Benarkah Semua Kisah Islami Berasal dari Al-Qur’an? Mengenal Israiliyat dalam Tradisi Tafsir

Pernahkah Anda mendengar kisah tentang nama anjing Ashabul Kahfi, ukuran kapal Nabi Nuh, tongkat Nabi Musa yang konon berasal dari pohon surga, atau berbagai cerita rinci mengenai kehidupan para nabi yang tidak pernah disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an? Cerita-cerita semacam ini begitu mudah ditemukan di media sosial, grup WhatsApp, ceramah keagamaan, bahkan dalam buku-buku Islam populer. Banyak orang menerimanya begitu saja karena menganggap seluruh kisah tersebut pasti bersumber dari Al-Qur’an.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, tidak semua kisah yang beredar di tengah masyarakat memiliki landasan yang berasal dari Al-Qur’an maupun hadis sahih. Sebagian di antaranya justru berasal dari tradisi Yahudi dan Nasrani yang kemudian masuk ke dalam literatur Islam melalui proses sejarah yang panjang. Dalam khazanah ilmu tafsir, riwayat-riwayat tersebut dikenal dengan istilah Isrā’īliyyāt (As-Sabt, 2014: 261).

Bacaan Lainnya

Istilah Israiliyat sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Sebagian orang menganggap seluruh Israiliyat pasti palsu sehingga harus ditolak, sementara yang lain menerimanya tanpa kritik hanya karena terdapat dalam kitab-kitab tafsir klasik. Padahal, para ulama telah membahas persoalan ini secara mendalam dan memberikan pedoman yang jelas mengenai bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi riwayat-riwayat tersebut.

Di tengah derasnya arus informasi digital, pembahasan mengenai Israiliyat justru semakin relevan. Masyarakat hari ini hidup pada era ketika sebuah cerita dapat menyebar ke jutaan orang hanya dalam hitungan jam. Sayangnya, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu diiringi dengan kebiasaan memeriksa sumbernya. Akibatnya, kisah yang tidak memiliki dasar kuat sering kali dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam.

Al-Qur’an Bukan Buku Sejarah

Mengapa begitu banyak orang berusaha mencari rincian kisah-kisah Al-Qur’an?

Jawabannya sederhana. Secara alami manusia menyukai cerita. Ketika membaca kisah Ashabul Kahfi, misalnya, kita ingin mengetahui nama anjing mereka, berapa jumlah pemuda itu, atau di mana tepatnya gua tersebut berada. Saat membaca kisah Nabi Nuh, muncul rasa ingin tahu mengenai ukuran kapalnya, jenis kayu yang digunakan, atau bagaimana bentuk bahtera tersebut. Demikian pula ketika membaca kisah Nabi Musa, sebagian orang ingin mengetahui siapa nama bayi yang dihanyutkan ke Sungai Nil atau siapa nama perempuan yang kemudian menjadi istrinya.

Namun menariknya, Al-Qur’an justru tidak memberikan rincian-rincian tersebut. Bukan karena Allah “lupa” menyebutkannya, melainkan karena memang bukan itu tujuan utama Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah kitab petunjuk (hudā) bagi manusia, bukan ensiklopedia sejarah. Kisah-kisah yang termuat di dalamnya disampaikan secara selektif agar pembaca mengambil pelajaran, bukan sekadar menikmati alur cerita. Fokus Al-Qur’an selalu terletak pada nilai, hikmah, dan pesan moral yang ingin disampaikan, bukan pada detail yang tidak memiliki pengaruh terhadap tujuan tersebut.

Karena itulah, banyak pertanyaan yang sebenarnya tidak dijawab oleh Al-Qur’an. Warna anjing Ashabul Kahfi, ukuran kapal Nabi Nuh, atau nama istri Nabi Nuh bukanlah inti dari pesan yang hendak diajarkan. Yang ingin ditekankan Al-Qur’an adalah keteguhan iman para pemuda Ashabul Kahfi, kesabaran Nabi Nuh dalam berdakwah, dan pelajaran tentang ketaatan kepada Allah.

Ketika Rasa Ingin Tahu Bertemu Tradisi Ahlul Kitab

Lalu dari mana datangnya berbagai rincian kisah yang selama ini dikenal masyarakat?

Di sinilah Israiliyat mulai memainkan peran dalam sejarah tafsir Islam.

Setelah Islam berkembang, banyak kalangan Yahudi dan Nasrani memeluk agama Islam. Sebagian di antara mereka merupakan ulama atau tokoh yang memiliki pengetahuan luas mengenai Taurat, Injil, dan berbagai tradisi Bani Israil. Ketika kaum Muslimin bertanya tentang kisah para nabi terdahulu yang hanya disebut secara ringkas dalam Al-Qur’an, mereka menjelaskan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.

Informasi-informasi tersebut kemudian diriwayatkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan sebagian masuk ke dalam kitab-kitab tafsir.

Beberapa nama yang paling sering disebut dalam pembahasan Israiliyat adalah Ka’ab al-Ahbar, Wahb bin Munabbih, dan Abdullah bin Salam. Ketiganya dikenal sebagai tokoh yang memiliki pengetahuan luas mengenai kitab-kitab terdahulu dan banyak meriwayatkan kisah-kisah Bani Israil (Al-Dzahabi, 2005: 36).

Keberadaan mereka sebenarnya tidak otomatis menjadi masalah. Persoalan muncul ketika sebagian riwayat tersebut diterima tanpa proses seleksi yang memadai sehingga bercampur dengan penjelasan tafsir yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Mengapa Israiliyat Mudah Menyebar?

Ada alasan menarik mengapa Israiliyat begitu cepat berkembang dalam literatur tafsir.

Pertama, manusia memang menyukai cerita yang lengkap. Sebuah kisah terasa lebih menarik apabila memiliki nama tokoh, lokasi, dialog, hingga detail-detail kecil yang membangun imajinasi pembaca.

Kedua, rasa penasaran sering kali lebih besar daripada keinginan mengambil hikmah. Banyak orang lebih tertarik bertanya “siapa?”, “berapa?”, dan “di mana?” daripada “apa pelajaran yang dapat dipetik?”

Fenomena tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada masa klasik. Di era media sosial sekarang, kecenderungan itu justru semakin kuat.

Konten yang berisi “10 fakta tersembunyi tentang Nabi Musa”, “Rahasia nama anjing Ashabul Kahfi”, atau “Kisah yang tidak pernah diceritakan di Al-Qur’an” jauh lebih mudah viral dibandingkan kajian tafsir yang membahas pesan moral sebuah ayat. Algoritma media sosial bahkan cenderung mendorong konten yang sensasional daripada konten yang bersifat edukatif.

Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya lebih mengenal cerita tambahan daripada pesan utama Al-Qur’an sendiri.

Apakah Semua Israiliyat Harus Ditolak?

Jawabannya tidak.

Para ulama tidak pernah mengambil sikap ekstrem terhadap Israiliyat. Mereka justru membaginya menjadi tiga kategori sehingga umat Islam memiliki pedoman yang jelas dalam menyikapinya (Al-Qattan, 2000: 363).

Jenis Israiliyat Sikap Ulama
Sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Diterima
Bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Ditolak
Tidak diketahui benar atau salah Tawaqquf (tidak membenarkan dan tidak mendustakan)

Kelompok pertama adalah riwayat yang ternyata juga ditegaskan oleh Al-Qur’an atau hadis sahih. Dalam kasus seperti ini, penerimaannya bukan karena berasal dari Israiliyat, melainkan karena telah dibenarkan oleh dalil Islam.

Kelompok kedua merupakan riwayat yang bertentangan dengan akidah Islam atau merendahkan kedudukan para nabi. Riwayat semacam ini wajib ditolak karena bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.

Adapun kelompok ketiga merupakan riwayat yang paling banyak ditemukan dalam kitab tafsir. Riwayat ini tidak memiliki dalil yang menguatkan, tetapi juga tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Terhadap kelompok inilah para ulama mengambil sikap tawaqquf, yaitu tidak memastikan kebenaran maupun kesalahannya.

Sikap ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad ﷺ yang melarang umat Islam membenarkan maupun mendustakan Ahlul Kitab secara mutlak. Prinsip tersebut menunjukkan sikap ilmiah yang sangat menarik: ketika bukti tidak memadai, maka seseorang tidak boleh tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

Sikap Kritis Para Ulama Tafsir

Keberadaan Israiliyat di dalam kitab tafsir sering disalahpahami oleh sebagian orang. Ada yang langsung menuduh kitab tafsir klasik penuh dengan cerita palsu. Ada pula yang menganggap seluruh isi kitab tafsir pasti benar tanpa perlu diteliti lagi.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Sebagian mufasir memang mencantumkan banyak Israiliyat hanya sebagai bagian dari dokumentasi riwayat yang berkembang pada zamannya. Mereka tidak selalu bermaksud membenarkan seluruh riwayat tersebut.

Sebaliknya, banyak mufasir lain yang memberikan komentar, menjelaskan kelemahan sanadnya, bahkan secara tegas menolak riwayat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tafsir Islam sesungguhnya telah memiliki mekanisme kritik yang sangat kuat.

Karena itu, keberadaan Israiliyat dalam kitab tafsir tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak karya-karya tafsir klasik secara keseluruhan. Yang diperlukan justru kemampuan membaca secara kritis dan memahami metode para mufasir.

Pelajaran bagi Muslim di Era Digital

Pembahasan Israiliyat ternyata menyimpan pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini.

Jika dahulu para ulama menghadapi tantangan berupa riwayat-riwayat dari Ahlul Kitab, maka masyarakat modern menghadapi tantangan yang tidak kalah besar berupa banjir informasi digital.

Hari ini kita sering menjumpai kutipan agama tanpa sumber, hadis yang ternyata palsu, kisah-kisah inspiratif yang tidak jelas asal-usulnya, video dakwah yang dipotong konteksnya, hingga narasi keagamaan yang dibuat semata-mata untuk menarik perhatian pengguna media sosial.

Fenomena tersebut memiliki semangat yang hampir sama dengan penyebaran Israiliyat pada masa lalu. Sama-sama lahir dari keinginan menghadirkan cerita yang menarik, tetapi tidak selalu disertai verifikasi terhadap sumbernya.

Karena itu, pelajaran terbesar dari pembahasan Israiliyat bukan hanya tentang sejarah tafsir, melainkan tentang pentingnya literasi keagamaan. Seorang Muslim tidak cukup hanya rajin membaca atau mendengar ceramah, tetapi juga harus membiasakan diri bertanya: dari mana informasi ini berasal? Apakah memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan? Apakah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah?

Sikap kritis semacam inilah yang sejak dahulu diajarkan oleh para ulama.

Pada akhirnya, Al-Qur’an tidak membutuhkan kisah tambahan agar menjadi lebih menarik. Justru kesederhanaan kisah-kisah Al-Qur’an mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah mengetahui seluruh detail sejarah, melainkan menangkap petunjuk yang Allah kehendaki. Karena itu, sikap kritis terhadap Israiliyat bukanlah bentuk penolakan terhadap sejarah, tetapi ikhtiar menjaga kemurnian pesan wahyu agar tetap menjadi petunjuk bagi setiap zaman.

Referensi

Al-Dzahabi, Muhammad Husain. (2005). Al-Tafsīr wa al-Mufassirūn. Kairo: Maktabah Wahbah.

Al-Qattan, Manna’. (2000). Mabāits fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Kairo: Maktabah Wahbah.

As-Sabt, Khalid bin Utsman. (2014). Uṣūl al-Tafsīr wa Qawāʿiduh. Riyadh: Dār Ibn al-Qayyim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *