Eksplorasi Hermeneutika Bultmann: Menelusuri Implikasi Konsep Pemahaman Teks dalam Tafsir

Setiap pembaca teks suci dihadapkan pada sebuah tantangan fundamental: bagaimana teks yang berasal dari masa lalu dapat “berbicara” dengan cara yang relevan dengan dunia kontemporer? Pemahaman dapat menjadi bias karena perbedaan antara dunia kuno yang prailmiah dengan dunia modern yang rasional-saintifik.

Narasi supranatural atau kosmologi kuno sering kali dianggap tidak bermakna bagi pembaca terpelajar modern (Hidayah, 2022). Problem ini tidak hanya terjadi dalam tradisi Yudeo-Kristen, tetapi juga dalam kajian Islam. Tantangan ini mendorong perkembangan dalam metodologi tafsir modern-kontemporer. Para pemikir muslim berharap Al-Qur’an dapat menjawab tantangan zaman yang sedemikian baru. Penafsiran yang kontekstual serta penggunaan instrumen sains dan filsafat diperlukan dalam upaya ini (Muallifah & Samosir, 2022, hlm. 304).

Bacaan Lainnya

Rudolf Bultmann, seorang teolog Jerman yang hidup pada tahun 1884 hingga 1976, adalah salah satu tokoh yang paling ekstrem dan berpengaruh dalam menanggapi krisis ini. Dua ide utamanya: Entmythologisierung (demitologisasi) dan Existenzielle Begegnung (perjumpaan eksistensial), serta bagaimana pengaruh metodologisnya pada perdebatan tentang wacana pembaruan metodologi tafsir Al-Qur’an menjadi topik utama pada artikel ini.


Membedah Demitologisasi Bultmann

Konsep demitologisasi—yang berarti eliminasi atau pembuangan mitos—adalah konsep Bultmann yang paling terkenal, tetapi sering disalahpahami. Bultmann mengkritik pendekatan liberal yang menurutnya terlalu reduksionis, yang sekadar membuang lapisan mitos untuk menyisakan ajaran etisnya saja (Siahaan, 2023, hlm. 98).

Menurut Bultmann, demitologisasi adalah operasi eksegesis-apologetika yang kuat dan bertujuan untuk membebaskan pesan inti (kerygma) dari selubung mitologis yang menyelimutinya daripada membuangnya. Tujuannya adalah untuk mengungkap kebenaran lebih dalam yang tersembunyi di balik bahasa mitos.

Mitos—dalam terminologi Bultmann—bukanlah kebohongan, ia adalah pandangan dunia masyarakat prailmiah. Mitos adalah kerangka kosmologi tiga tingkat—surga di atas, neraka di bawah, dan dunia di tengah—yang digunakan untuk mengkomunikasikan pemahaman manusia tentang eksistensinya, bukan untuk memberikan gambaran objektif tentang dunia (Ulfiyati, 2020, hlm. 31–32). Dia percaya bahwa manusia zaman sekarang yang lebih terbiasa berpikir secara saintifik tidak lagi dapat menerima kerangka ini.

Basis Filosofis: Perjumpaan Eksistensial

Jika demitologisasi adalah apa yang harus dilakukan, maka perjumpaan eksistensial adalah bagaimana melakukannya. Bultmann sangat dipengaruhi oleh Martin Heidegger, kolega filsufnya di Marburg. Ia berusaha untuk menggantikan struktur teologi tradisional Heidegger dengan filosofi eksistensial (Hardiman, 2025, hlm. 134).

Mitos pada dasarnya adalah ekspresi dari pemahaman yang dimiliki manusia tentang dirinya sendiri di dunia tempat ia hidup dan harus ditafsirkan secara antropologis atau eksistensial daripada secara kosmologis, yang merupakan sains yang gagal. Konsep Vorverständnis (prapemahaman) sangat penting di sini.

Bultmann menganggap penafsiran teks sebagai proses tidak bias. Seorang ekseget harus datang kepada teks dengan kepedulian eksistensial. Seperti yang dikembangkan lebih lanjut oleh Hans-Georg Gadamer yang menegaskan bahwa penafsir selalu membawa horizon pengalaman, sejarah, dan budaya (Hardiman, 2025, hlm. 163).

Sehingga iman, menurut Bultmann, tidak didefinisikan sebagai penerimaan tanpa maksud dan tujuan dari bukti kuno. Iman adalah tindakan kehendak yang vital dan tegas yang muncul dari persetujuan eksistensial dengan pesan inti teks.

Gema Bultmann dalam Diskursus Tafsir Modern

Dunia tafsir Al-Qur’an terpengaruh oleh pemikiran Bultmann. Selain itu, para pemikir muslim modern menemukan perbedaan antara apa yang ditulis pada abad ke-7 dan apa yang terjadi pada abad ke-21. Terkadang, metode tafsir tradisional—seperti talīli (analitis) atau ijmāli (global)—dianggap parsial. Mereka dianggap tidak cukup untuk menjawab problem kemanusiaan kontemporer secara menyeluruh.

Karena kebutuhan ini, tafsir modern-kontemporer menekankan pentingnya pendekatan kontekstual. Pergeseran ini membutuhkan pembacaan interdisipliner yang memanfaatkan pendekatan sosiologi, antropologi, dan filsafat. Mengaktualisasikan ideal moral ayat atau semangat Al-Qur’an adalah tujuan dari pendekatan baru ini (Muallifah & Samosir, 2022, hlm. 304). Pencarian ideal moral ini sangat mirip dengan upaya Bultmann untuk menemukan kerygma di balik cangkang mitos (versi literal-historis).

Implikasi Metodologis: Tiga Kesenjangan dalam Tafsir

Terdapat kemungkinan bahwa gagasan Bultmann tentang pemisahan “inti” (pesan eksistensial) dari “cangkang” (bentuk mitologis) memiliki konsekuensi, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada usaha tiga pemikir muslim modern yang signifikan.

Pertama, Fazlur Raḥmān (1919–1988) dan “Double Movement” (gerakan ganda). Raḥmān menawarkan pendekatan dua langkah untuk menafsirkan Al-Qur’an dalam bukunya, Islam and Modernity. Pertama, teks ditafsirkan dalam konteks sosio-historis tertentu saat diturunkan. Yang kedua adalah menemukan ideal moral atau prinsip umum dari hukum tertentu tersebut (Raḥmān, 1982, hlm. 5–6).

Konsep universal inilah yang kemudian diterapkan dalam konteks kontemporer, yang merupakan “demitologisasi” terhadap karakteristik historis. Raḥmān membedakan inti dari “pesan moral universal” dengan “konteks sosio-historis Arab abad ke-7.”

Kedua, Naṣr Ḥāmid Abū Zaid (1943–2010) dan “Na (teks) sebagai Produk Budaya.” Abū Zaid berpendapat bahwa Al-Qur’an sebagai teks harus dipahami dalam konteks bahasa dan budaya Arab saat ia lahir. Ia menerapkan hermeneutika humanistik dan alat analisis wacana modern (Kusmana, 2012, hlm. 280).

Dalam Naqd al-Khiāb al-Dīni (kritik wacana agama), Abū Zaid berpendapat bahwa meskipun wahyu adalah pesan dari Tuhan, ia “membumi” menjadi teks manusiawi yang terikat struktur budaya. Sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan yang halus bahwa ia berusaha untuk menerapkan konsep demitologisasi status ontologis teks (Abū Zaid, 2024, hlm. 78).

Ketiga, Muhammad Arkoun (1928–2010) dan “Dekonstruksi Ortodoksi” mencoba memisahkan “pesan” (yang ilahi dan dinamis) dari “teks” (yang dibekukan oleh wacana ortodoksi). Arkoun mencari “l’impensé” (yang tak terpikirkan) dalam tradisi Islam dan mencari gagasan humanis yang telah termarginalkan oleh nalar ortodoks (Arkoun, 1991, hlm. 25–26). Arkoun mencoba membedakan “pesan” yang humanis dan membebaskan dari “cangkang”, yaitu keseluruhan bangunan turā atau warisan intelektual, yang dia anggap membatasi pesan tersebut.

Antara Batas dan Peluang: Demitologisasi dalam Islam

Tentu saja, terdapat garis batas teologis yang jelas ketika hermeneutika Bultmann diterapkan dalam konteks Islam. Perbedaan fundamental terletak pada status ontologis teks. Dalam teologi liberal Bultmann, Alkitab adalah catatan manusia tentang peristiwa wahyu (Yesus). Sementara Al-Qur’an dianggap sebagai wahyu itu sendiri dalam teologi Islam.

Sebuah penelitian yang membandingkan Muhammad ‘Abduh dengan Bultmann menemukan bahwa meskipun sangat rasional, ‘Abduh tidak dapat melangkah sejauh Bultmann. Ia dibatasi oleh kerangka teologi Kalām dan sifat teks Al-Qur’an itu sendiri. Menerapkan demitologisasi Bultmann pada Al-Qur’an secara penuh akan menjadi kesalahan kategori (Abu Shareea, 2019, hlm. 54).

Walaupun demikian, masih ada peluang untuk adaptasi metodologis. Sebagai contoh, sebuah penelitian menunjukkan bahwa demitologisasi Bultmann dapat membantu dalam memahami dinamika psikologis dan sosiologis yang terkandung dalam cerita. Menariknya, dalam penelitian tersebut, istilah dhemitologi Bultmann digunakan untuk tujuan yang berlawanan (Saefullah dkk., 2023, hlm. 189–190).

Tujuan proyek ini adalah untuk membuktikan bahwa ritual Islam—seperti wudu—yang mungkin dianggap sebagai mitos oleh sebagian orang, sebenarnya adalah rasional dan ilmiah. Ini adalah kontras ironis, karena rasionalisme digunakan Bultmann untuk membedah mitos, sementara di sini digunakan untuk memvalidasi ritual.

Penutup: Tujuan Tafsir dari Relevansi Eksistensial

Pada akhirnya, kontribusi terbesar Bultmann tidak terletak pada solusi khusus yang ia tawarkan, tetapi pada pertanyaan penting yang diajukan: “Bagaimana teks kuno ini dapat bermakna secara eksistensial bagi saya, di sini, dan saat ini?” Gagasannya mendorong pergeseran fokus dari eksegesis (penggalian makna literal masa lalu) menuju hermeneutika.

Semangat para pemikir muslim modern serupa dengan semangat Bultmann untuk membuat Injil relevan bagi manusia zaman sekarang.  Baik Bultmann maupun pemikir muslim seperti Fazlur Raḥmān, semuanya didorong oleh kebutuhan agar teks suci tidak menjadi monumen mati, melainkan menjadi petunjuk yang hidup dan relevan.

Referensi

Abu Shareea, M. (2019). On the Edge of Bultmann’s Demythologisation: Muḥammad ‘Abduh’s Hermeneutical Avicennism on the Qur’an as a Source of Scientific Knowledge. Australian Journal of Islamic Studies, 4(1), 54–71. https://doi.org/10.55831/ajis.v4i1.83

Abū Zaid, N. Ḥāmid. (2024). Naqd al-Khiāb al-Dīni. Mu’assasah Hindawi.

Arkoun, M. (1991). Min al-Ijtihād ilā Naqd al-`Aql al-Islāmi (1 ed.). Dar al-Saqi.

Hardiman, F. B. (2025). Seni Memahami (13 ed.). PT. Kanisius.

Hidayah, M. R. (2022, Januari 31). Rudolf Bultman dan Demitologisasi Sebagai Jalan Pemahaman Rasional Masyarakat Modern. https://ibihtafsir.id/2022/01/31/rudolf-bultmann-dan-demitologisasi-sebagai-jalan-pemahaman-rasional-masyarakat-modern/

Kusmana, K. (2012). Hermeneutika Humanistik Nasr Hamid Abu Zayd: Al-Qur’an sebagai Wacana. Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism, 2(2), 265. https://doi.org/10.20871/kpjipm.v2i2.33

Muallifah, & Samosir, K. (2022). Metodologi Tafsir Modern-Kontemporer di Indonesia. Al-Furqan, 5(2), 302–314.

Raḥmān, F. (1982). Islam & Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (8. impr). Univ. of Chicago Press.

Saefullah, M., Lailiyah, S., & Imron, A. (2023). Penerapan Hermeneutik Dhemitologi Rudolf Bultmann pada Ranah Pendidikan Agama Islam. Paramurobi: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 6(2), 183–197. https://doi.org/10.32699/paramurobi.v6i2.6078

Siahaan, T. (2023). Teologi Modern Rudolf Bultmann; Eskatologi dan Demitologisasi. Matheteuo: Religious Studies, 3(2), 95–106. https://doi.org/10.52960/m.v3i2.259

Ulfiyati, N. S. (2020). Pemikiran Hermeneutika Rudolf Bultmann; Eksistensialisasi dan Demitologisasi. Atthiflah: Journal of Early Childhood Islamic Education, 7(1), 29–35.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *