Pesona Balaghah dan Polemik Teologi dalam Al-Kasysyāf

Apa sebenarnya yang membuat al-Kasysyāf begitu memesona? Sejak dulu, kitab ini dipuji karena keindahan bahasanya dan kecermatan al-Zamakhsharī dalam menyingkap sisi balaghah (retoris) Al-Qur’an. Di sisi lain, sebagian ulama tetap mengingatkan adanya pengaruh pemikiran Mu‘tazilah dalam beberapa penafsirannya. Dari titik inilah al-Kasysyāf terus memantik diskusi baik antara kekaguman, kehati-hatian, dan kritik.

Justru karena dua sisi tersebut, al-Kasysyāf tetap menjadi karya yang hidup hingga hari ini. Ia mengajak pembacanya menikmati keindahan bahasa Al-Qur’an, sekaligus menantang mereka untuk lebih teliti dalam membaca tafsir. Sehingga, di situlah letak daya tarik sebuah tafsir yang bukan hanya dibaca, tetapi juga terus diperbincangkan dari masa ke masa.

Bacaan Lainnya

Sebelum masuk pada pandangan para ulama, perlu disebutkan bahwa al-Kasysyāf adalah karya Abu al-Qāsim Mahmud bin ‘Umar al-Zamakhsyarī. Ia lahir tahun 467 H, pada masa keemasan abad ke-6 Hijriah ketika tradisi tafsir berkembang sangat pesat. Dari lingkungan intelektual inilah kemampuan bahasa dan tafsirnya terbentuk sehingga melahirkan karya besar yang kemudian banyak dikaji dan diperdebatkan (‘Ulum dkk., 2024: 8236).

Keindahan Bahasa Al-Kasysyāf: Mengapa Banyak Ulama Terpesona?

Imam al-Harawī memuji al-Kasysyāf sebagai karya yang “tidak ada tandingannya”, baik sebelum maupun sesudahnya. Para ahli bahasa juga menurutnya sepakat bahwa susunannya kuat, rapi, dan indah sehingga sesuatu yang membuat kitab-kitab tafsir setelahnya tetap berada di bawah tingkatannya (Al-Zamakhshari, 2009: 12).

Ibn Khaldun bahkan menyebut al-Kasysyāf sebagai “tafsir terbaik dalam bidang bahasa, i‘rab, dan balaghah”. Baginya, siapa pun yang membaca kitab ini akan menemukan keunikan gaya kebahasaan yang mengagumkan dan jarang ada padanannya (Al-Zamakhshari, 2009: 13).

Tāj al-Dīn al-Subkī yang dikenal sebagai kritikus tajam pun ikut mengakui bahwa al-Kasysyāf merupakan “kitab agung dalam bidang bahasa dan sastra”. Menurutnya, al-Zamakhsharī adalah imam besar dalam disiplin kebahasaan, sehingga tidak heran jika tafsirnya tampak begitu matang dan padu (Al-Zamakhshari, 2009: 13).

Al-Zamakhsharī memberi perhatian besar pada ‘ilm al-ma‘ānī dan ‘ilm al-bayān, dua cabang penting dalam balaghah yang menjelaskan struktur, penekanan, dan keindahan pesan bahasa Arab. Ketertarikan ini terlihat dari caranya menelusuri susunan ayat, memilih diksi, serta menerangkan alasan di balik keindahan gaya tutur Al-Qur’an (Al-Zamakhshari, 2009: 12).

Dalam al-kashshaf juga banyak menggunakan pola tanya-jawab seperti فإنْ قلتَ (fa-in qulta) dan قلتُ (qultu) untuk memecah persoalan menjadi lebih mudah dipahami. Dengan gaya seperti ini, al-Kasysyāf bukan sekadar kitab tafsir, tetapi juga ruang belajar balaghah yang menunjukkan keajaiban susunan Al-Qur’an dan mengungkap kedalaman makna.

Salah satu contoh bagaimana al-Zamakhsharī mengungkap kedalaman makna, dapat dilihat dalam penjelasannya tentang istilah ‘azm al-umūr pada tiga ayat Al-Qur’an. Dalam istilah tersebut, ia tidak sekadar menerjemahkan kata tersebut, tetapi menelusuri makna dasar, penggunaan bahasa Arab, serta relasi maknanya dalam konteks ayat.

Misalnya, pada QS. Luqmān: 17,

إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ … يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ

Hai anakku, dirikanlah shalat…Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Al-Zamakhsharī menjelaskan bahwa kesabaran di ayat ini dapat bersifat umum (pada semua cobaan) atau khusus (pada risiko ketika menegakkan amar ma‘rūf nahi munkar).

إنّ ذلك مما عزمه الله من الأمور

Itu termasuk perkara yang Allah wajibkan secara tegas, seperti perintah yang tidak boleh ditinggalkan. (Al-Zamakhshari, 2009: 837)

Dari penafsiran di atas dijelaskan bahwa ‘azm al-umūr bermakna tindakan-tindakan besar yang menunjukkan pada komitmen moral yang harus dimiliki seorang mukmin ketika menjalankan tugas sosial keagamaan. Seperti halnya keteguhan hati, seperti sabar dan konsisten dalam amar ma’ruf.

Sementara pada QS. Āli ‘Imrān: 186,

فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ …وَأَنفُسِكُمْ  لَتُبْلَوُنَّ فِىٓ أَمْوَٰلِكُمْ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu…maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Al-Zamakhsharī menjelaskan bahwa ujian pada “harta” dan “jiwa” mencakup segala bentuk tekanan: kehilangan, ancaman, hingga gangguan orang yang memusuhi agama.

وإنْ تصبروا وتتقوا فإنّ ذلك من عزم الأمور

Kesabaran dan ketakwaan pada situasi seperti itu adalah bagian dari perkara yang harus ditegaskan dan dipegang teguh. (Al-Zamakhshari, 2009: 210)

Menurutnya, ‘azm al-umūr di sini berarti keteguhan yang diwajibkan Allah, sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan ketika umat menghadapi cobaan. Maknanya merujuk pada keteguhan dalam menghadapi ujian.

Adapun pada QS. asy-Syūrā: 43,

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

Dalam ayat ini, al-Zamakhsharī menegaskan bahwa memaafkan bukan sikap lemah, tetapi tindakan yang menunjukkan kelapangan jiwa:

ولمن صبر على الظلم… وفوض أمره إلى الله إن ذلك لمن عزم الأمور

Siapa yang sabar atas gangguan dan mengembalikan urusannya kepada Allah, maka itu termasuk keteguhan yang mulia. (Al-Zamakhshari, 2009: 982)

Al-Zamakhsharī mengutip kisah seseorang yang tetap tenang saat dihina lalu membaca ayat ini. Ia berkata, “Ia benar-benar memahami ayat ini, sementara banyak orang tidak.” Baginya, sabar dan memaafkan adalah akhlak mulia yang menunjukkan lapangnya jiwa.

Berdasarkan penafsiran al-Zamakhsharī, istilah ‘azm al-umūr yang muncul dalam tiga ayat Al-Qur’an tidak hanya berarti “tekad”, tetapi juga mencakup keteguhan hati, kesabaran, dan kelapangan jiwa saat menghadapi ujian. Makna ini diperoleh melalui analisis bahasa dan konteks ayat dalam al-Kasysyāf.

Di sini tampak bagaimana al-Zamakhsharī menggabungkan analisis semantik (makna dasar, makna konteks, dan relasi makna) dengan pemahaman balaghah untuk menampilkan kedalaman pesan ayat, tanpa perlu teori linguistik modern. Cara ini khas al-Kasysyāf dan menjadi salah satu alasan mengapa tafsirnya begitu dihargai.

Reaksi Ulama: Antara Kekaguman dan Kewaspadaan

Banyak ulama Ahlus Sunnah memandang al-Kasysyāf dengan sikap hati-hati. Mereka menilai sebagian penjelasan al-Zamakhsharī terlalu dekat dengan gagasan Mu‘tazilah sehingga bisa membingungkan pembaca awam. Hal inilah yang membuat sejumlah tokoh merasa perlu memberikan koreksi dan peringatan, agar kekuatan balaghah kitab ini tetap dapat dinikmati tanpa mengabaikan sisi teologisnya.

Ibn al-Qayyim menjadi di antara yang paling tegas. Ia melihat bahwa penafsiran al-Zamakhsharī sering memantulkan pandangan Qadariyyah, terutama ketika membahas ayat tentang kehendak Allah. Baginya, keindahan bahasa dalam tafsir itu tidak bisa menutupi bias akidah yang kuat (Al-Zamakhshari, 2009: 15).

Kritik yang sama datang dari Tāj ad-Dīn as-Subkī, yang menilai bahwa problem utama al-Kasysyāf bukan bahasanya, tapi keberanian al-Zamakhsharī menampilkan ajaran Mu‘tazilah secara terang-terangan. Ia menegaskan bahwa bagian-bagian tersebut seharusnya dihapus demi menjaga pembaca awam (Al-Zamakhshari, 2009: 15).

Abū Hayyān al-Andalusī bahkan memberi respons jauh lebih keras. Ia menilai al-Zamakhsharī menggunakan hadis tidak sahih, sering menyerang para imam, dan memperpanjang penjelasan demi membela mazhabnya. Baginya, penyimpangan itu sangat serius hingga ia menyebut al-Zamakhsharī “keluar dari agama”. (Al-Zamakhshari, 2009: 15).

Adapun Ibn al-Munīr al-Mālikī mengambil langkah berbeda. Ia menulis hāsyiyah khusus untuk membantah aspek-aspek Mu‘tazilah dalam al-Kasysyāf. Meski sangat keras dalam kritik teologinya, ia tetap mengakui ketajaman analisis bahasa al-Zamakhsharī dan menyebutnya sebagai ahli balaghah yang brilian (Al-Zamakhshari, 2009: 16).

Al-Kasysyāf tetap menjadi warisan intelektual yang memikat sekaligus diperdebatkan. Keindahan bahasanya membuat banyak ulama mengaguminya, sementara jejak teologi Mu‘tazilah membuat sebagian lain bersikap hati-hati. Justru karena dua sisi ini, al-Kasysyāf terus dibaca hingga kini dan sebagai rujukan penting dalam balaghah, namun tetap disikapi dengan kewaspadaan dalam soal akidah.

Warisan al-Zamakhsharī menunjukkan bahwa sebuah karya besar tidak selalu lahir dari satu warna; terkadang ia hadir sebagai perpaduan antara kejeniusan, keberanian intelektual, dan ketegangan di dalamnya. Justru ketegangan inilah yang membuat al-Kasysyāf tetap relevan, dibahas, dan diperdebatkan dari masa ke masa.

Referensi

Al-Zamakhshari, A. al-Q. M. ibn M. ibn ‘Umar. (2009). Al-Kasyaf ‘An Haqaiq At-Tanzil Wa ‘Uyun Al-Aqawil Fii Wujuh At-Ta’wil. Dar  Al-Marefah. https://archive.org/details/galerikitabkuningmaktabanakasyyaf/page/n14/mode/1up

‘Ulum, M. N., Kholishoh, M., & Ayyubi, Moh. H. (2024). Al-Ashil dan Al-Dakhil Penafsiran “Ayat Melihat Tuhan” dalam Tafsir Al-Kasysyaf. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(8), 8235–8239. https://doi.org/10.54371/jiip.v7i8.5669

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *