Kisah Hajar istri Nabi Ibrahim dan ibu dari Nabi Ismail mampu menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam pembentukan peradaban Islam. Hajar bukan sekadar pendamping seorang nabi, tetapi juga sosok yang menjadi simbol keteguhan, pengorbanan, dan kepemimpinan dalam sejarah Islam. Eksistensi kisah Hajar tetap dikenang dalam berbagai ritual keagamaan, khususnya ibadah haji dan sampai kisah munculnya air Zamzam yang sampai sekarang air Zamzam sangat bermakna.
Hajar turut menopang fondasi peradaban yang dibingkai oleh Ismail, anaknya, sebagai suatu bentuk gerakan sosial (social movement) yang dibungkus kesadaran spiritual, bahwa segala bentuk rasialisme, feodalisme dan penguasaan modal, menjadi sirna dalam kekuasaan Tuhan. Hal tersebut terabadikan dalam ritual haji, berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah. (Cinu, 2020)
Mengenal Hajar
Hajar merupakan putri salah seorang pembesar Memphis (ibukota kerajaan Mesir Kuno setelah Menes berhasil menyatukan dua kerajaan besar pada tahun 3000 SM). Di istana Memphis inilah Hajar tinggal bersama ayah dan saudara-saudarinya dengan penuh kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan. Tetapi, semua itu berubah ketika sekelompok orang asing datang mengukir Mesir dengan darah.
Dimana pasukan itu menjarah tanah-tanah, mengusir penduduk pribumi dan menyerbu istana ayah Hajar. Sehingga ayahnya dan sebagian kaumnya terbunuh pada saat itu juga. Sedangkan Hajar menjadi tawanan mereka, yang pada akhirnya Hajar dijadikan sebagai budak. Pasukan tersebut bernama Hexos (penguasa- penguasa sekitar yang menyerbu Mesir dari arah timur dan berhasil melumpuhkannya). (Ibrahim, 2009)
Seiring dengan fase sejarah itulah, Ibrahim dan istrinya menginjakkan kaki di bumi Mesir. Ketika itu Mesir dipimpin oleh seorang raja yang bengis, yaitu Firaun. Firaun memberikan Hajar kepada Sarah yang kemudian merestuinya bersanding dengan Ibrahim. Sarah berharap agar suaminya menikahi Hajar dengan harapan bisa memberikan keturunan, karena Sarah menyadari kondisinya yang belum juga bisa memberikan keturunan,
Kisah Hajar dalam Sejarah Islam
Peran pertama Hajar adalah keteguhan dalam menghadapi ujian. Hajar menghadapi ujian berat ketika Nabi Ibrahim, atas perintah Allah, meninggalkannya bersama Ismail yang masih bayi di lembah tandus yang kelak menjadi Kota Mekah. Dalam situasi yang penuh tantangan, ia menunjukkan keteguhan hati dan keyakinan yang mendalam kepada Allah. Ketika bertanya kepada Nabi Ibrahim apakah ini perintah Allah dan mendapat jawaban “Ya”, Hajar dengan penuh tawakal menerima ketetapan tersebut.
Allah berfirman dalam QS: Ibrahim (14:37):
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ ا5سْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ
فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ ٣٧
Artinya :”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Peran kedua Hajar adalah ketika pencarian air dan Munculnya air Zamzam. Hajar berusaha mencari sumber air untuk anaknya dengan berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Upayanya ini akhirnya dikabulkan oleh Allah dengan munculnya air Zamzam di bawah kaki Ismail. Kaki Ismail yang dipukul-pukulkan ke tanah kemudian muncul air. Kisah ini tidak hanya menjadi simbol perjuangan seorang ibu, tetapi juga diabadikan dalam ritual Sa’i dalam ibadah haji.
Dalam Surah Al-Baqarah (2:158), Allah menyebutkan tentang Sa’i:
اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِۚ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَاۗ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًاۙ فَاِنَّ اللّٰهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ ١٥٨
Artinya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada. dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (Ibrahim, 2009)
Peran ketiga Hajar adalah munculnya Awal Peradaban di Mekah. Keberadaan air Zamzam menarik perhatian Bani Jurhum, yang kemudian menetap di Mekah. Dalam tafsir Tahlili dijelaskan bahwa di saat itu pula, timbullah pada diri Hajar rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada terhingga, dan timbullah dalam hatinya harapan akan kelangsungan hidupnya dan putranya lalu diminumkannya air itu kepada putranya Ismail.
Karena khawatir air itu habis dan lenyap kembali ke dalam pasir, maka ia mengumpulkan air itu dengan tangannya, seraya berkata, “Zam! Zam! (Berkumpullah! Berkumpullah!)” Dan terkumpullah air itu, tidak kering-kering sampai sekarang dan bernama Telaga Zamzam. Dengan adanya Telaga Zamzam di tempat itu, banyaklah orang yang lewat meminta air ke sana. Tatkala Bani Jurhum melihat adanya sumber air di tempat itu, maka mereka minta izin kepada Hajar tinggal bersama di sana, dan Hajar pun mengabulkan permintaan itu. Sejak itu, mulailah kehidupan di daerah yang tandus itu, semakin hari semakin banyak pendatang yang menetap.
Kisah Hajar dan Refleksi Peran Perempuan dalam Islam
Dijelaskan pada QS Ibrahim (14:37) tentang peran penting hajar. Dalam narasi tafsir secara umum dijelaskan atas perintah Allah SWT Nabi Ibrahim akan meninggalkan hajar dan Ismail di tanah tandus kering yang sekarang menjadi mekah, Nabi Ibrahim kembali ke Palestina menemui istri pertamanya yaitu Sarah yang sudah tua. Dalam hal ini penulis memahami makna nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail bukan menjadi sosok laki-laki yang tidak tanggung jawab atau fatherless.
Namun terdapat pesan kuat bahwa Nabi Ibrahim percaya akan kemampuan Hajar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan Ismail artinya disini terdapat konsep gender dalam diri Hajar. Eksistensi Hajar sebagai lakon dari drama individu melahirkan monumen Safa dan Marwah, merupakan cerita tentang perjuangan peradaban. Simbolisasi “air” bukan api, kata sosiolog Ali Syariati, adalah pencarian tentang hakikat masa depan peradaban manusia. Itu sebabnya lakon utama gerak perubahan dunia ada pada sa’i (ritual bukit Safa dan Marwah).
Refleksi perjalanan Hajar, meminjam terminologi Bourdieu itu sarat dengan simbol kehidupan, salah satunya air. Hajar adalah modal kultural sejarah yang terepresentasi dari kesadaran kelas, yang harus diakumulasi bagi peradaban masa depan. (Giddena.A., 2009) Kisah Hajar membuktikan bahwa perempuan memiliki peran signifikan dalam sejarah dan peradaban Islam.
Ia tidak hanya berperan sebagai ibu, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu menghadapi tantangan, mengambil keputusan strategis, dan memastikan keberlangsungan hidup generasi mendatang. Dalam Islam, perempuan tidak sekadar dipandang sebagai pendamping laki-laki, tetapi juga sebagai agen perubahan dan pemimpin dalam komunitasnya.
Keteguhan Hajar dalam menghadapi cobaan dan perannya dalam membangun Mekah menjadi bukti bahwa Islam mengakui peran perempuan sebagai pilar peradaban. Hajar adalah simbol keteguhan, spiritualitas, dan kepemimpinan perempuan dalam Islam. Kisahnya tidak hanya menjadi bagian penting dalam sejarah Islam, tetapi juga menjadi inspirasi bagi perempuan di berbagai zaman. Dengan menjadikan kisah Hajar sebagai refleksi, kita dapat memahami bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai ketauhidan dan keadilan.
Referensi
Cinu, S. (2020). Feminism Sebuah Komunikasi Spiritual Menuju Penguat Sistem Sosial. Kesinek.
Giddena.A. (2009). Problematika Utama dalam Teori Sosial, Aksi Struktur dan Kontradiksi dalam Analisis Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ibrahim, R. A. (2009). Wanita-Wanita Hebat Pengukir Sejarah, Kisah Memikat di BBalik Para Nabi. Jakarta: Almahira.
Zed, M. (2004). Metode Penelitian Kepustakaan . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.





