Sebelum masuk pada udar teori bahasa Ibn Taimiyah yang ditawarkan dalam posisinya sebagai kritik terhadap perkembangan teori bahasa mainstream yang berkembang, pemikiran Ibn Taimiyah ini tidak sepenuhnya berakar pada kritik bahasa, tetapi lebih tendensius dalam kerangka pemahaman teks-teks primer Islam. Lagi-lagi, proposal Ibn Taimiyah tidak bisa dilepaskan dari konteks polemiknya dengan berbagai aliran arus utama yang berkembang dan telah menghegemoni serta menjadi ortodoksi kala itu.
Berdasarkan teori linguistik populer dan kontemporer di masa hidup Ibn Taimiyah, bahkan sampai kini, objek dapat dikenali, diberi nama atau didefinisikan secara etimologis, melalui dua cara yaitu baik melalui tanda linguistik yang berbeda (distinct linguistic signs) maupun dengan tanda lingustik yang serupa (homonymous). Pada yang pertama, ada dua alat semantik yang umumnya dipakai: (1) tanda semantik ekuivalen (mutarādif), seperti halnya kata asad dan laits yang keduanya dimaknai sebagai ‘singa’; (2) tanda semantik diametral (mutabāyin), sebagaimana samā’ (langit) yang berlawanan dengan arḍ (Bumi).
Bagian yang akan menjadi fokus saat ini ialah yang berkaitan dengan homonim. Dalam pengertian umum bahasa yang dikenal hari ini, homonim didefinisikan sebagai “kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya”. Dalam proposal Ibn Taimiyah, sebagaimana diulas oleh Farid Suleiman, ekspresi homonim ini mendapatkan perhatian yang besar sebab dari sinilah nantinya kritik dikotomi haqīqah-majāz mendapatkan nuansa linguistiknya yang semakin dalam. Mari perhatikan dua kata yang dianggap homonim ini, “mawjūd (ada/ existent)” dan “ḥayy (hidup/ living)”. Pada kasus “maujūd (ada/ existent)”, letak ekspresi homonim dan polemiknya ialah pada statusnya yang diatributkan pada Tuhan.
Ada berbagai pandangan teologis yang lahir dari satu kasus kebahasaan ini. Jahmiyah dan Bathiniyah, misalnya, berargumen bahwa setiap atribut bahasa tidak bisa disematkan pada Tuhan. Oleh karena itu, sekalipun ditemukan, maka akan dianggap majāz. “they do not refer to Him as existent (mawjūd) nor as being a thing (shay’), nor do they apply any other names to Him [Mereka tidak menyebut-Nya sebagai yang ada (mawjūd) maupun sebagai suatu benda (shay’), dan mereka juga tidak memberikan nama lain kepada-Nya]”.
Berbeda dengan Abu al-Abbas al-Nashi al-Mu‘tazili yang mengamini pendapat sebaliknya dan memahami bahwa atribut bahasa yang diatribusikan pada Tuhan diposisikan sebagai ḥaqīqa dan jika pada selain-Nya dianggap majāz. “They say, “Rather, everything by which God is designated is an expression used in the proper (ḥaqīqa) sense, whereas in the case of all other [referents], it is used in the non-proper sense. [Mereka berkata, “Sebaliknya, segala sesuatu yang digunakan untuk menyebut Allah adalah ungkapan yang digunakan dalam arti yang sebenarnya (ḥaqīqa), sedangkan dalam hal semua referen/ subjek atribut lainnya, ungkapan tersebut digunakan dalam arti yang tidak sebenarnya]”.
Sedangkan pandangan mayoritas berpegang pada argumen bahwa atribut bahasa seperti “mawjūd (ada/ existent)” dapat diatribusikan baik pada Tuhan maupun selain-Nya. Dalam konteks ini, mawjūd dianggap sebagai kata yang bersifat univokal (mutawāṭiʾ); baik itu mutawāṭiʾ ʿāmm (univokal umum)—yang juga terbagi pada mutawāṭi‘ khāṣṣ (univokal murni), maupun musyakkik (analogis) ataupun musytarak (equivokal)—bagi sebagian kecil kalangan muta’akhirīn. Beberapa istilah teknis ini, nantinya, akan menjadi bahan pertimbangan bagi konsepsi teoretis “baru” yang diajukan oleh Ibn Taimiyah.
Teori Linguistik Tandingan Ibn Taimiyah
Mari uraian ini dimulai dengan melihat gambar berikut ini:
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, Ibn Taimiyah menempatkan problem ekspresi homonim menjadi sentral fondasi linguistik dasar yang dibawanya, sebagai lanjutan dari penolakannya terhadap dikotomi ḥaqīqa–majāz. Dalam bagan di atas, ekspresi homonim terbagi pada dua cabang: musytarak (equivokal) dan mutawāṭiʾ ʿāmm (univokal umum), lalu membagi mutawāṭiʾ ʿāmm pada dua ranting: mutawāṭiʾ khāṣṣ (univokal murni) dan musyakkik (analogi).
Ibn Taimiyah tidak memberikan ulasan terminologis yang panjang dari masing-masing istilah teknis di atas sebab telah menjadi suatu domain diskusi yang populer dijumpai dalam karya-karya Logika maupun Uṣūl al-Fiqh. Farid Suleiman mengomentari penggunaan Ibn Taimiyah terhadap piranti yang sama yang digunakan oleh objek kritiknya sebagai upayanya menunjukkan bahwa ia mampu meruntuhkan argumen oponennya dengan senjatanya sendiri.
Ibn Taimiyah mendefinisikan musytarak (equivocal/ mā ittafaqa lafẓuhu wa-ikhtalafa ma’nāhu) sebagai penanda linguistik/ lafaz yang letak homonimitasnya terdapat pada kata itu sendiri tanpa terikat pada “yang lain”. Salah satu contoh yang dibawa oleh Ibn Taimiyah ialah kata musytarī yang pada dirinya memuat dua makna sekaligus pada ranah isti‘māl-nya yaitu ‘pembeli’ dan ‘planet Jupiter’. Pada kasus pertama ini, dikotomi ḥaqīqa–majāz tidak berlaku.
Berbeda halnya dengan term mutawāṭiʾ atau mutawāṭiʾ ʿāmm, ia ditempatkan sebagai kategori payung yang sama setaranya dengan ism jins (nama jenis)—tradisi ahli bahasa atau kullī (universal)—tradisi filosof. Disebut univokal (mā ittafaqa lafẓuhu wa-maʿnāhu) sebab penanda linguistik yang masuk dalam kategori ini dianggap memiliki kesamaan baik secara lafaz dan makna dalam aplikasi linguistiknya. Sebagai kategori payung, ada dua term linguistik yang berada di bawahnya, sebagaimana sudah disebut di atas, yaitu: mutawāṭiʾ khāṣṣ (univokal murni) dan musyakkik (analogi). Keduanya dibedakan dari cara dan derajat terwujudnya dalam berbagi homonimitas berdasarkan satu komunalitas konseptual (qadr musytarak)—suatu istilah teknis yang juga menantang kemapanan munāsabah sebagai instrumen utama dikotomi ḥaqīqa–majāz.
Musyakkik (analogi), dilihat dari kata penyusunnya, syakk, dapat dimaknai sebagai ungkapan yang menyebabkan adanya keraguan. Hal yang dimaksud ialah ragu untuk menentukan apakah penanda linguistik ini masuk dalam kategori univokal (mutawāṭiʾ) atau equivokal (musytarak). Farid Suleiman menerjemahkannya sebagai analogous (analogis) dengan alasan berikut: “I have nevertheless chosen to retain since, given its use in the Latin Middle Ages, it is the most common term used for denoting expressions that can be categorised neither as purely univocal nor as purely equivocal” [saya tetap memilih untuk mempertahankannya, karena dalam penggunaannya pada masa Latin Abad Pertengahan, istilah ini merupakan istilah yang paling umum digunakan untuk menggambarkan ekspresi yang tidak dapat dikategorikan sebagai murni univokal maupun murni equivokal].
Lantas, secara terminologis musyakkik dianggap sebagai sebuah ekspresi homonim yang menangkap suatu kesamaan konseptual (qadr musytarak), tetapi kesamaan yang terwujud terbentuk pada cara dan dalam derajat yang berbeda-beda pada tiap denotatnya (semua makna yang potensial menjadi denotasinya). Ibn Taimiyah menjadikan kategori ini sebagai tandingan dan pengganti dari dikotomi ḥaqīqa–majāz.
Sebagai contoh, kata ‘uluww (elevasi/ ketinggian) dapat memuat denotasi ‘langit’ dan ‘atap’. Lalu, kata wujūd (eksis/ ada) secara denotatif bisa merujuk pada sesuatu yang ‘sudah pasti ada (wājib al-wujūd)’ maupun yang ‘mungkin ada (mumkin al-wujūd)’. Maupun kata qadīm (tua/abadi) yang dapat diaplikasikan pada ‘pelepah kurma’ maupun ‘sesuatu yang tidak memiliki permulaan’, serta kata ḥayy (hidup) yang denotasinya dapat ‘berupa manusia’, ‘binatang’, ‘tanaman’, maupun ‘Tuhan’.
Mutawāṭiʾ khāṣṣ (univokal murni) merupakan ungkapan homonim yang kesamaan konseptualnya ditangkap dan terwujud dengan cara yang sama pada semua denotatnya (semua makna yang potensial menjadi denotasinya). Bagi Ibn Taimiyah, dalam bahasa, jumlah penanda linguistik yang masuk dalam kategori ini mungkin sangat sedikit atau juga sangat potensial tidak ada.
Implikasi Pada Konsepsi Atribut Tuhan
Setelah menyaksikan uraian fondasi linguistik Ibn Taimiyah yang memperlihatkan berbagai instrumen linguistik yang menjadi konstruksi teoretisnya, pada bagian ini ulasan akan dilanjutkan dengan melihat implikasinya pada ranah teologis yang menjadi lokus sentral diskursifnya. Di awal telah disebutkan bahwa kritik bahasa yang diajukan Ibn Taimiyah tidak sekedar tantangan memaknai teks tapi juga patron teologis dalam memahami substansinya yang berkaitan dengan berbagai ekspresi atributif yang disandarkan pada Tuhan.
Ada tiga implikasi pada konsepsi atribut Ilahi yang bisa dicatat dari tawaran paradigma linguistik Ibn Taimiyah. Pertama, penolakan terhadap pandangan teologis yang berkomitmen pada kesimpulan bahwa jika terdapat ekspresi homonim yang merujuk pada manusia dan Tuhan, maka akan dianggap musytarak (equivocal) dan mengarah pada tafwīd. Sebab, secara langsung membedakan makna kata al-ḥayy bagi Allah dari makna al-ḥayy bagi manusia yang telah ditetapkan makna dasarnya yang menjadikan manusia sebagai pertimbangannya (recognisably human). Ibn Taimiyah, dalam hal ini, sangat jelas menolak tafwīd karena baginya pandangan semacam itu akan mengarahkan pada cara pandang melihat al-Qur’an sebagai sebuah rangkaian kata tanpa ada substansi yang bisa dipahami.
Kedua, tafwīd hanya terletak pada kaifiyah dan bukan makna. Pencarian terhadap qadr musytarak menuntut adanya upaya untuk menganalisis secara rasional ekspresi homonim yang diatribusikan kepada Tuhan sebagai bagian dari usaha membentuk sebuah gambaran, sekalipun samar, tentang alam transenden—yang telah diputus oleh upaya materialisasi makna teks dengan manusia sebagai sentral pertimbangannya, baik itu dengan univokasi murni maupun takwil jauh. Kata wujūd/ mawjūd, misalnya, memuat sebuah qadr musytarak yaitu eksis/ ada. Makna ‘ada’ itu terwujud dalam cara dan derajatnya yang berbeda. Jika pada Tuhan maka ‘ada’ yang dimaksud ialah ada yang tidak mengenal awal dan mustahil berhadapan dengan ‘ketiadaan’, sedangkan bagi manusia, ‘ada’ itu bergantung pada sesuatu yang ‘Ada’ sebelumnya, dan juga secara pasti akan bertemu ‘ketiadaan’.
Ketiga, paradigma linguistik Ibn Taimiyah yang telah secara diametral melawan dikotomi ḥaqīqa–majāz telah membawanya menolak total cara berpikir yang mencoba memotong adanya suatu keterkaitan atas kesamaan konseptual yang ada pada ekspresi homonim yang dapat diatributkan pada Tuhan dan manusia. Teori qadr musytarak tentu menjadi senjatanya. Kata yad (tangan), misalnya, jika dimaknai menjadi qudrah (kekuasaan) maka akan menghilangkan sisi denotatif dari yad. Akibat adanya kategori kiasan/ majāz (konotatif). Apabila kerangka berpikir Ibn Taimiyah dioperasikan, maka kata yad, sangat mungkin ditangkap qadr musytarak-nya, misalnya, ‘sarana/alat untuk bertindak’, yang ketika diatributkan pada Allah, maka berlaku dengan cara yang layak bagi-Nya (bi lā kaifa).
Contoh terakhir menjadi mungkin sebab Ibn Taimiyah mengonsepsi bahwa makna zahir ungkapan ialah makna yang telah mempertimbangkan semua bukti kontekstual (qarā’in). “the ẓāhir meaning of a linguistic expression is that which emerges when all the concomitant contextual evidence has been taken into account. In other words, as we have said elsewhere, the ẓāhir meaning is not the outward, or overt, meaning but the established meaning”.
Ākhir al-kalām, tulisan ini menjadi penghujung dari serial pertama Qur’anologi Ibn Taimiyah yang membahas dikotomi ḥaqīqah—majāz. Narasi yang dibangun sepenuhnya merupakan hasil dari upaya menyederhanakan elaborasi Farid Suleiman yang begitu kompleks dan “melelahkan” pada monografnya Ibn Taymiyya and the Attributes of God (Suleiman & El-Tobgui, 2024, pp. 141–172) sehingga layak sebagai pengantar untuk membaca karyanya secara langsung. Pada serial selanjutnya, diskusi akan mengerucut pada fondasi hermeneutikanya yang sangat berkaitan erat dengan terminologi ta’wīl majāzī dan tidak bisa dilepaskan dari komentarnya terhadap Q.S. Ali Imran [3]: 7 serta, lagi-lagi, implikasi dan kontribusinya dalam wacana teologi Islam.
Referensi
Suleiman, F., & El-Tobgui, C. S. (2024). Ibn Taymiyya and the Attributes of God. BRILL. https://doi.org/10.1163/9789004499904





