Manusia itu (dahulunya) umat yang satu. lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. (QS. Al-Baqarah [2]: 213) dan Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad). Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (QS. Ghâfir [40]: 78). Berdasarkan kedua ayat ini, al-Baydhâwî (1418a H: 35, 1418b H: 64) mengutip riwayat dari Ka’ab bahwa ada 142.000 nabi dan 313 rasul. Abu Hayyân (1420 H: 650) meriwayatkan hadis Ibn ‘Abbâs bahwa ada 120.000 nabi dan 313 rasul. Ada juga yang menyebut 8000 nabi; 4000 nabi dari Bani Israil dan 4000 nabi dari selain mereka (Ibn Abî Jâmi’, 1413 H: 143). Mayoritas mufassir menyebutkan ada 124.000 nabi
Terjadi perdebatan dalam kalangan Muslim tentang sosok Aristoteles. Ada yang berpandangan bahwa Aristoteles adalah seorang nabi, dan ada juga yang mengatakan bahwa Aristoteles bukan nabi.
Argumentasi kenabian Aristoteles disebutkan dalam kitab Mahbûb al-Qulûb karya al-Daylamî al-Asykûrî (1999: 117) disebutkan,
Diriwayatkan bahwa ‘Amr ibn al-‘Âsh datang dari Alexandria (Iskandariyah) menghadap Rasulullah saw. Lalu beliau bertanya kepadanya tentang apa yang telah dia lihat. ‘Amr menjawab, “Aku melihat sekelompok orang yang mengkaji pemikiran filsafat (Thales), berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran, dan mereka membicarakan seorang laki-laki yang disebut Aristoteles, semoga Allah melaknatnya.” Rasulullah saw. bersabda, “Diamlah wahai ‘Amr! Sesungguhnya Aristoteles adalah seorang nabi, tetapi kaumnya tidak mengenalnya.”
Hadis ini banyak dikutip dalam kitab-kitab filsafat, di antaranya Syahrazûrî (2007: 37) dalam kitabnya, Târîkh al-Ḥukamâ’ Qabla Ẓuhûr al-Islâm wa Ba‘dahu (Nuzhat al-Arwâh wa Rawdhat al-Afrâh), Ḥasan Zâdeh Âmulî (1991: 63) dalam komentarnya terhadap kitab Syarh al-Manzhûmah karya Sabzawârî, Ibn Qarchaghây Khân(1377 HS:572) dalam kitab Ihyâ’-yi Hikmat, Syahrazûrî (1383 HS: 6) dalam kitab al-Syajarat al-Ilahiyyah, dan Bîdârfar (1366 HS: 54).
Selain hadis tersebut, Syahrazûrî (2007: 35) juga menukil riwayat bahwa apabila ada seseorang dari kalangan umat Nabi saw. yang telah mencapai kesempurnaan (dalam ilmu, kebijaksanaan, dan pemahaman), maka Nabi saw. berkata kepadanya, يا أرسطاطاليس هذه الأمة “Wahai Aristoteles umat ini!” Ungkapan tersebut merupakan pujian yang menggambarkan orang itu sebagai sosok yang memiliki hikmah (kebijaksanaan) dan makrifat yang mendalam. Hal yang sama disebutkan dalam kitab Rasâ’il Ikhwân al-Shafâ’ (1412 H: 263) dalam teks yang berbeda, “Jika seseorang dari kalangan keluarga Nabi saw. atau para sahabatnya telah mencapai puncak keutamaan dan kebijaksanaan, maka dia berkata dengan penuh kebanggaan, ‘Aku adalah Aristotelesnya umat ini.’”
Ibn Qarchaghây Khân (1377 HS: 572) menjelaskan bahwa sosok yang dimaksud dalam ungkapan penghormatan itu adalah ‘Alî ibn Âbi Thâlib. Ibn Qarchaghây Khân (1377 HS: 572) juga mengutip riwayat bahwa Rasulullah saw. pernah mengomentari Aristoteles dengan mengatakan, “Seandainya dia hidup pada masaku dan bertemu denganku, niscaya dia akan memperoleh manfaat serta mengambil ilmu dariku.” Shadr al-Dîn Syîrâzî (1366 HS:105) menyebut Aristoteles sebagai seseorang yang nama dan sifatnya dipuji dalam syariat dengan menukil hadis Nabi saw., “Dia adalah seorang nabi di antara para nabi yang tidak dikenali oleh kaumnya.” Dia juga mengutip hadis lain bahwa Nabi saw. berkata pada ‘Alî ibn Abî Thâlib, “Wahai Aristoteles umat ini!” dan hadis lain, “Wahai ‘Alî, engkau adalah Aristoteles umat ini dan Dzulqarnaynnya.” Aristoteles pernah disebut dalam suatu majelis Nabi saw, lalu beliau bersabda, “Seandainya dia (Aristoteles) hidup hingga mengetahui apa yang aku bawa (ajaran yang aku sampaikan), niscaya dia akan mengikutiku dan memeluk agamaku.”
Âsytiyânî (1378 HS: 98) mengutip pandangan Mîr Findiriskî tentang hadis kenabian Aristoteles. Rasulullah saw. menyandarkan gelar kenabian kepada Aristoteles sebagai majazi (kiasan) dan makna linguistik, karena Aristoteles telah mencapai derajat yang tinggi dalam ilmu. Bagi al-Thûsî (1406 H: 244), nabi dalam pengertian ‘urf adalah seseorang yang menyampaikan pesan dari Allah tanpa perantara manusia. Adapun makna kata nabi secara bahasa mengandung dua kemungkinan. Pertama, bermakna orang yang memberi kabar atau berita (al-mukhbir). Dalam pengertian ini, kata nabi berasal dari kata al-anbâ’ (الأنباء) yang berarti al-akhbâr (berita-berita atau kabar-kabar). Kedua, bermakna kemuliaan, ketinggian, dan keluhuran kedudukan. Dalam pengertian ini, kata tersebut berasal dari al-nabâwah (النباوة), yaitu ketinggian (al-irtifâ’). Apabila yang dimaksud dengan kata nabi adalah makna keluhuran kedudukan, maka pengucapannya tidak dengan hamzah, melainkan dengan tasydîd.
Di sisi lain menurut Heschel (1969: x), nabi adalah seorang pribadi, bukan sekadar mikrofon. Dia dianugerahi sebuah misi dan kekuatan untuk menyampaikan firman yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Inilah yang menjadi sumber keagungannya. Namun, pada saat yang sama, dia juga memiliki temperamen, kepedulian, karakter, dan individualitas sebagai manusia. Sebagaimana tidak mungkin menolak pengaruh inspirasi ilahi yang datang kepadanya, demikian pula pada saat-saat tertentu tidak mungkin mengabaikan arus kuat temperamen pribadinya sendiri. Firman Tuhan bergema melalui suara seorang manusia. Tugas nabi adalah menyampaikan pandangan ilahi, tetapi sebagai seorang pribadi, dia juga memiliki sudut pandang tertentu. Dia berbicara dari perspektif Tuhan sebagaimana dipahaminya dalam konteks situasi yang dihadapinya sendiri. Oleh karena itu, orang-orang harus berusaha memahami bukan hanya gagasan-gagasan yang dia sampaikan, melainkan juga sikap-sikap yang dia wujudkan; bukan hanya pandangan yang dia ajarkan, tetapi juga posisi, perasaan, dan respons pribadinya.
Bagi Daylamî Ashkûrî ((1999, 117), riwayat tentang kenabian Aristoteles diperkuat oleh apa yang dinukil oleh Raḍî al-Dîn ‘Alî ibn Thâwûs dalam kitabnya, Faraj al-Mahmûm fî Ma‘rifat al-Ḥalâl wa al-Ḥarâm min ‘Ilm al-Nujûm. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa Hipparchus (Abrakhas/Abarkhas) dan Ptolemaios (Batlamyus) dari kalangan nabi. Bahkan, kebanyakan para filsuf (ḥukamâ’) juga demikian. Namun, persoalan mereka menjadi samar bagi banyak orang karena nama-nama filsuf yang berbahasa Yunani. Maksudnya, ketika nama-nama mereka bertepatan dengan nama sebagian filsuf Yunani yang dinisbatkan memiliki keyakinan yang menyimpang, masyarakat kemudian mencampuradukkan identitas mereka. Akibatnya, orang-orang mengira bahwa semua pemilik nama-nama tersebut berada pada jalan keyakinan yang sama, padahal kenyataannya tidak demikian.
Ibn Qarchaghây Khân (1377 HS: 573) mengutip pandangan penulis kitab Sirr al-Asrâr
“Iskandar telah memilih Aristoteles karena keluasan ilmunya, ketepatan pandangannya, komitmennya dalam mengikuti ilmu, keunggulannya dalam akhlak yang mulia, kecakapannya dalam tata kelola politik yang terpuji, penguasaannya terhadap ilmu-ilmu ketuhanan, dan kehidupannya yang dipenuhi wara‘, ketakwaan, kerendahan hati, kecintaan kepada keadilan, dan penyebaran kebenaran. Oleh karena itu, mayoritas ulama tidak menempatkannya kecuali dalam golongan para nabi. Dalam banyak catatan sejarah Yunani juga disebutkan bahwa Allah mewahyukan kepadanya, ‘Sesungguhnya Aku lebih dekat untuk menamakanmu seorang malaikat daripada menamakanmu seorang manusia.’ Aristoteles memiliki berbagai keajaiban dan keistimewaan yang luar biasa, yang jika dijelaskan satu per satu akan memerlukan uraian yang panjang.”
Dalam kitab Uṯûlûjiyâ (أثولوجیا) Aflûthîn ‘inda al-‘Arab yang merupakan pemikiran Plotinus yang diarabkan terdapat bagian yang disebut al-Mîmar al-Awwal min Kitâb Aristhâthâlis al-Faylusûf al-Musammâ bi al-Yunâniyyah “Uṯûlûjiyâ” (risalah pertama dari kitab Aristoteles sang filsuf yang dalam bahasa Yunani disebut Theologia (Athologia) (Plotinus, 1413 H: 3-28). Dalam penelitian Corrigan dan Zaidi (2019: 30) disebutkan bahwa Theology of Aristotle (Uṯûlûjiyâ Arisṭûṭâlîs) dan sejumlah kompilasi lain yang dikenal sebagai Plotiniana Arabica berisi kutipan-kutipan dari tulisan-tulisan Plotinus. Tulisan-tulisan tersebut sebelumnya telah dikumpulkan dan disusun oleh Porphyry ke dalam enam kelompok yang masing-masing terdiri atas sembilan bagian (Enneads). Pada abad ke-9, kumpulan teks ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh para penerjemah Kristen Suriah yang bekerja dalam lingkungan intelektual al-Kindî. Theology of Aristotle memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan pemikiran filsafat para pemikir Muslim dan Yahudi. Hingga kini, tidak diketahui secara pasti bagaimana dan mengapa karya Plotiniana Arabica ini secara keliru dinisbatkan kepada Aristoteles. Sebab, kumpulan teks tersebut dengan jelas mengandung parafrase (pengungkapan ulang) dari bagian-bagian Enneads IV–VI karya Plotinus.
Dalam akhir tulisan ini, penulis mengutip beberapa kalimat dari dinisbatkan pada Aristoteles,
“Sesungguhnya, terkadang aku menyendiri dengan diriku sendiri, melepaskan tubuhku seakan-akan menyingkirkannya ke samping, lalu aku menjadi seolah-olah suatu substansi murni yang terbebas dari badan. Aku masuk ke dalam diriku sendiri, kembali kepada hakikat diriku, dan keluar dari segala sesuatu selain diriku. Pada saat itu aku menjadi sekaligus pengetahuan (al-‘ilm), yang mengetahui (al-‘âlim), dan yang diketahui (al-ma’lûm). Maka aku menyaksikan dalam diriku keindahan, kemuliaan, dan cahaya yang demikian agung sehingga aku tetap berada dalam keadaan takjub dan terpana karenanya. Dari situ aku mengetahui bahwa diriku merupakan bagian dari alam yang mulia, yang utama, dan yang ilahi, yang memiliki kehidupan yang aktif. Ketika keyakinanku terhadap hal itu semakin kuat, aku pun naik dengan diriku dari alam tersebut menuju alam ilahi. Aku menjadi seakan-akan ditempatkan di dalamnya dan bergantung kepadanya. Pada saat itu aku berada di atas seluruh alam intelek (al-‘âlam al-‘aqlî). Aku melihat diriku seolah-olah berdiri pada kedudukan ilahi yang mulia itu. Di sana aku menyaksikan cahaya dan keindahan yang tidak mampu dilukiskan oleh lisan, dan tidak pula dapat dipahami secara sempurna oleh pendengaran. Ketika cahaya dan keindahan itu sepenuhnya menguasai diriku, sementara aku tidak lagi sanggup menanggungnya, maka aku turun dari tingkat akal (al-‘aql) menuju tingkat pemikiran dan perenungan (al-fikr wa al-rawiyyah). (Plotinus, 1413 H: 22).”
Tulisan ini sebenarnya tidak “memiliki kebaruan dan memberikan kontribusi nyata dalam masyarakat.” Bahkan, tulisan ini yang hanya merupakan kumpulan “nukilan” dari berbagai sumber yang diramu sedemikian adanya. Anggap saja tulisan ini merupakan “ke-sokbanget-an” penulis dalam memperkenalkan Aristoteles sebagai nabi. Alakullihal, dengan tulisan ini, (dalam bahasa kesalehan) penulis bersyukur pernah belajar filsafat dan mendapat income dari mengajar filsafat. Ternyata, banyak keragaman persepsi yang “lalu lalang” dalam dunia pemikiran keagamaan. Penulis mengerti bahwa setiap individu punya persepsi, dan penulis belajar bagaimana menghargai persepsi setiap orang. Karena penulis merupakan bagian dari masyarakat, maka tulisan ini memberikan kontribusi nyata bagi salah seorang anggota masyarakat. Itu nyata dirasakan oleh penulis.
Referensi
Abraham J. Heschel, The Prophets: An Introduction, New York: Harper Colophon Books, 1969, cet. pertama, vol.1
Abû Hayyân, Muhammad ibn Yûsuf, al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr (ed. Muhammad Shidqî al-Jamîl), Beirut: Dâr al-Fikr, 1420 H, cet. pertama, vol. 1.
Âsytiyânî, Jalâl al-Dîn, Muntakhabâtî az Âtsâr-e Hukamâ-ye Ilâhî-ye Îrân. Qom: Daftar-e Tablîghât-e Islâmî-ye Hawzah-ye ‘Ilmiyyah-ye Qum, Markaz-e Intisyârât, 1378 HS, cet. pertama, vol. 1.
al-Baydhâwî, ‘Abdullâh ibn ‘Umar, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl (Tafsîr al-Baydhâwî) (ed. Muhammad ‘Abd al-Rahmân al-Mar’asyalî), Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabî, 1418 H, cet. pertama, vol. 1.
al-Baydhâwî, ‘Abdullâh ibn ‘Umar, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl (Tafsîr al-Baydhâwî) (ed. Muhammad ‘Abd al-Rahmân al-Mar’asyalî), BeiruT: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabî, 1418 H, cet. pertama, vol. 5.
Bîdârfar, Muhsin, Muqaddimah dalam Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm (ed. Muhammad Khâjawî), Qom: Bîdâr, 1366 HS, cet. kedua, vol. 1.
Corrigan, Kevin dan Zaidi, Syed A. H, On Henry Corbin’s Theology of Aristotle dalam Kronos Philosophical Journal, vol. 111, 2019.
Daylamî Ashkûrî, Muhammad ibn ‘Alî, Mahbûb al-Qulûb. Tehran: Markaz-e Pizhûhishî-yi Mîrâts-e Maktûb, 1999, cet. pertama, vol. 1.
Ibn Abî Jâmi’, ‘Alî ibn al-Husayn, al-Wajîz fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azîz (ed. Mâlik Mahmûdî), Qum: Dâr al-Qur’ân al-Karîm, 1413 H, cet. peratama, vol. 3.
Ibn Qarchaghây Khân, ‘Alî Qulî, Ihyâ’-yi Hikmat (ed. Fâthimah Fanâ), Tehran: Ihyâ-yi Hikmat, 1377 HS/ 1999, cet. pertama, vol. 2.
Ibn Qarchaghây Khân, ‘Alî Qulî, Ihyâ’-yi Hikmat (ed. Fâthimah Fanâ), Tehran: Ihyâ-yi Hikmat, 1377 HS/ 1999, cet. pertama, vol. 3.
Ikhwân ash-Shafâ’, Rasâ’il Ikhwân ash-Shafâ, Beirut: ad-Dâr al-Islâmiyah, 1412 H, cet. pertama, vol. 4.
Plotinus, Uṯûlûjiyâ Aflûthîn ‘inda al-‘Arab (ed. ‘Abd al-Rahmân Badawî), Qom: Bîdâr, 1413 H, cet. pertama.
Sabzawârî, Hâdî ibn Mahdî, Syarh al-Manzhûmah (Ta‘lîqât Hasan Zâdeh Âmulî), Tehran: Nasyr Nâb, 1991, cet. pertama, vol. 1.
Shadr al-Dîn Syîrâzî, Muhammad ibn Ibrâhîm, Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm (ed. Muhammad Khâjawî), Qom: Bîdâr, 1366 HS, cet. kedua, vol. 3.
Syahrazûrî, Muhammad ibn Mahmûd, Târîkh al-Hukamâ’ Qabla Zhuhûr al-Islâm wa Ba‘dahu (Nuzhat al-Arwâh wa Rawdhat al-Afrâh) (ed. Abû Syuwayrib ‘Abd al-Karîm), Paris: Dâr Bîbliyûn (Dar Babylon), 2007, cet. pertama.
Syahrazûrî, Muhammad ibn Mahmûd, al-Syajarat al-Ilahiyyah (ed. Najaf Qalî Habîbî), Tehran: Mu’assasah-yi Pizhûhasyî Hikmat wa Falsafah Îrân, 1383 HS, cet. pertama, vol. 1.
al-Thûsî, Muhammad ibn al-Hasan, al-Iqtishâd fîmâ Yata’allaqu bi al-I’tiqâd, Beirut: Dâr al-Adhwâ’, 1406 H, cet. kedua,





