Salah satu pembacaan penting tentang penderitaan adalah; “Jika Tuhan Mahakuasa, bukankah mudah bagi-Nya menghilangkan kejahatan dan penderitaan makhluk-Nya? Jika tidak mampu menghapus atau menghilangkan kejahatan dan penderitaan, bukankah ia tidak Mahakuasa? Jika Tuhan tidak Mahakuasa, bukankah tidak pantas ia disebut Tuhan? Kalau begitu, bukankah kita tidak perlu memerlukan Tuhan?”
Pertanyaan tersebut merupakan wacana klasik problem kejahatan yang mempertanyakan secara serius keberadaan Tuhan. Dan, mungkin juga pertanyaan yang tidak lekang oleh zaman.
Peristiwa Palestina misalnya, yang sampai detik ini masih terus diperangi oleh Israel, sebagian dari kita yang hanya bisa berdoa agar umat Muslim di Palestina merdeka, apakah benar-benar didengar dan dikabulkan oleh Allah? Apakah Allah tahu, tapi menunggu? sebagaimana kisah Aksionov dalam cerpennya Leo Tolstoy, God Sees the Truth, but Waits (1872).
Penderitaan anak-anak yang tak berdosa—seperti yang kini dialami oleh mereka di Palestina akibat serangan brutal Israel—menggugah kembali pertanyaan moral dan teologis yang pernah diajukan Ivan Karamazov kepada saudaranya, Alyosha, dalam novel The Brothers Karamazov (1976: 307) karya Fyodor Dostoevsky.
“It’s not worth the tears of that one tortured child who beat itself on the breast with its little fist and prayed in its stinking outhouse, with its unexpiated tears to ‘dear, kind God’! It’s not worth it, because those tears are unatoned for. They must be atoned for, or there can be no harmony. But how? How are you going to atone for them? Is it possible? By their being avenged?”
Pertanyaan itu tak hanya menggugat keadilan ilahi, tetapi juga mengguncang fondasi keyakinan akan kebaikan Tuhan di tengah dunia yang sarat penderitaan.
Membaca penderitaan dan kejahatan secara serius bisa mengorbankan keimanan atau bahkan nyawa. Tak jarang, seseorang mudah ateis atau berpindah agama dan bunuh diri gara-gara tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan atau tidak kuat dengan derita yang ia alami.
Islam sendiri turut andil dalam menjawab persoalan ini. Namun pertanyaannya adalah, seserius apa? Dan bagaimana dengan di Indonesia?
Minimnya Kajian Teodisi dalam Kesarjanaan Muslim?
Pada tahun 1979, W. Montgomery Watt dalam artikelnya berjudul “Suffering in Sunnite Islam” menilai bahwa diskursus sarjana Muslim mengenai pembenaran penderitaan dan keadilan Tuhan (teodisi), kurang menaruh perhatian serius dibandingkan dengan tradisi Yahudi dan Kristen.
“It has been noted by various writers that Islam, in contrast to Judaism and Christianity, has paid little attention to the problem of theodicy…” (1979: 5).
Saya keberatan. Penilaian M. Watt agaknya terlalu umum dan kurang tepat jika dipahami secara mutlak. Jika yang dimaksud adalah penganut Islam Sunni pasca Imam Asy’ari, kita menemukan al-Ghazali (1058-1111) dan Fakhruddin al-Razi (1149-1210) yang sangat intens membahas persoalan yang sejalan dengan teodisi, jauh sebelum pencetus teodisi itu lahir; Gottfried Leibniz (1646-1716). Hanya saja dengan bahasa, konteks, dan kerangka epistemik yang berbeda.
Selain mereka berdua, Ibnu Sina (980-1037) dan Ibnu Rusyd (1126-1198) juga penting disebutkan dalam menyumbang khazanah teodisi dalam literatur Islam.
Meskipun demikian, penilaian M. Watt tersebut kiranya dapat dibenarkan dalam batas tertentu. Kita juga tidak bisa mengabaikan kontribusinya melalui karya-karya ilmiah yang serius dalam bidang sejarah awal Islam dan ilmu kalam. Mungkin saja beliau menilai bahwa tradisi keilmuan mengenai teodisi pada awal abad ke-20 masih sangat jarang dibahas oleh sarjana Muslim, atau bahkan mengalami stagnasi.
Kita bisa melihat beberapa artikel ilmiah sebelum tahun 1979 yang membahas tentang teodisi – yang semuanya ditulis oleh Orientalis: George F. Hourani, Averroes on Good and Evil (1962); M. J. L. Young, The Treatment of the Principle of Evil in the Qur’an (1966), dan John Bowker, The Problem of Suffering in the Qur’an (1969).
Bisa jadi M. Watt geleng-geleng kepala, persoalan teodisi yang merupakan dasar jurang keimanan seseorang malah ditulis secara serius oleh para non-Muslim. Lalu bagaimana diskursus teodisi Kristen dan Yahudi yang ditulis oleh non-Muslim sendiri di awal abad ke-20?
Setidaknya semenjak Leibniz menggagas konsep ‘teodisi’ dengan adagium terkenalnya, “the best of all possible worlds” (Theodicy, 2007: 253), lalu David Hume yang merumuskan problem kejahatan dalam Dialogue Concerning Natural Religion (1779: 186), kajian teodisi berkembang pesat di Barat, dan didominasi oleh non-Muslim.
Apakah dari pihak Muslim tidak ada sama sekali dalam interval waktu 1900-an? Ada. Penulis menemukan dua, dan keduanya pun tidak menyebutkan secara eksplisit kata kunci “evil”, “theodicy” atau “suffering”. Mereka adalah Fazlur Rahman, The Qur’anic Concept of God, the Universe and Man (1967: 4-12) dan Riffat Hasan, Freedom of Will and Man’s Destiny in Iqbal’s Thought (1978: 209-210).
Watt tidak menyalahkan, namun menyayangkan, dan ia ikut andil menyemarakkan pembahasan tentang teodisi. Dalam artikelnya tersebut, M. Watt menilai bahwa kalangan teolog Sunni umumnya tidak merasa perlu “membela” keabsahan Tuhan di tengah penderitaan manusia.
Sikap pasrah terhadap penderitaan bahkan hingga ajal menjemput (Q. 63:11; 71:4; & 4:78) banyak dipengaruhi oleh budaya fatalistik Arab pra-Islam yang hidup di tengah ketidak-pastian gurun (argumen ini juga sesuai dengan konteks keagamaan di pinggiran atau di desa yang lebih dekat dengan alam).
Ditambah dengan doktrinasi sufistik terkait sabar, tawakkal, dan rida yang dijanjikan surga, serta pengalaman historis Nabi Muhammad yang mengalami penderitaan lalu dibela oleh Allah. Pada saat yang sama pula, kewajiban sosial seperti sedekah menunjukkan bahwa Islam juga menuntut umatnya aktif meringankan penderitaan orang lain.
Menurut Prof. Watt, umat Muslim Sunni menilai penderitaan dipahami bukan sebagai hukuman atau penebusan dosa untuk orang lain layaknya dogma Kristen, tetapi lebih sebagai ujian atau bahkan kedekatan dengan Tuhan. Para sufi seperti Hujwiri, Junayd al-Baghdadi, dan al-Hallaj juga menunjukkan bahwa penderitaan dapat menjadi sarana menuju penghilangan ego dan penyatuan dengan kehendak ilahi.
Bagaimana dengan Umat Muslim di Indonesia?
Apa yang sudah dilakukan oleh M. Watt ini menarik, dan sebagian besar umat Muslim di Indonesia seperti Ormas NU yang menganut paham Asy’ariyyah bisa dirasa kontekstual. Terlebih lagi yang hidup di desa, hidup nerimo ing pandum yang dihimpit oleh penderitaan bukanlah sesuatu yang hina. Sikap sabar, bersyukur, dan tawakkal disertai salat yang mempeng menjadi pedoman hidup yang berkualitas tinggi.
Sikap dan laku tersebut juga kerapkali didengungkan dalam khotbah dan pengajian umum. Seolah terkesan mendamaikan hati daripada memberontak hidup ala Sartre dan Nietzche. Sehingga tidak mengeherankan jika kajian teodisi tidak begitu diminati oleh sebagian besar sarjana Muslim di Indonesia.
Namun, di tahun 2020, ketika dunia ditimpa musibah Corona, kajian ini sempat mengudara dalam jagat intelektual Indonesia. Meski sebagian umat Muslim ada yang lebih memilih pasrah diiringi doa, dan menolak aturan WHO untuk menjaga jarak dan memakai masker, masih ada pemikir Indonesia (yang bahkan lahir dari rahim NU) yang menaruh perhatian terhadap kajian teodisi.
Salah satu penulis Muslim yang cukup serius mengamati kajian teodisi adalah Ulil Abshar Abdalla dalam bukunya, Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita? (2020). Menurut Gus Ulil (sapaan akrabnya), sikap sabar dalam menghadapi ujian dengan tetap memegang teguh keimanannya, yang kerapkali dipraktekkan oleh orang awam, pantas menyandang “mukmin sejati”.
Terkait pertanyaan, “Apakah Allah itu memang mampu mengangkat penderitaan manusia?” merupakan “misteri agung” yang tak akan pernah tuntas dijawab sampai kapanpun (Fauzan, 2020).
Sejalan dengan Gus Ulil, Fahruddin Faiz dalam ceramahnya di Ngaji Filsafat (2020), dengan mengangkat tema “Membaca Bencana”, “Memaknai Sakit” dan “Menyelami Penderitaan”, beliau menyimpulkan bahwa argumentasi tentang kebenaran Tuhan terhadap problem kejahatan semuanya cacat logis. Hal ini membuktikan bahwa akal manusia sangat terbatas dalam menggambarkan Tuhan yang monoteistik.
Hal ini membuktikan, baik Gus Ulil maupun Pak Faiz, yang bisa dianggap mewakili Islam Sunni (NU) tidak serta merta pasrah atau bahkan membelot dari keimanan aslinya.
Mereka menyadarkan kepada kita bahwa, dunia ini sebagaimana yang pernah diungkapkan Imam Ghazali; laysal-imkan-abda’ mimma kan. Dunia yang sempurna itu, ya, yang kita alami di dunia saat ini. Sedalam apa pun kita berpikir tentang kejahatan dan penderitaan, semakin kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan butuh Zat yang Mahakuasa.
Pada akhirnya, ketika kita merasa mengalami penderitaan dari kejahatan yang susah dinalar oleh akal, sikap dan laku seperti sabar dan tawakkal adalah salah satu pilihan solusi terbaik dari kemungkinan yang lain seperti halnya memberontak.
Di sisi lain, kita yang sadar orang lain mengalami penderitaan, meringankan bebannya dengan menjadi pendengar atau memberikan bantuan material tidak hanya memperkokoh kemanusiaan, tapi juga keagamaan dan ketuhanan.
Bacaan lebih lanjut:
Terkait gagasan ‘teodisi’ pasca Imam al-Asy’ari bisa lihat;
- al-Ghazali: Maqasid al-Falasifa & Ihya’ Ulum al-Din, 1961; Eric Linn Ormsby, Theodicy in Islamic Thought: The Dispute over al-Ghazali’s, 1984.
- al-Razi: Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah, 1924; al-Matalib al-‘Aliyah, 1987; Mafatih al-Ghayb, 1981; Fauzan, Problem Kejahatan dalam Al-Qur’an, 2022.
- Ibnu Sina: Shams Inati, The Problem of Evil Ibn Sina’s Theodicy, 2017.
- Ibnu Rusyd: George F. Hourani, Averroes on Good and Evil, 1962.
Referensi
Abdalla, Ulil Abshar. Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita? Yogyakarta: Buku Mojok, 2020.
Dostoevsky, Fyodor. The Brothers Karamazov. Translated by Constance Garnett. Edited by Ralph E. Matlaw. New York: Norton, 1976.
Faiz, Fahruddin. “Membaca Bencana,” “Memaknai Sakit,” dan “Menyelami Penderitaan.” Ceramah Ngaji Filsafat, 2020.
Fauzan, A. (2020, 2 November). Kenapa Manusia Menderita, Jika Tuhan Mahakuasa? Tsaqafah.id. Diakses 23 Juli 2025, dari https://tsaqafah.id/kenapa-manusia-menderita-jika-tuhan-mahakuasa/
Hume, David. Dialogues Concerning Natural Religion. New York: Hafner Publishing, 1779.
Ormsby, Eric Linn. Theodicy in Islamic Thought: The Dispute over al-Ghazali’s “Best of All Possible Worlds”. Princeton: Princeton University Press, 1984.
Rahman, Fazlur. “The Qur’anic Concept of God, the Universe and Man.” Islamic Studies 6, no. 1 (1967): 1–20.
Hassan, Riffat. “Freedom of Will and Man’s Destiny in Iqbal’s Thought.” Islamic Studies 17, no. 3 (1978): 209–210.
Watt, W. Montgomery. “Suffering in Sunnite Islam.” Studia Islamica 50 (1979): 5–20.





