Tafsir Nurul Huda merupakan salah satu karya tafsir Al-Qur’an berbahasa Madura yang disusun secara cermat oleh Mudhar Tamim (1916-2000). Karya ini memiliki rekam jejak sejarah yang unik, terbukti dari adanya dua versi dokumen yang berbeda format. Tulisan ini akan membahas transformasi historis tafsir tersebut beserta nilai-nilai pengajaran di dalamnya.
Konteks Sejarah dan Tujuan Awal Penulisan
Kehadiran Tafsir Nurul Huda pada awalnya tidak lepas dari program pembangunan pemerintah daerah di Pamekasan. Tafsir ini mulai ditulis pada tahun 1969 sebagai sarana pendukung keberhasilan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Fakta ini menunjukkan adanya integrasi yang baik antara pembangunan negara dengan pembinaan mental masyarakat.
Tujuan spesifik dari penyusunan awal ini ditegaskan secara langsung oleh penulisnya dalam prakata naskah salinan lengkap. Mudhar Tamim menyatakan bahwa tafsir ini disiapkan untuk materi siaran dakwah di radio setiap hari Jumat. Ia menulis, “Maksod se pertama deri sosonan tasir basa Madura paneka delem rangka Repelita; ka-angguj ebetja sabban are Djum’at e RHANSICO (Radio Hansip Corporation) e Pamekasan, etoddjuagi de’ masjarakat Pamekasan ka-angguy dakwah” (Tamim, 1969: vii).
Kutipan tersebut menjadi bukti bahwa pada fase pertama kelahirannya, tafsir ini berfungsi sebagai instrumen lisan. Karena ditujukan untuk didengarkan melalui radio, gaya bahasanya sengaja disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat. Penulis menggunakan bahasa Madura pertengahan yang mudah dicerna, bukan bahasa sastra daerah yang rumit.
Pendekatan dakwah yang membumi ini mendapat apresiasi dan sambutan besar dari para pejabat pemerintah masa itu. Dukungan ini terlihat dari banyaknya kata sambutan resmi yang melampiri naskah dokumentasi tafsir tersebut. Mulai dari Pejabat Gubernur Jawa Timur Mohammad Noer, hingga Bupati Pamekasan R. Halioedin, memberikan dukungan tertulis (Tamim, 1969: ii-iv).
Dukungan struktural ini menegaskan argumen bahwa kajian tafsir Al-Qur’an diakui sebagai pondasi penting pembangunan moral bangsa. Pemerintah menyadari bahwa program nasional tidak akan sukses tanpa masyarakat yang bertakwa. Oleh karena itu, dakwah melalui siaran radio yang menggunakan Tafsir Nurul Huda dianggap sangat strategis.
Naskah awal tafsir ini juga menunjukkan tingkat ketelitian akademis penulisnya sebelum akhirnya dipersingkat. Pada versi manuskrip salinan lengkap ini, kita dapat menemukan rincian daftar pustaka yang mencantumkan 19 bahan bacaan referensi. Rujukan literatur tersebut sangat beragam, mulai dari kitab Tafsir Fathul Kadir hingga Kamus Almunjid (Tamim, 1969: viii).
Berdasarkan kelengkapan dokumen tersebut, fase pertama dari kehidupan Tafsir Nurul Huda adalah fase yang sangat birokratis. Tafsir ini lahir murni dari kebutuhan dakwah lisan untuk menyukseskan program pemerintah daerah. Naskah salinan lengkap dari tahun 1969 ini menjadi saksi eratnya sinergi antara ulama dan birokrat.
Transformasi Cetakan dan Pembaruan Ejaan
Setelah fase siaran radio berlalu, naskah Tafsir Nurul Huda memasuki babak komersialisasi dan penyederhanaan format. Perjalanan ini dibuktikan dengan terbitnya dokumen versi cetakan kedua oleh Penerbit “Menara Kudus”. Pada versi ini, naskah disesuaikan menjadi buku saku praktis dan dicetak massal menggunakan mesin cetak offset (Tamim, [1972?]: 1).
Perubahan struktural paling mencolok pada cetakan kedua ini adalah penghapusan lampiran historis dan catatan akademis. Kata sambutan para pejabat, keterangan tujuan awal siaran radio, serta daftar 19 kitab rujukan, sengaja dihilangkan. Buku ini langsung dibuka dengan kata pengantar singkat dari penerbit dan diikuti daftar isi tematik.
Penghilangan bagian arsip bersejarah ini bukannya tanpa alasan logis yang kuat. Tujuan penerbitan buku komersial tentu sangat berbeda dengan naskah dokumentasi arsip milik pemerintah daerah. Pihak penerbit menginginkan pembaca langsung berfokus pada isi tafsir, tanpa dibebani teks pengantar birokratis yang sudah lewat masanya.
Selain penyederhanaan isi pengantar, aspek ejaan bahasa Madura juga mengalami pembaruan yang sangat signifikan. Penulis dan penerbit mengubah penggunaan ejaan lama menjadi ejaan baru agar selaras dengan pedoman ejaan bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan demi menyasar segmentasi pembaca baru, khususnya dari kalangan anak muda.
Pihak penerbit secara eksplisit menyatakan alasan di balik perubahan ejaan ini pada halaman kata pengantar. Mereka menulis, “…ecetak pole kalaban cetakan se kapeng dua’ sareng ngangguy eja’an anyar (baru) ecocok-agi (disesuaikan) sareng eja’an basa Indonesia…” (Tamim, [1972?]: 1). Argumen ini menunjukkan kesadaran literasi bahwa generasi muda Madura mulai menggunakan ejaan baru.
Penerbit juga menyampaikan permohonan maklum jika penerapan ejaan baru ini belum sepenuhnya sempurna. Dalam pengantarnya disebutkan, “Pengarang/Penerbit agalluwi (ngada’i) ngangguy eja’an anyar sanaos gi’ ta’ pate samporna; namong ngambri agampang-agia da’ para maos ngodadan…” (Tamim, [1972?]: 1). Kutipan bernada rendah hati ini memperkuat bukti bahwa kemudahan membaca bagi pemuda adalah prioritas utama.
Dengan segala perombakan tersebut, Tafsir Nurul Huda berhasil bertransformasi mengikuti tuntutan perubahan zaman. Dari naskah dakwah radio yang sarat dukungan pejabat, naskah ini berubah menjadi buku bacaan keagamaan yang merakyat. Inovasi pembaruan ejaan menjadi kunci utama agar tafsir berbahasa daerah ini tetap relevan dibaca generasi baru.
Muatan Nilai dan Kedalaman Tafsir
Di balik sejarah penerbitannya yang dinamis, esensi pengajaran agama dalam Tafsir Nurul Huda tetap terjaga. Mudhar Tamim secara konsisten menyusun isi tafsir ini dengan penekanan kuat pada pemurnian akidah dan tata cara ibadah. Pemilihan bahasa Madura terbukti efektif menjadi medium penyampaian pesan tauhid yang mendalam kepada masyarakat akar rumput.
Kedalaman pemahaman tafsir ini terlihat saat penulis menjelaskan makna asma Allah di dalam kalimat Basmalah. Dalam penjelasannya, penulis mengajak pembaca menyadari kelemahan manusia sekaligus mengakui keagungan Tuhan. Ia menafsirkan, “Manossa edunnja paneka mahlok se paleng moldja, eparenge sjahwat sareng eparenge akal” (Tamim, 1969: 1).
Meskipun manusia adalah makhluk paling mulia yang dibekali akal, mereka memiliki keterbatasan mutlak di hadapan Allah. Oleh sebab itu, segala bentuk pujian dan ibadah hanya layak ditujukan kepada-Nya semata. Hal ini tercermin jelas dalam penafsiran surah al-Fatihah yang banyak menguraikan konsep penciptaan alam semesta.
Penulis dengan tegas mendefinisikan siapa sebenarnya sosok Allah yang patut disembah, agar umat tidak tergelincir pada kesyirikan. Ia menuliskan, “Allah paneka banne tuhan se eponjung-eponjung, e semba-semba akadi bato raja, kajuan raja, songay raja, arca-arca, manossa-manossa se mabuk kakobasaan…” (Tamim, [1972?]: 8). Argumentasi teologis ini relevan dengan kebudayaan lokal yang terkadang masih lekat dengan praktik pengultusan benda alam.
Kutipan tersebut menjadi bukti nyata bahwa karya tafsir ini aktif merespons realitas sosial kultural masyarakat Madura. Peringatan agar masyarakat tidak menyembah “batu besar” atau “pohon besar” menunjukkan pendekatan dakwah yang membumi. Lewat cara ini, tafsir tersebut difungsikan sebagai alat pelurus akidah yang disesuaikan dengan tantangan lokal.
Selain pemurnian akidah, tafsir ini menyoroti pentingnya menjaga kekhusyukan dalam menjalankan ibadah, khususnya saat mendirikan salat. Mudhar Tamim memberikan gambaran bahwa salat yang benar harus dilakukan dengan penyerahan diri total. Pikiran manusia sama sekali tidak boleh terpecah pada urusan duniawi ketika sedang menghadap Sang Pencipta.
Dalam menggambarkan kekhusyukan tersebut, penulis memberikan analogi yang indah mengenai kejernihan hati dalam beribadah. Ia menyatakan, “Daddi kodu morne (benneng), opama akadi benneng-nga aeng tengal… sadajana pola tengka ban se emaos edalem solat, paneka kodu jatmeka, mantep, maressep da’ sakojurra badan…” (Tamim, [1972?]: 16). Analogi kejernihan “air laut” (aeng tengal) ini dinilai sangat pas mengingat wilayah Madura yang dikelilingi lautan.
Penggunaan analogi kultural semacam inilah yang membuat Tafsir Nurul Huda memiliki nilai lebih di hati masyarakat. Konsep agama yang abstrak bagi orang awam, berhasil dibawa menjadi sesuatu yang dekat dan akrab. Hal ini membuktikan kepiawaian Mudhar Tamim dalam meramu rujukan kitab kuning dengan bingkai kearifan budaya lokal.
Tafsir Nurul Huda karya Mudhar Tamim merupakan warisan literasi Islam yang membuktikan betapa dinamisnya sebuah naskah dakwah merespons kebutuhan zaman. Bermula dari naskah siaran radio yang didukung pejabat daerah pada tahun 1969, tafsir ini sukses bertransformasi menjadi buku komersial dengan ejaan baru. Melalui pendekatan bahasa Madura yang membumi dan kental dengan analogi lokal, karya ini sukses menyampaikan nilai-nilai tauhid dan ibadah secara mendalam serta tepat sasaran.
Daftar Pustaka
Tamim, Mudhar. [1972?]. Tafsir: Qur’anul – Karim “Nurul – Huda” Dalam Bahasa Madura Juz: I. Cetakan Kedua. Kudus: Penerbit “Menara Kudus”.
Tamim, Mudhar. 1969. Tafsir: Qur’anul-Karim “Nurul Huda” dalam Bahasa Madura Djuz: 1. Pamekasan.





