Pendahuluan: Antara Ritual dan Realitas
Idul Adha, dikenal juga dengan hari raya kurban, senantiasa menyuguhkan pemandangan penuh makna. Perintah berkurban dijelaskan di beberapa ayat dalam al-Qur’an, misalnya “maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (QS. al-Kautsaar: 2), “dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban)” (QS. al-hajj: 34) menerangkan bahwa umat sebelumnya juga diperintahkan berkurban, serta kisah Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah menyembelih anaknya melalui mimpi (ash-Shaffat: 102-107).
Namun, Ibadah kurban mulai terpengaruh oleh faktor materialisme. Di mana kurban tak hanya sebagai representasi ibadah, melainkan mulai menunjukkan kelas sosial masyarakat (M. Syahriar, 2016: 176). Menjelang 10 Dzulhijjah, iklan-iklan hewan kurban mulai bertebaran, baik yang disebar di masjid-masjid, di sepanjang jalan atau yang tersebar di media sosial. Tidak jarang, tawaran kurban yang dipromosikan mengandung makna yang beragam termasuk menunjukkan kelas sosial beragama (M. Syahriar, 2016: 162).
Fenomena ini memunculkan pertanyaan di balik simbolisme tersebut: “apakah makna kurban hari ini masih sejalan dengan esensi ajaran Islam?” Menurut ajaran agama kurban dipahami sebagai bentuk pengorbanan untuk membangun hubungan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt (Ibnu Faris, 1979: 400). Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ketika harus menyembelih anaknya, Ismail, sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah.
Namun, di era kontemporer yang sarat akan kapitalisme seperti sekarang, makna tersebut sepertinya mulai tereduksi oleh komodifikasi ibadah. Kurban seringkali diselimuti oleh nuansa materialisme, dimana yang lebih ditekankan adalah jumlah hewan yang disembelih, atau lembaga filantropi. Ibadah yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, kini seringkali dipandang sebagai ajang pamer sosial dan kompetisi status (TribunBatam, 2022).
Kurban dalam Perspektif Tafsir Klasik
Dalam al-Qur’an, kata kurban disebut dengan dua istilah: al-Qurbān dan al-Naḥr. Secara etimologis, kata qurbān berasal dari akar kata qariba yang berarti “dekat”, dan merujuk pada segala bentuk ibadah yang bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan, termasuk penyembelihan hewan (M.S. Hakiki, 2024: 42).
Sedangkan al-naḥr ialah menyembelih, terutama pada bagian leher. Al-naḥr berasal dari kata kerja naḥara yang secara harfiah berarti memukul atau memotong di leher (al-Farahidi, 2002: 198). Dengan demikian, al-naḥr dapat diartikan sebagai tindakan penyembelihan sahaja dan berbeda dengan al-qurbān yang disertai makna spiritual dari pengorbanan itu sendiri sebagai bentuk pendekatan diri kepada Tuhan.
Kurban dalam Islam, khususnya pada hari raya Idul Adha, mengandung dimensi spiritual yang amat mendalam. Sebagai bentuk ibadah, kurban tidak hanya dipandang dari sisi fisik penyembelihan hewan, tetapi juga dari makna yang ada di baliknya. Allah Swt menegaskan “Daging dan darahnya tidak sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada_Nya ialah ketakwaan kalian” (QS. al-Ḥajj: 37). Ayat ini menekankan dengan jelas bahwa yang paling penting dalam kurban adalah ketakwaan yang tercermin dari niat dan esensi spiritual di balik tindakan tersebut.
Al-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān fi Ta’wīl āy al-Qur’ān menjelaskan bahwa niat dan keikhlasan adalah inti dari ibadah kurban. Sebagaimana dikatakan dalam tafsirnya, ibadah kurban harus diniatkan semata-mata karena Allah, yaitu melepaskan ego dan keinginan duniawi sebagai rasa syukur atas nikmat Tuhan serta untuk meneguhkan ketakwaan kepada Allah Swt. (at-Tabari,1968: 328).
Senada dengan Al-Rāzī bahwa pengorbanan batinlah yang dihargai Allah dalam ibadah Qurban (al-Rāzī, 1999: 277). Karena sejatinya kurban bukan soal jumlah hewan atau kemewahan yang dipamerkan, melainkan untuk menguatkan keimanan dalam beragama (al-Qurṭubī, 1996: 285-286). Pengorbanan batin menurut Al-Rāzī termanifestasi dari ketulusan hamba menjalankan ritual peribadatan kurban.
Mayoritas ulama sepakat bahwa sejarah kurban dilekatkan ketika Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya kepada anaknya Ismail. Menurut ibnu Kaṡīr, kisah tersebut merupakan sebuah ujian yang dihadapkan kepada Nabi Ibrahim dan nabi Ismail kecil guna menumbuhkan ketegaran, kesabaran, keteguhan, serta ketaatannya menjalankan perintah Allah Swt (Ibnu Kaṡīr, 2017: 278). Kemudian ini diamanatkan kepada seluruh Muslim yang berkecukupan agar nilai-nilainya juga temanifestasikan kepada seluruh umat Islam.
Dari pandangan para mufassir tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurban menurut tafsir klasik lebih mengutamakan dimensi spiritual daripada material. Lebih lanjut, makna sejati dari kurban adalah sebuah ujian spiritual yang menuntut seorang Muslim untuk menunjukkan ketakwaan melalui pengorbanan diri yang mendalam, yang jauh lebih penting daripada sekadar tindakan fisik atau bentuk ritual yang dilakukan.
Konsumerisme Religius di Era Kapitalisme
Di era kapitalisme yang serba kompetitif ini, banyak aspek kehidupan, termasuk ibadah, mulai mengalami perubahan. Kapitalisme, sebagai sistem ekonomi yang berfokus pada akumulasi keuntungan dan persaingan pasar, telah membawa perubahan signifikan terhadap bagaimana praktik keagamaan dijalankan, khususnya dalam ibadah kurban pada perayaan Idul Adha. Dalam banyak kasus, kita menyaksikan bagaimana ibadah tersebut menjadi sarana gengsi dan branding, bukannya semata-mata jalan spiritual menuju Allah.
Kapitalisme merupakan sistem ekonomi, dimana alat produksi mayoritas dikuasai oleh segelintir orang untuk mengarahkan produksi dan distribusi barang melalui pasar (Britannica, 2025). Di tengah sistem ini, nilai-nilai konsumerisme berkembang pesat, yang menempatkan kebutuhan material di atas segala-galanya. Konsumerisme sendiri merupakan teori yang menampilkan sikap keasyikan pembelian barang secara berlebihan (merriam-webster, Akses 2025). Adapun dalam ruang lingkup keagamaan berarti adanya praktik ekonomi yang berlebihan dalam menjalan ritual ibadah.
Fenomena konsumerisme beragama ini tercermin dalam ibadah kurban yang mulai menjadi ajang gengsi sosial. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk mempersembahkan hewan kurban dalam jumlah besar, menunjukkan kemewahan dan kemampuan finansial mereka. Pada beberapa momen Idul Adha, kita bisa melihat bagaimana kurban telah menjadi pamer kualitas atau kuantitas hewan yang disembelih, dengan kemasan donasi mewah yang disertai dengan berbagai branding lembaga sosial (Tempo, 2022).
Misalnya, lembaga-lembaga zakat dan kurban memanfaatkan citra mewah untuk menarik donatur. Pengiklanan paket kurban yang eksklusif, dengan harga tinggi dan klaim memberikan kemudahan serta transparansi. Ada pula yang menyandingkannya dengan balasan di akhirat kelak, misalnya flyer Qurban dari Pkpu Makassar yang menganalogikan mobil sport dengan kurban satu ekor sapi (R. Iskandar, 2016). Fenomena ini justru menekankan nilai komersialnya daripada dimensi spiritualitas yang sesungguhnya.
Berdasarkan paradigma kapitalisme, simbol-simbol keagamaan seperti kurban dapat menjadi produk yang diperdagangkan. Praktik yang demikian berpotensi terjerat pada komodifikasi agama, yaitu bagaimana aspek-aspek spiritual dan ritual dalam agama diperlakukan sebagai barang dagangan yang dapat dipasarkan. Dalam hal ini, kurban bukan lagi memiliki tujuan utama dalam menjadi takwa dan mencari keridhaan Allah, tetapi telah menjadi produk konsumtif.
Praktik ini menghasilkan dampak yang cukup besar dalam masyarakat. Di satu sisi, individu merasa bahwa mereka telah melakukan ibadah yang sempurna karena memilih paket kurban yang lebih mahal atau lebih bermerek. Di sisi lain, sisi spiritual dari ibadah tersebut mulai menghilang, karena yang lebih diperhatikan adalah aspek publikasi dan gengsi sosial.
Tafsir Klasik sebagai Kritik Sosial dan Etika
Tafsir klasik seringkali mengandung pesan-pesan yang mendalam yang termuat dalam teks suci Al-Qur’an. Mufassir klasik, dalam upayanya menguraikan wahyu, tidak hanya memberikan tafsir yang mendalam dari segi bahasa, tetapi juga menggali dimensi sosial dan etika yang berkaitan dengan konteks zaman mereka. Salah satu kritik utama yang sering muncul dalam tafsir-tafsir klasik adalah mengenai kecenderungan umat untuk terjebak pada ritual formal tanpa memahami esensi sejati dari ibadah tersebut.
Tafsir sebagai kritik sosial bisa dilihat dalam pendekatan mufassir seperti Al-Ṭabarī dan Al-Qurṭubī, yang menekankan bahwa ibadah bukan hanya soal bentuk, tetapi lebih kepada kedalaman spiritual dan ketaatan sejati kepada Allah. Sebagai contoh, dalam tafsirnya tentang kurban, Al-Ṭabarī mengingatkan bahwa niat dan keikhlasan adalah yang utama, bukan sekedar menyerahkan daging atau darah hewan kurban. (Al-Ṭabarī, 2001, 33).
Misalnya lagi, seperti yang diajarkan oleh Al-Rāzī dan Al-Qurṭubī, terdapat pemahaman yang sangat mendalam tentang keikhlasan. Keikhlasan dalam beribadah—termasuk dalam pelaksanaan kurban—harus didasari oleh kesadaran batin akan ketaatan kepada Allah. Ini adalah hal yang sering kali hilang di era modern ketika kurban telah bertransformasi menjadi simbol status sosial dan produk komersial (Al-Rāzī, 2011: 172).
Selain itu, penting untuk kembali pada nilai-nilai esensial agama, yang menekankan pada pengorbanan yang menyentuh relung hati seorang Muslim. Sehingga al-Qurṭubī menekankan bahwa berkurban adalah upaya penundukan ego, hawa nafsu dan keinginan pribadi demi kepatuhan dan ketaatan kepada Allah Swt (Al-Qurṭubī, 2015, 98 dan 103). Begitupun, Ibnu Rusyd misalnya menyebut esensi kurban adalah untuk membersihkan jiwa dari keserakahan dan kekikiran yang terbalut ego dan yang mengotori hati (Ibnu Rusyd, 2006: 1060).
Dengan demikian, ibadah kurban akan kembali pada esensi sejati yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim—yaitu ketaatan, pengorbanan, dan pembebasan dari ego. Di tengah dunia yang serba kapitalistik ini, seringkali kita terjebak dalam rutinitas tahunan yang sekadar menilai kurban berdasarkan kuantitas, harga, atau prestise sosial yang diperoleh dari tindakan tersebut. Namun, sesungguhnya, kurban yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim adalah simbol dari ketaatan yang tulus kepada Allah, bukan hanya sekedar transaksi ritual yang berorientasi pada materi.
Catatan penutup
Penulis mengajak untuk merenungkan kembali, apakah kita sudah berkurban sebagai bagian dari perjuangan spiritual atau hanya sekadar ritual tahunan untuk memenuhi tuntutan sosial atau kewajiban agama tanpa melibatkan kedalaman hati? Tentu, ritual penyembelihan hewan kurban memuat dimensi sosial yang baik—menolong mereka yang membutuhkan—tetapi tidak semestinya esensi transenden dari kurban hilang hanya karena komodifikasi ibadah ini.
Sebagai penutup, mari kita kembali pada esensi ibadah kurban sesuai yang ajaran agama misalnya yang disampaikan oleh para mufasir, yang menekankan ketaatan dan ketakwaan. Berkurban merupakan ritual agama yang lebih dari sekadar pengorbanan materi, tetapi juga pengorbanan jiwa, ego, dan nafsu kita yang berlebihan. Dalam dunia yang semakin kapitalistik, kita perlu menjaga agar keteguhan Nabi Ibrahim tetap hidup, dan kurban menjadi alat untuk pembebasan diri dari pengaruh duniawi yang tidak pernah puas.
Referensi:
Abu al-Ḥusain Ahmad bin Faris bin Zakariya. Maqāyīs al-Lughah. Beirut: Dār al-Fikr, 1979.
Al-Khalīl bin Ahmad al-Farāhīdī. Kitāb al-‘Ain, jilid 3. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002.
Al-Qurṭubī. Al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān, jilid 4. Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmīyah, 1935.
Al-Rāzī. Al-Tafsir al-Kabīr, jilid 2. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 2012.
Hakiki, Muhammad Sabik. Perintah Kurban dalam Tafsir al-Ṭabarī (Tinjauan Hermeneutika E. D. Hirsch). Skripsi, Jakarta, 2024.
Ibnu Jarīr al-Ṭabarī. Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, cet. ke-3, juz 30. Kairo: Maktabah Muṣṭafa al-Bābi al-Ḥalbi, 1968.
Ibnu Rusyd. Bidāyah al-Mujtahid wa Nihāyah al-Muqtaṣid, jilid 1. Kairo: Dār al-Salām, 1995.
Syahriar, Mohamad. “Representasi Makna Qurban dalam Budaya Populer: Membaca Konsumerisme Melalui Analisis Semiotika Barthes Iklan Cetak PKPU Kurbanmu Kendaraanmu.” Jurnal Ilmiah LISKI (Lingkar Studi Komunikasi) 2, no. 2 (2016): 147–79. https://doi.org/10.25124/liski.v2i2.286.
“4 Artis Pamer Hewan Kurban Idul Adha, Sapi Irfan Hakim Ditaksir Rp 200 Juta – Tribunbatam.Id.” Diakses 11 Mei 2025. https://batam.tribunnews.com/2022/07/09/4-artis-pamer-hewan-kurban-idul-adha-sapi-irfan-hakim-ditaksir-rp-200-juta.
“Capitalism | Definition, Characteristics, History, & Criticism | Britannica Money.” Diakses 12 Mei 2025. https://www.britannica.com/money/capitalism.
“CONSUMERISM Definition & Meaning – Merriam-Webster.” Diakses 12 Mei 2025. https://www.merriam-webster.com/dictionary/consumerism.





