Menuju Kedalaman Spiritualitas Islam Bersama Daya Imajinatif Sebuah Telaah atas Buku Agama dan Imajinasi (2025)

Haidar Bagir sejalan dengan prisma hermeneutik yang telah saya uraikan sebelumnya tatkala menjelaskan bahwa imajinasi bukan sekadar daya epistemik, tetapi juga terkait dengan visi spiritualitas dan sensitivitas etis. Imajinasi religius memungkinkan seorang pembaca Al-Qur’an untuk “menjembatani jarak sekaligus menavigasi ketegangan antara kata yang eksplisit di dalam teks dengan makna implisit yang dibentangkan di balik maupun di depan teks.” Dalam konteks ini, dorongan untuk membaca Al-Qur’an dengan melibatkan imajinasi ditujukan untuk menghidupkan (kembali) berbagai makna yang (telah lama) mengkristal dalam simbol-simbol keagamaan. Pada kenyataannya, dalam sejarah intelektual Islam, kegiatan eksegesis memang selalu berakar pada kesadaran bahwa wahyu adalah teks yang menampung kemungkinan makna tanpa akhir.

Dari sini, saya hendak mengeksplisitkan bahwa wahyu dan sejarah manusia saling berjalin-kelindan; tafsir bukanlah usaha interpretatif untuk menentukan arti terakhir dari teks, melainkan mengambil bagian—melalui horizon imajinatif manusia—dari penyingkapan makna Ilahi. Sebab, teks wahyu itu sendiri, karena ia diam (āmi), akan selalu menebarkan undangan hermeneutik sekaligus membentangkan dunia yang mungkin bagi para pembacanya. Dalam kerangka tersebut, hermeneutika imajinatif bukan sekadar teori penafsiran, melainkan merupakan etika dialog dengan wahyu Ilahi maupun yang-lain.

Sejak hermeneutika berperan penting dalam membuka empati, pluralitas, dan keterbukaan terhadap penafsiran yang berbeda, seperti yang dielaborasi dengan jelas oleh Shabestari, imajinasi religius lantas membentuk sikap dan posisi hermeneutik yang rendah hati (epistemic humility) (Amirpur, 2025). Hal yang menarik untuk saya sebutkan di sini adalah bahwa wahyu Ilahi, demikian penggambaran Shabestari, ternyata tidak mewartakan suatu bentuk formulasi hukum sebagaimana yang diduga oleh sebagian kalangan hari ini, melainkan menghadirkan visi moral terkait bagaimana manusia seharusnya memandang dunia dengan penuh harapan, kasih, keadilan, dan tanggung jawab etis (Poya, 2017).

Pada titik ini, imajinasi hermeneutik kemudian termanifestasikan ke dalam bentuk ibadah intelektual. Sebab, ia memungkinkan manusia tidak hanya sekadar menyalin dogma keagamaan, namun untuk terus “berdialog dengan Tuhan” secara partisipatif dan resiprokal sekaligus mengakui keterbatasan diri dan bahasa di dalam relasionalitasnya dengan Yang Ilahi.

Berpijak pada eksposisi sebelumnya, saya hendak mempertegas bahwa ambiguitas merupakan rahmat hermeneutik. Ia menantang para pembaca untuk terus menafsir, merefleksikan, dan mengimajinasikan makna-makna yang tersembunyi. Sejalan dengan itu, kitab suci lantas perlu dihayati bukan sebagai manual kepastian, melainkan sebagai teks imajinatif yang mengundang keterlibatan batin dan intelektual.

Dalam tradisi mistikus Islam (‘irfān), sebagaimana yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabī, Al-Qur’an dipahami sebagai teks imajinatif—cahaya yang menerangi dari gelapnya kesalahan dan ilusi, obat yang menyembuhkan penyakit spiritual, rahmat sebagai bentuk kasih Tuhan terhadap semesta ciptaan, dan petunjuk untuk menuntun tindakan manusia—yang menampilkan Tuhan bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai kehadiran simbolik.

Tidak berlebihan jika diungkapkan bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi rahmat sekaligus imajinasi Ilahi yang memediasi makna, pengetahuan, dan penyembuhan spiritual sekaligus (Al-Massri, 2000). Bagi Haidar Bagir, inilah makna terdalam dari beragama secara imajinatif, yakni perjalanan batin yang melibatkan tafsir sebagai pendakian spiritual untuk terlibat di dalam, berjumpa dengan, sekaligus bercengkrama bersama, Tuhan.

Catatan Penutup: Memulihkan Imajinasi, Memulihkan Agama

Salah satu gagasan penting Haidar Bagir ialah urgensi untuk beragama secara imajinatif, yakni pandangan bahwa agama tidak berhenti pada formulasi doktrin dan ketaatan ritual, tetapi merupakan perjalanan batin menuju pengetahuan hakiki dan kedekatan eksistensial dengan Tuhan. Dalam iman yang imajinatif, manusia tidak sekadar mempercayai dogma, melainkan mengalami kehadiran Ilahi melalui daya imajinasi spiritualnya.

Pandangan ini selaras dengan refleksi Martin Nguyen (2019), yang menafsirkan hadis Nabi tentang isān—“Worship God as though you see Him, for though you do not see Him, He sees you”—sebagai fondasi teologi imajinatif. Bagi Nguyen, seruan “as though you see Him” menuntut aktivasi penglihatan batin, yakni kemampuan membayangkan kehadiran Tuhan yang melampaui pancaindra dan rasio, sementara “He sees you” menegaskan kesadaran bahwa manusia senantiasa berada dalam pandangan kasih sayang Ilahi. Haidar Bagir menggemakan pemahaman ini dengan menekankan bahwa penyembahan yang dilandasi imajinasi kehadiran Tuhan menumbuhkan kesungguhan spiritual dan keindahan moral, sehingga menjadikan isān sebagai jalan menuju pembentukan karakter etis dan perilaku bermoral (Bagir, 2012).

Bertolak dari hadis tersebut, Nguyen kemudian menegaskan bahwa isān merupakan penghayatan iman yang imajinatif, di mana seseorang merasakan pengalaman iman yang hidup sekaligus “melihat” kehadiran Tuhan dalam kesadarannya. Pada titik ini, isān merefleksikan persinggungan sekaligus titik temu antara epistemologi dan estetika spiritual, di mana iman dihidupkan oleh daya imajinatif.

Imajinasi, dalam pandangan demikian, bukanlah fungsi eksternal yang diatributkan kepada jiwa manusia, melainkan merupakan modus eksistensial manusia dalam mengenal Tuhan. Maka dari itu, iman religius yang hidup merupakan iman yang imajinatif. Dalam artian, ia bukan sekadar percaya, tetapi mengalami yang Ilahi. Wahyu Tuhan, dalam konteks ini, lantas mengambil format sebagai horizon intersubjektif, bukan artikulasi monolog, yang mengundang partisipasi aktif manusia di dalam kebijaksanaan Ilahi (Vahdat, 2000).

Nguyen menafsirkan imajinasi sebagai barzakh, yaitu ruang perantara dunia material dengan dunia spiritual. Dalam penafsiran tersebut, imajinasi kemudian dapat kita artikan sebagai barzakh epistemik: jembatan antara bentuk dan makna, antara materi dan roh, antara yang sakral dan yang sekuler. Poin yang perlu saya tekankan adalah bahwa imajinasi bukanlah fantasi liar yang menjauh dari, serta berseberangan secara diametral dengan, realitas. Sebaliknya, ia merupakan daya yang, kendatipun bertolak dari realitas, dapat menembus batas-batas realitas untuk menemukan makna Ilahi di baliknya. Tanpa imajinasi, manusia akan kehilangan kemampuan untuk menghubungkan tanda-tanda Tuhan (āyāt Allāh) di dunia dengan kehadiran-Nya yang transenden.

Dalam kerangka ini, Haidar Bagir memandang imajinasi sebagai cara beragama yang melibatkan seluruh potensi kemanusiaan: tubuh, akal, rasa, intuisi, dan hati. Beragama secara imajinatif berarti menjalankan agama sebagai jalan penyatuan diri dengan realitas ketuhanan melalui penghayatan makna yang terus diperbarui. Imajinasi menjadikan pengalaman iman bersifat dinamis, karena ia membuka ruang bagi tafsir dan pembaruan makna di setiap zaman.

Bersama Haidar Bagir, kita diajak untuk menginternalisasikan keimanan melalui proses imajinatif; sebuah penghayatan yang memahami religiusitas sebagai perjalanan batin yang panjang. Apabila kita mengaitkannya dengan pergulatan hermeneutik bersama Al-Qur’an, maka membaca dan menafsirkan secara imajinatif berarti menjumpai sekaligus mengalami yang Ilahi secara eksistensial. Pengalaman tersebutlah yang kemudian menghadirkan konsekuensi transformatif bagi eksistensi agen yang membaca teks, demikian tegas Shabestari (Arminjon, 2022).

Nguyen lantas menegaskan bahwa modernitas merupakan aktor utama yang paling bertanggung jawab dalam memisahkan iman dari imajinasi. Rasionalisme Cartesian yang menjadikan akal sebagai satu-satunya ukuran kebenaran kemudian menganggap bahwa imajinasi tidak lebih dari persaan subjektif dan tidak memiliki validitas epistemik apa pun. Padahal, dalam tradisi Islam, akal dan imajinasi adalah dua sayap dari pengetahuan spiritual.

Sehubungan dengan ini, William Chittick (2007) mencatat bahwa sementara akal budi adalah fakultas epistemik untuk memahami Tuhan, imajinasi adalah fakultas hermeneutik untuk melihat Tuhan. Atas dasar itu, kita dapat menegaskan bahwa rasionalitas tanpa imajinasi akan menghasilkan dogmatisme, sedangkan imajinasi tanpa akal budi akan menimbulkan kesesatan. Maka, keseimbangan keduanya adalah inti yang sangat dibutuhkan bagi kita yang masih mencari format dan strategi berteologi yang hidup.

Menurut Haidar Bagir, keseimbangan ini sangat penting dalam menjawab krisis keberagamaan modern. Di tengah reduksi positivistik terhadap agama menjadi suatu sistem hukum dan ideologi yang tertutup, imajinasi kemudian hadir untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perenial agama, seperti kasih, keindahan, dan kebijaksanaan. Imajinasi religius lantas memainkan peran krusial untuk melahirkan etos empatik: ia menubuhkan nilai-nilai kelembutan dalam beragama dan sikap-sikap toleran terhadap perbedaan.

Imajinasi memungkinkan manusia bukan hanya untuk membayangkan, melainkan berempati, menempatkan diri, dan pada akhirnya melihat kebenaran di dalam horizon yang-lain. Moral stance demikian bukan hanya diperlukan untuk mendengar suara Ilahi yang tersembunyi di balik simbol-simbol tekstual, melainkan juga dibutuhkan untuk menghadapi pluralitas yang telah menjadi norma fundamental dalam dunia modern.

Nguyen juga menekankan dua kualitas esensial dalam imajinasi religius: inclusiveness dan inconclusiveness. Imajinasi bersifat inklusif karena ia mampu memeluk perbedaan tanpa meniadakannya. Pada saat yang sama, ia bersifat inkonklusif karena menolak finalitas dalam menentukan makna. Dalam konteks religiusitas, imajinasi mengajarkan kita bahwa tidak ada tafsir tunggal terhadap kebenaran Ilahi.

Selain itu, tidak ada pemahaman yang benar-benar mampu menyerap keagungan misteri Tuhan sepenuhnya. Makna selalu terbuka, dan iman selalu berada dalam perjalanan panjang untuk mengharapkan kedatangan Yang Ilahi. Haidar Bagir menyebut hal ini sebagai kelapangan spiritual; sebuah sikap luhur yang menghidupkan kembali kesadaran akan misteri Tuhan sebagai suatu kemungkinan, bukan justru mematikannya dalam fanatisme yang amat terobsesi pada kepastian.

Hal yang tidak kalah menarik adalah bahwa imajinasi religius juga bersifat sosial. Nguyen menulis bahwa pengalaman iman tidak hanya terbatas pada persoalan individual, melainkan juga dibentuk oleh, dan dimungkinkan melalui, formasi imajinatif kolektif—simbol, kisah, dan ritus yang membangun kesadaran umat sebagai satu komunitas spiritual. Imajinasi semacam ini lantas menjadikan teologi bukan hanya sekadar sistem pemikiran, tetapi juga praktik hidup yang menghubungkan manusia dengan Tuhan berikut semesta ciptaan-Nya. Dalam konteks ini, Haidar Bagir menegaskan pentingnya menghidupkan imajinasi dalam komunitas Muslim agar agama dapat menjadi sumber kreativitas sosial, bukan sumber konflik.

Saya hendak mengakhiri ulasan sederhana ini dengan mengeksplisitkan bahwa krisis keberagamaan di era modern berjalin-kelindan dengan krisis imajinasi. Ketika agama kehilangan daya imajinatifnya, ia berubah menjadi ideologi yang kaku dan eksklusif. Akan tetapi, tatkala imajinasi dihidupkan kembali, agama menemukan lagi wajahnya yang lembut, penuh kasih, dan terbuka terhadap tanda tanya yang tidak berkesudahan. Haidar Bagir, melalui Agama dan Imajinasi, mengingatkan bahwa memulihkan imajinasi berarti memulihkan kemanusiaan itu sendiri.

Imajinasi memungkinkan kita untuk melihat Tuhan dalam yang-lain, dan memahami yang-lain dalam cahaya Tuhan. Ia adalah daya agung (al-quwwah al-‘u) bagi penciptaan makna yang terus memperbarui iman agar relasionalitas bersama Sang Ilahi tetap hidup di tengah dunia yang terus bergerak. Beragama secara imajinatif, dengan demikian, bukanlah pelarian ke dunia fantasi, melainkan cara yang paling realistis untuk menghidupi iman dalam dunia yang semakin kompleks. Bagi saya, imajinasi bukanlah pelengkap iman, melainkan justru merupakan jantung yang menghidupkan keimanan itu sendiri.

Imajinasi mengajarkan kita bahwa Tuhan hadir di dalam simbol, dalam bahasa, dalam wajah ciptaan-Nya, dan dalam keindahan yang menuntun jiwa. Bersama daya imajinasi, manusia akan diajak untuk terus mencipta, berubah, dan memberi makna; ia adalah daya yang menolak absolutisme, tetapi juga tidak tenggelam dalam relativisme. Maka, beragama secara imajinatif bukanlah sekadar proyek estetika, melainkan proyek spiritual dan etis. Ia menuntut keberanian untuk melambat, untuk merenung, dan untuk menanggung ketaksaan.

Dalam penilaian saya, imajinasi adalah horizon eksistensial yang memungkinkan kita untuk menemukan kembali, apa yang Haidar Bagir (2022) sebut sebagai, Islam cinta; suatu orientasi keagamaan yang berporos pada rahmat, kasih sayang, dan akhlak yang luhur. Di sinilah, sebagaimana ditegaskan Haidar Bagir, imajinasi menjadi pintu menuju kedalaman iman sekaligus membentangkan jalan untuk menyentuh kembali kelapangan spiritual Islam yang telah lama terpendam di bawah reruntuhan modernitas.

Referensi

Ahmed, S. (2016). What is Islam?: The Importance of Being Islamic. Princeton University Press.

Akbar, A. (2016). A Contemporary Muslim Scholar’s Approach to Revelation: Mohammad Moǧtahed Šabestarī’s Reform Project. Arabica, 63, 656–680. https://doi.org/10.1163/15700585-12341420

Akbar, A. (2020). Contemporary Perspectives on Revelation and Qur’anic Hermeneutics: An Analysis of Four Discourses. Edinburgh University Press.

al-Radi,  al-S. (1986). aqā’iq al-Ta’wīl fī Mutasyābih al-Tanzīl. Dār al-Aḍwā’.

Al-Massri, A. (2000). Imagination and the Qurʾān in the Theology of “Oneness of Being.” Arabica, 47(3), 523–535.

Amirpur, K. (2025). An Intellectual Biography of Mohammad Mojtahed Shabestari. Routledge.

Arminjon, C. (2022). Building Islamic Thought on New Foundations: Shabestari’s Manifold Use of Hermeneutics. In S. Camilleri & S. Varlik (Eds.), Philosophical Hermeneutics and Islamic Thought (pp. 109–122). Springer International Publishing.

Bagir, H. (2012). Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan. Noura Books.

Bagir, H. (2015). Semesta Cinta: Pengantar kepada Pemikiran Ibn ’Arabi. Mizan.

Bagir, H. (2019a). Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau. Mizan.

Bagir, H. (2019b). Mengenal Tasawuf: Spiritualisme dalam Islam. Noura Books.

Bagir, H. (2022). Manifesto Islam Cinta. Mizan.

Bagir, H. (2025). Agama dan Imajinasi: Menjelajahi Kedalaman dan Kelapangan Spiritual Islam. Bentang Pustaka.

Bauer, T. (2021). A Culture of Ambiguity: An Alternative History of Islam (H. Biesterfeldt & T. Tunstall, Trans.). Columbia University Press.

Chittick, W. C. (2007). Science of the Cosmos, Science of the Soul: The Pertinence of Islamic Cosmology in  the Modern World. Oneworld Publications.

Nguyen, M. (2019). Modern Muslim Theology: Engaging God and the World with Faith and Imagination. Rowman & Littlefield.

Poya, A. (2017). How the Prophet Saw the World: On the Qur’anic Exegesis of Mohammad Mojtahed Shabestari. In A. Poya & F. Sulaeiman (Eds.), Unity and Diversity in Contemporary Muslim Thought (pp. 208–227). Cambridge Scholars Publishing.

Shabestari, M. M. (2013). Al-Īmān wa al-urriyyah (A. al-Qabanji, Trans.). Mu’assasah al-Intisyār al-‘Arabī.

Shabestari, M. M. (2014). al-Hirminiyūīqā: Al-Kitāb wa al-Sunnah (A. J. al-Rifa‘i, Ed.; H. Najaf, Trans.). Dār al-Tanwīr li al-Ṭibā’ah wa al-Nasyr.

Shabestari, M. M. (2017). Naẓariyyah al-Qirā’ah al-Nabawiyyah li al-‘Ālam: Insāniyyah al-Naṣṣ Al-Qur’ānī wa Ḥaqīqah al-Tajribah al-Muḥammadiyyah. Qaāyā Islāmiyyah Mu‘āirah, 67–68, 368–401.

Soroush, A. (2009). The Expansion of Prophetic Experience: Essays on Historicity, Contingency and Plurality in Religion (F. Jahanbakhsh, Ed.; N. Mobasser, Trans.). Brill.

Thaver, T. (2016). Encountering Ambiguity: Mu’tazilī and Twelver Shi’ī Approaches to the Qur’an’s Ambiguous Verses. Journal of Qur’anic Studies, 18(3), 91–115.

Thaver, T. (2018). Language as Power: Literary Interpretations of the Qur’an in Early Islam. Journal of the Royal Asiatic Society, 28(2), 207–230. https://doi.org/10.1017/S1356186317000633

Thaver, T. (2024). Beyond Sectarianism: Ambiguity, Hermeneutics, and the Formations of Religious Identity in Islam. University of Pennsylvania Press.

Vahdat, F. (2000). Post‐revolutionary discourses of Mohammad Mojtahed Shabestari and Mohsen Kadivar: Reconciling the terms of mediated subjectivity. Critique: Critical Middle Eastern Studies, 9(16), 31–54. https://doi.org/10.1080/10669920008720158

Vahdat, F. (2015). Islamic Ethos and the Specter of Modernity. Anthem Press.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *