Narasi Rindu Dendam
Tulisan ini hendak melupakan ingatan tentang Tafsir Al-Azhar, terutama bagian yang membahas poligami. Tulisan ini hanya mencoba mengais maksud Tafsir Al-Azhar tentang poligami semata-mata dari buku Ayat-ayat Monogami Buya Hamka: Memahami Poligami dalam Narasi Tafsir Al-Azhar, karya A. Fuadi, terbitan Jakarta: Rene Islam, 2025. Harapannya, kegelisahan seorang A. Fuadi benar-benar terpahami untuk dikomentari.
Ya, A. Fuadi menelusuri pandangan Hamka tentang poligami. Lalu, dia berjumpa kenyataan bahwa ada serentetan kisah yang berasal dari masa lalu Hamka memengaruhinya dalam memahami poligami. Kisah itu adalah kisah sedih yang cenderung traumatis. Karena itu, Hamka tidak hendak mengulangnya, baik untuk dirinya maupun orang lain.
Begitu kuat Hamka mengisahkan derita batinnya sepanjang waktu akibat poligami ayahnya (A. Fuadi: 2025, 91). Bukan hanya dia yang remuk redam, tetapi juga ayahnya sendiri yang tetap membekam rindu kepada istrinya yang pergi dan juga ibunya yang tetap merawat hormat kepada ayahnya walaupun mungkin benci. Meski demikian, Hamka tidak berani melarang poligami. Barangkali dia takut melawan teks ayat yang begitu kuat menyisakan ruang pembolehan atau tidak berani karena ayahnya, panutannya, dan maha gurunya, Haji Rasul, adalah seorang pelakon poligami. Ada semacam rindu dendam di sana. Rindu dendam dengan pelarangan dan pembolehan poligami dan rindu dendam dengan ayahnya sendiri.
Berasal dari Drama dan Ironi
Bagi A. Fuadi, Hamka berhasil mendedahkan betapa menyakitkan dampak poligami bagi sebuah keluarga, terutama anak. Keberhasilan tersebut berasal dari narasi Hamka tentang poligami yang sangat kuat karena memenuhi unsur dramatis dan ironi sehingga menarik perhatian pembaca (A. Fuadi: 2025, 99).
Plato tidak suka kepada drama. Menurutnya, drama adalah bagian dari retorika yang bertindak persuasif untuk meyakinkan orang padahal sesungguhnya salah (Renford Bambrough, 2006: 175, Vol. 4). Itulah mengapa Plato menganjurkan agar drama harus mendapatkan pengesahan dari negara jika hendak dipentaskan. Tujuannya, agar manusia tidak hanyut dalam perasaan sehingga melupakan kebenaran. (Leonard W. Conversi dan Richard B. Sewall, 2025).
Berkebalikan dengan Plato, Aristoteles memberi ruang bagi drama. Menurutnya, karya sastra, termasuk drama, menggambarkan manusia secara umum sebagaimana dokter menggambarkan seekor kodok untuk mewakili keseluruhan kodok. Ada sumbangan pengetahuan, pemikiran, pemahaman, tentang manusia yang disumbangkan oleh karya sastra. Bukan sekadar hiburan. (Renford Bambrough, 2006: 176, Vol. 4)
Penegasan A. Fuadi bahwa ada unsur dramatis yang kuat di dalam penggambaran Hamka tentang poligami, barangkali dalam konteks tertentu, setuju kepada Aristoteles. Remuk redamnya perasaan Hamka sebagai anak dan terbenturnya rindu ayah dan ibunya kepada tembok perceraian akibat poligami adalah sumber pengetahuan yang valid bagi siapapun. Meskipun itu hanyalah penggambaran keluarga Hamka secara parsial, tetapi anak, ayah, ibu, hingga manusia manapun bisa merasakan hal yang serupa.
Hamka mengeksploitasi perasaan pribadinya terhadap poligami lalu mengajak semesta untuk merasakan yang sama lewat tiga yang terbatas, yaitu ayahnya, dirinya, dan gurunya serta dua hal yang tidak terbatas, yaitu ayat-ayat poligami dan keadilan. (A. Fuadi, 2025: 86-95 dan 95-100). Ironi hadir di sini. Ironi adalah relasi antara yang terbatas dengan yang tak terbatas menuju yang tak terbatas (Allen Speight, 2025). Pada ironi, lahir kebebasan yang paling bebas karena dari ironi tersebut, Hamka bangkit melampui dirinya sendiri, menurut ungkapan filsuf Jerman Friedrich Schlegel (1772-1829).
Ayahnya Hamka, dirinya, dan gurunya adalah yang terbatas karena tidak lebih dari upaya untuk mewujudkan hukum-hukum Tuhan di dalam Kitab Suci. Ayat-ayat poligami dan keadilan adalah yang tak terbatas karena itulah Kitab Suci. Mendayung di antara yang terbatas dan tak terbatas itulah, Hamka membuat dirinya terlahir kembali dalam bentuk yang baru. Dia bukan ayahnya dan gurunya. Bukan pula ayat-ayat di dalam Kitab Suci. Dia bahkan bukan dirinya yang sebelumnya. Dia adalah Hamka yang baru. Monogami versinya adalah versinya sendiri, bukan diktean dari yang lain.
Menuju Tragedi
Drama tragedi paling beken adalah Oedipus, sebuah mitos Yunani Kuno. Tulisan ini akan banyak mengutip versi kisah dari The Lost Art of Scipture: Menikmati Sunyi, Bunyi, dan Visi dalam Menghayati Pesan Ilahi. (Karen Armstrong, 2021: 193-194). Oedipus adalah putra raja Thebes bernama Raja Laius. Ketika lahir, Oedipus diramalkan akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Karena itu, Raja Laius mengikat kedua pergelangan kaki si bayi dan memerintahkan seorang pelayan untuk membuang bayi itu di Gunung Kitheron dan membiarkannya mati di sana. Karena kasihan, si pelayan menyerahkan anak itu kepada penggembala yang membawanya ke Korintus. Di sana, Oedipus diangkat anak oleh raja dan ratu yang tidak memiliki keturunan. Oedipus merasa kedua orang itulah orang tuanya.
Suatu hari, Oedipus mendapatkan ramalan dari peramal Delphi bahwa ia kelak akan membunuh ayah kandungnya dan mengawini ibu kandungnya. Karena itulah, Oedipus bersumpah tidak akan pernah kembali ke Korintus dan pergi ke Thebes. Dalam perjalanan, sebuah kereta kuda memaksanya menepi untuk memberi jalan. Oedipus mungkin tidak terima lalu terjadilah perkelahian yang mengakibatkannya membunuh penumpang kereta yang ternyata adalah ayahnya, Laius.
Sesampai di Thebes, ia mendapati monster Sphinx sedang merajalela, memangsa siapapun yang gagal memecahkan teka-tekinya. Oedipus yang berhasil memecahkan teka-teki lalu diberi hadiah oleh kota Thebes berupa pernikahan dengan Ratu Jacosta yang baru saja menjanda sekaligus menjadi raja baru Thebes.
Tragedi mulai menampakkah wajahnya ketika suatu ketika wabah menyerang Thebes. Peramal mengatakan bahwa wabah akan tetap melanda jika pembunuh mendiang Raja Laius tidak terungkap. Karena itulah Raja Oedipus segera melakukan penyelidikan. Lalu, terungkaplah bahwa pembunuhnya adalah Oedipus sendiri. Dia bukan hanya membunuh ayahnya, tetapi juga menikahi ibunya dan menjadi ayah bagi adik-adiknya, Antigone dan Ismene.
Andaikan Hamka adalah Oedipus yang sedang dikejar-kejar ramalan bahwa suatu saat dia akan menjadi pelakon poligami. Ramalan tersebut hadir ketika suatu hari ayahnya menyuruhnya berpoligami. Alasannya sungguh praktis, ayahnya mau dilayani oleh orang yang merupakan mahramnya. (A. Fuadi, 2025: 48). A. Fuadi menyimpulkan bahwa Hamka ketika itu tidak memuluskan permintaan ayahnya karena dia mengingat trauma yang dirasakannya akibat ayahnya melakoni poligami. (A. Fuadi, 2025: 48). Bisa saja alasan Hamka bukan itu tetapi lebih kepada karena dia baru saja menikah.
Hingga suatu saat, Hamka berjumpa dengan ayat-ayat poligami dan keadilan. Ada desakan dari dalam dirinya untuk melakukan penyelelidikan tentang hakikat poligami, semacam tuntutan bagi Oedipus untuk menyelidiki pembunuh Raja Laius. Kenangan masa lalunya datang berhamburan. Poligami ayahnya, kesedihan ibunya, kecanggungan Hamka di keluarga baru ayah dan ibunya, kisah poligami gurunya, dan terutama kebaikan hati istrinya, Siti Raham.
A. Fuadi merangakai semua kisah sedih akibat poligami ayah Hamka sebagai benang merah penolakan Hamka terhadap poligami. Sebuah upaya yang apik dalam balutan hermeneutika filsuf Jerman Friedrich Daniel Ernst Schleriermacher (1768-1834) terhadap Tafsir Al-Azhar, karya Hamka. Selain Hamka berhasil meyakinkan pembacanya bahwa dia menolak poligami, A. Fuadi pun berhasil meyakinkan pembacanya bahwa Hamka memang begitu adanya.
Ada yang perlu dicatat. Hamka jauh lebih luas daripada Tafsir Al-Azhar dan karya-karyanya yang lain. Banyak tentang dirinya yang tidak sempat tertuliskan dalam narasi biografis sepanjang apapun yang sempat terbit. Barangkali ada biografi sebagai kisah yang perlu diketahui oleh orang lain dan ada yang tidak perlu ditulis karena orang lain tidak perlu tahu. Sebagaimana sebuah potret yang tidak akan mampu menangkap keseluruhan kehidupan seseorang, maka Tafsir Al-Azhar dan karya-karya Hamka yang lain hanyalah sekelebat nyala kodak.
Pada akhirnya, Hamka menikahi perempuan lain selain Siti Raham. Ada narasi yang berbalik. Pernikahan kali ini tidak hanya tidak mengakibatkan trauma bagi anak-anak Hamka, justru mereka yang menginginkannya. Tidak ada lagi suami yang bersedih karena ditinggal pergi istrinya dan tidak ada lagi istri yang menyimpan benci sekaligus hormat. Yang ada hanyalah seorang yang terpaksa harus menikah lagi. Pada titik itu, masih layakkah seorang Hamka disebut pejuang monogami?
Ya, memang Hamka tidak sedang berpoligami karena tidak menikahi dua perempuan dalam satu waktu, tetapi tetap saja kisah itu tidak seromantis novel-novel yang membawa cintanya, yang meskipun kandas, hingga ke liang lahad. Tidak seperti Pengeran Sutan (ayahanda Zainuddin dalam Tengelamnya Kapal van der Wijck) yang tidak menikah lagi sepeninggal Daeng Habibah. Ramalan bahwa Hamka suatu saat akan menjadi pelakon poligami memang tidak terbukti, tetapi hanya tidak terbukti separuh karena Hamka akhirnya menikah juga dengan perempuan lain.
Penyelidikan Hamka tentang hakikat poligami berakhir dengan kemenangan poligami dan ramalan yang terbukti benar separuh. Memang tidak ada dua perempuan dalam satu waktu dalam hidup Hamka tetapi ada dua perempuan dalam hidupnya. Dalam hal ini, Hamka dan ayahnya sama separuh. Jika dimadu berarti ada perempuan lain yang dinikahi, apakah ada perempuan lain di hati dan dalam hidup bukan permaduan? Barangkali ada yang mengatakan itu semata-mata keterpaksaan. Bagi yang lain: Ah, dasar lelaki.
Oedipus tak kuasa melawan ramalan. Upaya dia untuk mencari kebenaran harus berakhir tragis. Ratu Jacosta bunuh diri. Oedipus membutakan matanya dengan mencongkelnya sendiri. Pembaca adalah ibarat penonton dalam sebuah drama tragedi. Oedipus adalah orang yang bersalah, tetapi tragedi mengajak manusia bersimpati kepada mereka yang bersalah. Simpati kepada Oedipus membawa penonton mengalami katarsis, transformasi yang memurnikan. (Karen Armstrong, 2021: 196-199).
Hamka tidak jauh berbeda. Ketika akhirnya tetap ada perempuan lain di dalam hidupnya, tidak seorangpun menyalahkannya. Hamka mirip dengan Socrates yang selalu mendengarkan daimon. Karen Armstrong mengartikan daimon dengan “kuasa propetik” atau “manifestasi spiritual”. (Karen Armstrong, 2021: 200). Saya menyebutnya “bisikan kalbu”. “Daimon ini sering menentangku saat aku melakukan kesalahan,” ungkap Socrates. Selama persidangan yang menggiring kepada kematiannya, tidak sekalipun daimon mencetuskan penentangan. Karena itu, dia tetap tenang meski negara menghakiminya.
Barangkali daimon milik Hamka akan berteriak seandainya dulu dia memuluskan kehendak ayahnya yang menyuruhnya berlakon poligami. Saat akan menikah untuk yang kedua kali dengan Siti Khadijah atas usulan anak-anaknya, daimon hanya berbisik lemah. Katanya: “Terbayanglah kesetiaan dan keteguhan cinta perempuan itu, bagaimana di dalam mengarungi ombak besar, di dalam permainan jiwa raga, dia mengambil gambar Zainuddin, buat dibawa mati, diikatkannya di dalam selendang yang membalut kepalanya…” (Hamka, 1976: 251).
Bahan Bacaan
Armstrong, Karen, The Lost Art of Scipture: Menikmati Sunyi, Bunyi, dan Visi dalam Menghayati Pesan Ilahi, Bandung: Mizan, 2021.
Bambrough, Renford, “Greek Drama”, dalam ed. Donald M. Borchert, Encyclopedia of Philosphy, Detroit: Thomson Gale, 2006.
Conversi, Leonard W. dan Richard B. Sewall, “Theory of Tragedy”, dalam https://www.britannica.com/art/tragedy-literature/Theory-of-tragedy. Pembaruan terakhi 31 Agtustus 2025.
Fuadi, A., Ayat-ayat Monogami Buya Hamka: Memahami Poligami dalam Narasi Tafsir Al-Azhar, Jakarta: Rene Islam, 2025.
Hamka, Tengelamnya Kapal van der Wijck, Jakarta: Bulang Bintang, 1976.
Speight, Allen, “Friedrich Schlegel”, dalam https://plato.stanford.edu/entries/schlegel/. Pembaruan terakhir 17 Maret 2025.





