Sejarah intelektual Islam tidak lepas dari dialektika metodologis yang terkadang menegangkan. Selama berabad-abad, tradisi rasional-filosofis (al-ḥikmah al-baḥtsīyyah) sering dipandang bertentangan dengan jalan intuitif-mistis (al-ḥikmah al-dzawqīyyah) dan otoritas wahyu.
Namun, pada abad ke-17 Masehi, muncul seorang jenius dari Syiraz, Ṣadr ad-Dīn Muḥammad Syīrāzī, yang populer dengan sebutan Mullā Ṣadrā (w. 1640 M), yang berani menawarkan sebuah rekonsiliasi total. Mulla Sadra merumuskan sebuah madzhab independen yang diberi nama al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah, yang secara harfiah berarti “Teosofi Transenden” atau “Kearifan Puncak”.
Label ini bukan sekadar nama, melainkan deklarasi filosofis yang secara eksplisit menggabungkan pilar-pilar pemikiran Islam: filsafat (nalar), teosofi (‘irfān/intuisi), dan syariat (wahyu) (Nurkhalis, 2011). Al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah menjadi cetak biru metafisik yang mendasari seluruh pemikirannya, termasuk upaya monumental beliau dalam studi Al-Qur’an.
Dalam ranah tafsir, sistem Sadra termanifestasi sebagai Tafsir Falsafi yang mendalam, terangkum dalam karya-karya utamanya seperti Al-Mafātiḥ al-Ghaib dan Tafsīr Al-Qur’ān al-Karīm (Solehuddin, 2018). Tujuan utama tafsir ini melampaui interpretasi tekstual, beranjak pada penyingkapan makna intuitif (al-ma’nā al-bāṭin) Al-Qur’an melalui pendekatan yang tegas sebagai tasawuf-falsafi.
Tafsir Mulla Sadra pada akhirnya menawarkan sebuah solusi epistemologis yang valid bagi persoalan intuisi intelektual (mukāshafah) dalam tafsir esoterik (tafsīr ishārī). Artikel ini akan menelusuri bagaimana sintesis epistemik dan ontologis Sadra membentuk metodologi unik dalam menyingkap Al-Qur’an dan bagaimana relevansinya masih bergema di tengah tantangan intelektual kontemporer.
Fondasi Metafisika Tafsir: Trilogi Wujud Transenden
Untuk memahami hermeneutika Mulla Sadra, terlebih dahulu perlu menyelami metafisikanya. Sadra menjadikan ontologi sebagai landasan utama bagi seluruh bangunan epistemologinya (Kerwanto, 2021). Cara pandangnya terhadap Wujud menentukan bagaimana ia menafsirkan hierarki realitas yang terkandung dalam Kitab Suci.
Fondasi filosofis Al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah dibangun di atas tiga pilar utama yang saling mengalirkan makna dan konsekuensi. Yang pertama adalah Keaslian Wujud (Aṣālah al-Wujūd). Pilar ini menyatakan bahwa realitas hakiki, riil, dan fundamental adalah Eksistensi (Wujud) itu sendiri. Sebaliknya, esensi (māhiyyah)—yaitu apa sesuatu itu—hanyalah konsep mental yang dinisbatkan akal (i‘tibārī).
Pergeseran sentralitas dari Esensi ke Eksistensi ini menjadi pijakan filosofis yang memungkinkan Sadra menjelaskan secara rasional konsep Kesatuan Wujud yang sebelumnya didominasi oleh penjelasan mistis murni. Mengalir dari Aṣālah al-Wujūd, Sadra menerima konsep yang kedua yaitu Kesatuan Wujud, namun ia tidak melihatnya sebagai sebuah panteisme murni yang menghilangkan segala perbedaan.
Sebaliknya, Sadra melihat bahwa Wujud adalah realitas tunggal yang menjadi Sumber dari segala sesuatu, namun realitas ini memanifestasikan dirinya dalam beragam bentuk dan tingkatan. Dengan ini perlu adanya jembatan antara kesatuan ontologis dan pluralitas empiris. Jembatan itu disebut dalam prinsip (Tashkīk al-Wujūd (Gradasi Wujud).
Prinsip ini menjelaskan bahwa Wujud, meskipun tunggal dalam hakikatnya, hadir dalam hierarki dan pluralitas dengan perbedaan intensitas, kesempurnaan, dan kualitas (Kerwanto, 2021: 10). Dari Wujud Mutlak (Tuhan) hingga wujud materi, semua adalah manifestasi Wujud yang sama, namun pada tingkatan yang berbeda.
Inilah kunci metafisik yang digunakan Sadra dalam studi Al-Qur’an. Adanya gradasi wujud secara langsung membenarkan konsep level makna dalam Al-Qur’an (Kerwanto, 202). Teks Al-Qur’an memiliki dimensi lahiriah (ẓāhir) untuk wujud di tingkat materi dan syariat, dan dimensi batiniah (bāṭin) yang mencerminkan realitas spiritual dan eskatologis yang lebih tinggi (Al-Kutubi, 2015).
Dengan demikian, penafsiran tidak berhenti pada apa yang dikatakan teks, melainkan berupaya menyingkap apa yang diisyaratkan oleh teks, menghubungkannya dengan hierarki kosmik yang tak terhingga.
Epistemologi Sadra: Tiga Pilar Makrifat dan ‘Ilm Huḍūrī
Sintesis Mulla Sadra mencapai puncaknya dalam epistemologi makrifat, yang beliau yakini harus terwujud dari integrasi tiga sumber pengetahuan: wahyu, intuisi intelektual, dan rasio (Moris, 2003: 10). Bagi Sadra, tidak ada dikotomi hakiki antara kebenaran yang dicapai akal (burhān) dan kebenaran yang diturunkan oleh wahyu (syariat), asalkan akal tersebut telah diasah dan dimurnikan (Nurkhalis, 2011).
Bahkan, beliau tegas menyatakan menolak filsafat yang prinsip-prinsipnya tidak selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah (Moris, 2003). Dengan ini, beliau menyempurnakan pendekatan rasionalistik dengan membuka pintu seluas-luasnya bagi metode intuitif-intellektual (Moris, 2003). Metode intuisi dalam filsafat Sadra mendapatkan landasan validitas yang kokoh melalui konsep Ilmu Kehadiran(‘Ilm Huḍūrī).
‘Ilm Huḍūrī adalah pengetahuan langsung yang diperoleh jiwa tanpa perantara bentuk gambar atau abstraksi. Ini berbeda dengan ‘Ilm Ḥuṣūlī (Pengetahuan Perolehan), yang didapat melalui abstraksi konsep di akal.
Dalam konteks tafsir, pengalaman penyingkapan (mukāshafah) adalah bentuk ‘Ilm Huḍūrī, di mana jiwa penafsir secara langsung menyaksikan realitas makna batin Al-Qur’an. Karena sifatnya yang langsung dan imaterial, pengetahuan ini dianggap paling murni dan kebenarannya lebih valid dibandingkan dengan interpretasi yang hanya mengandalkan silogisme rasional.
Namun, agar intuisi ini dapat diakui dalam diskursus akademik, Sadra menuntut agar pengetahuan intuitif (dzawq) yang didapatkan harus diformulasikan dan diverifikasi melalui argumen rasional (burhāni) yang kuat. Dengan demikian, beliau berhasil menciptakan jembatan antara penyaksian mistis dan nalar filosofis.
Epistemologi Sadra secara langsung memengaruhi metodologi tafsirnya, yang berpusat pada ta’wil untuk menyingkap makna esoterik (bāṭin) Al-Qur’an. Dengan ini, Penyingkapan (Mukāshafah) adalah fondasi utama epistemologi tafsir Mulla Sadra. Ini adalah metode untuk mengakses tafsīr ishārī, yaitu menafsirkan ayat-ayat suci berdasarkan isyarat atau makna tersembunyi.
Proses takwil yang dilakukan Sadra melibatkan seluruh dimensi eksistensi manusia yang berupaHati (Qalb): Berfungsi sebagai wadah spiritual yang disucikan melalui riyādhah (latihan spiritual) untuk menerima ilham dan penyingkapan makna batin. Yang kedua Imaji (Khayāl): Memainkan peran penting dalam proses kognitif, menjadi perantara yang menjembatani alam akal murni dan alam indrawi. Dan Akal (‘Aql) Bertindak sebagai verifikator dan formulatur argumen (burhān) untuk pengetahuan yang didapat secara intuitif.
Inilah yang menjadikan tafsir Sadra unik. Corak tafsirnya fokus pada penggunaan istilah-istilah kunci yang berhubungan dengan makna intuitif dan takwil, memungkinkan pembahasan yang komprehensif mengenai level makna dalam Al-Qur’an, termasuk pembahasan tentang ayat muhkām dan mutashābihāt (Kerwanto, 2021).
Prinsip Keseimbangan Ẓāhir dan Bāṭin
Dalam hermeneutikanya, Mulla Sadra selalu menekankan keseimbangan antara makna lahir dan makna batin. Sadra menolak pandangan yang hanya berpegang pada ẓāhir tanpa menembus kedalaman, namun juga menolak interpretasi esoterik yang secara total mengabaikan teks.
Sadra berpendapat bahwa makna intuitif yang didapat melalui mukāshafah tidak membuang makna luar, tetapi justru memberinya dimensi transenden. Makna ẓāhir adalah kulit dan Syariat, sementara bāṭin adalah inti dan Hakikat. Keduanya adalah satu Wujud yang bergradasi. Oleh karena itu, tafsir Mulla Sadra menghasilkan sebuah interpretasi Al-Qur’an yang tidak hanya kaya secara filosofis tetapi juga utuh secara spiritual.
Mulla Sadra di Era Digital dan Fragmentasi
Meskipun hidup di abad ke-17, pemikiran Mulla Sadra memiliki relevansi yang luar biasa dalam menjawab tantangan intelektual dan spiritual di era kontemporer. Model sintesis Al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah menawarkan solusi bagi krisis pengetahuan yang terjadi saat ini. Era modern ditandai oleh fragmentasi ilmu pengetahuan, di mana sains (rasio/objektif) dipisahkan dari spiritualitas (subjektif/agama).
Mulla Sadra, melalui model epistemologinya yang menggabungkan rasio, intuisi, dan wahyu, menyediakan kerangka teoretis untuk integrasi ilmu. Beliau menegaskan bahwa pengetahuan yang sejati harus menghasilkan transformasi wujud, bukan sekadar akumulasi data atau penalaran logis yang kering.
Model ini sangat penting dalam menghadapi isu-isu kontemporer seperti krisis spiritualitas akibat materialisme dan objektivisme ilmu pengetahuan. Dengan menegaskan validitas ‘Ilm Huḍūrī, Sadra memungkinkan akademisi modern untuk mengakui dan memasukkan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman batin murni ke dalam diskursus studi Al-Qur’an, tanpa mengorbankan ketajaman filosofis. Hal ini menjadi jangkar yang kokoh bagi pemikir Muslim yang berupaya menjawab tantangan peradaban Barat (Moris, 2003: 10).
Tafsir Sadra mengajarkan bahwa Al-Qur’an adalah peta realitas multidimensi, bukan hanya buku sejarah atau hukum. Hal ini mendorong studi Al-Qur’an yang interdisipliner, di mana ayat-ayat suci dapat dikaji dari perspektif metafisika, psikologi transpersonal, dan kosmologi.
Tafsir Sadra menjadi model untuk studi lintas disiplin, menawarkan jalan bagi penafsir kontemporer untuk melampaui formalitas tekstual menuju pemahaman substansial yang dapat menjawab tantangan moral dan epistemologis manusia modern (Al-Kutubi, 2015: 10)
Mulla Sadra telah menyumbangkan sebuah model tafsir falsafi yang komprehensif melalui kerangka al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah (Nurkhalis, 2011). Model ini adalah deklarasi bahwa jalan menuju al-Ḥaqq (Kebenaran) harus ditempuh melalui penyatuan tiga pilar makrifat: kesucian spiritual (riyādhah), ketajaman intelektual, dan kepatuhan terhadap wahyu (syariat).
Warisan ini adalah sebuah panduan sistematis yang memungkinkan ulama dan filsuf untuk menyelami kedalaman Al-Qur’an, menjadikannya cermin yang memantulkan seluruh hierarki Wujud dan realitas eskatologis (Al-Kutubi, 2015). Melalui tafsirnya, Mulla Sadra telah membangun sebuah jembatan yang kokoh antara teosofi dan filsafat, meninggalkan warisan abadi yang terus relevan bagi studi keislaman hingga masa kini.
Referensi
Al-Kutubi, Eiyad (2015). Mulla Sadra and Eschatology: Evolution of Being. New York: Routledge, 2015.
Moris, Zailan (2003). Revelation, Intellectual Intuition and Reason in the Philosophy of Sadra: An Analysis of the al-Hikmah al-‘Arshiyyah. London: RoutledgeCurzon, 2003.
Kerwanto (2021). Hermeneutika Al-Qur’an Perspektif Mulla Şadrā. Tanzil: Jurnal Studi Al-Quran: https://www.researchgate.net/journal/Tanzil-Jurnal-Studi-Al-Quran-2503-0612?_tp=
Nurkhalis (2011). Pemikiran Filsafat Islam Mulla Sadra. Substantia: https://doi.org/10.22373/substantia.v13i2.4822
Solehudin (2018), Pendekatan Tasawuf-Falsafi dalam Menafsirkan Al-Quran (Kajian Mafatih al-Ghaib dan Tafsir Alqur’an al-Karim Karya Shadr al-Din al-Syirāzī). JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, Vol. 3, No. 1, 2018
Solehuddin (2021), Pemikiran Tasawuf-Falsafi Tafsir Şadr ad-Din al-Muta’alihīn al-Shīrāzī: Studi atas Corak Tafsir Mafatih al-Ghaib dan Tafsir Al-Quran al-Karim. Al-Bayan
Kerwanto (2021), Studi Tafsir Mullā Ṣadrā: Interpretasi Filosofis Terhadap Prinsip Agama dalam Surat al A’lā, Pustaka Sophia Malang





