Kemenangan Kebenaran: Membaca Kisah Terbelahnya Laut Lewat Demitologisasi Bultmann

Salah satu kisah dalam Al-Qur’an yang menarik untuk direfleksikan lebih dalam adalah kisah terbelahnya laut merah oleh Nabi Musa. Kisah ini selalu menjadi andalan para pendakwah untuk menjelaskan kuasa Tuhan dan mukjizat Nabi Musa. Namun dalam konteks dunia modern, kita tentu tak ingin agar kisah terbelahnya laut tersebut hanya berhenti sebagai legenda atau kejadian yang menakjubkan. Lebih dari itu, kita menginginkan agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya terus relevan. Demitologisasi, sebagaimana yang dirumuskan Rudolf Bultmann, akan membantu kita memahami dan menarik pesan dari kisah itu.

 

Bacaan Lainnya

Kisah Terbelahnya Laut Merah

Peristiwa terbelahnya laut merah ditayangkan secara jelas oleh Allah dalam surah al-Baqarah (2): 50. Allah berfirman:

وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

“(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa salah satu di antara tujuan Tuhan menghadirkan kisah terbelahnya laut itu ialah untuk melembutkan hati kaum beriman dan menghinakan musuh-musuh-Nya (Tafsir Ibnu Katsir: 2000, h. 129). Oleh surah asy-Syu’ara (26): 61-62 kejadian getir ini ditayangkan begitu apik. Yakni ketika Fir’aun dan para pasukannya telah amat dekat, para pengikut Nabi Musa mulai ditimpa perasaan takut yang berlipat. Mereka hampir putus asa dan mengira bahwa mereka akan ditangkap. Namun Nabi Musa berusaha menenangkan dan berkata, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Dari situlah pertolongan Tuhan kemudian turun dan menyelamatkan Nabi Musa beserta pengikutnya. Demikian al-Baghawi menjelaskan (Tafsir al-Baghawi: 1988, h. 90).

Fakhruddin al-Razi dalam Mafatihul Ghaib memiliki penjelasan menarik soal kisah ini. Baginya ada beberapa hikmah di balik penenggelaman Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Pertama, memberikan mereka kelegaan. Bahwa pertolongan Allah hadir di saat yang tepat, yakni saat mereka dilanda ketakutan yang kuat. Kedua, dengan ditenggelamkannya Fir’aun dan tentaranya, ketakutan yang ada di hati kaum Nabi Musa menjadi sirna. Karena sosok yang mereka takuti telah hancur dan binasa. Seandainya, kata al-Razi, Tuhan menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya, tapi Fir’aun dan kroni-kroninya masih tetap hidup, maka ketakutan akan terus menghantui. Ketiga, menghilangkan syubhat dan keraguan mereka terhadap kebenaran ajaran Nabi Musa. Keempat, keyakinan mereka terhadap Nabi Musa makin bertambah dan membuat para pengikut Fir’aun mendustakan ajaran Fir’aun. Kelima, segala sesuatu berada dalam genggaman Tuhan. Fir’aun yang dulunya begitu dimuliakan dan kaum Nabi Musa yang dulunya begitu sengsara, maka tidak sulit bagi Allah membalikkan keadaan. Yakni menghinakan Fir’aun dan memuliakan pengikut Nabi Musa dengan kuasa-Nya.

Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar juga memberikan penjelasan menarik tentang ayat ini. Sebagai seorang pembaharu dan pemikir Islam yang mengunggulkan rasio, Abduh mengatakan bahwa sebagai orang beriman kita mesti mempercayai mukjizat yang diberikan pada Nabi Musa tersebut. Hal itu menurutnya tidak bertentangan dengan keyakinan kita bahwa Islam agama yang selaras dengan akal. Sebab hal-hal atau kejadian-kejadian luar biasa masih dapat diterima oleh akal, khususnya karena tak ada yang mustahil dengan kekuasaan Allah. Namun Abduh memberi catatan menarik. Setelah berakhirnya masa kenabian, maka berakhir pula masa mukjizat. Bagi orang yang lahir setelahnya cerita mengenai mukjizat tidak menarik lagi dan memerintahkan kepada manusia untuk lebih menggunakan akalnya dalam meraih kebenaran-kebenaran ajaran Tuhan (Tafsir al-Manar, h. 259). Ia menulis:

“Akan tetapi Allah membimbing mereka dengan wahyu terakhir (Al-Qur’an) untuk mendayagunakan akalnya dalam meraih iman kepada Allah. Kemudian Dia menjadikan setiap petunjuk wahyu menjadi jelas, disertai kebenaran dan argumen bukti, bahkan dalam masalah seperti adab (sebagaimana dijelaskan dalam Risalah al-Tauhid).”

Dari penafsiran Abduh ini jelas bahwa mukjizat ini adalah bagian dari cara Tuhan untuk meyakinkan manusia saat itu. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan akal manusia, Tuhan tidak lagi memakai cara-cara serupa. Karena Dia ingin agar kebenaran ajarannya dijamah dengan akal. Makanya kemudian ayat-ayat Al-Qur’an hadir retorika yang menarik dan disertai argumen-argumen yang kokoh. Demikian itu tak lain agar manusia senantiasa berpikir. Sementara muridnya Rasyid Ridha menambahkan, bahwa mukjizat hakikatnya bukanlah sesuatu yang diingkari oleh akal. Karena, menurutnya, mustahil seorang Nabi dianugerahi sesuatu yang tidak masuk akal. Mustahil adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Makanya, dalam catatannya, ahli kalam menyebut mukjizat sebagai khawariq al-’adah (sesuatu yang di luar kebiasaan).

Kejadian-kejadian seperti mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa dan nabi-nabi lainnya, menurut Ridha, seakan ingin memberi satu pesan pada umat manusia bahwa Allah sengaja membuat kejadian-kejadian seperti itu karena ingin menunjukkan bahwa aturan-aturan dan sunnah-sunnah yang berlaku di alam raya adalah milik-Nya dan Dia tidak tunduk pada itu. Melainkan sunnatullah-sunnatullah itulah yang tunduk dalam aturan main-Nya (Tafsir al-Manar, h. 259).

Demitologisasi Rudolf Bultmann

Teori demitologisasi Bultmann memiliki akar yang kuat dari pemikiran Martin Heidegger tentang ontologi. Awalnya ia hanya diterapkan pada kitab Perjanjian Baru dan mengembang pada kitab-kitab sakral lainnya seperti Al-Qur’an. Secara sederhana demitologisasi Bultmann adalah: “Metode interpretasi atas Perjanjian Baru ini yang mencoba menemukan kembali makna yang lebih dalam di balik konsepsi-konsepsi mitologis, saya sebut de-mitologisasi – tentu, sebuah kata yang tidak memadai. Tujuannya bukanlah untuk menyingkirkan pernyataan-pernyataan mitologis, namun untuk menafsirkan pernyataan-pernyataan itu. Demitologisasi merupakan sebuah metode hermeneutik.” (Seni Memahami: 2015, h. 144)  Jadi posisinya jelas dan tidak seperti yang diduga oleh beberapa kalangan. Pemikiran Bultmann tentang demitologisasi, khususnya ketika diterapkan pada kisah-kisah al-Qur’an, tidak menolak faktualitas dari kisah-kisah itu, melainkan ingin menarik pesan yang signifikan dan relevan darinya.

Franky Budi Hardiman menjelaskan bahwa terdapat dua pokok yang mesti dipahami oleh orang-orang terkait demitologisasi Bultmann. Pertama, ia bukanlah ajaran melainkan metode hermeneutik atau perangkat untuk menafsirkan hal-hal di balik mitos. Kedua, tidak bertujuan untuk menghilangkan mitos, melainkan ingin memahaminya (2015, h. 144). Dan menurut Hardiman, inilah yang khas dan merupakan sumbangan utama dari Bultmann. Yakni memahami tidak hanya dibataskan sebagai metode ilmiah, melainkan juga sebagai demitologisasi (upaya memahami mitos dengan mengambil makna yang signifikan darinya) atau yang dalam bahasa Bultmann disebut kerygma atau pesan inti.

Latar belakang yang menggerakkan Bultmann untuk mengemukakan teori ini ialah karena mitos-mitos yang ada pada Perjanjian Baru ditayangkan dengan bahasa-bahasa yang mungkin sulit dipahami manusia modern yang hidup dalam cakrawala berpikir yang serba ilmiah dan cenderung positivistik. Oleh karena itu ia berusaha menyelamatkan mitos-mitos itu dengan memeras pesan inti di dalamnya agar dapat dipahami, disampaikan dan karena itu diamalkan oleh manusia modern. Sebab, jelas Hardiman, makna eksistensial yang terkandung dalam mitos-mitos itu tidak hadir dengan utuh. Untuk mengatasi kesenjangan itu, maka demitologisasi berusaha menafsirkan makna-makna teks itu sehingga tersingkap makna eksistensialnya. (2015, h. 145)

Terbelahnya Laut Merah dalam Perspektif Bultmann

Tatkala coba menerapkan demitologisasi Bultmann pada kisah-kisah dalam al-Qur’an, maka permasalahan yang akan dihadapi apakah kisah-kisah masuk dalam kategori mitos yang dipahami oleh Bultmann? Jika melihat definisi yang disampaikan mitos-mitos adalah sesuatu yang mengangkat kejadian-kejadian supranatural, maka beberapa kisah dalam al-Qur’an, termasuk kisah terbelahnya laut merah oleh Nabi Musa dapat dikategorikan sebagai “mitos”. Karena ia menggambarkan suatu proses penundukan alam oleh kekuatan supranatural. Pertanyaannya kemudian, pesan (kerygma) apa yang bisa diambil dari kisah terbelahnya laut tersebut?

Hal pertama yang mesti dilakukan ialah dengan memahami kisah-kisah itu dalam lensa simbolik dan metaforis. Yakni kita ingin menangkap beberapa simbol dalam kisah ini dan mengalihkan maknanya dari yang literal kepada metaforis agar pesannya tersampaikan dan dapat dipahami dalam konteks dunia modern hari ini. Dari kisah terbelahnya laut, selamatnya kaum Nabi Musa dan binasanya Fir’aun dan tentaranya, dapat diambil beberapa pesan berikut:

Pertama, sebagaimana digambarkan dalam surah asy-Syu’ara: 61-62, pengikut Nabi Musa sempat dilanda keputusasaan dan ketakutan yang besar. Hal ini terlihat ketika mereka mulai pesimis dan meyakini bahwa tentara Fir’aun akan menangkap mereka. Namun dengan ketenangan dan keyakinan penuh, Nabi Musa mengatakan bahwa “Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.” Kondisi terjepit dan terhimpit seperti ini sering dialami oleh manusia. Yakni merasa semuanya buntu dan tidak ada jalan keluar. Namun sebagai kaum beriman, kita mesti yakin bahwa pertolongan Allah akan selalu tiba pada saat yang tepat dan dibutuhkan.

Kedua, kemenangan kebenaran. Selamatnya kaum Nabi Musa dan hancurnya Fir’aun dan tentara-tentaranya melambangkan kemenangan kebenaran atas kejahatan. Kehidupan di dunia selalu berputar di dua karakter tersebut, kebenaran dan kejahatan. Bahkan dalam catatan Ali Shari’ati hal ini merupakan kutukan antropologis manusia, yakni dengan Qabil dan Habil sebagai simbolnya. Kisah keduanya akan terus jadi simbol pertarungan dua kubu dalam sejarah yang tidak akan pernah ada habisnya (On Sociology of Islam: 1979, h. 98). Dalam keadaan tertentu, mereka yang memperjuangkan kebenaran sering dihadapkan pada ketakutan dan keputusasaan. Karena power dari kejahatan sangat besar dan berlipat. Namun sebagaimana digariskan al-Qur’an, kebenaran pasti akan selalu menemukan jalannya.

Demikianlah kerygma atau pesan inti yang dapat ditarik kisah terbelahnya laut dan selamatnya kaum Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Pelajaran atau pesan lain yang juga relevan dengan kehidupan modern mungkin banyak dan tergantung pada pengalaman dan pembacaan masing-masing penafsir. Namun dua makna di atas setidaknya menjadi gambaran besar dan umum tentang pelajaran apa yang bisa dipetik dan diyakini dalam kehidupan modern.

 

Referensi 

Abduh, Muhammad & Muhammad Rasyid Ridha. Tafsir al-Manar. Jilid I. Beirut: Darul Kutub al-’Ilmiyyah, t.t.

al-Baghawi. Tafsir al-Baghawi. Riyadh: Dar Thayyibah, 1988.

Hardiman, F. Budi. Seni Memahami. Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Katsir, Ibnu. Tafsir al-Qur’an al-’Adzim.  Jilid I. Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2000.

al-Razi, Fakhruddin. Tafsir al-Kabir: Mafatih al-Ghaib. Jilid I. Kairo: Dar al-Hadis, 2012.

Shariati, Ali. On Sociology of Islam. United States of America: Mizan Press, 1979.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *