Ada satu pertanyaan dari almarhum Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, M.A., dalam perkuliahan di Universitas PTIQ Jakarta yang hingga kini tetap terngiang dalam ingatan penulis: apakah di akhirat nanti manusia akan berada di langit atau di bumi yang sama dengan bumi yang sedang kita injak saat ini? Pertanyaan tersebut beliau kaitkan dengan firman Allah, “Dari bumi Kami menciptakan kamu, ke dalamnya Kami mengembalikan kamu, dan darinya Kami mengeluarkan kamu sekali lagi” (QS. Tâhâ/20: 55). Dari pertanyaan itulah tulisan ini berangkat.
Sepeninggal beliau, pertanyaan tersebut terasa semakin bermakna karena pertanyaan seorang guru dapat terus hidup dalam pikiran muridnya. Dari sanalah penulis terdorong membaca kembali sejumlah ayat Al-Qur’an tentang Adam, bumi, kematian, dan kebangkitan. Apakah benar perjalanan manusia dapat digambarkan secara sederhana sebagai perjalanan dari langit ke bumi, lalu kembali lagi ke langit?
Pertanyaan itu membawa kita kepada kisah Adam dan Hawa yang sangat akrab dalam imajinasi keagamaan. Salah satu kisah populer menyebutkan bahwa Adam diturunkan di India atau Sri Lanka, sedangkan Hawa di Jeddah. Keduanya kemudian saling mencari hingga bertemu dan saling mengenali di sekitar Arafah. Riwayat semacam ini memang tercatat dalam literatur Islam, tetapi bukan keterangan eksplisit Al-Qur’an (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2012: 40-41).
Al-Qur’an tidak menyebut India, Jeddah, ataupun Arafah dalam kisah Adam. Detail semacam itu berkembang dalam literatur tafsir dan sejarah. Karena itu, penting membedakan antara informasi yang dinyatakan Al-Qur’an dan narasi tambahan yang tumbuh dalam tradisi. Kritik terhadap Isrâ’îliyyât diperlukan agar kisah Adam tidak dibangun di atas detail yang dasar periwayatannya masih dipersoalkan (Frianda, 2022: 82-86).
Dari sini persoalannya menjadi lebih mendasar. Benarkah manusia pada dasarnya merupakan makhluk langit yang kemudian ditempatkan di bumi akibat kesalahan Adam? Ataukah Al-Qur’an justru menempatkan bumi sebagai bagian dari rencana keberadaan manusia sejak awal?
Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’” (QS. al-Baqarah/2: 30).
Hal yang menarik dari ayat ini adalah bumi telah disebut sebelum Adam diciptakan dan sebelum kisah pelanggaran di al-jannah. Al-Tabari menjelaskan bahwa Allah memberitahukan kepada para malaikat tentang makhluk yang akan menjadi khalifah di bumi dan silih berganti menghuninya (al-Tabari, 2001: 449-451). Dengan demikian, bumi bukan sekadar tempat yang muncul setelah terjadinya pelanggaran Adam.
Frasa fî al-ardh dalam ayat tersebut juga menarik untuk diperhatikan. Abdul Mustaqim menjelaskan bahwa penggunaan kata fî pada frasa fî al-ardh mengisyaratkan bahwa manusia merupakan bagian dari bumi, bukan entitas yang sepenuhnya terpisah darinya (Mustaqim, 2024: 37). Relasi manusia dengan bumi karena itu bukan hanya hubungan penghuni dengan tempat tinggal, tetapi menunjukkan keterikatan manusia dengan lingkungan tempat ia hidup dan menjalankan amanah kekhalifahan.
Pembacaan ini semakin menegaskan bahwa keberadaan manusia di bumi tidak harus dipahami semata-mata sebagai hukuman akibat kesalahan primordial. Bumi telah disebut sebagai ruang kekhalifahan sebelum pelanggaran Adam terjadi. Kehidupan manusia di bumi dengan demikian dapat dipahami sebagai bagian dari tujuan penciptaannya sejak awal.
Lalu bagaimana dengan al-jannah yang ditempati Adam? Mayoritas mufasir memahaminya sebagai surga. Ibn Katsir, misalnya, menguatkan pandangan bahwa al-jannah tersebut adalah surga yang sebenarnya, bukan sekadar taman duniawi (Ibn Katsir, 2000: 220-223). Pandangan ini memiliki akar yang kuat dalam tradisi tafsir dan tidak semestinya diabaikan.
Namun, sejarah tafsir juga mengenal pembacaan lain. Muhammad Abduh dan Rashid Rida memberi ruang bagi pembacaan yang tidak serta-merta mengidentifikasi al-jannah Adam dengan surga akhirat (Abduh dan Rida, 1947: 307-309). Secara bahasa, jannah juga dapat berarti taman atau kebun yang rimbun. Ibn Manzur menghubungkan kata tersebut dengan sesuatu yang tertutup, terutama karena rimbunnya pepohonan (Ibn Manzur, 1994, Jil. XIII: 100).
Al-Qur’an sendiri menggunakan kata jannah untuk kebun duniawi, misalnya dalam QS. al-Kahfi/18: 32. Fakta kebahasaan tersebut tentu tidak cukup untuk membuktikan bahwa al-jannah Adam pasti berada di bumi. Ia hanya menunjukkan bahwa pembacaan alternatif mempunyai kemungkinan secara bahasa dan dapat didiskusikan tanpa harus meniadakan pandangan mayoritas.
Hal serupa berlaku pada kata ihbithû. Dalam kisah Adam, kata ini lazim diterjemahkan “turunlah kalian”. Namun, kata habatha tidak selalu menunjukkan perpindahan vertikal dari langit menuju bumi. Dalam QS. al-Baqarah/2: 61, misalnya, terdapat ungkapan ihbithû mishran yang menunjukkan perpindahan menuju suatu negeri.
Karena itu, ihbithû memiliki ruang makna yang lebih luas daripada sekadar “turun dari langit”. Kajian kontemporer juga membuka kemungkinan membacanya sebagai perpindahan keadaan atau fase kehidupan menuju pelaksanaan amanah manusia di bumi (Amin, Fathurrosyid, dan Nadhiroh, 2025: 268-269). Kemungkinan ini tidak membatalkan tafsir mayoritas, tetapi menunjukkan bahwa bahasa Al-Qur’an menyediakan ruang bagi pembacaan yang lebih luas.
Hubungan manusia dengan bumi dinyatakan lebih tegas dalam QS. Tâhâ/20: 55:
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى
“Dari bumi Kami menciptakan kamu, ke dalamnya Kami mengembalikan kamu, dan darinya Kami mengeluarkan kamu sekali lagi.”
Ayat ini menggambarkan tiga tahap perjalanan jasmani manusia. Manusia diciptakan dari bumi, dikembalikan ke bumi setelah kematian, kemudian dikeluarkan kembali darinya pada hari kebangkitan. M. Quraish Shihab menjelaskan hubungan antara asal manusia dari tanah, kematian, dan kebangkitan sebagai bagian dari tanda kekuasaan Allah (Shihab, 1996: 90-91). Bumi dengan demikian terus hadir dalam perjalanan manusia.
Namun, ayat tersebut tidak menyatakan bahwa surga dan neraka berada di bumi. Karena itu, QS. Tâhâ/20: 55 tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan lokasi geografis kehidupan akhirat. Al-Qur’an justru menggambarkan bahwa bumi sendiri akan mengalami perubahan pada hari kiamat.
Allah berfirman:
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“Pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit, dan mereka semuanya tampil menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (QS. Ibrâhîm/14: 48).
Ibn Katsir menjelaskan bahwa bumi pada hari itu berada dalam keadaan berbeda dari bumi sekarang. Ia juga mengutip hadis tentang manusia yang dikumpulkan di atas bumi yang putih dan tidak memiliki tanda sebagaimana bumi dunia (Ibn Katsir, 2000, Jil. IV: 552-554). Al-Qurthubi mencatat beberapa penafsiran tentang perubahan sifat bumi serta riwayat yang menggambarkannya sebagai bumi yang berbeda (al-Qurthubi, 2006, Jil. IX: 337-340).
Tulisan ini karena itu tidak sedang menetapkan lokasi surga, neraka, ataupun mahsyar. Semua itu termasuk wilayah gaib yang tidak dapat ditentukan hanya melalui spekulasi geografis. Yang hendak ditunjukkan adalah pola yang cukup jelas dalam Al-Qur’an: manusia menjadi khalifah di bumi, berasal dari bumi, kembali ke bumi, dibangkitkan dari bumi, dan berhadapan dengan realitas bumi yang mengalami transformasi pada hari kiamat.
Dalam pengertian itulah manusia dapat disebut sebagai “makhluk bumi”. Istilah ini tidak dimaksudkan untuk menafikan dimensi ruhani manusia ataupun memastikan bahwa Adam tidak pernah berada di surga. Istilah tersebut hendak menegaskan bahwa bumi bukan sekadar tempat singgah, tetapi bagian mendasar dari narasi Al-Qur’an tentang asal, kehidupan, kematian, dan kebangkitan manusia.
Pembacaan manusia sebagai makhluk bumi juga dapat menjadi salah satu alternatif bagi tafsir yang hendak berdialog lebih terbuka dengan penalaran rasional dan pengetahuan ilmiah mengenai asal-usul manusia. Upaya semacam ini bukan hal baru. Kajian Reni Nur Aniroh, misalnya, memperlihatkan adanya usaha Muhammad Syahrûr membaca ayat penciptaan manusia dalam dialog dengan teori evolusi (Aniroh, 2017: 77-99).
Namun, pembacaan “manusia sebagai makhluk bumi” tidak dimaksudkan untuk membuktikan teori sains tertentu melalui Al-Qur’an. Pembacaan ini lebih tepat dipahami sebagai upaya membuka ruang dialog antara tafsir dan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an dapat berbicara mengenai makna, tujuan, amanah, dan tanggung jawab manusia, sedangkan sains terus menyelidiki proses biologis dan sejarah keberadaannya di bumi. Dengan cara demikian, tafsir tidak harus dipertentangkan dengan temuan ilmiah, tetapi Al-Qur’an juga tidak perlu dipaksakan menjadi buku sains.
Kesadaran sebagai makhluk bumi pada akhirnya membawa konsekuensi etis. Jika bumi merupakan tempat manusia berasal, hidup, menjalankan amanah, kembali setelah kematian, dan menjadi titik kebangkitannya, maka bumi tidak selayaknya diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi. Menjaga bumi berarti menjaga rumah kehidupan manusia sekaligus menjalankan tanggung jawab kekhalifahan. Pembicaraan tentang asal dan tujuan manusia pada akhirnya membawa manusia kembali kepada tugasnya hari ini: merawat bumi yang menjadi rumahnya.
Pertanyaan yang pernah disampaikan almarhum Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, M.A. dalam perkuliahan itu pun memperoleh makna baru. Bagi penulis, pertanyaan tersebut bukan jawaban yang telah selesai, melainkan warisan intelektual seorang guru yang terus mengajak muridnya membaca, berpikir, dan bertanya. Semoga ilmu yang beliau ajarkan, pemikiran yang beliau wariskan, dan jejak kebaikan yang beliau tinggalkan menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya. Semoga Allah menerima amal baik beliau, melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, meninggikan derajat beliau di sisi-Nya, serta menjadikan ilmu yang beliau ajarkan terus memberi manfaat bagi generasi setelahnya. Âmîn.
Bahan Bacaan:
Abduh, Muhammad, dan Rashid Rida. 1947. Tafsîr al-Manâr. Kairo: Dar al-Manar.
Amin, Ach Badri, Fathurrosyid, dan Wardatun Nadhiroh. 2025. “Reinterpretasi Kisah Adam dan Hawa dalam Al-Qur’an: Studi Semiotika Michael Riffaterre.” Suhuf 18 (2): 253-276.
Aniroh, Reni Nur. 2017. “Evolusi Manusia dalam Al-Qur’an: Studi terhadap Ta’wil Muhammad Syahrûr atas Surah al-Zumar/39: 6.” Suhuf 10 (1): 77-99.
Frianda, Rizkhan. 2022. “Kritik terhadap Isrâ’îliyyât dalam Penafsiran Ayat-Ayat Terkait Kisah Nabi Adam.” PERADA 5 (1): 75-94.
Ibn Katsir, Ismail ibn Umar. 2000. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm. Riyadh: Dar Tayyibah.
Ibn Manzur, Muhammad ibn Mukarram. 1994. Lisân al-‘Arab. Cet. III. 15 jilid. Beirut: Dar Sadir.
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. 2012. Kisah Para Nabi Pra-Ibrahim dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
Mustaqim, Abdul. 2024. Tafsir Ekologi: Relasi Eko-Teologis Tuhan, Manusia, dan Alam. Damai Banawa Semesta.
al-Qurthubi, Muhammad ibn Ahmad. 2006. Al-Jâmi’ li Aḥkâm al-Qur’ân. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.
al-Tabari, Muhammad ibn Jarir. 2001. Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ây al-Qur’ân. Beirut: Mu’assasat al-Risalah.
Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.





