Lapar yang Dipilih: Membuka Kembali Hakikat Puasa dalam Khazanah Islam

Dalam dua dekade terakhir, minat ilmiah terhadap puasa meningkat signifikan. Dari disiplin biologi, kondisi puasa dikaitkan dengan peralihan metabolisme dari glukosa ke keton, aktivasi pembaruan sel, dan penurunan penanda peradangan dalam darah (Wang & Wu, 2022, hlm. 3). Di sisi psikologis, gambarannya lebih tidak seragam: sebuah studi pada mahasiswa yang berpuasa Ramadan tidak menemukan perubahan bermakna pada skor depresi dan kecemasan, meski kualitas tidur menurun konsisten sepanjang bulan (Elsahoryi dkk., 2025, hlm. 5–7).

Pada mahasiswa kedokteran di Arab Saudi, ketegangan meningkat selama bulan puasa, namun kebingungan dan depresi justru menurun setelahnya (Lone dkk., 2025, hlm. 4–5). Pada atlet perempuan yang tetap berlatih, performa kognitif menurun progresif hingga minggu keempat, dan akumulasi kurang tidur lebih bertanggung jawab atas penurunan itu daripada kelaparan itu sendiri (Bougrine dkk., 2024, hlm. 8). Di luar dimensi individual, puasa yang disertai kedermawanan selama Ramadan secara terukur memperkuat solidaritas dan kohesi sosial dalam komunitas Muslim (Shalihin & Sholihin, 2022, hlm. 9–10).

Bacaan Lainnya

Semua itu berlangsung pada siapa pun yang berpuasa. Tetapi satu pertanyaan yang tidak dijawab oleh data-data itu adalah pertanyaan yang justru paling manusiawi, apa yang sedang dilakukan seseorang ketika ia memilih untuk lapar?

Lapar yang Dipilih

Ada perbedaan mendasar antara lapar karena tidak punya makanan dan lapar karena memilih untuk tidak makan. Kondisi fisiknya bisa identik, tetapi secara eksistensial keduanya adalah dua pengalaman yang sepenuhnya berbeda. Yang pertama adalah ketidakberdayaan. Yang kedua adalah pilihan.

Puasa Ramadan adalah yang kedua. Dan di situlah sesuatu yang layak dipikirkan, apa artinya bagi manusia ketika ia secara sadar memilih untuk lapar, mempertahankan pilihan itu jam demi jam, hari demi hari, bukan karena terpaksa melainkan karena ingin menjadi sesuatu yang berbeda dari dirinya kemarin?

Efek biologis puasa terjadi pada keduanya. Tetapi yang hanya terjadi pada yang kedua adalah kesadaran bahwa tubuh ini sedang ditahan dan penahanan itu dijalani bukan karena terpaksa. Penelitian psikologis mencatat bahwa mereka yang berpuasa dengan motivasi religius yang kuat cenderung mengalami rasa pencapaian dan kendali diri yang tidak ditemukan pada mereka yang menjalani kondisi fisik serupa tanpa konteks makna (Wang & Wu, 2022, hlm. 3–4). Makna yang seseorang bawa ke dalam puasa mengubah apa yang ia alami dari puasa itu.

Taqwa: Membangun Jarak

Q.S. Al-Baqarah: 183 menutup perintah puasa dengan la’allakum tattaqūn, agar kamu bertakwa. Kata taqwa, jika ditelusuri akar katanya w-q-y, berarti mendorong sesuatu dari sesuatu yang lain dengan menggunakan penghalang. Ittaqi Allah artinya jadikan antara dirimu dan Dia semacam perisai, seperti sabda Nabi yang dikutip Ibn Faris: “lindungi dirimu dari api neraka meski dengan separuh kurma”, jadikan itu penghalang antara kamu dan neraka (Ibn Fāris, 1969, hlm. 131). Dari sana, taqwa bukan sekadar rasa takut. Ia adalah tindakan aktif membangun jarak antara diri dan apa yang bisa merusaknya.

Jarak ini tidak datang sendiri. Rasyid Ridha membaca la’alla dalam ayat itu sebagai persiapan dan penghantaran, bukan jaminan otomatis. Yang membentuk jarak itu adalah pengulangan kesadaran di setiap momen godaan, di mana ketika seseorang menahan syahwatnya dalam kesadaran bahwa hanya muraqabah (upaya mendekati) Allah yang membuatnya bertahan, dan pengulangan itu yang pada akhirnya membentuk malakah, yaitu kapasitas yang mengendap dan menjadi bagian dari cara seseorang bergerak di dunia (Ridhā, 1990, hlm. 16–17).

Razi melengkapi dengan logika yang lebih operasional bahwa puasa mematahkan dua syahwat terkuat manusia, perut dan kemaluan, karena keduanya paling sulit ditahan. Berhasil menahannya membuat penahanan terhadap hal-hal lain menjadi lebih ringan (Ar-Rāzī, 2012, hlm. 240).

Sementara Ibn ‘Asyur masuk dari sudut yang lebih struktural, menurutnya ada maksiat yang bisa diatasi dengan pemikiran, dan ada yang lahir dari dorongan alamiah yang tidak cukup ditahan oleh pikiran saja. Untuk yang kedua inilah puasa ditetapkan, karena ia bekerja dengan menyeimbangkan kekuatan dalam tubuh yang menjadi bahan bakar dorongan-dorongan paling keras itu (Ibnu ’Āsyūr, 1983, hlm. 155). Ketiga bacaan di atas berbeda tekanannya, tetapi mengarah ke satu titik; puasa bukan sekadar menahan makan, ia melatih kapasitas yang lebih dalam.

Taqwa dalam Al-Qur’an sendiri jauh lebih luas dari tujuan satu ibadah. Ia adalah pakaian terbaik (libās al-taqwa, QS. Al-A’raf: 26), bekal terbaik (khair al-zād, QS. Al-Baqarah: 197), dan yang membedakan manusia di hadapan Allah (atqākum, QS. Al-Hujurat: 13), dan pada ayat-ayat lainnya. Bukan kondisi yang dicapai sekali lalu selesai, melainkan kapasitas yang terus tumbuh atau menyusut.

Kekuatan yang Bersaing di Dalam Diri

Ibn Asyur mengembangkan satu kerangka yang menarik, manusia memiliki dua kekuatan yang bekerja bersamaan, kekuatan ruhaniah dan kekuatan hewani yang menyebar ke seluruh organ jasmaniah. Makanan yang berlebih memperkuat kekuatan hewani hingga mendominasi. Puasa melemahkannya secara terukur, memberi ruang bagi kekuatan ruhaniah untuk mengambil alih keseimbangan, keseimbangan yang ia ingatkan harus tetap terukur agar tidak merusak hidup yang menjadi prasyarat bagi seluruh pembentukan itu sendiri (Ibnu ’Āsyūr, 1983, hlm. 158).

Al-Ghazali menggambarkan dinamika yang sama dengan cara yang lebih hidup, bahwa syahwat seperti pembantu yang tampak membantu tetapi diam-diam merusak tatanan dari dalam, dan hanya ketika akal memegang kendali tatanan jiwa menjadi seimbang (Abū Hāmid, 1431, hlm. 7). Yang kemudian menjadi pertanyaan bukan apakah keseimbangan itu bisa dicapai, melainkan bagaimana: yaitu melalui menepati tekad. Jiwa yang terbiasa membatalkan tekadnya akan rusak olehnya (Abū Hāmid, 1431, hlm. 63). Di sinilah QS. An-Nazi’at: 40–41 masuk dengan diksi yang tepat, nahā al-nafsa ‘an al-hawā, menahan diri dari keinginan impulsif. Al-Maraghi membaca ini sebagai lawan dari manusia yang hidupnya ditentukan sepenuhnya oleh apa yang ia inginkan saat itu juga (Al-Marāghī, 1946, hlm. 34).

Kata naha adalah fi’il aktif dan berulang, sebuah tindakan yang dilatih, bukan kondisi yang tiba-tiba ada. Dan bahwa puasa bekerja sebagai latihan jarak antara dorongan dan tindakan ini juga tercermin dalam hadis sahih al-sawm junnah, puasa adalah perisai. Ibn Ashur mencatat bahwa hadis ini tidak menyebut perisai dari apa, dan keterbukaan itu justru membuat maknanya luas, yakni perlindungan dari maksiat, dari azab akhirat, dan dari penyakit yang lahir dari berlebihan (Ibnu ’Āsyūr, 1983, hlm. 155).

Dua Kebahagiaan

Nabi Saw. bersabda: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya” (HR. Bukhari, no. 1904; Muslim, no. 1151).

Kebahagiaan berbuka adalah yang paling konkret, lega, syukur atas hal sederhana yang tiba-tiba terasa bernilai, kebersamaan yang tidak terasa biasa. Dimensi sosialnya nyata, puasa yang disertai kedermawanan memperkuat rasa memiliki dan harmoni dalam komunitas (Shalihin & Sholihin, 2022, hlm. 10). Jarak yang dilatih selama puasa tidak hanya mengubah cara seseorang menghadapi dirinya sendiri, ia juga mengubah cara ia hadir di antara orang lain. Kebahagiaan kedua (bertemu dengan Tuhannya) tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Ia adalah horizon yang memberi arah pada seluruh praktik.

Puasa selama ini paling sering dipahami dari dua ujung yang sama-sama sudah akrab: sebagai kewajiban yang ditunaikan karena perintah, atau sebagai latihan empati terhadap mereka yang kekurangan. Keduanya tidak salah, tetapi keduanya juga berhenti sebelum menyentuh pertanyaan yang lebih dalam tentang apa yang sebenarnya sedang berlangsung di dalam diri seseorang yang berpuasa.

Sains mulai mengungkap sebagian dari itu, meski dengan bahasa dan metode yang terbatas pada yang bisa diukur. Yang lebih jauh, dan yang justru sudah lebih dahulu dipikirkan oleh para mufasir selama berabad-abad, adalah bahwa puasa bekerja di level yang tidak tertangkap oleh instrumen klinis mana pun: ia melatih kehendak, membangun jarak antara dorongan dan tindakan, dan perlahan membentuk manusia yang berbeda dari yang masuk di awal Ramadan. Itulah yang dimaksud taqwa dalam pengertian paling dasarnya, membangun perisai, bukan sekadar menahan lapar.

Referensi

Abū Hāmid, A.-G. (1431). Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Vol. 3). Dār al-Ma‘rifah.

Al-Marāghī, A. ibn M. (1946). Tafsīr al-Marāghī (Vol. 30). Kairo.

Ar-Rāzī, F. al-Dīn. (2012). Mafātī Ghayb (Tafsīr Kabīr) (2 ed., Vol. 5). Dār Iẖyā’ al-Turāts al-’Arabi.

Bougrine, H., Chalghaf, N., Azaiez, C., Hammad, A. S., Boussayala, G., Dhahri, M., Henchiri, H., Al-Saedi, A. I. A. U., Al-Hayali, M. D. A., AL-Rubaiawi, A. W. M. S., Ezzi, A. F. T., AL-Sadoon, N. M. N., Souissi, N., Azaiez, F., Dergaa, I., & Al-Asmakh, M. (2024). The impact of intermittent fasting during Ramadan on psychomotor and cognitive skills in adolescent athletes. Frontiers in Sports and Active Living, 6. https://doi.org/10.3389/fspor.2024.1362066

Elsahoryi, N. A., Ibrahim, M. O., Alhaj, O. A., Doleh, G. A., & Aljahdali, A. A. (2025). Impact of Ramadan Fasting on Mental Health, Body Composition, Physical Activity, and Sleep Outcomes Among University Students. Healthcare, 13(6). https://doi.org/10.3390/healthcare13060639

Ibn Fāris, A. al-H. A. bin F. bin Z. (1969). Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah (2 ed., Vol. 6). Mathba‘ah Musthafā al-Bābī al-Halabī.

Ibnu ’Āsyūr, M. al-Thāhir. (1983). Al-Tahrīr wa al-Tanwīr (Vol. 2). Al-Dār al-Tūnisiyyah li al-Nasyr.

Lone, A., Hadadi, A. S., Alnawah, A. K., Alshammary, A. A., Almutairi, R. M., Ali, S. I., & Abid, N. (2025). Exploring mood and anxiety disturbances across Ramadan: A comparative study of Saudi medical students before, during, and after fasting. Frontiers in Psychology, 16. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1570557

Ridhā, M. R. bin ‘Alī. (1990). Tafsīr al-Qur`ān al-Hakīm (Tafsīr al-Manār) (Vol. 2). al-Hay`ah al-Mishriyyah al-‘Āmmah li al-Kitāb.

Shalihin, N., & Sholihin, M. (2022). Ramadan: The month of fasting for muslim and social cohesion—mapping the unexplored effect. Heliyon, 8(10), e10977. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2022.e10977

Wang, Y., & Wu, R. (2022). The Effect of Fasting on Human Metabolism and Psychological Health. Disease Markers, 2022, 5653739. https://doi.org/10.1155/2022/5653739

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *