Namanya tidak pernah disebut eksplisit dalam Al-Qur’an. Tapi jejak kakinya, dalam bentuk ritual sa’i yang diulang jutaan jemaah haji setiap tahun, menjadikannya salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah spiritual manusia. Siapa sebenarnya Hagar (Hajar) dan mengapa Al-Qur’an dan Alkitab menceritakannya dengan begitu berbeda?
Setiap musim haji, jutaan Muslim dari seluruh dunia berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah. Sedikit yang benar-benar merenungkan bahwa ritual itu adalah reka ulang dari kepanikan seorang ibu muda yang ditinggal sendirian di padang pasir bersama bayinya yang menangis kehausan. Ibu itu bernama Hagar dalam tradisi Islam disebut Siti Hajar.
Menariknya, kisah yang sama tokoh yang sama, lokasi yang mirip muncul juga dalam Alkitab (Afsar, 2007). Namun cara kedua kitab suci ini memperlakukan Hagar sangat jauh berbeda. Di satu sisi ia digambarkan sebagai budak yang terusir; di sisi lain ia dihormati sebagai istri sah Nabi Ibrahim dan ibu dari seorang nabi besar. Perbedaan inilah yang coba ditelusuri secara mendalam dalam kajian ini, dengan merujuk pada teks-teks suci dan para mufasir klasik seperti Ath-Thabari (2009), Ar-Razi (t.t.), dan Ibnu Katsir (2000).
Siapa Hagar Sebenarnya?
Dalam catatan Alkitab, Hagar adalah budak perempuan asal Mesir yang diberikan Sarah kepada Ibrahim karena Sarah lama tidak memiliki keturunan (Frymer-Kensky, 2002). Kisahnya tercatat cukup rinci, tersebar di Kejadian 16, 21, dan 25, juga disinggung di sejumlah ayat lain seperti Galatia 4:25-26 dan Mazmur 83:6 (Lembaga Alkitab Indonesia, 2021; Viviano, 2002).
Sebaliknya, tradisi Islam menegaskan Hagar bukanlah budak, melainkan seorang perempuan yang dinikahi Ibrahim secara sah (Ibnu Katsir, 2000). Perbedaan status ini bukan sekadar detail kecil ia menentukan bagaimana masing-masing tradisi memandang martabat dan peran Hagar selanjutnya (Poorthuis, 2013).
Hal yang menarik, meski Al-Qur’an tidak pernah menyebut nama Hagar secara langsung (Qaththan, 2014), ia justru menjadi ibu dari garis kenabian yang berlanjut hingga Nabi Muhammad, melalui putranya, Ismail. Tidak banyak perempuan yang namanya “tersembunyi” namun jejaknya melahirkan sebuah ritual ibadah yang tetap hidup hingga hari ini.
Ditinggal di Tengah Padang Tandus
Dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37, terekam doa Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Hagar dan bayi Ismail di lembah tandus yang kelak menjadi Makkah. Ar-Razi (t.t.) dalam tafsirnya menggambarkan ada percakapan singkat antara Hagar dan Ibrahim sebelum kepergiannya. Hagar bertanya, kepada siapa mereka akan berserah jika ditinggalkan di tempat tanpa air dan tumbuhan itu? Ibrahim menjawab singkat: berserahlah kepada Allah.
Jawaban itu menjadi fondasi dari apa yang terjadi selanjutnya. Ketika air habis dan Ismail kecil menangis kehausan, Hagar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah mencari pertolongan sebuah perjuangan yang oleh Ath-Thabari (2009) dicatat berakhir dengan munculnya mata air Zamzam dari bawah kaki Ismail, sumber air yang menurut riwayat tidak pernah kering hingga sekarang.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad bersabda mendoakan keselamatan bagi Hagar, menyebutnya “Ibu Ismail” yang seandainya membiarkan air Zamzam mengalir tanpa dibendung, airnya akan terus memancar (Ibnu Katsir, 2000).
Sementara itu, kitab Kejadian mencatat versi berbeda. Hagar diusir Sarah, bukan sekali, tetapi dua kali pertama saat mengandung, kedua saat Ishak baru disapih. Ia menangis di padang gurun sambil meletakkan Ismail di semak-semak, hingga seorang malaikat Tuhan menampakkan diri dan menunjukkan sebuah sumur. Dalam momen itulah Hagar menyebut nama yang menjadi salah satu julukan Tuhan paling personal dalam tradisi Yahudi: El-Roi, “Tuhan yang Melihat” (Lembaga Alkitab Indonesia, 2021; Frymer-Kensky, 2002).
Titik Temu di Tengah Perbedaan
Meski jalan ceritanya berbeda, ada satu benang merah yang menyatukan kedua tradisi yaitu keduanya sepakat bahwa Tuhan hadir bagi Hagar justru di titik paling putus asa dalam hidupnya. Air yang muncul dari tanah baik disebut Zamzam maupun sumur di padang Bersyeba menjadi simbol pertolongan ilahi yang datang tanpa diminta secara eksplisit, hanya lewat doa dan pasrah (Michel, 2005).
Kedua tradisi juga sama-sama menjanjikan masa depan besar bagi keturunan Hagar. Dalam Islam, garis keturunan itu berujung pada kenabian Muhammad. Dalam Alkitab, Ismail dijanjikan menjadi bapak bangsa yang besar (Lembaga Alkitab Indonesia, 2021).
Perbedaannya justru terletak pada bagaimana derajat Hagar dimaknai. Dalam tafsir seperti Al-Kabir karya Ar-Razi (t.t.), perjuangan Hagar di padang pasir dibaca sebagai puncak tawakkal penyerahan diri total kepada Allah. Ibnu Katsir (2000) bahkan menyebut usaha Hagar berlari-lari antara dua bukit sebagai pelajaran penting tentang menyeimbangkan ikhtiar manusia dengan ketergantungan penuh kepada Tuhan.
Sebaliknya, dalam banyak pembacaan Alkitab, penderitaan Hagar lebih sering dibingkai sebagai akibat konflik rumah tangga kecemburuan Sarah terhadap kehadiran anak dari perempuan lain sebelum kelahiran Ishak. Sebagian penafsir bahkan memaklumi sikap Sarah dengan alasan Hagar dianggap tidak menghormati posisinya sebagai istri sah (Viviano, 2002).
Lebih dari Sekadar Ibu yang Tersisih
Persoalan yang menjadikan Hagar begitu istimewa dalam kajian teologis lintas iman bukan hanya karena ia dimuliakan atau dimarjinalkan, tetapi karena ia mengalami keduanya sekaligus dan tetap bertahan.
Dalam tradisi Islam, ketabahannya diabadikan menjadi bagian wajib dari rukun haji siapa pun yang berhaji, tanpa memandang status sosial, harus mengulang langkah kaki seorang perempuan yang dulu berjuang sendirian demi anaknya. Tidak banyak figur perempuan yang jejaknya menjelma menjadi syariat yang dijalankan miliaran umat sepanjang sejarah.
Dalam tradisi Yahudi-Kristen, kisah Hagar sering dibaca ulang oleh para teolog kontemporer sebagai representasi perempuan-perempuan yang terpinggirkan namun tetap didengar oleh Tuhan (Kartzow, 2016). Sejumlah pengkaji feminis bahkan menempatkan pertemuan Hagar dengan malaikat sebagai salah satu momen paling awal dalam Kitab Suci di mana Tuhan berbicara langsung kepada seorang perempuan (Frymer-Kensky, 2002).
Hagar sebagai Jembatan Dialog Antar-Iman
Di sinilah letak relevansi terbesar kajian tentang Hagar hari ini. Dalam dunia yang makin terpolarisasi oleh sentimen keagamaan, kisah Hagar justru menawarkan sesuatu yang jarang: sebuah figur yang dihormati meski dengan penekanan berbeda oleh tiga agama besar sekaligus, Yahudi, Kristen, dan Islam.
Sejumlah sarjana perbandingan agama menyebut penderitaan, doa, dan pertolongan Tuhan yang dialami Hagar sebagai nilai universal yang melampaui sekat teologis (Michel, 2005; Poorthuis, 2013). Ia bukan hanya milik satu tradisi. Ia adalah simpul yang menyatukan ketiganya kembali kepada satu leluhur yaitu Ibrahim.
Dengan demikian, mengangkat kembali kisah Hagar bukan sekadar proyek akademik, melainkan juga ajakan reflektif bahwa hubungan Abrahamik tidak hanya dibangun di atas garis keturunan biologis, tetapi juga ikatan iman dan pengalaman eksistensial yang bersifat universal rasa sakit, harapan, dan kasih sayang Tuhan yang tidak pandang bulu (Andani, 2020).
Satu Perempuan, Dua Wajah Sejarah
Alkitab mencatat Hagar dan Ismail diusir dari rumah Ibrahim, mengembara ke padang belantara (Lembaga Alkitab Indonesia, 2021). Al-Qur’an menuturkan versi berbeda Ibrahim sendiri yang membawa keduanya ke lembah suci yang kelak dikenal sebagai Makkah (Ath-Thabari, 2009). Satu kisah, dua arah yang bertolak belakang namun keduanya berujung pada hal yang sama: kehadiran Tuhan bagi seorang perempuan yang nyaris kehilangan segalanya.
Barangkali di situlah pelajaran terbesar dari kisah Hagar bahwa perjuangan seorang ibu, sekecil apa pun ia tampak di mata sejarah, bisa menjelma menjadi warisan spiritual yang menghidupi generasi demi generasi setelahnya.
Daftar Pustaka
Afsar, Ayaz. “A Comparative Study of the Intended Sacrifice of Isaac/Ishmael in the Bible and the Qur’an.” Islamic Studies 46, no. 4 (2007): 483–98.
Al-Razi, Fakhruddin. Tafsir Al-Kabir Mafatih Al-Ghaib. Beirut: Dar Al Kutub Al-Ilmiah, t.t.
Andani, Khalil. Interreligious Dialogue in Light of Abrahamic Kinship: Hagar’s Legacy. Leiden: The Muslim World, 2020.
Frymer-Kensky, Tikva. Reading the Women of the Bible. New York: Schocken Books, 2002.
Katsir, Ibnu. Tafsir Al-Qur’anil ‘Adzhim. Kairo: Al-Faruq al-Hadisiyah li at-Thaba’ah wa Nashr, 2000.
Kartzow, Marianne Bjelland. “Reproductive Salvation and Slavery: Reading 1 Timothy 2:15 with Hagar and Mary.” Neotestamentica 50, no. 1 (2016): 89–104.
Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab. Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia, 2021.
Michel, Thomas. “Hagar: Mother of Faith in the Compassionate God.” Islam and Christian-Muslim Relations 16, no. 2 (2005): 99–104.
Poorthuis, Marcel. “Hagar’s Wanderings: Between Judaism and Islam.” Islam – Zeitschrift für Geschichte und Kultur des Islamischen Orients 90, no. 2 (2013): 220–44.
Qaththan, Manna. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014.
Thabari, Abu Ja’far Muhammad Jarir Ath-. Tafsir Al-Qur’an At-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam, 2009.
Viviano, Pauline A. “Kejadian.” Dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, disunting oleh Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Yogyakarta: Kanisius, 2002.





