Pembahasan mengenai sisi feminin dalam spiritualitas Islam menghadirkan sudut pandang yang segar untuk dikaji, terutama jika dikaji melalui lensa mistisisme Islam yang menjadikan cinta dan kelembutan sebagai jalan utama menuju Tuhan. Dalam karya My Soul is a Woman, Annemarie Schimmel menelusuri bagaimana unsur feminin seperti kasih sayang, rahmah, dan keindahan bukan sekadar karakteristik perempuan, tetapi juga mencerminkan sifat-sifat Tuhan itu sendiri.
Gagasan ini muncul dari kegelisahan terhadap kurangnya perhatian terhadap perempuan sebagai simbol spiritual dalam Islam, khususnya dalam dunia tasawuf. Penelitian ini ingin mematahkan pandangan lama yang mengurung perempuan dalam ruang domestik, dengan menunjukkan bahwa perempuan punya posisi penting dan bermakna dalam ranah spiritual.
Feminin sebagai Refleksi Sifat Ilahi dalam Spiritualitas Islam
Dimensi feminin dalam spiritualitas Islam merupakan salah satu wacana yang menawarkan perspektif baru dalam memahami relasi antara Tuhan dan manusia. Pendekatan ini, terutama dalam tradisi mistisisme Islam atau tasawuf, menekankan cinta, keindahan, dan kelembutan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Tuhan (Schimmel, 1997: 26). Annemarie Schimmel, seorang cendekiawan Muslimah Barat, menjadi salah satu tokoh penting dalam menggali tema ini secara mendalam.
Dalam bukunya My Soul is a Woman, Schimmel mengangkat perempuan sebagai simbol rahmat Ilahi, berangkat dari akar kata rahmah dan rahim, yang secara linguistik dan maknawi menunjuk pada kasih sayang dan rahim ibu. Ini menegaskan bahwa sifat feminin tidak hanya melekat pada perempuan secara biologis, tetapi juga sebagai kualitas ilahiah yang melampaui gender (Schimmel, 1997: 26).
Simbolisme Perempuan dalam Tradisi Sufi dan Sastra Klasik
Tradisi Sufisme secara konsisten menggambarkan perempuan dalam posisi yang melampaui ranah sosial atau domestik. Tokoh-tokoh sufi seperti Rabi’ah al-Adawiyah bahkan menjadi representasi utama cinta murni kepada Tuhan, bebas dari motif pahala atau takut akan hukuman (Smith, 1928: 18). Kisah Rabi’ah menjadi pengingat akan pentingnya nilai cinta dalam Islam yang tidak bersyarat.
Dalam sastra Arab dan Persia klasik, perempuan sering digambarkan sebagai kekasih ideal. Representasi ini tidak hanya menampilkan keindahan fisik, tetapi juga makna metaforis terhadap kecantikan spiritual. Nizar Qabbani, penyair Arab kontemporer, menjadikan perempuan sebagai pusat dari pengalaman emosional dan cinta suci (Hayati, 2022: 64).
Dalam konteks ini, peran perempuan sebagai simbol keindahan spiritual menemukan bentuknya dalam kisah Laila dan Majnun. Laila bukan sekadar objek cinta, melainkan lambang dari Tuhan yang menjadi tujuan cinta Majnun. Cinta Majnun kepada Laila merepresentasikan kerinduan seorang hamba kepada Sang Khalik (Nizami Ganjavi, 1950: 6).
Sufi besar seperti Jalaluddin Rumi menyatakan bahwa keindahan perempuan adalah cahaya Tuhan. Dalam puisinya, Rumi menulis bahwa perempuan adalah cerminan dari aspek keindahan Tuhan (jamal) yang menyentuh jiwa pencarinya (Schimmel, 1978: 94). Ini menunjukkan bahwa spiritualitas perempuan adalah jembatan menuju pengenalan terhadap Tuhan. Tokoh lain yang mengangkat kedudukan perempuan secara spiritual adalah Ibn ‘Arabi. Dalam Futuhat al-Makkiyah, ia menggambarkan bahwa perempuan adalah cerminan paling sempurna dari Tuhan. Dualitas feminin-maskulin dalam Tuhan menjadi dasar teologis bahwa perempuan adalah wujud penerimaan ilahi (Ibn ‘Arabi, 1968: 367).
Lebih jauh, dalam Tarjuman al-Ashwaq, Ibn ‘Arabi mengungkap cintanya kepada seorang perempuan bernama Nizam sebagai ekspresi dari cinta metafisis terhadap Tuhan. Di sini, perempuan berfungsi bukan sebagai figur biologis, tetapi sebagai entitas spiritual yang memungkinkan pengenalan akan Tuhan (Schimmel, 1997: 25). Dimensi spiritual perempuan juga dipertegas dalam kisah Sheikh San’an. Seorang sufi besar yang jatuh cinta kepada perempuan Kristen bernama Helena, San’an digambarkan rela meninggalkan norma sosial demi mengejar cinta yang ia yakini sebagai manifestasi dari rahmat Tuhan (Schimmel, 1975: 135).
Tubuh, Cinta, dan Keindahan: Medium Spiritualitas dalam Pengalaman Mistis
Selain cinta transendental, pengalaman perempuan di sekitar Ka’bah juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Dalam ritual tawaf, perempuan mengalami transformasi jiwa yang memperdalam relasi dengan Tuhan. Ka’bah menjadi simbol feminin—pusat kehidupan spiritual yang menyatukan aspek ilahiah dan kemanusiaan (Nasr, 2004: 136). Sementara itu, pemikiran Yaqub Sarfi menawarkan pendekatan yang tidak biasa, yakni pengalaman mistik melalui hubungan fisik. Ia menilai bahwa tubuh perempuan adalah medium spiritual yang memungkinkan manusia merasakan sentuhan rahmat Tuhan melalui cinta dan keintiman (Schimmel, 2000: 121).
Kasani, teolog sufi lainnya, juga menekankan bahwa perempuan adalah sumber rahmat yang memperkenalkan manusia pada cinta Tuhan. Dalam pandangannya, perempuan adalah penjaga nilai kasih sayang yang mengalir langsung dari Tuhan ke dunia manusia (Schimmel, 1975: 145). Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa dunia ini dihiasi oleh perempuan dan wewangian, tetapi penyejuk hati beliau adalah salat. Ini menunjukkan bahwa perempuan adalah bagian dari keindahan dunia yang ditujukan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan, bukan untuk dijadikan subordinat (Schimmel, 1997: 26).
Pemikiran ini juga dikuatkan oleh Ibn ‘Arabi, yang melihat cinta Nabi terhadap perempuan sebagai penghormatan terhadap sifat Tuhan yang feminin seperti kasih sayang dan kelembutan. Cinta menjadi sarana untuk memahami Tuhan lebih dalam, bukan hanya sebagai emosi duniawi (Ibn ‘Arabi, 1968: 210).Rumi menambahkan bahwa perempuan adalah cahaya Tuhan yang menyinari dunia. Perempuan bukan hanya inspirasi, tetapi juga pembimbing dalam pencarian spiritual. Dalam puisinya, perempuan diibaratkan seperti bintang yang menuntun pelaut menuju cahaya hakiki (Schimmel, 1978: 112).
Dalam konsepsi sufistik tentang Jalal (keagungan) dan Jamal (keindahan), perempuan lebih dekat pada Jamal. Kelembutan, kasih, dan cinta yang ada pada perempuan merepresentasikan rahmat Tuhan. Sedangkan laki-laki yang mengandung Jalal, mewakili ketegasan dan kekuatan (Schimmel, 2000: 68). Perempuan tidak hanya menjadi penyeimbang dunia laki-laki, tetapi juga menjadi pembawa cinta dan kedamaian yang menyatukan dimensi spiritual dan fisik. Dalam kerangka ini, perempuan tidak lagi menjadi simbol subordinasi, tetapi sebagai entitas spiritual yang utuh dan kuat (Schimmel, 2000: 75).
Penutup
Keseluruhan kajian ini menunjukkan bahwa perempuan dalam mistisisme Islam bukanlah sekadar pelengkap atau komplementer, melainkan manifestasi dari sifat-sifat Tuhan. Cinta, keindahan, dan rahmat yang melekat pada perempuan menjadi jalan spiritual yang mengantar manusia kepada Tuhan. Pemikiran Annemarie Schimmel dan para sufi besar membuka ruang baru dalam pemahaman teologis tentang perempuan. Dengan menempatkan perempuan sebagai bagian dari citra Ilahi, maka kita bukan hanya merevisi peran perempuan dalam Islam, tetapi juga meneguhkan bahwa pengalaman spiritual bersifat universal, melampaui batasan biologis dan sosial. Dengan demikian, spiritualitas Islam yang sejati tidak hanya berbicara tentang laki-laki, tetapi juga tentang perempuan sebagai kekasih Tuhan, cahaya Ilahi, dan penjaga rahmat-Nya di bumi.
Refrensi
Hayati, Dewi Lutfiyana, “Sosok Perempuan Dalam Puisi “Asyhadu An Lâ Imra’an Illâ Anti” Karya Nizar Qabbani(Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure)”, Tsaqofiya : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab Vol. 4 No.1 Januari 2022.
Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyah, Beirut: Dar Sadir, 1968.
Nizami Ganjavi. Layla and Majnun. Translated by A. J. Arberry. 1950.
Schimmel , Annimarie, The Triumphal Sun: A Study of the Works of Jalaluddin Rumi, Leiden: E.J. Brill, 1978
Schimmel ,Annimarie, Islamic Mystical Poetry, Chapel Hill: The University of North Carolina Press, 2000.
Schimmel, Annemarie, The Mystical Dimensions of Islam. University of North Carolina Press, 1975.
Schimmel, Annimarie, My Soul is a Woman: The Feminine in Islam, New York: Continuum, 1997.
Smith, Rabi‘a the Mystic and Her Fellow Saints in Islam, Cambridge: Cambridge University Press, 1928





