Aktualisasi Manusia Berkualitas dalam Amtsâl Al-Qur’an: Telaah Q.S. Ibrâhim: 24–25

Al-Qur’an diturunkan bukan semata untuk dibaca secara ritual, tetapi berfungsi sebagai pedoman hidup yang menyentuh berbagai dimensi manusia. Salah satu metode retoris yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut adalah amtsâl (perumpamaan). Melalui amtsâl, keindahan bahasa berpadu dengan kedalaman nilai moral dan spiritual, sehingga pesan-pesan Qur’ani menjadi lebih mudah dipahami.

Dalam Q.S. Ibrâhim ayat 24–25, Allah mengibaratkan “kalimah thayyibah” (kalimat yang baik) seperti “syajarah thayyibah” (pohon yang baik). Dalam penjelasan Al-Thabari, berarti berakar kuat, menjulang tinggi, dan menghasilkan buah tanpa henti (Al-Thabari, 2001: 641).

Bacaan Lainnya

Perumpamaan ini bukan sekadar metafora linguistik, tetapi mengandung representasi nilai-nilai esensial pribadi manusia berkualitas perspektif Al-Qur’an. Dalam konteks tantangan kehidupan modern yang kerap melunturkan dimensi spiritual dan moral, penggalian makna ayat ini menjadi sangat relevan untuk dikaji.

Amtsâl Al-Qur’an dan Fungsinya

Dalam kajian tafsir dan sastra Arab, amtsâl dipahami sebagai bentuk ungkapan perumpamaan yang digunakan untuk mempermudah konsep-konsep abstrak (ma’qûl) dengan cara membandingkannya dengan sesuatu yang nyata dan kasat mata (mahsûs), sehingga memudahkan pemahaman pesan-pesan ilahi (Al-Zarkasyi, 1971: 486). Al-Suyûthî menjelaskan bahwa tujuan utama amtsâl adalah memperkuat kesan makna dalam jiwa melalui pendekatan visual dan emosional (Al-Suyuthi, 1951: 131).

Quraish Shihab menyoroti bahwa amtsâl dalam Al-Qur’an bukan sekadar hiasan sastra, tetapi merupakan metode pendidikan yang memadukan rasionalitas dan spiritualitas. Hal ini berbeda dari peribahasa Arab yang cenderung konvensional dan statis; sementara amtsâl Qur’āniyah bersifat kontekstual dan transenden. (Shihab, 2002: 264).

Dalam budaya Arab klasik, sebuah matsal biasanya lahir dari latar peristiwa tertentu yang melatarbelakanginya. Hubungan antara perumpamaan dengan realitas yang mendasarinya jelas dan nyata, sehingga memperkuat keyakinan serta memudahkan pemahaman. (Al-Abadi, 22).

Menurut Al-Zarkasyi, amtsâl dalam Al-Qur’an memiliki berbagai fungsi, antara lain memberikan ajakan dan peringatan, menyampaikan teguran dan nasihat, mempertegas makna, serta mempermudah pemahaman dengan gambaran yang bisa ditangkap indra. (Al-Zarkasyi, 486).

Konsep Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an

Para ilmuwan memandang manusia dari beragam perspektif. Sebagian menekankannya sebagai makhluk sosial yang cerdas, terampil, dan religius. Ada pula yang melihat manusia sebagai makhluk istimewa, terdiri dari unsur jasmani dan ruhani. Dalam pandangan Islam, manusia menempati posisi paling mulia dalam ciptaan Allah SWT, diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya (Q.S. At-Tin: 4).

Abdurrahman Al-Nahlawi mengemukakan konsep manusia dalam Islam meliputi tiga aspek utama. Pertama, dimuliakan (Q.S. al-Isra: 70), yakni manusia ditempatkan pada kedudukan tinggi, tidak disamakan dengan hewan atau benda mati. Kedua, diistimewakan (Q.S. al-Syam: 7-10), karena diberi potensi membedakan kebaikan dan keburukan. Ketiga, mampu dididik (Q.S. al-Alaq: 3, 5), karena dianugerahi daya intelektual untuk belajar dan berkembang. (Al-Nahlawi, 1995: 10)

Dari kacamata psikologi, manusia berkualitas ditandai dengan kepribadian utuh, stabil, dan produktif. Al-Qur’an menggambarkan kualitas ini melalui sosok yang beriman (Q.S. Al-Hujurat: 14), beramal saleh (Q.S. At-Tin: 6), dan berilmu (Q.S. Al-Isra: 85; Q.S. Al-Mujadalah: 11). Manusia berkualitas juga ditandai dengan penggunaan akal (Q.S. Al-Mulk: 10) serta kesadaran akan tugas sebagai khalifah (Q.S. Al-Baqarah: 30). Ketakwaan pun menjadi puncak kualitas spiritual seseorang (Q.S. Al-Baqarah: 183).

Ringkasnya, karakter manusia berkualitas didasarkan pada nilai-nilai Al-Qur’an, meliputi aspek iman, pengetahuan, amal saleh, dan aspek sosial. Nilai-nilai inilah yang tergambar pada surah Ibrahim: 24-25.

Kalimah Thayyibah dan Syajarah Thayyibah: Dua Entitas atau Satu Kesatuan?

Q.S. Ibrâhim: 24–25 menyebut:

﴿أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٢٤ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ٢٥﴾

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (Q.S. Ibrâhim: 24-25)

Perumpamaan dalam ayat ini termasuk dalam kategori amtsâl muarrahah (perumpamaan yang jelas), karena secara eksplisit menggunakan kata “matsalan.” Gaya istifhām inkārī (“Tidakkah kamu perhatikan…”) berfungsi mengingatkan manusia akan hal-hal yang sebenarnya sudah mereka ketahui dan memberi penekanan terhadap pentingnya makna yang disampaikan (Ibnu Asyur, 1984: 223).

Dalam ayat ini, Allah SWT memberikan perumpamaan tentang kalimah thayyibah (perkataan yang baik) yang diibaratkan seperti syajarah thayyibah (pohon yang baik), yang memiliki akar yang kokoh, cabang yang menjulang, serta terus berbuah atas izin Allah SWT (Al-Ṭabari, 2001: 518). Redaksi ayat ini secara gramatikal menunjukkan bahwa yang ditamsilkan adalah kalimah thayyibah, sedangkan pohon yang baik merupakan gambaran konkret dari kualitas kalimat tersebut.

Namun, mayoritas mufasir klasik menyatakan bahwa kalimah thayyibah merujuk pada kalimat tauhid “lâ ilâha illâ Allâh.” —sebagai puncak kebaikan ucapan manusia (Alî Ibn Abî Ṭalḥaḥ, 452). Sedangkan Al-Zamakhsyari memperluasnya pada semua ucapan baik yang bermanfaat  (Al-Zamakhsyari, 1986: 553). Yang menarik dan menjadi fokus catatan adalah bahwa yang diserupakan dengan syajarah thayyibah bukan langsung manusia, melainkan kalimat. Lantas mengapa kemudian pohon baik ini sering kali dimaknai sebagai perumpamaan bagi orang mukmin?

Di sinilah terjadi transposisi makna dalam penafsiran sejumlah mufasir: dari kalimah yang bersifat abstrak dan verbal, beralih kepada figur manusia beriman sebagai representasi dari pohon baik tersebut. Misalnya, Sayyid Quthb menekankan bahwa kalimah thayyibah bukan hanya sekadar ucapan, tetapi merupakan prinsip kebenaran yang mengakar dalam hati seorang mukmin dan membuahkan amal saleh yang terus berkembang (Quthb, 2003: 96). Dalam hal ini, ia menafsirkan kalimah thayyibah secara dinamis—yakni sebagai ekspresi iman yang hidup dalam jiwa manusia.

Ibnu Katsir merincikan jenis pohon yang baik ini, melalui jalur periwayatan yang merujuk pada pohon kurma (Ibnu Katsir, 1999: 851). Al-Qurṭubi, misalnya, menjelaskan bahwa pohon baik itu adalah gambaran dari orang mukmin, karena ia “berkata baik dan berbuat baik.” (Al-Qurthubi, 1964: 359). Al-Sa’di, menjelaskan bahwa pohon kurma dalam perumpamaan tersebut adalah gambaran dari mukmin sejati yang selalu memberi manfaat dalam berbagai situasi (Al-Sa’di, 2000: 87). Quraish Shihab menambahkan bahwa perumpamaan ini menggambarkan integritas orang beriman, yang konsisten dan progresif dalam menebar kebaikan (Shihab, 2002: 366).

Berangkat dari tafsir tersebut, maka asosiasi pohon yang baik (syajarah thayyibah) kepada sosok mukmin bukanlah bentuk pemindahan tamsil, tetapi justru memperluas cakupan matsal itu sendiri. Pohon dalam perumpamaan ini bukan sekadar metafora dari kalimat tauhid, tetapi juga simbol dari pribadi mukmin yang menjadi wadah bagi tumbuhnya kalimat tauhid dan kebaikan. Karena itu, para mufasir memahami bahwa kalimah thayyibah menghasilkan buah dalam bentuk amal, dan amal tersebut hanya mungkin tumbuh dari pribadi mukmin yang konsisten dan terhubung secara ruhani dengan Tuhannya.

Dengan demikian, relasi antara kalimah dan syajarah bukanlah dua matsal berbeda, melainkan satu kesatuan progresif: dari iman verbal, tumbuh menjadi iman eksistensial dalam bentuk perilaku. Maka dalam tafsir semiotik, syajarah thayyibah adalah personifikasi dari efek spiritual kalimat thayyibah yang terinternalisasi dalam diri seorang mukmin.

Makna Spiritualitas Progresif: Aktualisasi Manusia Berkualitas

Sebagaimana yang telah disinggung, perumpamaan dalam Q.S. Ibrâhîm: 24–25 bukan sekadar metafora linguistik, tetapi mengandung pesan spiritual yang dalam mengenai proses pembentukan pribadi mukmin yang berkualitas. Dalam tafsir fî Dzilâl al-Qurân, kalimah ayyibah adalah prinsip kebenaran yang kokoh, yang terus menumbuhkan nilai dan manfaat bagi lingkungan sekitar—baik dalam bentuk gagasan, akhlak, maupun tindakan sosial (Qutb, 2003: 96). Sementara itu, menurut Al-Sa‘dī, orang mukmin adalah pribadi yang selalu memberikan buah kebaikan, kapan pun dan di mana pun ia berada, sebagaimana pohon yang terus berbuah sepanjang musim dengan izin Tuhannya (Al-Sa’di, 2000: 87).

Ayat ini setidaknya menyajikan gambaran pohon yang baik dengan tiga karakteristik utama yang menjadi cerminan manusia berkualitas menurut perspektif Al-Qur’an. Pertama, Akar yang kokoh (aluhâ tsâbit): menggambarkan fondasi iman yang mendalam dan tidak tergoyahkan oleh dinamika dunia. Iman di sini tidak bersifat dangkal atau sekadar simbolik, melainkan bersifat eksistensial dan melekat dalam struktur kepribadian mukmin. Akar yang kuat ini menandai kestabilan spiritual, kedewasaan batin, dan orientasi hidup yang lurus.

Kedua, Cabang yang menjulang ke langit (fa-r‘uhâ fî al-samâ’): mencerminkan idealisme spiritual dan visi transendental yang tinggi. Seorang mukmin berkualitas tidak hanya hidup untuk realitas material, tetapi juga terus mengarahkan dirinya kepada nilai-nilai ilahiah. Cabang yang menjulang ini menggambarkan aspirasi untuk mendekat kepada Allah melalui akhlak dan kontribusi nyata. Ketiga, Buah yang terus-menerus (tu’tî ukulahâ kulla în): menjadi simbol amal saleh yang konsisten dan berdampak. Seorang mukmin yang sejati tidak hanya berbuat baik secara sesekali, tetapi memiliki komitmen terhadap kontinuitas amal, baik dalam skala personal, sosial, maupun spiritual. Keberkahan amalnya dirasakan berkelanjutan oleh sekitarnya.

Perpaduan antara tiga aspek ini menunjukkan bahwa kualitas manusia mukmin tidak hanya ditentukan oleh pengakuan iman secara lisan, melainkan oleh keberlanjutan dalam proses aktualisasi iman secara progresif. Iman tidak berhenti pada titik statis, tetapi menuntut pertumbuhan (numuw) dan produktivitas (tsamarah) yang terintegrasi antara aspek spiritual dan sosial. Dalam konteks ini, manusia berkualitas adalah mereka yang menjadikan kalimah ayyibah bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai prinsip hidup yang tumbuh dalam jiwa dan menumbuhkan perubahan dalam lingkungan.

Penutup

Dengan demikian, amtsâl dalam Q.S. Ibrâhim: 24–25  mengungkap bahwa pesan ilahi tidak sekadar bersifat teoritis, melainkan menuntut aktualisasi dalam kehidupan nyata. Perumpamaan cabang pohon yang menjulang ke langit merepresentasikan dinamika spiritual seorang mukmin yang harus terus bertumbuh.

Kebaikan tidak cukup berhenti pada titik tertentu, tetapi menuntut kontinuitas dan pengembangan diri. Begitulah makna spiritualitas progresif dalam Al-Qur’an: keimanan yang hidup, bertumbuh, dan berbuah terus-menerus dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Referensi

al-Abadi, Mansur Ibn Awn. Amtsal fi al-Qur’an. Makkah: Dar al-Ma’rifah, tt.

Ibnu Abbas, Alī Ibn Abī Ṭalḥaḥ. Tafsir Ibnu Abbas. Penerjemah Muhyiddin Mas Rida, dkk. Jakarta: Pustaka Azzam, 2009, cet. pertama.

Ibnu Asyur, Muhammad al-Thahir bin Muhammad. al-Tahrir wa al-Tanwir. Tunisia: al-Dar al-Tunisiah, 1984.

Ibnu Katsir, Abu al-Fida Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999.

al-Nahlawi, Abdurrahman. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

al-Qaṭṭān, Manna’. Mabāḥīṡ fī ‘Ulūm al-Qur’an. Beirut: Muassasah al-Risālah, 1993.

Quraish Shihab, M. Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

al-Qurṭubī, Abū ‘Abdillah Muḥammad al-. al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Mesir: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964.

Quṭb, Sayyid. Tafsīr fī Ẓilāl al-Qur’ān. Penerjemah As‘ad Yasin, dkk. Jakarta: Gema Insani Press, 2003, cet. pertama.

al-Sa‘di, ‘Abd al-Rahman bin Nashir bin ‘Abdullah al-. Taysir al-Karim al-Rahman fī Tafsir Kalām al-Mannān. Beirut: Muassasah al-Risālah, 2000.

al-Suyūṭī, Jalāl al-Dīn al-. al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Fikr, 1951.

al-Thabari, Abū Ja‘far Muḥammad Ibn Jarīr al-. Tafsir Ath-Thabari Jami’ al-Bayan ‘An Ta’wil Aay al-Qur’an. Mesir: Dar Hijr, 2001.

al-Zamakhsyarī, Abū al-Qāsim Maḥmūd bin ‘Umar bin Aḥmad al-. al-Kashshāf ‘an Ḥaqā’iq Ghawāmiḍ al-Tanzīl. Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1407 H.

al-Zarkasyi, Badr al-Din Muhammad Ibn Abdillah al-. al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Ma‘arif, tt.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *