Apa sebenarnya Makna dari ‘Ada’?
Selama lebih dari dua milenium, filsafat Barat mungkin sibuk mengklasifikan apa yang ‘ada’. Namun menurut Martin Heidegger (1889-1976), mereka telah melupakan pertanyaan yang paling fundamental. Pertanyaan tersebut adalah apa yang kita maksud ketika kita menyebut sesuatu itu ‘Ada’ (die Seinsfrage)? Bagi Heidegger, kelupaan inilah yang membentuk cara modern kita dalam memahami eksistensi. (Hardiman, 2016: 15) Oleh karena itu, diskusi tentang pemikiran Heidegger menantang kita untuk membongkar asumsi paling dasar dari cara kita berada di dunia.
Heidegger lahir di kota Messkirch, Jerman. Ia awalnya diarahkan untuk menjadi seorang teolog Katolik, sebuah jalur yang didukung kuat oleh keluarganya yang taat. Ayahnya, Friedrich Heidegger, adalah seorang koster atau penjaga di Gereja Katolik Santo Martinus, Messkirch. Bagi keluarganya, jalur teologi yang didukung oleh beasiswa dari Gereja, merupakan satu-satunya cara yang realistis untuk membiayai pendidikan tingginya. Namun, kegelisahan filosofis membawanya belok arah. Ia menemukan dunianya saat berguru pada Edmund Husserl, sang Bapak pendiri aliran fenomenologi. (Wrathall, 2025)
Slogan Husserl yang terkenal adalah “zu den Sachen selbst!” (kembali ke benda-benda itu sendiri!). Ini adalah metode yang menuntut filsuf untuk mengesampingkan teori-teori lama dan mulai mendeskripsikan pengalaman apa adanya, secara teliti. Husserl merasa filsafat pada masanya (awal abad ke-20) telah tersesat karena terlalu fokus pada hal-hal yang bukan pengalaman langsung. (Hardiman, 2015: 45) Ia menolak dua hal utama, yaitu teori spekulatif dan reduksionisme.
Menurut Husserl, teori spekulatif atau idealisme membangun sistem metafisik yang rumit tentang realitas tertinggi atau roh absolut, yang tidak bisa diverifikasi oleh pengalaman manusia biasa. Sedangkan reduksionisme, yang di dalamnya adalah aliran naturalisme dan positivisme, mengatakan bahwa kesadaran hanyalah produk sampingan dari proses otak. Kaum positivis percaya hanya sains yang bisa menjelaskan realitas. Bagi Husserl, ini telah melompati hal yang paling penting, yaitu pengalaman sadar itu sendiri.
“Tunggu dulu! Sebelum kita bicara tentang atom atau roh absolut, bagaimana kalau kita deskripsikan dulu apa yang sebenarnya kita alami?”, kira-kira begitu inti pemikiran Husserl. Nah, di sinilah Heidegger mengambil alat fenomenologi dari gurunya, tapi ia mengganti targetnya. Jika Husserl fokus pada struktur kesadaran, Heidegger mengarahkan sorotannya pada sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih mendasar, yaitu ‘ada’ (sein) itu sendiri. (Hardiman, 2016: 68)
Pada tahun 1927, Heidegger mencapai puncak pencapaian intelektualnya dengan menerbitkan Sein und Zeit (Ada dan Waktu), sebuah karya yang dampaknya langsung mengguncang lanskap filsafat Eropa. Namun ironisnya, hanya enam tahun setelah itu, ia jatuh ke dalam titik nadir moral dan politiknya, yakni keterlibatan yang problematis dengan rezim Nazi pada 1933. (Bertens, 2002: 250) Fakta inilah yang menjadi bayang-bayang kelam yang tak terpisahkan dari warisan cemerlangnya.
Fenomenologi Heidegger
Untuk memahami apa itu ‘ada’ (being), Heidegger berargumen bahwa kita tidak bisa memulai dari analisis objek-objek mati seperti batu atau pohon. Kita harus memulai dari satu-satunya entitas yang peduli pada keberadaannya, yang sadar bahwa ia ‘ada’, dan yang mampu mempertanyakan makna keberadaannya itu. (Abidin, 2011: 128)
Dia menyebut entitas unik ini dasein, yang secara harfiah berarti ‘berada-di-sana’. Penting untuk dipahami, dasein bukanlah sekadar manusia dalam arti biologis, atau subjek dalam arti psikologis. Dasein adalah modus eksistensi itu sendiri. Berbeda dengan batu yang esensinya sudah paten dan ditentukan, esensi dasein justru terletak pada eksistensinya. Kita adalah makhluk yang secara konstan harus memilih untuk menjadi apa diri kita. (Hardiman, 2015: 72)
Lalu, apa struktur dasar dari dasein ini? Heidegger menolak keras tradisi filsafat Barat sejak Descartes yang selalu membelah realitas menjadi dua, yakni subjek (pikiran kita) di satu sisi, dan objek (dunia di luar) di sisi lain. Bagi Heidegger, ini adalah kekeliruan fundamental.
Struktur dasar kita bukanlah subjek yang terpisah dari objek, melainkan sebuah kesatuan utuh yang tak terpisahkan yang ia sebut in-der-welt-sein (berada-di-dalam-dunia). (Abidin, 2011: 132) Kita tidak ‘berada di’ dunia seperti koin di dalam kotak, akan tetapi kita ‘mendiami’ dunia. Dalam pemahaman ini, dunia bukanlah kumpulan benda-benda fisik, melainkan sebuah jaringan makna dan keterlibatan praktis yang menyeluruh. Intinya, kita sudah selalu terlibat dengan dunia sebelum kita sempat berpikir secara teoretis tentang dunia.
Lantas, bagaimana persisnya kita terlibat di dunia? Heidegger menjelaskan bahwa cara utama kita berinteraksi bukanlah sebagai ilmuwan yang mengobservasi objek, melainkan sebagai seorang praktisi yang bertindak. Ia menggunakan contoh palu yang terkenal. Saat Anda menggunakan palu untuk memaku, Anda tidak berpikir, “ini adalah objek kayu dengan kepala logam.” Anda langsung menggunakannya, dan palu itu seakan menghilang ke dalam tindakan memaku itu sendiri. Inilah yang ia sebut zuhandenheit (kesiapan-untuk-digunakan).
Baru ketika palu itu patah atau rusak, Anda berhenti dan menatapnya, dan menganalisisnya sebagai objek yang terpisah. “Oh, ini benda kayu yang retak.” Pada saat itulah palu berubah status menjadi vorhandenheit (kehadiran-di-tangan). Bagi Heidegger, keterlibatan praktis (zuhandenheit) jauh lebih fundamental daripada observasi teoretis (vorhandenheit), dan filsafat Barat, menurutnya, telah melakukan kesalahan besar karena hanya berfokus pada yang kedua.
Inti gugatan Heidegger adalah bahwa filsafat Barat mengalami kelupaan akan ‘ada’ (seinsvergessenheit). Mereka terfokus pada ‘yang-ada’ (seiendes) sebagai entitas particular, namun secara fatal mengabaikan pertanyaan mendasar tentang makna ‘ada’ (being) itu sendiri. (Bertens, 2002, 155)
Setelah memahami fondasi pemikiran Heidegger, terutama konsep Dasein sebagai eksistensi yang ‘terlempar’ (geworfenheit) ke dunia dan terbebani oleh kebebasannya sendiri, kini kita memiliki sebuah kacamata fenomenologis yang kuat.
Kacamata ini, yang terfokus pada pengalaman menjadi manusia, memberikan kita alat yang unik untuk membaca ulang sebuah konsep yang sering kali hanya dipahami secara teologis. Mari kita gunakan lensa Heideggerian ini untuk menyelami makna eksistensial dari amanah manusia, sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an.
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”
Menggunakan kacamata filsafat Martin Heidegger untuk membaca QS. Al-Ahzab: 72 memungkinkan kita untuk menggunakan analisis fenomenologis, yaitu sebuah analisis tentang pengalaman dan struktur “menjadi manusia”. Upaya menarik teori filsafat hermeneutika ke wilayah praksis keislaman (Islamic Studies) ini memungkinkan wajah Islam yang hermeneutis menemukan formatnya yang membumi. (Iyubenu, 2013: 12) Ayat ini dapat dibedah sebagai deskripsi yang tepat tentang kondisi eksistensial, yaitu dasein (eksistensi manusia).
Bagi Heidegger, ada perbedaan fundamental antara cara ‘ada’ sebuah batu dan cara ‘ada’ seorang manusia. Langit, bumi, gunung, dalam istilah Heidegger, mereka adalah vorhandenheit (kehadiran-di-tangan). Mereka ‘ada’ begitu saja. Sebuah gunung tidak pernah cemas, tidak mempertanyakan makna keberadaannya dan tidak bebas memilih. Esensinya sudah selesai. Sedangkan manusia adalah dasein (berada-di-sana). Esensi dasein terletak pada eksistensinya. Oleh karena itu, ia harus menjadi, ia sadar akan keberadaannya, dan ia bebas memilih.
Dalam kacamata ini, amanah adalah hal yang memisahkan dasein dari vorhandenheit. Penolakan langit dan bumi adalah pernyataan bahwa mereka secara ontologis tidak mampu memikul beban kebebasan. Hanya dasein-lah yang memiliki struktur untuk menerima beban tersebut.
Zaluman Jahulan sebagai deskripsi Angst (kecemasan) dan Schuld (beban)
Deskripsi Al-Qur’an tentang manusia sebagai zalu>man jahu>la> (amat zalim dan amat bodoh) setelah menerima amanah adalah inti dari analisis Heideggerian.
Kata zalu>ma, dalam kacamata Heidegger, adalah beban (schuld). Kata schuld dalam bahasa Jerman berarti kesalahan, hutang, atau beban. Karena bebas, manusia ‘berhutang’ pada dirinya sendiri untuk memilih. Ia zalim, atau memiliki kapasitas menzalimi, karena kebebasan adalah risiko untuk salah pilih, untuk gagal memenuhi potensinya, atau bisa jadi mengkhianati amanahnya sendiri. Beban kita adalah kita harus memilih, dan kita bisa salah.
Adapun kata jahula adalah kecemasan (angst) Heideggerian. Mengapa manusia dalam hal ini dikatakan bodoh? Karena amanah berarti kita ‘dilempar’ (geworfenheit) ke dalam dunia tanpa kita minta, harus memilih jalan hidup kita, namun kita tidak tahu tentang hasil akhirnya. Kita tidak pernah tahu pasti apakah pilihan kita benar. Kita bodoh tentang dasar utama eksistensi kita. Kecemasan adalah perasaan terisolasi yang muncul dari kesadaran akan ‘kebodohan’ ini. Dari penjelasan tersebut, menjadi manusia (dasein) berarti hidup dalam ketegangan permanen antara beban dan kecemasan.
Dihadapkan pada beban amanah yang begitu berat, dasein (manusia) memiliki dua pilihan eksistensial, yaitu pelarian dan penerimaan. Dalam pelarian, manusia lari dari kecemasan dan beban dengan cara ‘melupakan’ amanahnya. Ia menenggelamkan diri dalam keramaian ‘si mereka’ (das man), hidup ‘seperti kata orang’, dan sibuk dengan hal-hal remeh. Atau dalam kata lain, manusia (dasein) mengalami ‘kelalaian’.
Sedangkan dalam penerimaan, manusia tidak melarikan diri. Ia secara sadar menerima amanah dan memikul bebannya (schuld) dan menghadapi kecemasannya (angst) dengan tegas (entschlossenheit). Ia hidup secara sadar, hati-hati, dan tanggung jawab.
Melalui kacamata Heidegger, kita menyadari bahwa bahaya terbesar manusia modern bukanlah teknologi atau mesin, melainkan hilangnya kepekaan kita terhadap makna keberadaan. Kita sibuk, namun kosong. Kita ada, namun tidak hadir. Inilah relevansi mendesak dari konsep amanah. Ia mengingatkan bahwa kebebasan kita bukanlah cek kosong belaka, melainkan sebuah mandat yang menuntut pertanggungjawaban. (Hidayat, 2014: 92)
Kita memang makhluk yang zaluma dan jahula, rentan jatuh dan seringkali bodoh. Namun, justru di tengah kerentanan itulah letak kemuliaan manusia. Menjadi otentik berarti berhenti bersembunyi di balik topeng konformitas sosial dan berani mengambil sikap atas hidup sendiri. Sebab, pada akhirnya, pertanyaan “siapakah aku?” tidak akan dijawab oleh kerumunan manusia (das Man), melainkan harus dijawab oleh masing-masing diri dalam kesunyian tanggung jawabnya sendiri.
Referensi
Abidin, Z. Filsafat Manusia: Memahami Manusia melalui Filsafat. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011)
Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer: Jerman dan Inggris. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002)
Hardiman, F.B. Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar menuju Sein und Zeit. (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2016)
Hardiman, F.B. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schliermacher sampai Derrida. (Yogyakarta: Kanisius, 2015)
Hidayat, K. Psikologi Beragama: Menjadikan Agama sebagai Fenomena Kehidupan. (Jakarta: Hikmah, 2014)
Stanford Encyclopedia of Philosophy, https://plato.stanford.edu/entries/heidegger/#LifeWork diakses pada 19 Oktober 2025





