Al-Qushayri, nama lengkap beliau adalah Abdul Karim bin Hawazan bin Abdul Malik bin Talhah bin Muhammad al-Qusyayri al-Naysaburi. Biasa dipanggil Abul Qasim, memiliki gelar sebagai zayn al-Islām (keindahan Islam) dan terkenal dengan al-Qushayri. Lahir pada tahun 386 H di kampung Ustu dekat Naysabur (sekarang Iran).
Wafat pada tahun 465 H. Berarti beliau hidup sekitar sembilan puluh tahun lamanya. Beliau merupakan orang Arab asli dari keturunan ayah dan ibu beliau yang keduanya adalah orang Arab. (Basuni, 1992: 7–8). Dimakamkan di Naysabur samping makam gurunya, al-Daqāq.
Kecenderungan pada keilmuan Islam, beliau condong pada ilmu tasawuf yang murni. Dalam tasawuf, beliau berguru pada al-Daqāq (w. 405 H), Abu Bakar al-Thūsi (w. 378 H) pengarang kitab al-Luma’ fi al-Tashawwuf, Ibn Furak (w. 406 H), al-Isfirāyayni al-‘Ash’ari (w. 471 H) dan menyempurnakan studinya dengan mempelajari kitab-kitabnya al-Baqillāny. (Hakim, 2019: 43)
Belajar tasawuf secara intensif dengan al-Daqāq. Dan ketika beliau wafat, al-Qushayri berguru pada al-Sullami (w. 412 H) sampai menjadi ulama yang disegani dalam bidang fikih Shafi’i dan akidah Ash’ari di Khurasan. (Iyazi, 1386: 1022).
Di antara karyanya yang terkenal dalam bidang tasawuf adalah al-Risālah al-Qushayriyyah, dalam bidang tafsir beliau mengarang al-Taysīr fī al-Tafsīr dan Lathāif al-Ishārāt, dalam ilmu hadis Nāsikh al-Hadith wa Mansūkhihi, dan banyak dalam bidang tasawuf yakni Adāb al-Shūfiyyah, Ahkām al-Simā’, Tartīb al-Sulūk, al-Mi’raj, dll.
Karya-karyanya ini menunjukkan potensi beliau dalam ilmu-ilmu syariat dan hakikat. Kalam-kalamnya terbenak di setiap hati umat muslim, beliau tidak menyatakan sesuatu tentang hakikat kecuali menguraikannya dengan pedoman syariat, dan tidak menyatakan sesuatu tentang syariat tanpa dimensi tasawuf (hakikat).
Metode Dan Corak Kitab Lat}āif al-Ishārat
Kitab Lataif al-Ishārāt ini tebalnya sampai tiga jilid, setiap jilidnya mencapai kurang lebih empat ratus lima puluh halaman. Metode penafsiran yang di gunakan al-Qushayri adalah metode tahlili, yaitu menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara berurutan dari awal hingga akhir ayat sesuai susunan Al-Qur’an.
Kitab tafsir karya al-Qushayri ini berisi 30 juz Al-Qur’an dengan corak tasawuf (tafsir isyari). Masuk dalam kategori tafsir bi al-isyari yaitu bersumber dari isyarat-isyarat Ilahi yang ada pada hambanya yang mengenal-Nya (‘ārif bi Allah).
Al-Qushayri telah menjelaskan tentang metode yang digunakan pada kitabnya ini, dalam mukadimahnya beliau mengatakan, “Kitab kami ini membahas sebagian dari petunjuk-petunjuk atau isyarat Al-Qur’an menurut para ahli makrifat, baik dari makna perkataan mereka maupun masalah-masalah pokok mereka. Kami mengambil jalan yang singkat karena takut membosankan.” (Qushayri, 2007: 5)
Kitabnya ini merupakan butir-butir isyarat Al-Qur’an pada lisan ahli makrifat. Sehingga beliau menamainya dengan Latāif al-Isyārāt yang berarti secara harfiah adalah isyarat-isyarat yang lembut nan halus; yang menurutnya bermakna ungkapan cinta dan pengagungan yang tak terwakili oleh bahasa biasa.
Al-isyārah (isyarat) sendiri merupakan bahasa antara yang mencintai dan yang dicintai (Allah). Dan isyarat itu kemudian menjadi isyarat untuk maksud yang sukar diungkapkan, karena ketidakmampuan kata-kata untuk mengungkapkan maksudnya. Karena firman Allah Swt. adalah rahasia yang merupakan isyarat bagi para sufi yang ditentukan oleh ungkapan yang mereka maksudkan. (Iyazi, 1386: 1023)
Karakteristik Penafsiran Al-Qushayri
Sebelumnya, al-Qushayri telah mengarang kitab tafsir dengan metode layaknya kitab tafsir lain yang berjudul Al-Taysīr fī al-Tafsīr, kemudian beliau mengarang lagi kitab tafsir dengan metode isyari, mengikuti kalbu dan akal yang khas versi al-Qushayri sebagaimana kitab-kitab beliau tentang tasawuf.
Beliau mengarang kitab-kitab tasawuf yang berbeda dengan lainnya yang amat rumit dipahami karena berisi istilah-istilah yang belum diketahui orang awam, gaya bahasa yang beliau gunakan mudah untuk dipahami karena masih bersandar pada kaidah bahasa, sastra dan syair Arab.
Tetapi yang berbeda dari kitab tafsir yang lainnya adalah tafsir al-Qushayri ini adalah pengungkapan dan penekanan rasa (dzauq) pada perasaan yang muncul hasil dari mujāhadah sang penafsir (Iyazi, 1386: 1024), sehingga muncul pandangan-pandangan baru dalam khazanah tafsir Al-Qur’an.
Berikut adalah karakteristik kitab tafsir Al-Qushayri yang berbeda dengan kitab tafsir lainnya disertai contohnya:
Pertama, pengutipan hadis atau atsar dengan redaksi “qiila/yuqaalu” tanpa menyebut nama dan sanadnya. Ketika menafsirkan ayat 124 surah Al-Baqarah, beliau menjelaskan ujian nabi Ibrahim sebagai berikut:
يقال حمّله أعباء النبوة، وطالبه بأحكام الخلّة، وأشد بلاء له كان قيامه بشرائط الخلة، والانفراد له بالتجافي عن كل واحد وكل شيء، فقام بتصحيح ذلك مختليا عن جميع ما سواه، سرّا وعلنا.(Qusyairi, 2007: 66)
“Dikatakan bahwa dia (Ibrahim a.s.) memikul beban kenabian, dan diminta untuk menjalankan hukum-hukum syariat, dan cobaan terberat baginya adalah menjalankan syariat, dan menjauhkan diri dari semua orang dan segala sesuatu, sehingga ia memperbaiki hal itu dengan menjauhkan diri dari semua yang lain, secara rahasia dan terbuka.”
Kedua, penukilan riwayat-riwayat israiliyyat tanpa menyebut nama dan sanadnya serta cenderung berlebihan. Ketika menafsirkan surah Al-Shu’arā’ ayat 29 beliau menafsirkan tentang ularnya nabi Musa a.s. sebagai berikut:
ثم إنه أظهر معجزته بإلقاء العصا، وقلبها- سبحانه- ثعبانا كاد يلتقم دار فرعون بمن فيها، ووثب فرعون هاربا(Qushayri, 2007: 399) .
“Kemudian Musa menunjukkan mukjizatnya dengan melemparkan tongkatnya, dan Allah mengubahnya menjadi ular yang hampir menelan istana Firaun beserta isinya, dan Firaun melompat untuk melarikan diri.”
Ketiga, penuturan sisi isyari-nya dengan redaksi “al-isyarah minhu”.
فَقُلْنا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِها كَذلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتى وَيُرِيكُمْ آياتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (البقرة: 73) أراد الله سبحانه أن يحيى ميتهم ليفضح بالشهادة على قاتله فأمر بقتل حيوان لهم فجعل سبب حياة مقتولهم قتل حيوان لهم، صارت الإشارة منه :أن من أراد حياة قلبه لا يصل إليه إلا بذبح نفسه فمن ذبح نفسه بالمجاهدات حي قلبه بأنوار المشاهدات، وكذلك من أراد الله حياة ذكره في الأبدال أمات في الدنيا ذكره بالخمول.(Qushayri, 2007: 52)
“Lalu, Kami berfirman, “Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!” Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti (Al-Baqarah/2: 73). Allah SWT ingin menghidupkan kembali orang mati untuk mengungkap pembunuhnya melalui kesaksian, maka Dia memerintahkan untuk membunuh hewan milik mereka, sehingga penyebab kematian orang yang terbunuh adalah pembunuhan hewan milik mereka. Isyaratnya adalah: Barang siapa yang menginginkan kehidupan hatinya, tidak akan mencapainya kecuali dengan menyembelih dirinya sendiri. Barang siapa yang menyembelih dirinya sendiri dengan perjuangan (mujahadah), hatinya akan hidup dengan cahaya penglihatan (musyahadah). Demikian pula, barang siapa yang Allah kehendaki untuk hidup dalam penggantian (abdal), Allah akan mematikan ingatannya di dunia.”
Keempat, menggunakan manhaj khusus terhadap ayat-ayat yang berkenaan dengan ilmu kalām, tapi tidak keluar dari penafsiran isyari-nya. Manhaj yang dimaksud yakni; dalam akidah, al-Qushayri menganut mazhab Asy’ari sehingga berpengaruh pada penafsirannya tetapi tetap pada kekhasan tasawufnya. Contoh ketika beliau menafsirkan tentang ‘istiwa’ pada surah Taha ayat 5:
استواء عرشه في السماء معلوم، وعرشه في الأرض قلوب أهل التوحيد .قال تعالى: «وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمانِيَةٌ» وعرش القلوب: قال تعالى «:وَحَمَلْناهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ». أمّا عرش السماء فالرحمن عليه استوى، وعرش القلوب الرحمن عليه استولى. عرش السماء قبلة دعاء الخلق، وعرش القلب محلّ نظر الحق .فشتّان بين عرش وعرش (Qushayri, 2007: 253) !
“Istiwanya (bersemayamnya) Allah di atas Arsy-Nya di langit adalah sesuatu yang diketahui, dan Arsy-Nya di bumi adalah hati para ahli tauhid. Allah Ta’ala berfirman: “Dan pada hari itu delapan (malaikat) memikul ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17). Adapun ‘Arsy di hati (manusia); Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami angkut mereka di darat dan di laut.” (QS. Al-Isra’: 70). Adapun ‘Arsy di langit, maka Allah bersemayam di atasnya. Sedangkan ‘Arsy di hati, Allah menguasainya (berkuasa atasnya). ‘Arsy langit adalah kiblat doa makhluk,
dan ‘Arsy hati adalah tempat pandangan (perhatian) Tuhan. Maka sangatlah jauh perbedaan antara satu ‘Arsy dengan ‘Arsy lainnya.”
Referensi
Al-Qusyairi, Abdul Karim bin Hawazan bin Abdul Malik. 2015. Lathaaif al-Isyaaraat; Tafsiir al-Qusyairi. Cetakan Ketiga. Mesir: Al-Hai’ah al-Mishriyyah al-’Ammah li al-Kutub.
Basuni, Ibrahim. 1992. Al-Imām al-Qushayri: Hayātuhu wa Tas}awwufuhu wa Thaqāfatuhu. Cetakan pertama. Kairo: Maktabah al-Adab.
Hakim, Husnul. 2019. Ensiklopedi Kitab-kitab Tafsir: Kumpulan Kitab-kitab Tafsir dari Masa Klasik sampai Masa Kontemporer. Cetakan kedua. Depok: Lingkar Studi al-Qur’an (eLSIQ).
Iyazi, Muhammad Ali. 1386. Al-Mufassiruun; Hayaatuhum wa Manhajuhum. Cetakan Pertama. Teheran: Wizarah al-Tsaqaafah wa al-Irsyad al-Islamy.
Qushayrī, ʻAbd al-Karīm ibn Hawāzin. 2007. Tafsir al-Qushayri; Lata’if al-Isharat. Cetakan Kedua. Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah.





