Membaca Al-Quran dengan Lensa Kritik Retorika

Layaknya seorang manusia yang berbicara kepada manusia lainnya, ia selalu memiliki seni tertentu dalam menyampaikan pesan yang dimaksud. Mulai dari kemampuan mempengaruhi (persuasif), memberi pengetahuan (informatif), interaksi dua arah (komunikatif), memuji/mencela (epideiktik), sampai peristiwa masa lalu (forensik) selalu menjadi fitur tersendiri ketika seseorang berbicara. Begitu juga dengan teks al-Quran, yang terus dibaca dan dipahami sampai saat ini, memiliki gaya retorika yang selalu muncul pada setiap kontennya.

Ketika al-Quran berdialektika dengan lawan bicaranya, apakah pernah terbayang bagaimana pesan-pesan yang disampaikan begitu komunikatif dan informatif? Bukankah manusia yang ingin menandinginya sampai kewalahan untuk menyangkal informasi yang sangat nyata ada di hadapannya. Bahkan sebaliknya, al-Quran menjadi fitur yang bisa membujuk, mempengaruhi karakter para audiensnya.

Bacaan Lainnya

Teori sastra Arab yang dikenal dengan ilmu balāghah lewat bayān, ma‘āni, dan badī‘-nya sangat representatif dalam mendiskusikan fitur intrinsik al-Quran. Abdel Haleem, seorang cendekiawan Muslim dari SOAS London juga menegaskan satu hal penting: al-Quran bukanlah tesis akademik yang kaku, melainkan suatu teks yang dimaksudkan untuk mempengaruhi pikiran serta jiwa pendengar atau pembacanya (Haleem, 2020: 327).

Kemudian, al-Quran begitu kental dengan budaya lisan (orality) pada awal kemunculannya, namun seiring berjalannya waktu bergeser menjadi teks yang tampak. Walaupun berbentuk teks, nuansa oralitasnya masih begitu melekat. Hal ini terdeteksi melalui banyaknya direct speech yang berulang, seperti kata qul (katakanlah) yang muncul lebih dari 300 kali pada al-Quran. Oleh sebab itu, al-Quran seakan sebuah panggilan yang terus hidup membentuk hubungan antara pembicara dan audiensnya (Zebiri, 2003: 97).

Selain daripada itu, kita bisa bayangkan misalkan pada surah nomor 2 dalam urutan Mushaf: Al-Baqarah. Pada pembuka surat, Tuhan menceritakan siapa itu orang beriman, kemudian berlanjut ke tema orang munafik, dan sampai pada penciptaan manusia. Sebenarnya apa maksud Tuhan menyimpan cerita penciptaan manusia setelah mengelaborasi ciri-ciri kedua orang tersebut? Gaya retorika semacam inilah yang jarang sekali mendapat perhatian para sarjana dan peneliti.

Kritik Retorika Al-Quran

Di mata banyak pemikir Barat, gaya retorika al-Quran menjadi sorotan untuk dikritisi lebih lanjut. Karena mereka mendiagnosis bahwa al-Quran memiliki ketidakteraturan pada wacana yang disajikan. Seperti topik yang berubah, peralihan tokoh yang mendadak, kerangka cerita yang kurang naratif, dan kualitas terjemahan yang tidak dinamis, menjadi titik paling sulit untuk sarjana Barat mengakui nilai kesusastraan al-Quran.

Jika seseorang membaca betul al-Quran dengan teliti, ditambah dengan tahu maknanya, wacana perubahan topik, tokoh, hingga dialog akan sangat terasa, karena disana letak keunikan retorika al-Quran. Tetapi, pembahasan perihal ini kurang mendapatkan perhatian yang lebih intens dari para penafsir (mufassir). Penafsir lebih tertarik dengan fitur persuasif al-Quran, dengan menjelaskan ayat demi ayat secara terpisah.

Pada dasarnya kritik retoris ini menganggap pembaca/pendengar itu bersifat aktif, tidak pasif, sebab al-Quran cukup aware dalam menanggapi pertanyaan, fenomena, dan lingkungan di sekitar Muhammad, bahkan terkadang al-Quran juga mengomentari kehidupan Muhammad sendiri. Kritik retoris juga melihat teks lebih luas, dengan tidak membacanya secara satu perspektif dan menganggap teks al-Quran sebagai satu kebenaran yang proposisional (Zebiri, 2003: 98).

Perlu ditekankan bahwasanya kritik retoris ialah pembacaan teks al-Quran sebagaimana adanya (bentuk final). Yakni dengan menggunakan pendekatan sinkronis daripada diakronis. Karena pendekatan pertama ini lebih memusatkan bagaimana dampak teks membentuk persepsi audiensnya saat ini. Sedangkan pendekatan kedua, cenderung dicap disektif (membedah-bedah) teks yang dicurigai dapat mengurangi pandangan terhadap pesan Tuhan sebagai pesan yang padu.

Umat Muslim, umumnya membaca teks al-Quran secara sinkronis, dan meyakini bahwa Tuhan menyampaikan firmannya melewati kitab suci dengan maksud tertentu. Oleh karena itu, pendekatan sinkronis ini lebih memungkinkan untuk melihat al-Quran sebagai pesan yang utuh. Singkatnya, pendekatan ini adalah membaca pesan Tuhan sebagai satu kesatuan yang utuh, dan tidak membatasinya pada pendengar pertama.

Selebihnya, pendekatan sinkronis menjadi instrumen para peneliti dan sarjanawan untuk menganalisis dinamika internal al-Quran. Adalah Toshihiko Izutsu dengan karya detail semantiknya, ia membaca al-Quran untuk berusaha mengetahui seperti apa hubungan antar konsep di dalam al-Quran (Al-Faruqi, 1962). Begitu juga buku Major Themes of the Qur’an karya Fazlur Rahman, yang menghimpun tema-tema di dalam al-Quran yang saling berkaitan (Rahman, 1980).

Lantas kenapa al-Quran membutuhkan kritik retoris? Karena al-Quran disini diposisikan tidak hanya sekedar dokumen abstrak yang memberikan banyak informasi belaka, melainkan ada nilai sastra yang menyatu dengan maksud Pewahyunya. Dari penggunaan kata yang dinamis, struktur wacana yang ditampilkan, hal tersebut menggambarkan keefektifan al-Quran dalam menyampaikan pesan-pesannya.

Sebagai contoh kita bisa melihat fitur pada al-Quran; kisah-kisah Nabi terdahulu dan dialog dramatis antara beberapa pihak, misalnya: manusia dengan Tuhan, Tuhan dengan malaikat, iblis, dan lain-lain. Sebenarnya, fungsi dari wacana tersebut bukan hanya menyampaikan informasi saja, melainkan juga memuat nilai keretorisan al-Quran kepada Muhammad sebagai penyampainya. Baik itu menguatkan hatinya, memperingati lawan bicaranya, sampai merespons kejadian pada saat itu (Zebiri, 2006: 266).

Retorika Klasik

Kate Zebiri dalam artikelnya cukup argumentatif memetakan antara penggunaan retorika Eropa klasik dan Islam klasik. Tokoh Aristoteles (384-322 SM) dari Yunani, melalui tiga mode artistik retoriknya, yakni ethos, pathos, dan logos, diakui sebagai penggagas retorika klasik. Karena ketiga teorinya ini dianggap mampu mengakomodir pembicara, audiens, dan argumen (teks) pada sastra.

Dalam konteks ini, ethos mengacu pada bagaimana kredibilitas ataupun otoritas yang dibangun oleh penulis/pembicara di mata audiensnya. Pathos, merujuk kepada seperti apa reaksi emosional atau respons yang terjadi pada audiens. Dan yang terakhir logos, ialah wacana atau penalaran logis yang ditonjolkan dalam teks. Perlu ditekankan bahwa secara keseluruhan ketiga aspek ini dirancang tidak hanya bertujuan untuk memberikan informasi kepada manusia, melainkan sekaligus untuk mengubah karakter dan tindakannya.

Selanjutnya, retorika Aristoteles ini memusatkan urgensinya dalam mencapai komunikasi yang efektif dan persuasif. Ini difokuskan supaya bisa mencapai pada kemampuan menyampaikan pesan secara logis, serta dibersamai dengan pemahaman karakter dan emosional (psikologis) manusia. Maka, tidak hanya sampai pada apa yang dikatakan, tetapi harus tahu juga, bagaimana cara menyampaikannya.

Pada mulanya, pendekatan retorika tumbuh dan berkembang pesat dalam konteks budaya lisan. Tetapi diskursus ini mulai terpinggirkan ketika memasuki akhir abad pertengahan. Era Renaisans mempunyai pengaruh yang signifikan atas kemunduran retorika klasik, masifnya industri percetakan dan minat literasi pada saat itu secara drastis membatasi komunikasi lisan. Hingga akhirnya, retorika hanya dipandang sebagai keindahan bentuk yang terpisah dari nilai filosofisnya.

Walaupun sempat tidak mendapatkan posisi yang krusial bagi peta intelektual Eropa sejak abad pertengahan, ketika memasuki abad ke-20 pendekatan ini mulai digencarkan kembali untuk dihidupkan. Karena efek dari adanya gerakan sastra baru yang disebut dengan “new rhetoric” (retorika baru), yang bertujuan untuk mengembalikan makna sastra, yang sebelumnya dianggap sebagai kajian gaya bahasa semata (Zebiri, 2003: 103).

Bagaimana dengan Retorika Islam Klasik?

Sama seperti tradisi al-Quran awal yang didominasi oleh budaya lisan (orality), sebab adanya tradisi hafalan yang pada saat itu menjadi salah satu ciri khas utama pengkajian terhadapnya. Implikasinya, kekhasan budaya lisan al-Quran sangat terasa jika didengarkan, hampir tidak terasa jika sudah bertrasnformasi menjadi teks. Sebab resitasinya mampu merefleksikan suara dan emosional yang berbeda, yang nantinya akan memberikan pengaruh psikologis dan kedalaman pesan yang diterima (Shah, 2020: 297).

Ilmu balāghah menjadi paling krusial dalam mengelaborasi gaya retorika al-Quran. Meskipun Zebiri lebih nyaman mengartikannya sebagai “kajian efektifitas estetik” tapi kebanyakan muslim mengakui balāghah sebagai gaya retorika al-Quran. Melalui tiga disiplin keilmuannya: ma‘āni yang menaruh perhatian pada pola penyampaian dan situasi, bayān dengan instrumen kejelasan dan kiasannya, dan badī‘ sebagai atribut stilistikanya.

Keunikan fitur kebahasaan al-Quran bisa kita temui dimulai dari pesan-pesan yang bersifat perfomatif (insya’) dan informatif (khabar) yang dibahas di kajian ma‘āni, al-Quran sangat memperhatikan konteks tutur terhadap lawan bicaranya (muqtadhal al). Kesempurnaannya dalam beretorika adalah kemampuannya memperhatikan apa pesan yang disampaikan, dan bagaimana cara menyampaikannya. Tradisi ini kerap kali dikenal dengan istilah “likulli maqām maqāl” (di setiap tempat/konteks ada cara tertentu untuk menyampaikan).

Semisal ujaran perintah, larangan, pertanyaan, dan ancaman, itu menunjukkan bahwa elemen-elemen tersebut dimaksudkan untuk mempengaruhi audiensnya. Belum lagi fitur lain seperti pengulangan cerita, sindiran, nasihat, interogasi, sampai teguran, mewarnai gaya retorikanya. Hampir di setiap ayat al-Quran itu memuat frasa yang berbeda-beda. Sehingga al-Quran lebih mudah dipahami sebagai komunikasi yang responsif atas situasi saat itu.

 

Kebangkitan Tafsir Retorika

Perkembangan ilmu balāghah, pada awalnya ditujukan untuk mengapresiasi doktrin kesusastraan al-Quran (i‘jāz al-Qurān). Disiplin ini ingin membuktikan bahwa al-Quran tidak bisa ditiru dan disaingi oleh sastra lainnya, terutama pada sektor gramatika dan gaya retorikanya yang tersebar dimana-mana (Abu-Zayd, 2003: 10).

Salah satu ulama yang cakap mengungkap pesan-pesan al-Quran melalui pendekatan balāghah (retorika) adalah Zamakhsyari (d. 539/ 1143), dengan al-Kasysyāf-nya yang monumental. Zebiri juga menyebutkan bahwa Zamakhsyari-lah penanda puncak studi retorika al-Quran. Karena pada karyanya, retorika dijadikan suatu instrumen untuk menafsirkan al-Quran, serta kita bisa tahu bahwa pemakaian retorika pernah menjadi bintang utama dalam menafsirkan al-Quran.

Perlu diketahui bahwasanya kritik retorika Zamakhsari seringkali dikaitkan dengan karya-karya Abdul Qahir Al-Jurjani, salah satu ulama terkemuka Asya‘irah yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Muktazilah (Ayub, 2022). Kemudian, yang nanti bisa kita saksikan pengembangan kritik retorisnya melalui karya cendekiawan Mesir Modern seperti Amin Al-Khulli, ‘Aisyah Abdurrahman Bint Syati, sampai Nasr Hamid Abu Zaid. Pemikiran mereka bisa dikatakan cukup argumentatif di bidang ini.

Antara Balāghah dan Kritik Retorika

Sejarah telah mencatat bahwa dinamika yang mencoba membedah kekuatan gaya bahasa tidak lepas dari konfrontasi Barat dan Timur. Tradisi Barat bersama kritik retorika Yunaninya, dan Timur bersama disiplin balāghah-nya. Meski keduanya memiliki kecenderungan yang sama—menginterpretasikan keefektifan bahasa verbal, akan tetapi keduanya memberikan penawaran yang berbeda.

Jika kritik retorika concern pada penekanan estetika dan dampak yang nyata kepada para audiensnya, baik secara sastrawi ataupun psikologis. Maka balāghah, concern pada kekuatan gaya bertutur secara efektif dan estetik. Namun perlu digaris bawahi bahwa keduanya merekognisi al-Quran sebagai satu sastra dengan kejeniusan linguistik bahasa yang tinggi.

Menjembatani pendekatan balāghah dan kritik retorika memberikan kita cara baru untuk bisa mengapresiasi al-Quran. dengan balāghah kita bisa menghormati kekhasan dan kekayaan bahasanya, sekaligus tradisi estafet penafsiran Islam. Sementara, dengan kritik retorika dapat memberikan kita alat analitis yang lebih luas, dengan melihat al-Quran bekerja secara psikologis dan dramatis untuk memukau Muslim selama berabad-abad tahun lamanya.

 

Notes

Abu-Zayd, N., 2003. The Dilemma of the Literary Approach to the Qur’an. Alif: Journal of Comparative Poetics 8. https://doi.org/10.2307/1350075

Al-Faruqi, I.R., 1962. Review of THE STRUCTURE OF THE ETHICAL TERMS IN THE KORAN. Islamic Studies 1, 148–154.

Ayub, 2022. FGD #1. Studi Tafsir. URL https://studitafsir.com/2022/07/20/mencari-sejarah-alternatif/ (accessed 6.28.26).

Haleem, M.A., 2020. Rhetorical Devices and Stylistic Features of Qur’anic Grammar, in: The Oxford Handbook of Qur’anic Studies. Oxford University Press, p. 327.

Rahman, F., 1980. Major themes of the Qurʾān.

Shah, M., 2020. Vocabulary of the Qur’an Meaning in Context, in: The Oxford Handbook of Qur’anic Studies. Oxford University Press, Oxford ; New York, NY, p. 297.

Zebiri, K., 2006. Argumentation, in: The Blackwell Companion to the Qur’an (Wiley Blackwell Companions to Religion). Blackwell Publishing Ltd, Australia, p. 560.

Zebiri, K., 2003. Towards a Rhetorical Criticism of the Qur’an. Journal of Qur’anic Studies 5, 95–120.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *