Sejarah dan Pemikiran K.H. Ahmad Sanusi dalam Tafsir Raudhatu Al-‘Irfan

Biografi K.H. Ahmad Sanusi

Pada malam Jumat, tanggal 12 Muharram 1306 H bertepatan dengan tanggal 18 September 1888 M Ahmad Sanusi lahir di kampung Cantayan Desa Cantayan Kecamatan Cantayan Kabupaten Sukabumi. Beliau merupakan putra dari K. H. Abdurrahim dan Ibu Empok, beliau anak ketiga dan mempunyai delapan saudara (Abd. Rahman, 2020: 114).

Bacaan Lainnya

Pada usia 17, tepatnya tahun 1905 M, Ahmad Sanusi memulai pengembaraannya dalam menuntut ilmu di banyak pesantren di Tatar Pasundan. Beliau menyelesaikan pendidikannya di pesantren dengan jangka waktu 4 tahun setengah. Setelah itu beliau menikah dan berziarah ke mekkah untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 1910. Kemudian beliau dan istrinya memutuskan untuk tinggal di mekkah selama lima tahun untuk memperdalam ilmu agama dari para ulama. (Istikhori, 2019: 18).

Pada masa kemerdekaan, K.H. Ahmad Sanusi adalah seorang tokoh Serikat Islam (SI) yang mengakibatkan beliau ditahan oleh belanda selama tujuh tahun di Jakarta. Selama di tempat pengasingan, beliau menulis kitab dan pada tahun 1931 M mendirikan organisasi bernama al-Ittihādiat al-Islāmiyah.

Beliau merupakan orang asli Sukabumi yang aktif di pentas nasional sejak tahun 1920-an hingga 1950-an, kiprah beliau ditulis oleh tinta emas dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu tidak heran jika beliau dinobatkan sebagai salah satu pelopor kemerdekaan oleh Pemerintah Republik Indonesia (Abd. Rahman, 2020: 118).

Pada 12 Agustus 1992, K.H. Ahmad Sanusi dianugerahi Penghargaan Bintang Putra Tertinggi oleh Presiden Soeharto. Pada tanggal 10 November 2009, di bawah arahan Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono Sebagai Presiden Republik Indonesia, Ahmad Sanusi dianugerahi Bintang Kehormatan Maha Putera Adipradhana untuk kedua kalinya, diterima oleh ahli warisnya di istana negara (Robani, 217: 14).

Hari Senin 7 November 2022, K.H. Ahmad Sanusi dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia yang penyerahannya langsung dipimpin oleh Presiden Joko Widodo. Pemberian gelar ini atas jasanya yang telah beliau curahkan bagi bangsa dan negara. Penganugerahan gelar pahlawan tersebut diwakili oleh kedua cucunya yaitu Dra. Hj. Neni Fauziyah, M.Ag dan Hj. Ema Malya (Robani, 217: 57).

Sekilas Tentang Kitab Tafsir Raudhah Al- ‘Irfan Fi Ma’rifati Al-Qur’an

Diantara alasan Ahmad Sanusi mengarang kitab tafsir ini adalah agar memudahkan masyarakat Sunda dalam mengkaji dan mengeksplorasi Al-Qur’an, dan merespon kebutuhan intelektual dalam bidang keagamaan bagi masyarakat Sunda. Disamping hal itu, Ahmad Sanusi juga mempunyai motivasi yang tinggi dalam mendakwahkan ilmu kepada masyarakat tatar sunda (Robani, 217: 58).

Menurut Maman Abdulrahman, Ahmad Sanusi menulis kitab tafsir ini pada tahun 1935 di Sukabumi dengan dibantu oleh Ajengan Misbah dan Ajengan Kosasih yang keduanya ini merupakan murid beliau. Waktu itu, beliau baru saja pulang dari tempat pengasingannya di Batavia Centrum sekitar tujuh tahun sebagai tahanan politik pemerintah Belanda.

Tafsir Raudhatu Al- ‘Irfan fi Ma’rifati Al-Qur’an berupa dua jilid buku. Jilid pertama dimulai dari juz 1 hingga juz 15, dan jilid kedua dimulai dari juz 16 hingga juz 30. Proses penulisan jilid pertama diproduseri oleh K.H. Ahmad Sanusi dan 30 muridnya. Para murid beliau menghadiri pembacaan dan menulis penjelasan setiap ayat Al-Qur’an yang didiktekan kepada mereka.

Kemudian hasil dari yang mereka catat tersebut dikumpulkan oleh katib beliau yang terpercaya yaitu Muhammad Busyro. Kemudian Busyro mencatat ulang semua catatan santri dan menyerahkannya kepada K. H.Ahmad Sanusi agar disetujui dan diperbaiki. Setelah disetujui maka teks tersebut diterbitkan. Sepeninggal Muhammad Busyro, beliau mengangkat seorang katib baru yang bernama Muhammad bin Yahya (Abd. Rahman, 2020: 24).

Tafsir Raudhatu al-`Irfan fi Ma`rifati Al-Qur`an termasuk kategori tafsir dengan sistem yang sederhana. Artinya, hanya menyajikan aspek interpretatifnya, memberikan sinonim pada kosakata dan beberapa penjelasan singkat untuk hal yang kurang dimengerti.

Tidak ditemukan alasan khusus Kiai Sanusi dalam menyusun kitab tafsir Raudhah al- Irfan. Beliau hanya saja mempunyai semangat dalam menyampaikan ilmu kepada masyarakat dan memiliki hobi menulis kitab-kitab yang berisi tentang ajaran Islam. Karena produktif membuat karya inilah Kiai Sanusi digolongkan kepada salah satu ulama sunda produktif bersama Rd. Ma’mun Nawawi dan Abdullah Ibin Nuh (Amir, 2013: 12).

Sumber Penafsiran Kitab Raudhatu Al- ‘Irfan Fi Ma’rifati Al-Qur’an

Kitab tafsir Raudhatu Al- ‘Irfan fi Ma’rifati Al-Qur’an digolongkan kepada tafsir bil- ra’yi, yaitu tafsir Al-Qur’an sesuai ijtihad para Mufassir dan pengetahuan mereka tentang bahasa dan prinsip-prinsip lainnya. Untuk mengetahui sumber penafsiran pada Raudhatu Al- ‘Irfan fi Ma’rifati Al-Qur’an, berikut contoh penafsiran Kyai Sanusi dalam menafsirkan surat Al- Isra (17:72):

“Jeung saha jalma anu aya dina ieu dunya lolong kana iman islam, maka eta jalma di akheratna eta lolong jeung leuwih sasar jalanna. Katerangan; Jalma anu di dunyana torek lolong kana parentah Allah, maka di akheratna torek lolong digeret kana naraka” (Sanusi, 1935: 70).

“Barang siapa yang di dunia ini tidak peduli atau buta terhadap keimanan kepada Islam, maka di akhirat kelak ia pun akan berada dalam keadaan yang sama—bahkan lebih tersesat dari jalan yang benar. Penjelasannya: Seseorang yang di dunia menutup mata terhadap perintah Allah, maka di akhirat ia pun akan tetap dalam kegelapan, dan akan digiring menuju neraka.”

Sumber tafsir ini adalah tafsir bi al-ra’yi al-mahmud karena beliau menafsirkan kata اعمى dengan lolong kana iman islam. Beliau tidak hanya bersandar pada pemikirannya semata tapi penafsiran beliau sesuai dan berlandaskan pada penafsiran para salaf. Penafsiran beliau hampir mirip dengan tafsir Ibnu Katsir yang termasuk tafsir bi al-ma’tsur. Ini berikut kutipannya:

{وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ} أي في الحياة الدنيا {أَعْمَى} عن حجج الله وأياته وبيناته {فَهُوَ فِي لأَخِرَةِ أَعْمَى} أي: كذلك يكون {وَأَضَلُ سَبِيْلاَ} أي: وأضل منه كما كان في الدنيا

“{Dan siapa pun yang ada di dalamnya}, yaitu: dalam kehidupan dunia ini {buta} pada hujjah-hujjah Allah, ayat-ayatnya dan bukti-buktinya {dia buta di akhirat} yaitu: demikian juga dia akan {dan lebih tersesat dari jalan} yaitu: dan lebih sesat darinya seperti di dunia ini”(Ibn Katsir, 1998: 90).

 Metode penafsiran Kitab Raudhatu Al- ‘Irfan Fi Ma’rifati Al-Qur’an

Metode yang digunakan dalam penasiran kitab ini adalah metode ijmali, yakni menjelaskan makna umum dari suatu ayat tanpa merincinya. Meski begitu pada beberapa penafsiran beliau agak luas tapi tidak sampai pada ranah analisis.

Agar dapat lebih memahami metode penafsirannya, maka berikut contoh tafsirnya terhadap Q.S. al-Mu’minun: 1-6:

1) Bukti geus bagja sakabeh jalma mu’minin. 2) Nyaeta sakabeh jalma anu maranehannana dina shalatna eta sakabeh jalma pada khusyu’ jeung handap asor kabeh. 3) Jeung sakabeh jalma ari eta sakabeh jalma tina perkara anu hanteu aya gunana ngajauhan kabeh. 4) Jeung sakabeh jalma ari eta sakabeh jalma kana perzakatan ngaluarkeun kabeh (Sanusi, 1935).

1)Telah nyata bahwa seluruh orang-orang yang beriman itu berbahagia. 2) Yaitu mereka yang dalam salatnya senantiasa khusyuk dan penuh ketundukan. 3) Dan mereka yang menjauhkan diri dari segala hal yang tidak berguna. 4) Serta mereka yang selalu menunaikan zakat.

Penafsir menjelaskan secara global sifat-sifat orang beriman dengan enam poin diatas, hal ini mirip dengan penjelasan Syeikh Al-Sa’di dalam kitab tafsirnya: “ini adalah peringatan dari Allah dengan menyebutkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan menyebutkan kebahagiaan mereka.”

Pemikiran Tafsir Raudhatu Al- ‘Irfan

Secara keseluruhan kitab tafsir ini tidak menonjolkan satu pemahaman khusus terkait aliran dalam bidang aqidah, syari’ah dan akhlak. Artinya penafsiran yang diberikan bersifat umum dan cenderung netral. Karena, penafsiran yang bermetodekan ijmali yang membuatnya tidak terlalu nampak dalam hal jenis aliran. Kendati demikian, penulis mencoba menganalisis pemikiran mufassir dalam kitab Raudhatu Al- ‘Irfan dari pemaknaannya dalam beberapa poin: (Abd. Rahman, 2020: 159).

Pemikiran dalam Syari’at

KH. Ahmad Sanusi dalam menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan Syari’at cenderung sependapat dengan madzhab Imam Syafi’i. Hal ini dapat dilatarbelakangi karena beliau banyak berguru kepada para guru yang bermadzhab Syafi’i, khususnya ketika mondok di pesantren Jawa Barat dimana mayoritas ulama bermadzhab Syafi’i.

Jika dilihat secara seksama kedalam penafsiran ayat-ayat tertentu yang disitu terdapat perbedaan ulama, maka akan terdeteksi pemikiran penafsirannya. Semisal dalam disiplin ilmu Fiqih, terdapat ayat yang menerangkan hukum ‘iddah istri yang ditalak dalam keadaan haid.

وَالْمُطَلَّقٰتُ يَتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ ثَلٰثَةَ قُرُوْۤءٍۗ

K.H Ahmad Sanusi memaparkan penapsiran ayat diatas dengan kata-kata, “Nerangkeun ‘iddahna anu sok hed eta tilu sucian.” Artinya, ayat ini menjelaskan ‘iddahnya seorang yang haid ialah tiga kali bersuci. Penafsiran kata quru’ yang oleh penafsir diartikan sebagai bersuci, mengantarkan kepada pemahaman kita bahwa kitab tafsir ini dalam disiplin fikih bermadzhab Syafi’i.

Pemikiran dalam Bidang Aqidah

Aliran pemikiran KH. Ahmad Sanusi dalam bidang aqidah menganut paham Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang dikenal dengan aliran Sunni (Abd Rahman, 2020: 126). Kyai Sanusi cenderung mengikuti aliran Asy’ariyah dalam pemikiran akidahnya. Hal ini terlihat dari cara ia menjelaskan sifat-sifat Allah dan konsep tauhid dalam tafsirnya. Sebagai contoh bisa kita lihat penafsiran Surat Taha ayat 5:

Eta Pangeran kana ‘arsy eta ngurus mantena. Katerangan: ‘Arsy diurus ku Allah Ta’ala kawit anu sejen”.

“Allah Tuhan Yang Maha Kuasa mengatur segala sesuatu dari atas ‘Arsy-Nya. Penjelasannya: ‘Arsy itu diurus langsung oleh Allah Ta’ala, bukan oleh selain-Nya.”

Penafsir menakwil makna استوى dengan “mengurus”. Walaupun sama-sama menggunakan metode ijmali, sama halnya dengan tafsir Jalalain, namun tafsir Jalalain tidak menakwil makna istiwa’ sebagaimana berikut:

هُوَ ﴿الرَّحْمَن عَلَى الْعَرْش﴾ وَهُوَ فِي اللُّغَة سَرِير الْمُلْك ﴿اسْتَوَى﴾ اسْتِوَاء يَلِيق بِهِ

“Dia adalah {Ar-Rahman di atas ‘Arsy}, dan dalam etimologi adalah tempat tidur Raja (Istawa) sebagaimana layaknya dia”. Disini KH. Ahmad Sanusi menakwil untuk sifat-sifat Allah yaitu mengalihkan kata dari makna yang dzahir (rajih) ke makna yang bertentangan dengan yang dzahirnya (marjuh).

Pendapat Penulis tentang Kitab Raudhatu Al- ‘Irfan Fi Ma’rifati Al-Qur’an

Kitab Raudhatu Al- ‘Irfan Fi Ma’rifati Al-Qur’an karya K.H. Ahmad Sanusi merupakan kontribusi nyata dari ulama tanah sunda, terutama bagi masyarakat Sukabumi dan sekitarnya. Dengan menggunakan bahasa sunda, tafsir ini memudahkan masyarakat lokal untuk memahami ajaran Al-Qur’an, termasuk bagi mereka yang tidak fasih berbahasa Arab atau bahasa Indonesia.

Namun, terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan. Pertama, distribusi tafsir ini masih terbatas pada wilayah tertentu, sehingga belum menjangkau masyarakat sunda di wilayah lain yang juga semestinya bisa mendapatkan manfaat dari tafsir ini.  Kami (penulis) berharap Kitab Raudhatu Al- ‘Irfan Fi Ma’rifati Al-Qur’an ini dikaji lebih dalam lagi oleh para pelajar baik santri ataupun mahasiswa karena pentingnya menjaga karya-karya ulama nusantara.

Referensi
Abdul Rahman, B. M. Corak Tasawuf dalam Kitab-Kitab Tafsir Karya K.H. Ahmad Sanusi. Bandung: Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 2020
Al-Hassan, M. A. Al-Manar fi Ulum al-Qur’an Ma;a Madkhal fi Usul al-Tafsir wa Masadiruhu. Beirut: Al-Resala
Al-Nasiri, M. a.-M. Al-Taysir fi Ahadith al-Tafsir. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami. 1984
Al-Sa’di. Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Kairo: Maktaba Al-Rehab. 2007
Amir, Mafri. Literatur Tafsir Indonesia. Ciputat: Madzhab Ciputat. 2013
Al-Zarqani, M. A.-A. Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an. Mesir: Dar ibn ‘Affan. 1997
H.Istikhori. K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950): Biografi Ulama Hadis
Azhari, Husni. Paper Tafsir Sunda Analisis Tafsir Raudhatul ‘Irfân fĩ Ma’rifāti Al-Qur’ân 2020
Ibn Katsir, A. A.-F. Tafsir Al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Taiba. 1999
Rahman, Abdul dkk. Corak Tasawuf dalam Kitab-Kitab Tafsir Karya KH. Ahmad Sanusi. Bandung: Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 2020.
Rahman, A. F. (2017). Tafsir Al-Qur’an Berbahasa Sunda Kajian Metode Dan Corak Tafsir Raudatul Irfan Fi Ma’raifati Al-Qur’an Karya K.H Ahmad Sanusi. Semarang: Uin Walisongo.
Sanusi, K. A. (t.th). Raudhatul Irfān fī Ma’rifāti al-Qurān. Sukabumi: Pondok Pesantren Syamsul ‘Ulum.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *