Nabi Isa Tidak Disalib? Mengupas Narasi Anti-Mainstream Maulana Muhammad Ali

Perdebatan mengenai akhir hayat Nabi Isa a.s. senantiasa menjadi diskursus yang hangat dalam sejarah pemikiran Islam maupun studi perbandingan agama. Secara umum, umat Islam meyakini bahwa Nabi Isa diangkat ke langit, sementara umat Kristiani meyakini beliau wafat di tiang salib sebagai bentuk penebusan dosa. Di sisi lain, kaum Yahudi mengklaim bahwa beliau telah wafat. Namun, Maulana Muhammad Ali, intelektual dari Ahmadiyah Lahore, menawarkan perspektif “berani” yang menantang arus utama tersebut.

Mayoritas keyakinan yang dipegang oleh umat Kristen terhadap Isa adalah dianggap sebagai Tuhan dan manusia sempurna yang menyebarkan ajaran-ajaran kasih sayang dan kedamaian serta memiliki kemukjizatan. Namun, mereka pun meyakini bahwa Isa telah disalib dan wafat yang nantinya akan turun kembali di hari akhir (Armajani, 2017, p. 63).

Bacaan Lainnya

 

Antara Teologi dan Sejarah Penyaliban

Ketika hendak memahami peristiwa penyaliban Isa, kita akan dihadapkan oleh dua kontradiksi realitas yang berbeda dari data dogmatis atau historis. Dogmatis di sini tentunya merujuk atas keyakinan umat Islam atas tidak adanya penyaliban terhadap nabi Isa. Namun, data sejarah mengatakan kejadian tersebut benar-benar terjadi.

Dalam literatur Kekristenan, Isa dipandang sebagai Tuhan sekaligus manusia sempurna yang membawa risalah kasih sayang. Mereka meyakini Isa wafat di tiang salib dan akan turun kembali di akhir zaman. Narasi penyaliban ini tercatat dalam Injil Markus 15:1–15, yang menggambarkan tekanan para imam terhadap Pilatus untuk menghukum Isa demi memuaskan massa (Andreyev, 1910, p. 124; Lembaga Alkitab Indonesia, 2021, p. 61). Namun, bagi umat Islam, keyakinan penyaliban hingga wafat ini ditolak secara teologis, sebagaimana merujuk pada Q.S. 4: 158-159.

 

Penyaliban: Ada, Namun Tidak Mematikan

Poin krusial dalam pemikiran Maulana Muhammad Ali adalah pengakuannya bahwa Nabi Isa memang benar-benar naik ke tiang salib. Pandangan ini berbeda dengan tafsir klasik yang menggunakan “teori substitusi” atau adanya orang yang diserupakan untuk menggantikan posisi beliau. Ali menolak narasi bahwa wajah orang lain, seperti Yudas Iskariot, diubah menjadi mirip Isa. Perlu dicatat bahwa Kekristenan meyakini sosok Yudas Iskariot sebagai pengkhianat dan dijadikan pelajaran bagi seseorang yang secara langsung mendengarkan khutbah-khutbah Yesus serta menyaksikan mukjizatnya.

Menurut Ali, ayat wa mā qatalūhu wa mā salabūhu (An-Nisa: 157) harus dipahami secara tekstual yaitu kaum Yahudi tidak membunuhnya dan tidak berhasil menyalibnya hingga mati. Dalam konteks hukum masa itu, “menyalib” berarti proses eksekusi hingga tewas. Ali berargumen bahwa proses penyaliban terjadi, namun Nabi Isa tidak wafat di atas kayu salib tersebut.

 

“Syubbiha Lahum” Pingsan atau Mati Suri?

Lalu, bagaimana dengan potongan ayat walakin syubbiḥa lahum yang sering diartikan “diserupakan bagi mereka”? Maulana Muhammad Ali memberikan penjelasan medis yang cukup menarik: yaitu; Pertama, Ali menolak narasi bahwa ada orang lain (seperti Yudas Iskariot) yang wajahnya diubah menjadi mirip Isa. Kedua, Isa diibaratkan “diserupakan dengan orang mati”. Pemahamannya adalah nabi Isa hanya mengalami pingsan atau mati suri akibat penderitaan di tiang salib.

Ketiga, Ali merujuk pada peristiwa penikaman lambung Nabi Isa yang mengeluarkan darah dan air. Secara medis, mengalirnya darah menunjukkan bahwa jantung masih berdenyut dan beliau sebenarnya masih hidup. Keempat, berdasarkan narasi Injil, Nabi Isa hanya berada di tiang salib selama beberapa jam, durasi yang dianggap tidak cukup untuk membunuh seseorang dalam proses penyaliban normal.

 

Perjalanan ke Timur dan Makam di Kashmir

Setelah selamat dan sembuh dari luka-lukanya, apa yang terjadi pada Nabi Isa? Maulana Muhammad Ali meyakini bahwa beliau tidak diangkat secara fisik ke langit. Baginya, ide tentang manusia hidup di langit selama ribuan tahun tanpa kebutuhan primer adalah hal yang tidak masuk akal.

Ali menarasikan bahwa Nabi Isa melanjutkan misinya mencari “domba-domba Israel yang hilang” di wilayah Timur. Beliau melakukan perjalanan jauh (inilah mengapa beliau bergelar Al-Masīh yang, dalam konteks ini, berarti pengembara) melalui Afghanistan hingga menetap di India. Maulana Muhammad Ali menyatakan bahwa Nabi Isa akhirnya wafat secara wajar dan natural di usia lanjut, sekitar 120 tahun. Beliau diyakini dimakamkan di Srinagar, Kashmir, India.

 

Makna “Diangkat” Menurut Akal Sehat

Jika tidak naik ke langit, apa makna Allah “mengangkat” Nabi Isa? Ali menjelaskan bahwa kata rafa‘a (mengangkat) dalam Al-Qur’an merujuk pada pengangkatan derajat atau kemuliaan spiritual, bukan perpindahan raga ke angkasa. Ali menganalogikan ini dengan doa kita dalam salat, “warfa‘nī” (angkatlah aku), yang tentu berarti memohon kemuliaan posisi di sisi Allah, bukan memohon diterbangkan ke langit (Wijaya, 2025).

 

Catatan Akhir

Pandangan Maulana Muhammad Ali ini memang provokatif karena memadukan analisis teks suci dengan pendekatan sejarah dan rasionalitas. Melalui perspektif ini, Nabi Isa diposisikan sebagai manusia biasa sekaligus Rasul yang tetap mendapatkan perlindungan Allah dari kematian yang terkutuk di tiang salib, namun tetap menjalani hukum alam hingga akhir hayatnya di bumi.

 

Referensi

Andreyev, L. N. (1910). Judas Iscariot. Francis Griffiths. https://dn710105.ca.archive.org/0/items/judasiscariot00andrrich/judasiscariot00andrrich.pdf

Armajani, J. (2017). Interpretations of Jesus and the Virgin Mary in the Quran and the Bible : A Possible Contribution to Muslim-Christian Cooperation ? 1(1), 63–79.

Lembaga Alkitab Indonesia. (2021). Alkitab (NL). Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia.

Wijaya, R. (2025). Nabi Isa Tidak Disalib?: Pandangan Maulana Muhammad Ali yang Kontradiktif (R. R. Jannah (ed.); I). CV Pustaka Egaliter.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *