempuh studi multidisipliner dalam bidang filsafat, teologi, dan filologi di Universitas Halle, di mana ia pertama kali bersentuhan dengan pemikiran filsafat kritis Immanuel Kant. (F. Budi Hardiman, 2015: 27)
Ketika menetap di Berlin, Schleiermacher tidak hanya aktif dalam dunia teologi, tetapi juga masuk ke dalam lingkungan intelektual yang berhaluan Romantik. Ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh seperti keluarga von Humboldt, Rahel Varnhagen, dan Dorothea Veit. Yang paling berpengaruh di antaranya adalah Friedrich Schlegel, seorang filsuf Romantik yang mendorong Schleiermacher untuk menerjemahkan karya-karya Plato. Dari sinilah ketertarikannya terhadap hermeneutika mulai berkembang, seiring dengan pengaruh kuat dari gerakan Romantisisme. (F. Budi Hardiman, 2015: 28)
Berbeda dari tokoh seperti Kant yang memahami agama hanya sebatas moralitas, atau Hegel yang mereduksinya menjadi rasionalitas, Schleiermacher menawarkan pendekatan yang lebih emosional dan eksistensial. Menurutnya, inti dari agama adalah perasaan terdalam akan ketergantungan total manusia kepada keseluruhan realitas semesta. Iman, dalam pandangannya, merupakan pengalaman langsung yang penuh kesadaran dan rasa, bukan sekadar doktrin atau sistem. Bahkan, simbol-simbol dan ritus keagamaan dilihat sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan religius tersebut, bukan sekadar formalitas. (F. Budi Hardiman, 2015: 29)
Kendati reputasinya lebih dominan dalam teologi dan retorika, kontribusi Schleiermacher terhadap hermeneutika merupakan elemen krusial dalam perkembangan intelektualnya. Selama periode pengajarannya di Universitas Halle (1805-1834), ia mengemukakan bahwa pemahaman ujaran, baik lisan maupun tulisan, memerlukan analisis terhadap dua aspek esensial: ekspresi linguistik dalam sistem bahasa dan konteks biografis serta kondisi mental penutur.
Konsep hermeneutika Schleiermacher ini secara umum menghadapi respon kritis, terutama penolakan dari sarjana studi Islam di Institut Timur semisal al-Azhar. Mereka yang menganggapnya sebagai konsep yang asing yang tidak sesuai dengan tradisi intelektual Islam (diwakili oleh Muhammad Imarah). Sebaliknya, hermeneutika mendapatkan penerimaan bersyarat dalam kajian tafsir al-Qur’an, dengan penekanan pada pertimbangan metodologis yang cermat dalam implementasinya sebagai alat interpretasi seperti pandangan M. Quraish Shihab. Alif Jabal Kurdi, 2022. (Alif Jabal Khurdi. 2022.)
Hermeneutika Schleiermacher
Bagi Schleieimacher, ada dua tugas pokok hermeneutika apabila seseorang ingin memahami secara mendalam apa yang sedang dibacanya yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Ilmu tentang teks atau bahasa itu sendiri adalah salah satu syarat utama berpikir setiap orang ketika mencoba berinteraksi dengan teks yang sedang dibaca, sedangkan aspek psikologinya memungkinkan seseorang memahami kepribadian penulis, sehingga proses memahaminya benar-benar utuh demi meminimalisir kesalahpahaman.
Teori hermeneutika Schleiermacher mendasarkan pemahaman pada dua pendekatan elementer: gramatikal, yang berfokus pada sistem bahasa, dan psikologis, yang menggali konteks personal penulis. Interaksi dinamis antara bahasa dan ekspresi individual ditekankan. Schleiermacher berargumen bahwa pemahaman yang utuh memerlukan pertimbangan yang seimbang terhadap kedua aspek ini, tanpa adanya hierarki.
Schleiermacher menekankan perbedaan antara pikiran internal dan ekspresi verbal. Pemahaman ujaran memerlukan analisis unsur kebahasaan yang tampak dan kondisi batin pembicara saat ujaran itu muncul. Memahami makna berarti tidak hanya membaca kata, tetapi juga menelusuri maksud dan konteks batin penutur.
Oleh karena itu, pemahaman teks dalam hermeneutika Schleiermacher merupakan sinstesis tak terpisahkan antara pendekatan gramatikal (struktur bahasa) dan psikologis (konteks internal penutur). Penyelaman latar belakang dan maksud penutur (psikologis) berpadu dengan interpretasi objektif struktur kebahasaan (gramatikal). Kesatuan integral kedua aspek ini menopang proses pemahaman yang komprehensif dan bertanggung jawab. (Abdullah, 2023: 4)
Konsep hermeneutika Schleirmacher ini secara umum menghadapi respon kritis, terutama penolakan dari sarjana studi Islam di Institut Timur semisal al-Azhar. Mereka yang menganggapnya sebagai konsep yang asing yang tidak sesuai dengan tradisi intelektual Islam (diwakili oleh Muhammad Imarah). Sebaliknya, hermeneutika mendapatkan penerimaan bersyarat dalam kajian tafsir al-Qur’an, dengan penekanan pada pertimbangan metodologis yang cermat dalam implementasinya sebagai alat interpretasi seperti pandangan M. Quraish Shihab. (AJ Kurdi, 2022)
Relevansi Hermeneutika Schleiermacher dalam Diskursus Ilmu Tafsir Al-Qur’an
Berawal dari definisinya terkait hermeneutika, yaitu cara memahami bahasa orang lain atau maksud orang lain khususnya bahasa tulisan, kuncinya berada pada kata memahami. Sedangkan dalam Islam, istilah yang paling dekat dengan hermeneutika adalah istilah tafsir itu sendiri. Para ulama dalam menjelaskan makna dari tafsir itu dari segi etimologi berkisar pada penjelasan atau pengungkapan makna dari sebuah ayat. Shalah Abdul Fatah Al-Khalidi dalam kitabnya yang berjudul Al-Tafsir Wa At-Ta’wil fi Al-Qur’an, bahwa makna asal tafsir adalah berusaha menjelaskan dan menyingkap. Seiring perkembangannya kata tafsir secara teknis digunakan dalam pengertian exegesis di kalangan Umat Islam dalam memahami ayat Al-Qur’an.(Abdul Rohman, 2022: 144)
Kedua, pendekatan hermeneutika gramatikal menitik beratkan pada pencapaian makna objektif dari suatu teks yang ditafsirkan. Dalam pandangan ini, aspek kebahasaan menjadi komponen sentral untuk mengungkap makna yang tersembunyi di balik struktur teks. Tradisi keilmuan Islam sendiri telah memberikan perhatian serius terhadap unsur bahasa dalam praktik penafsiran.
Hal ini terlihat, misalnya, dalam pandangan As-Suyuthi yang menempatkan penguasaan ilmu bahasa (lughah) sebagai syarat utama bagi siapa pun yang hendak menafsirkan Al-Qur’an. Bahkan wajib bagi peneliti Al-Qur’an untuk untuk mengetahui ilmu kebahasaan seperti kata benda, kata kerja, huruf (nahwu sharaf). (As-Suyuthi, 2, 2021:9). Jika dilihat secara seksama, ilmu ini ada keterkaitan dengan teori yang diusung oleh Schleiermacher yang mengusung kajian bahasa yang didasarkan pada bahasa asal dimana si pengarang hidup dan menuliskan teksnya. Sehingga disiniah teori gramatikal Schleiermacher mendapatkan korelasinya dengan ilmu tafsi Al-Qur’an.
Ketiga, berkaitan dengan hermeneutika psikologis, dimana seorang harus mengetahui kondisi kejiwaan pengarang teks dan sesuatu yang berkaitan dengan kehidupannya. Apabila teori hermeneutika psikologis ini diterapkan dalam dunia Islam maka hal tersebut tidak dapat terjadi bahkan tidak ditemukan celah sedikitpun untuk mengkaji itu semua karena Pengarang teks Al-Qur’an adalah Allah dan tidak mungkin seseorang mampu menyelami psikologi Allah dalam mencari makna Al-Qur’an itu sendiri.
Meskipun demikian, Sahiron Syamsuddin menekankan bahwa inti dari hermeneutika psikologis terletak pada kemampuan penafsir dalam memahami dorongan atau motif yang melatarbelakangi lahirnya sebuah pernyataan dalam teks. Dalam khazanah keilmuan Islam, pendekatan semacam ini dapat diwujudkan dengan menelaah konteks historis turunnya ayat, yang dikenal dengan istilah asbab an-nuzul, baik dalam skala mikro (peristiwa individual) maupun makro (kondisi sosial dan budaya secara umum).(Sahiron Syamsuddin, 2017: 74)
Signifikansi asbab an-nuzul interpretasi Al-Qur’an ditekankan ulama klasik karena merupakan jalan menuju pemahaman yang lebih kaya. Subhi as-Shalih berargumen bahwa mengungkapkan konteks turunnya Al-Qur’an dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas dan bernilai, seperti keindahan sastra yang menyentuh tujuan agama. Asbab an-nuzul menyajikan kisah nyata yang membuat ayat Al-Qur’an tetap menarik dan terasa personal bagi pembaca lintas zaman dan ruang.(Subhi as-Shalih, 2020: 170)
Catatan Akhir
Hermeneutika Schleiermacher menawarkan dua pendekatan, pendekatan gramatikal dan psikologis yang secara metodologis membuka ruang dialog dengan Ilmu Al-Qur’an. Pendekatan gramatikalnya relevan karena sejalan dengan tradisi tafsir yang menekankan pentingnya penguasaan bahasa Arab dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, pendekatan psikologis yang berusaha menyelami kejiwaan penulis menjadi problematis dalam konteks Al-Qur’an karena Allah sebagai Pembicara (Mutakallim) tidak dapat dijangkau oleh metode tersebut. Meski demikian, nilai-nilai metodologisnya dapat diadaptasi secara hati-hati melalui pendekatan historis seperti asbab an-nuzul. Oleh karena itu, hermeneutika Schleiermacher hanya dapat diintegrasikan secara terbatas dalam studi tafsir, dengan catatan tetap menjaga integritas epistemologi wahyu dalam Islam.
Referensi
Abdullah, et al. Kitab Suci sebagai Kitab Sejarah. Jakarta Selatan: PTIQ Press, 2023.
As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman. Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. Terj. Muhammad Halabi (Yogyakarta: Diva Press.).
Bary, Zakirman Shafwatul. “Hermeneutika Friedrich D.E. Schleiermacher sebagai Metode Tafsir Al-Qur’an (Kajian Ayat Ikhlas; Jilbab; Sayyarah; dan al-Huda).” Journal of Qur’an and Hadisth Studies 9 (2020): 52.
Hardiman, F. Budi. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: PT Kanisius, 2015.
Kurdi, Alif Jabal. “Polemik Penerimaan Hermeneutika Barat Pada Kesarjanaan Timur (Review Artikel Sahiron Syamsuddin).” StudiTafsir.com. Diakses 7 Mei 2025. https://studitafsir.com/2022/06/16/polemik-penerimaan-hermeneutika-barat-pada-kesarjanaan-timur-review-artikel-sahiron-syamsuddin/.





