Tafsir ‘Ilmi diantara Otoritas Al-Qur’an dan Hegemoni Sains Modern

Dalam sejarahnya, perdebatan mengenai tafsir ‘ilmi memang tak pernah sepi dari ketegangan. Mustansir Mir, melalui artikelnya yang berjudul “Scientific Exegesis of the Qur’an—A Viable Project?”, menawarkan analisis yang patut dicermati. Ia tidak sekadar menyajikan dua sisi perdebatan, namun justru Mir membuka refleksi filosofis tentang bagaimana wahyu, nalar, dan tradisi keilmuan Islam bertemu atau justru berbenturan. Esai ini mencoba menelusuri argumen-argumen yang dikemukakan oleh Mir sembari menimbang kekuatan serta kelemahannya dalam konteks keilmuan Islam hari ini.

Mir membuka diskusi dengan mengakui bahwa meskipun tafsir ‘ilmi tidak pernah menjadi disiplin yang mapan dalam sejarah tafsir klasik, akarnya dapat ditelusuri hingga ke pemikir sekaliber al-Ghazali, al-Razi, dan al-Suyuti (Mir, 1: 2004). Pengakuan Mir ini penting untuk menunjukkan bahwa hasrat untuk menghubungkan Al-Qur’an dengan pengetahuan sistematis bukanlah sesuatu hal baru, namun berbeda, di era modern umat Islam ‘dipaksa’ untuk merespons dominasi sains Barat dan pandangan dunia yang menyertainya. Untuk itu, para pendukung tafsir ‘ilmi merespons dengan berargumen bahwa Al-Qur’an sebagai huda (petunjuk) tak bisa dipersempit maknanya. Hal tersebut harus dipahami dalam cakupan yang luas, bukan hanya soal etika dan spiritual, tapi juga mencakup petunjuk ilmiah. Ayat-ayat kauniyah seperti pembahasan embrio dalam al-Hajj: 5 atau konsep berpasangan (zawjayn) dalam Yasin: 36 dianggap sebagai bukti untuk itu (Mir, 2004: 3).

Bacaan Lainnya

Namun Mir tak larut dalam optimisme tersebut, ia membedah kelemahan-kelemahan mendasar dari tafsir ‘ilmi. Sanggahan pertamanya merujuk pada al-Syatibi dan al-Dhahabi, Mir menegaskan bahwa Al-Qur’an turun bukan untuk menjadi ensiklopedia astronomi atau kedokteran (Mir, 4: 2004). Surah al-An’am ayat 38 yang menyatakan “Kami tidak meninggalkan sesuatu pun di dalam Kitab”, bukan berarti bahwa Al-Qur’an memuat segala detail ilmu, melainkan dalam Al-Qur’an terkandung prinsip-prinsip umum (usul ‘ammah) yang dibutuhkan manusia untuk kesempurnaan hidupnya. Sanggahan kedua Mir lebih menohok lagi, sains itu tidak stabil, dibangun di atas paradigma yang terus bergeser, apa yang dianggap benar hari ini bisa jadi usang di kemudian hari. Mengikat penafsiran kitab suci yang abadi pada teori ilmiah yang sementara adalah sebuah kesalahan metodologis fatal yang berisiko besar. Mir bahkan mengamati dengan jeli bahwa literatur tafsir ‘ilmi cenderung “lupa” pada temuan-temuan ilmiah usang yang dulu pernah dipakai menafsirkan ayat, ini merupakan pengakuan implisit Mir atas kerentanan fondasional dari tafsir ’ilmi (Mir, 2004: 5).

Kritik Mir kemudian menyasar pada praktik konkret dari tafsir ‘ilmi. Tiga masalah mengemuka, yaitu: klaim yang hiperbolis, penafsiran yang dipaksakan, dan kredibilitas akademik para perumusnya yang patut dipertanyakan. Klaim bahwa Al-Qur’an telah membahas semua cabang ilmu modern oleh Mir dinilai sebagai klaim yang berlebihan dan terlalu ambisius (Mir, 2004: 5). Diantara contoh penafsiran yang dipaksakan dipaparkan lewat analisis terhadap surah al-Anbiya ayat 30, ayat tersebut kerap dikaitkan dengan teori Big Bang. Dengan merujuk pada tafsir Amin Ahsan Islahi, Mir menunjukkan bahwa ayat tersebut sejatinya berbicara tentang bukti tauhid dan kebangkitan, yang divisualisasikan melalui turunnya hujan yang menghidupkan tanah yangtadinya kering dan tandus (Mir, 2004: 5-6). Lebih jauh lagi, Mir menggarisbawahi sebuah fakta bahwa banyak dari promotor tafsir ‘ilmi itu adalah ilmuwan atau birokrat yang minim latar belakang keilmuan Islamnya, dimana proyek tafsir ‘ilmi ini seringkali didorong oleh patronase negara sehingga lebih politis dan simbolis ketimbang akademis dan agamis (Mir, 2004: 6).

Meski mengajukan kritik, Mir tidak menutup pintu sepenuhnya. Di sinilah kedalaman artikelnya tampak. Ia menyatakan dengan eksplisit, “Saya tidak berpikir bahwa penafsiran semacam itu pada prinsipnya tidak mungkin” (Mir, 2004: 7). Ia membuka ruang kemungkinan dengan tiga argumen: pertama, minat seorang biolog terhadap ayat embriologi sama sahnya dengan minat ahli hukum terhadap ayat fikih; kedua, bahasa Al-Qur’an berlapis makna yang bisa tersingkap seiring waktu; ketiga, ketidaklayakan tafsir ‘ilmi saat ini mungkin bukan karena mustahil, tapi karena belum ada model yang kredibel—sebagaimana tasawuf membutuhkan sosok seperti Al-Ghazali untuk diterima arus utama (Mir, 2004: 7).

Refleksi penutup Mir adalah kristalisasi posisinya. Ia mengidentifikasi dua motif utama di balik tafsir ‘ilmi, yaitu: motif defensif untuk menunjukkan harmoni (muwafaqah) dan motif ofensif untuk membuktikan kemukjizatan ilmiah (i’jaz ‘ilmi). Terhadap yang pertama, Mir melihatnya sebagai respons wajar atas tekanan sains modern terhadap agama. Namun terhadap i’jaz ‘ilmi, ia skeptis. Menurutnya, tantangan Al-Qur’an untuk mendatangkan yang semisal sudah selesai di hadapan audiens Arab awal, dan tidak perlu “dibuka kembali di setiap zaman berikutnya” dengan membuktikan kebenaran ilmiahnya (Mir, 2004: 8).

Poin krusial lainnya adalah soal “keaslian asal usul” (authenticity of origin). Mir curiga bahwa tafsir ‘ilmi kontemporer yang berpusat pada sains modern, pada dasarnya sedang membaptis sains Barat dalam nama Islam (Mir, 2004: 9).

Kesimpulan Mir, proyek tafsir ‘ilmi hanya akan benar-benar layak jika ia dapat membuktikan “keaslian asal usulnya”, yaitu berakar pada dorongan, perspektif, dan struktur intelektual yang indigenous dalam tradisi Islam, serta dilakukan oleh sarjana yang tidak hanya paham sains tapi juga mendalam dalam khazanah tafsir dan ilmu-ilmu keislaman (Mir, 2004: 10).

Kritik yang mungkin diajukan adalah mengenai  konsep “keaslian asal usul” yang ia usung, meskipun konsep tersebut tampak powerful, tetapi masih abstrak dalam praktiknya. Bagaimana konkretnya tafsir ‘ilmi yang “otentik” itu? Apakah mungkin menciptakannya dalam dunia yang sudah begitu terintegrasi? Terlepas dari itu, artikel ini tetap bacaan wajib bagi siapa pun yang serius ingin memahami dinamika dan masa depan dialog antara sains dan Al-Qur’an. Mir telah memberikan peta navigasi yang berharga untuk melintasi wilayah yang kerap dipenuhi badai klaim dan kontra-klaim ini.

Referensi

Mustansir Mir. Scientific Exegesis of the Qur’an—A Viable Project?. Journal of Islam & Science, Vol. 2 (Summer 2004) No. 1.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *