Sebagai salah satu tokoh psikologi yang paling berpengaruh, Sigmund Freud (1856-1939) menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari bagaimana manusia berperilaku. Dari pemikirannya, lahir sebuah gerakan monumental dalam psikologi yang dikenal dengan psikoanalisis. Dalam ajaran psikoanalisisnya, Freud berasumsi bahwa segala hal yang tampak pada perilaku manusia merupakan manifestasi dari dinamika yang terjadi di alam bawah sadarnya (Schultz & Schultz, 2017: 45).
Berangkat dari asumsi tersebut, Freud menghasilkan banyak karya yang kemudian menjadi referensi utama dalam bidang psikologi klinis, dan juga membuatnya mendapat tempat dalam kerajaan filsafat dan hermeneutika. Beberapa karya Freud tersebut di antaranya Studies on Hysteria (Studien über Hysterie), The Ego and the Id (Das Ich und das Es), dan The Future of an Illusion (Die Zukunft einer Illusion) yang menjadi pusat kajian dalam tulisan ini.
Kegandrungan Freud dalam menjelaskan perilaku manusia membawanya kepada sebuah perenungan yang lebih dalam. Setelah melanglang buana pada pengobatan dan psikoterapi individual, Freud mengalihkan pusat pikirannya kepada persoalan sosial-budaya. Kuriositas Freud akan penjelasan psikologis pada berbagai fenomena di masyarakat diakuinya telah ada sejak usia muda, namun ia menyadari saat itu belum cukup dewasa untuk berpikir (Freud, 1959: 72).
Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian Freud adalah dari mana ide tentang agama – dan dalam hal ini, Tuhan – berasal? The Future of an Illusion merangkum berbagai upaya Freud untuk menjawab pertanyaan ini. Di dalam buku ini, Freud menggunakan kapasitasnya sebagai psikolog untuk menyelami asal-usul ide tentang budaya, agama, dan Tuhan di masyarakat. Tentu, argumentasi yang ditawarkan tidak terlepas dari asumsi psikoanalisis.
Sebelum melangkah lebih jauh, penulis merasa perlu untuk memperkenalkan salah satu teori Freud guna membantu memahami alur pikirannya tentang “asal-usul” Tuhan. Dalam pendekatan psikoanalisis, Freud mengajukan sebuah postulat bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan narsisistik yang disebutnya dengan istilah primärer Narzissmus (primary narcissism) (Freud, 1957: 76). Kondisi narsisistik ini terjadi pada masa bayi dan ditandai dengan sikap bayi yang hanya “memikirkan” dirinya sendiri dan belum membangun ikatan dengan selain dirinya.
Kondisi narsisistik yang dimiliki bayi membuatnya hanya fokus pada pemuasan kebutuhan dan penjaminan keamanan. Pada awal fase ini, bayi menganggap bahwa semua keinginannya terpenuhi dengan sendirinya. Akan tetapi, semakin bertambah usia bayi mulai menyadari bahwa selama ini kebutuhan dan keamanannya disediakan oleh orang lain –caregiver, pada umumnya ibu dan ayah. Di fase inilah bayi mulai memahami bahwa dirinya merupakan sosok yang rentan, bahwa kebutuhannya bergantung pada orang tua, bahwa orang tua memiliki kekuatan lebih besar dari dirinya, dan bahwa orang tua yang kuat itu mampu melindunginya dari ancaman.
Dalam analisis Freud, kondisi ini membuat anak membangun perasaan ambivalen terhadap orang tua, terutama sosok ayah. Di satu sisi, ayah dinilai sebagai sosok yang layak ditakuti namun di sisi lain dipercaya dapat melindungi dari ancaman pihak luar. Perasaan ini mendorong anak untuk memikirkan bagaimana cara agar sang ayah tidak mencelakainya dan bersedia melindunginya dari gangguan eksternal.
Akhirnya, sang anak berusaha belajar untuk menahan diri – meskipun harus mengorbankan sesuatu yang menyenangkan baginya – agar tidak membuat ayah kesal, sekaligus mengupayakan hal-hal yang diharapkan dapat membuat ayah senang sehingga bersukarela memenuhi kebutuhan dan melindunginya.
Bagi Freud, hal ini identik – sekaligus membangun pola kesadaran manusia – dengan apa yang terjadi pada masyarakat ketika membangun ide tentang Tuhan. Freud melihat bahwa manusia memiliki perasaan helplessness (ketidakberdayaan) ketika berhadapan dengan alam. Gempa bumi, badai, tsunami, kematian, kemiskinan, penyakit, atau kejahatan penghuni alam merupakan beberapa contoh fenomena alam yang menakutkan dan membuat manusia tidak berdaya.
Untuk memunculkan persepsi kendali, manusia memanusiakan (humanize) alam agar “sifat” alam dapat dimengerti, diprediksi, dan dimanipulasi. Misalnya, petir dianggap sebagai kemarahan, gempa dianggap sebagai hukuman, sementara hujan dianggap sebagai pemberian. Akhirnya, setiap kali terjadi bencana, manusia membujuk alam untuk berdamai. Setiap kali panen melimpah, manusia berterima kasih. Keduanya dilakukan dengan ritual – yang dalam parlance agama modern disebut dengan ibadah.
Dalam pengamatannya, Freud melihat bahwa manusia mengubah alam menjadi seperti figur ayah yang ditakuti sekaligus menjadi pelindung – yang kemudian diberi nama dengan dewa atau Tuhan. Selayaknya seorang ayah, manusia mengharapkan tiga hal kepada dewa-dewa tersebut: mengusir ketakutan terhadap alam – sebagaimana ayah melindungi dari hal-hal yang ditakuti; mendamaikan manusia dengan takdir – sebagaimana ayah memberikan rasa aman dari hal-hal yang tidak dapat diubah; dan mengompensasi penderitaan akibat kehidupan sosial – sebagaimana ayah memberikan hal-hal yang disenangi setelah menahan diri demi menjadi “anak baik”. Atas dasar ini pula, menurut Freud, lahir kecenderungan ingin menjadi umat pilihan sebagaimana setiap anak ingin menjadi anak kesayangan sang ayah (Freud, 1961: 15-17).
Menurut Freud, dari sinilah konsep agama terbentuk. Untuk mengusir ketakutan (misalnya gangguan setan atau musibah), manusia berdoa; untuk berdamai dengan takdir (misalnya ketakutan akan kematian atau kemiskinan), manusia meyakini sebuah konsep (misalnya konsep akhirat yang kekal untuk kematian atau konsep derajat yang tinggi untuk kemiskinan); untuk mendapat kompensasi, manusia mengharap ganjaran (pahala untuk kebaikan dan pengorbanan diri dan dosa untuk kezaliman orang lain).
Dari sudut pandang Islam, pemikiran Freud ini tidak boleh ditolak mentah-mentah tetapi tidak boleh pula diterima sepenuhnya. Di satu sisi, yang dikatakan Freud tentang manusia “menciptakan” Tuhan karena ketakutan ada benarnya, bahkan didukung oleh Al-Qur’an. Dalam Q.S. al-Râ’d (12): 12, Allah mengungkapkan bahwa Ia sengaja memperlihatkan petir agar manusia itu takut dan berharap.
Fakhr al-Dîn al-Râziy memahami bahwa petir sengaja ditunjukkan oleh Allah untuk menciptakan perasaan ambivalen dalam diri manusia. Di satu sisi, manusia akan ketakutan karena kekuatan dan sakit yang bisa ditimbulkannya, namun di satu sisi manusia senang karena petir itu menandakan hujan yang bermanfaat akan turun (al-Râziy, 2000: 19). Hal ini menjadi dasar bahwa Allah telah mendesain manusia sedemikian rupa untuk segera mencari Tuhannya ketika merasa terancam dan tidak berdaya.
Al-Qur’an juga menggambarkan karakteristik manusia ketika berhadapan dengan kekuatan alam. Sebagai contoh, Q.S. Yunus (10): 22 menggambarkan bahwa apabila manusia terancam dan merasa tidak berdaya, ia akan “mencari” Tuhannya tanpa memandang apakah ia sebelumnya beriman atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang disimpulkan Freud memang benar adanya.
Hanya saja, jika yang dimaksud Freud bahwa Tuhan itu tidak ada dan hanya produk dari kecemasan manusia, maka ini tidak patut diterima. Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya mengenal dan mengakui bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Dengan kata lain, manusia menyembah Tuhan karena kesadaran, bukan karena imajinasi.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia telah mengenal Tuhannya sejak ia diciptakan. Ayat-ayat seperti Q.S. al-Baqarah (2): 34-35, Q.S. al-A’râf (7): 11, Q.S. Thâha (20): 117 dan berbagai ayat lainnya menunjukkan bahwa manusia – dalam hal ini Adam dan Hawa – telah berinteraksi dengan Tuhannya sejak ia diciptakan. Bahkan, Al-Qur’an mengindikasikan bahwa setiap manusia yang lahir di muka bumi ini membawa kesadaran primordial akan keberadaan Tuhan – sebagaimana yang digambarkan oleh Q.S. al-A’râf (7): 172.
Kesadaran primordial ini menunjukkan bahwa pengalaman religius manusia tidak berangkat dari kehampaan psikologis yang kemudian diisi oleh imajinasi, melainkan dari pengetahuan yang telah tertanam dalam fitrahnya. Oleh karena itu, ketika manusia berdoa di saat tertimpa musibah, tindakan tersebut bukanlah proses “menciptakan” Tuhan, melainkan proses kembali kepada pengetahuan yang telah ada dalam dirinya.
Rasa takut, harapan, dan kebutuhan akan perlindungan memang dapat menjadi faktor yang mendorong manusia semakin mendekat kepada Tuhan – sebagaimana dianalisis Freud. Akan tetapi, faktor-faktor psikologis tersebut hanya menjelaskan intensitas dan momentum ibadah, bukan menjadi bukti bahwa Tuhan merupakan hasil proyeksi wish-fulfillment manusia. Justru sebaliknya, kecenderungan universal manusia untuk mencari Tuhan di saat merasa tidak berdaya dapat dipahami sebagai manifestasi dari fitrah yang telah Allah tanamkan dalam diri setiap manusia.
Sehingga, menurut keyakinan penulis, argumen yang diajukan Freud tetap layak diterima, selama tidak salah penempatan. Penjelasan Freud lebih tepat digunakan untuk menjawab pertanyaan “mengapa manusia menyembah Tuhan?” bukan “dari mana Tuhan berasal”? Penulis melalui tulisan sederhana ini tidak sedang menuduh bahwa Freud menggunakan argumentasinya untuk menafikan keberadaan Tuhan, penulis justru menunda apakah Freud benar-benar berniat demikian atau memiliki maksud lain.
Penulis juga tidak sedang menguji epistemologi yang digunakan oleh Freud. Karena – meminjam rasionalisasi Freud, penulis “masih belum cukup dewasa untuk berpikir”. Namun, terlepas benar atau tidaknya, yang jelas Freud telah melontarkan pendapatnya dan semua pihak berhak menginterpretasikannya dengan cara masing-masing. Penulis di sini hanya ingin memantik sikap pembaca dalam bagaimana cara menempatkan teori Freud pada diskursus ontologi Tuhan.
Referensi:
Freud, Sigmund. The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud Vol. IV (1914-1916). Diedit dan diterjemahkan oleh James Strachey. London: The Hogarth Press, 1957.
——–. The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud Vol. XX (1925-1926). Diedit dan diterjemahkan oleh James Strachey. London: The Hogarth Press, 1959.
——–. The Future of an Illusion. Diedit dan diterjemahkan oleh James Strachey. New York: W.W. Norton & Company, 1961.
al-Râziy, Fakhr al-Dîn. Mafâtîh al-Ghaib. Vol. 20. Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-
‘Arabiy, 2000.
Schultz, Duane P. dan Sydney Ellen Schultz. Theories of Personalities. Boston: Cengage Learning, 2017.





