Reiki Di Bawah Mikroskop Al-Qur’an: Mencari Titik Temu antara Bio-Energi Nasaruddin Umar dan Teofani Saʿīd Nursī

Manusia modern gelisah. Di era obat-obata kimia yang puncak kecanggihannya, justru semakin banyak suara yang merindukan penyembuhan yang menyentuh bukan hanya daging, tetapi jiwa. Kita berbicara tentang energi, getaran, frekuensi, dan bio-energi. Istilah yang dulu hanya dikenal dalam ruang meditasi kini masuk ke rumah sakit, klinik, da pusat kebugaran.

Di tengah gelombang ini, Reiki muncul sebagai salah satu parktik paling popular. Transformasi energi alam kepada seseorang yang membutuhkannya. Tetapi pertanyaan muncul di benak seorang muslim yang kritis; Apakah ini syirik? Apakah ini sihir? Atau justru sunnatullah yang terlupakan? Perlu ada jawaban.

Bacaan Lainnya

Kita berkenalan dengan pemikir dari negara yang dikenal sebagai megabiodiversitas. Prof. Dr. Nasaruddin Umar, dalam karyanya Islam Fungsional (2014). Mengigatkan bahwa manusia menurut al-Qur’an sebagai bukanlah sekedar daging dan tulang. Ia terdiri dari tuga unsur: jasad, nafs dan ruh.

Menariknya, ruh sebagai unsur ketiga ini, yang disebut al-Qur’an sebagai khalqan ākhar; tidak serta merta hadir sejak pembuahan (Umar, 2014; 23-24). Ia diinstal ke dalam diri manusia Ketika janin berusia 120 hari. Dengan inilah, manusia menjadi prototipe makhluk final atau ahsanu taqwīm (QS. at-Tin [95]:4). Ia menjadi makhluk biologis sekaligus spiritual.

Dua kapasitas ini memungkinnya mengakses dua dunia yang berbeda: fisika dan metafisika, lahir dan batin. Inilah hardware yang diistimewakan. Lebih jauh Allah menundukkan atau taskhir seluruh energi alam untuk manusia, dalam QS. al-Jatsiyah [45]: 13, begitu pula QS. an-Nahl [16]: 12 menyebutkan penundukkan malam, siang, matahari, bulan dan bintang-bintang.

Dari sini, Nasaruddin Umar menyimpulkan; jika Reiki adalah upaya mentransformasikan energi alam kepada seseorang, maka itu adalah upaya yag wajar dan pembenarannya dapat ditemukan dalam Islam. Dalam kitab al-Thibb al-Nawawi, dijelaskan bahwa Nabi mengombinasikan ramuan, doa, dan gerakan-gerakan tertentu yang sebagian diantaranya mirip dengan cara penyembuhan ala Reiki (Umar, 2014; 25).

Namun di sinilah kita berheti sejenak. Apakah benar kita hanya perlu mengakses energi alam seperti mencolokkan charger ke baterai kosmik? Atau ada yang lebih dalam sesuatu yang bahkan luput dari pemahaman kita tentang energi itu sendiri? “Alam raya ini sesungguhnya tidak lain adalah saudara kembar manusia sebagai sesame makhluk. Genetic mereka mempunyai sumber yang sama.”(Umar, 2014; 26).

Mari kita telusuri lebih dalam tesis Nasaruddin Umar. Menurutnya (Umar, 2014; 25), penyembuhan ala Reiki membutuhkan konsentrasi dan suasana batin “feminine” yang bisa diasosiasikan dengan ketulusan, keikhlasan, kekhusyukan, dan tawakal penuh kepada Allah SWT.

Agama dan Reiki, tegasnya, sebaiknya tidak dilihat sebagai sesuatu yang saling berhadapan, hanya karena istilah-istilah Reiki tidak menggunakan istilah Arab. Keduanya adalah fenomena universal untuk kemanusiaan. Nasaruddin Umar juga mengutip QS. Ali Imran [3]: 191 yang menegaskan bahwa tiada sesuatu pun yang diciptakan Allah dengan sia-sia (Umar, 2014; 26).

Segala sesuatu pasti mempunyai manfaat dan dapat dimanfaatkan oleh manusia. Bahkan, ia mengutip pandangan Ibn Hazm yang menyatakan bahwa binatang dan tumbuhan juga memiliki pemimpin dan nabi (Nasaruddin Umar, 2010, hlm. 30), merujuk pada QS. Al-An’am [6]: 38.

Dari sini, ia membangun argumen bahwa interaksi positif antara manusia dan alam adalah keniscayaan. Alam bukanlah musuh yang harus ditaklukkan, melainkan saudara kembar yang diajak bersinergi. Egoisme dan egosentrisme manusialah yang menjadi penyebab kerusakan alam, sebagaimana diisyaratkan QS. Ar-Rum [30]: 41.

Dalam kerangka ini, bio-energi yang dimanfaatkan dalam Reiki bisa dipahami sebagai bentuk pemanfaatan taskhir yang sah selama dilakukan dengan niat yang benar dan tidak melanggar akidah. Nasaruddin Umar (Umar, 2014; 25) bahkan menyebut bahwa Al-Qur’an sendiri mengklaim dirinya sebagai “penyembuh” bagi orang yang beriman (QS. Al-Isra [17]: 82).

Tetapi, apakah cukup berhenti di sini? Apakah kita hanya perlu “mengambil” energi dari alam seperti mengambil air dari sumur? Di sinilah Badiuzzaman Said Nursi masuk dengan sebuah pendapat yang hampir revolusioner.

Sekitar beberapa tahun sebelum Nasaruddin Umar menulis Islam Fungsional, di tengah keterpurukan Kekhalifahan Utsmaniyah dan gempuran materialisme Eropa, seorang ulama Kurdi bernama Badiuzzaman Said Nursi (1877-1960) mengembangkan sebuah epistemologi yang jika kita boleh berkata demikian membalikkan cara kita memandang alam secara fundamental.

Nursi menulis sebuah perumpamaan tentang dua bersaudara yang terjatuh ke dalam sumur. Keduanya melihat hal yang sama: seekor singa di atas (maut), seekor naga di bawah (kubur), dua tikus hitam-putih (malam dan siang) yang menggerogoti akar pohon tempat mereka bergantung, serta pohon ajaib yang berbuah aneka ragam (kenikmatan dunia) (Nursi, 2023; 46-49).

Saudara pertama yang melambangkan orang yang lalai dan materialis langsung memakan buah-buahan itu dengan rakus karena menganggap pohon itu sumber kenikmatan mandiri. Ia tidak bertanya: Dari mana pohon ini berasal? Siapa yang menaruhnya di sini? Saudara kedua yang beruntung (melambangkan orang beriman) melakukan sesuatu yang berbeda.

Ia tidak memakan buah-buahan itu, karena ia memahami bahwa pohon itu bukanlah tujuan akhir. Ia adalah daftar makanan yang disiapkan oleh Tuan Rumah yang gaib untuk para tamu-Nya. Ia tidak memakan buahnya secara membabi buta, tetapi merenungkan pesan di baliknya (Nursi, 2023; 47-48). Apa bedanya?

Perbedaan ini terletak pada apa yang Nursi sebut sebagai ma‘nā-yi ismī (makna referensial-diri) versus ma‘nā-yi harfī (makna indikatif). Dalam ma‘nā-yi ismī, setiap entitas alam dipandang sebagai substansi otonom maknanya berhenti pada dirinya sendiri.

Inilah logika yang melandasi materialisme modern dan naturalisme filosofis: matahari adalah bola gas panas, pohon adalah kumpulan selulosa, air adalah H₂O. Semua itu benar secara fisika, tetapi secara spiritual, kata Nursi, itu adalah ilusi karena mengabaikan fakta bahwa setiap benda menunjuk kepada sesuatu di luar dirinya.

Dalam ma‘nā-yi harfī, sebaliknya, setiap entitas alam adalah huruf dalam sebuah kalimat besar yang ditulis oleh Sang Pencipta (Nursi, 2023; 136-138). Sebuah huruf tidak memiliki makna dalam dirinya sendiri; ia hanya berarti karena ia menunjuk kepada kata, kalimat, dan penulis di baliknya. Demikian pula alam: ia bukan sekadar benda, melainkan pesan.

The key is ‘There is no god but God’… The dragon’s mouth being transformed into the door into the garden is a sign that, although for the people of misguidance the grave is a door opening onto a dungeon, for the believer it opens onto a garden.”  (Nursi, 2023; 49).

Jika Nasaruddin Umar berbicara tentang reaksi sinergis manusia memanfaatkan energi alam untuk penyembuhan maka Said Nursi membawa kita lebih dalam dengan sebuah pernyataan: kesembuhan tidak terjadi karena energi luar masuk ke tubuh kita.

Nursi menjelaskan bahwa saudara yang beruntung tidak memakan buah-buahan dunia secara rakus, tetapi “merasakannya dan memahami persoalannya; ia menunda memakannya dan menikmati penantian.” Maksudnya: kenikmatan dunia termasuk ‘energi’ yang kita terima hanyalah sampel dari kenikmatan abadi (Nursi, 2023; 48).

Jika kita mengonsumsi sampel seolah tujuan akhir, tubuh mungkin bugar tetapi jiwa tetap lapar. Teori ini muncul ketika Nursi  (Nursi, 2024; 558-560) membahas hakikat ‘Aku’ (ene). Ia menyebut bahwa ‘Aku’ sebenarnya adalah garis khayal (khaṭṭ wahmī) satuan ukur hipotetis agar manusia bisa mengenal sifat-sifat Allah yang tak terbatas .

Ketika manusia salah memahami ‘Aku’ sebagai entitas nyata dan mandiri, ia terjebak dalam pohon Zaqqum, yang buahnya adalah ateisme, materialisme, dan eksploitasi lingkungan (Nursi, 2024; 562). Plot twist-nya: jika ‘Aku’ hanyalah garis khayal, maka bio-energi tidak pernah ‘masuk’ ke diri kita secara fisik.

Penyembuhan sejati terjadi ketika ego runtuh ketika manusia berhenti merasa sebagai ‘tuan’ pengendali energi. Saat itu, frekuensi batinnya selaras dengan tasbih pepohonan dan bebatuan. menulis bahwa tugas orang beriman adalah menyaksikan keindahan ciptaan dan mencintai Pencipta bukan mengambil energi (Nursi, 2023; 138).

Inilah resonansi sejati: kita tidak menyembuhkan diri sendiri; kita hanya berhenti menjadi gangguan di tengah simfoni zikir semesta (QS. Al-Isra [17]: 44).

Simpulannya; Pertama, Nasaruddin Umar benar bahwa taskhir penundukan energi alam adalah sah selama tidak melanggar akidah (Umar, 2014; 24-25).

Kedua, Nursi mengingatkan bahwa ‘mengakses energi’ bukan tujuan akhir; jika hanya berhenti di situ, kita terjebak dalam ma‘nā-yi ismī melihat alam sebagai objek eksploitasi, akar krisis ekologi modern (Cam, 2025; Nursi, 2023; 49).

Ketiga, penyembuhan hakiki terjadi saat ego runtuh dan ‘Aku’ melepaskan klaim kepemilikannya, mengakui bahwa “Kepunyaan-Nya-lah kerajaan”  (Nursi, 2024; 560).

Ternyata, untuk sehat utuh, manusia tidak perlu menjadi lebih kuat ia hanya perlu menjadi lebih ‘tiada’ agar suara alam bisa terdengar melalui urat nadinya.

Penyembuhan sejati adalah proses menyelaraskan frekuensi bio-energi manusia dengan zikir semesta, dimana energi alam tidak diposisikan sebagai objek yang dikuasai, melainkan sebagai ayat-ayat Allah swr., yang mengalir runtuhnya ego manusia, by; Raffin, disarikan dari pemikiran Nasaruddin Umar & Said Nursi.

Referensi

Cam, A. (2025). Islamic Environmentalism and Epistemic Waste. Journal of Religious Ethics, 53(4), 414–437.

Nursi, B. S. (2023). The words. IUR Press.

Nursi, B. S. (2024). The letters. IUR Press.

Umar, H. N. (2014). Islam fungsional. Elex Media Komputindo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *