Potret Ide Antroposentris dalam Al-Qur’an dalam Key-Term of the Qur’an karya Nicolai Sinai.

Dalam studi Al-Qur’an dan tafsir, terlihat adanya kecenderungan di Indonesia dalam memahami ayat bahwa perlu melihat behind the text atau histori untuk dapat memahami maksud dari ayat. Tren ini melahirkan berbagai metode tafsir seperti Tafsir Maqashidi dan yang sekelas dengannya, termasuk Ma’na-cum-Maghza.

Di sisi lain, terlihat juga tren yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu sendiri (dengan rangkaian, formasi hingga termnya) merekam sejarah. Salah satu tokoh penting dalam pendekatan within the text ini adalah Nicolai Sinai. Dalam salah satu penelitiannya yang berjudul An Interpretation of Sūrat al-Najm (Q. 53), Sinai melakukan analisis kritis terhadap struktur surah Al-Najm dan menemukan keanehan pada ayat 23 dan 26-32 (Sinai, 2011: 12).

Bacaan Lainnya

Karya lain dari Nicolai Sinai yang menarik adalah Key Terms of the Qur’an: A Critical Dictionary (Sinai, 2023). Sebuah kamus kosakata al-Qur’an. Kamus ini lebih seperti kitab Al-Wujuh wa Al-Nazhair. Sinai, dalam bukunya, mencoba memaknai term Al-Qur’an bi al-Qur’an. Selain itu, buku ini juga memberikan fitur komparasi term dengan tradisi Bible. Format penulisan buku ini dilengkapi dengan tematik-kontekstual di berbagai tempat.

Salah satu tema yang ada adalah Anthropocentric portrayal of the earth (Sinai, 2023: 61). Tulisan ini akan lebih terlihat sebagai terjemahan, dengan sedikit ulasan dan ringkasan, tentang tema di atas dalam buku Key Terms of the Qur’an: A Critical Dictionary karya Nicolai Sinai ini. Penulis melihat cara kerja Sinai dalam memaknai Al-Qur’an melalui within the Quran tidak kalah brilliant.

Berbeda dari kebanyakan pembahasan tentang Antroposentris di bumi, kendati berangkat dari QS. Al-Baqarah [2]: 30, Sinai justru memasukkan tema ini dalam bab term “arḍ | Earth, Land”. Selain di bab tersebut, tema terkait juga muncul ketika membahas term Allāh | God, samāʾ | heaven, sky, qalb | heart dan nafs | soul, (vital) self; person, life.

Sinai memulai penejelasannya dengan memaparkan term-term yang berkaitan dengan term ini. Lalu, ia mengutip Ibn Rusyd yang berkata bahwa fitur karakteristik Al-Qur’an membuktikan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Dermawan menyediakan bumi, langit dan seluruh isinya diciptakan untuk manusia. Sinai kemudian mencantumkan pendukung pendapat Ibn Rusyd dengan QS. Al-Jātsiah [45]: 13. Menurutnya, QS. Al-Jātsiyah [45]:13 adalah sebuah deklarasi bahwa Tuhan “has made everything in the heavens and on earth subservient to you (Muhammad).”

Sinai mengartikan kata sakhkhara dengan subservient, atau dalam bahasa Indonesia berarti tunduk, patuh. Ayat lain yang dicantumkan oleh Sinai yang menurutnya sesuai dengan pendapat Ibn Rusyd adalah QS. Luqman [31]: 20 dan QS. Al-Hajj [22]: 65. Lebih lanjut, jika merujuk penggunakan sakhkhara, yang tunduk bagi manusia menurut Al-Qur’an adalah objek-objek seperti kapal (QS. Ibrahim [14]: 32), sungai (QS. Al-Hajj [22]: 65) dan laut (QS. Al-Jātsiah [45]: 12).

Selain objek, pergantian siang-malam, matahari dan bulan sebagaimana dalam QS. Ibrahim [14]: 33 dan bintang yang juga disebutkan dalam QS. Al-Nahl [16]: 11 termasuk subservient to you. Selanjutnya, ia juga menggolongkan hewan sembelihan dalam kategori di atas dan menyandarkannya pada QS. Al-Hajj [22]: 36-37. Ayat-ayat tersebut menjadi semacam sebuah afirmasi bahwa Al-Qur’an membawa ide antroposentris.

Dalam catatan kaki no 9, Sinai tidak melewatkan kasus-kasus terkait penggunakan term sakhkhara yang di beberapa kasus dikhususkan pada personal. Seperti angin yang ditundukkan khusus pada Nabi Sulaiman dalam QS. Shād [38]: 36, atau kapal dan hewan tunggangan sebagaimana doa dari orang pertama (kemungkinan adalah Nabi Nuh) dalam QS. Al-Zukhruf [43]: 13.

Kasus serupa terkait term sakhkhara yang tidak diikuti kalimat lakum namun, menurut Sinai, digantikan dengan kata ma’a memiliki ide antroposentris serupa dapat ditemukan dalam QS. Al-Ra’d [13]: 2, QS. Al-‘Ankabūt [29]: 61, QS. Luqman [31]: 29, QS. Fāthir [35]: 13, dan QS. Al-Zumar [39]: 5 tentang ketundukan matahari dan bulan, QS. Al-Nahl [16]: 14 tentang ketundukan laut, gunung dan burung pada QS. Al-Anbiya [21]: 79 dan QS. Shād [38]: 18-19.

Maksud dari penggunaan kata yusabbihna oleh gunung dan burung menurut Sabiq Hussain yang dikutip oleh Sinai adalah bahwa keduanya bertasbih dengan cara tunduk kepada Nabi Daud. Term sakhkhara dalam kasus lain juga diikuti dengan kata ‘alā yang berarti ditimpakan. Hal ini dapat ditemukan dalam QS. Al-Haqqah [69]: 7 yang lagi-lagi mengandung ide antroposentris dengan penundukan angin untuk membantu Nabi Hud membinasakan kaum ‘Ād.

Format lain yang menurut Sinai juga membawa ide antroposentris adalah term dzallala/dzalūlan. Ayat-ayat dengan format dan ide yang dimaksud Sinai adalah QS. Yāsīn [36]: 71-73 yang berbicara tentang hewan ternak dan QS. Al-Mulk [67]: 15 tentang bumi yang di-dzalul-kan untuk manusia.

Sinai kemudian Membandingkannya dengan Bible dan Genesis. Menurutnya, Bible dalam Psalm 115:16 yang mengatakan “…, but the earth he has given to mankind.” lebih dekat dengan Al-Qur’an dibanding Genesis yang mengatakan pada Gen 1: 28 di mana Tuhan memerintah Adam dan Hawa untuk menundukkan bumi (dalam hal ini diwakilkan oleh “ikan di laut dan burung di langit”).

Setelah pemaparan data-data ayat di atas, Sinai secara cerdas membaca penundukan alam bagi manusia oleh Al-Qur’an dengan:

Hence, the Qur’an more pointedly casts humans as recipients of divine favour and solicitude rather than merely as empowered to carve out a livelihood for themselves

Karena alam telah ditundukkan untuk manusia, maka, manusia tidak perlu lagi beripikir di level menaklukkan alam atau mengejar dunia. Pembacaan seperti ini jarang penulis temukan di berbagai literatur terkait penelitian terkait Al-Qur’an dan Ekologi.

Pembacaan yang dilakukan oleh Sinai tersebut bukan lah pembacaan yang naif. Karena, di bagian lain dalam bukunya, ia juga menuliskan perihal kebiasaan merusak yang dimiliki manusia pada bab afsada.

Selain membanding ide Al-Qur’an dengan Bible dan Genesis, Sinai juga mengutip dari Angelika Neuwirth terkait puisi-puisi arab pra-Islam banyak menarasikan alam dengan kesunyian, tidak ramah dan mengancam. Menurut Sinai, suatu hal yang mengejutkan bahwa Al-Qur’an mengambil sikap tegas yang afirmatif terkait keamanan alam bagi manusia di tengah masyarakat yang akrab dengan narasi-narasi negatif tentang alam.

Dengan fitur intratekstual yang dilakukan oleh Sinai di sini, ia seolah ingin memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an mereformasi masyarakat yang dulunya melihat alam sebagai hal yang menakutkan bagi manusia menjadi sesuatu yang aman karena telah ‘dijikakkan’ oleh Tuhan. Namun, ini perlu dikaji ulang melihat ada data lain yang mengatakan bahwa masyarakat arab adalah masyarakat yang nomaden dan terbiasa mengembara.

Selanjutnya, Sinai kemudian mengimbangi ide antroposentris yang dibawa Al-Qur’an dengan mengatakan, the anthropocentrism of Qur’anic cosmology is not unbridled. Ia membuktikan hal tersebut dengan ayat-ayat. Dimulai dari QS. Al-Rahmān [55]: 10 yang berbunyi “wa al-ardh wadha’aha li al-anām”. Menurutnya, ayat tersebut juga merupakan sebuah deklarasi dari Tuhan bahwa bumi tidak hanya diperuntukan untuk manusia saja.

Bukti selanjutnya adalah QS. Al-Nahl [16]: 68-69 yang secara detail berisi isyarat kepada lebah bahwa gunung, pohon dan tempat-tempat yang dihuni manusia juga merupakan rezeki bagi lebah. QS. Hud [11]: 6 dan QS. Al-‘Ankabū [29]: 60 juga membawa ide yang sama. Sekalipun pada hewan-hewan ada sesuatu yang dapat manusia manfaatkan, hal tersebut tidak membatalkan bahwa hewan-hewan tadi tetap berhak memanfaatkan alam untuk kebutuhan vitalnya.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa manusia memiliki kecenderungan merusak, Sinai menyimpulkan bahwa cara manusia berinteraksi dengan alam bergantung pada evaluasi moral (moral evaluation). Sinai mengingatkan bahwa, bagaimanapun juga, Al-Qur’an tetap menekankan bahwa alam dipenuhi dengan fenomena “bermanfaat bagi manusia” (yanfa’u al-nās).

Dari pembacaan Sinai, Tuhan menjadikan bumi optimal untuk dimanfaatkan oleh manusia setidaknya dengan 2 cara. Pertama, bumi dibuat mudah untuk dijelajahi atau menjadi hamparan. Sinai menerangkannya dengan berbagai term terkait yaitu ذلل, مهد, فرش, بسط, مدد, دحو, سطح, طحو dan روسي. Ayat lain yang menunjukkan kemudahan bumi untuk dijelajahi juga dapat ditemukan dalam ayat QS. Thāhā [20]:53, QS. Al-Zukhruf [43]:10, dan QS. Nūh [71]:20. Sinai juga memaparkan ayat-ayat yang mengatakan bahwa bumi layek dijelajahi baik di sungai, laut dan darat dan laut.

Sebagaimana kebiasaan Al-Qur’an yang sarat akan keseimbangan, Sinai juga tidak melewatkan ayat yang mengatakan bahwa kelapangan atau kelayakan bumi untuk dijelajahi tidak lah bergaransi selamanya sebagaimana dalam QS. Al-Mulk [67]: 16. Fasilitas yang dikaruniakan itu bersyarat dan pemakainya sangat mungkin digantikan. Sinai mengajak pembaca untuk melihat bab khalifah untuk detail lebih terkait pergantian suksesor yang telah sering terjadi.

Optimalisasi manfaat bumi bagi manusia yang kedua adalah bahwa manusia diajak untuk menikmati rezeki Tuhan dari hasil bumi. Sinai menerangkan hal-hal yang dapat dinikmati tersebut dengan term akala dan razaqa sebagai alat pendekatannya. Selain itu, ia juga menerangkan bagaimana Tuhan membuat sistem yang berkeberlanjutan bagi bumi dengan adanya hujan yang dapat ‘menghidupkan’ flora yang sekaligus melanggengkan fauna dan sistem rantai makanan.

Terkhir, Sinai menggaris bawahi bahwa semua fasilitas alam yang disediakan untuk manusia, termasuk aturan check-and-balance-nya, bukanlah dalam rangka memuaskan manusia, melainkan untuk menguji manusia sebagaimana dalam QS. Hūd [11]: 7. Ayat serupa juga ditemukan dalam bab balā khususnya pada QS. Al-Kahf [18]: 7, QS. Al-Mulk [67]: 2 dan QS. Al-Insān [76]: 2, dan bab makkana khususnya QS. Al-A’raf [7]: 10.

Overall, Sinai telah membuktikan pembacaan Al-Qur’an melalui pendekatan term untuk membahas tematik-kontekstual sangat memungkinkan dalam bukunya ini. Di sisi lain, ketika menggunakan buku ini, pembaca akan diajak untuk “ke sana – ke mari” jika ingin mendapatkan penjelasan lebih detail. Namun, buku ini tetap tidak ditujukan dalam kajian tematik, karena Sinai, pada akhirnya, tidak membuatnya dalam rangka tematik-kontekstual, melainkan adalah sebuah kamus term-term kunci.

 

Referensi

 

Nicolai Sinai, An Interpretation of Sūrat al-Najm (Q. 53), University of Oxford, 2011

Nicolai Sinai, Key Terms of the Qur’an: A Critical Dictionary, Princeton University Press,

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *