Pendahuluan: Eksperimen Epistemologis di Tengah Konflik Peradaban
Sejarah intelektual Islam di Andalusia abad ke-12 Masehi merekam fenomena hermeneutik yang unik melalui pemikiran Ibn Barrajān al-Ishbīlī (w. 536/1141). Sosok yang dijuluki “al-Ghazālī dari Andalusia” ini menampilkan pendekatan eksegetis yang nonpolemik terhadap Alkitab untuk memahami Al-Qur’an, sebuah fenomena yang direkonstruksi secara kritis oleh Yousef Casewit dalam kajiannya di Journal of Qur’anic Studies.
Casewit menunjukkan bahwa keterlibatan Ibn Barrajān dengan teks-teks Biblikal tidak berakar pada proyek apologetika populer, melainkan pada penataan ulang otoritas epistemologis dalam tradisi tafsir sufi abad pertengahan.Keunikan posisi Ibn Barrajān terletak pada keberaniannya melintasi sekat-sekat dogmatis di tengah iklim politik Semenanjung Iberia yang sarat ketegangan antaragama.
Ketika mayoritas sarjana sezamannya memandang teks pra-Islam dengan kecurigaan teologis, ia justru melihat potensi konstruktif dalam narasi Alkitab untuk memperkaya pemahaman eksegetis. Eksperimen ini menjadi bukti penting bahwa lanskap intelektual Andalusia tidak sepenuhnya didominasi oleh konfrontasi, melainkan juga menyediakan ruang bagi dialog intertekstual yang canggih.
Melalui pembacaan yang cermat, Casewit berhasil menyingkapkan bahwa proyek hermeneutik Ibn Barrajān bukanlah tindakan sinkretis yang serampangan. Sebaliknya, pendekatan tersebut beroperasi di dalam kerangka metodologis yang terstruktur ketat dan berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam. Dengan demikian, pemikiran eksegetis mufasir Seville ini menawarkan model alternatif dalam melihat relasi antarkitab suci di luar batas-batas ortodoksi arus utama.
Transmisi Tekstual: Dari Vulgata Latin ke Alkitab Arab Mozarab
Pelacakan filologis Casewit mengungkapkan bahwa Ibn Barrajān tidak mengakses Alkitab melalui tradisi terjemahan Yahudi atau Semit Timur, melainkan melalui korpus Alkitab berbahasa Arab milik komunitas Mozarab—umat Kristen yang terarabisasi di Andalusia. Terjemahan ini berakar pada Vulgata Latin karya Hieronimus, sebagaimana terlihat dalam jejak struktur leksikal terjemahan Mazmur oleh Hafs bin Albar al-Qūṭī pada tahun 275/889 M.
Varian-varian tekstual yang dihadirkan Ibn Barrajān mengindikasikan adanya proses kolasi antara Vulgata Latin dan tradisi Alkitab pra-Hieronimus yang bersirkulasi secara lokal di Seville. Keberadaan bahan-bahan Alkitab berbahasa Arab dalam diskursus intelektual Muslim Andalusia mencerminkan dinamika pertukaran budaya yang amat intens di wilayah perkotaan seperti Seville dan Cordoba.
Ibn Barrajān memanfaatkan ketersediaan korpus Mozarab ini untuk melakukan studi tekstual langsung tanpa harus bergantung pada narasi lisan sekunder. Ketelitian filologis yang ditunjukkannya menandai pergeseran penting dalam penanganan materi-materi Isrā‘īliyyāt dalam tradisi tafsir.
Selain itu, analisis tekstual Casewit menegaskan bahwa penggunaan sumber Latin-Arab ini memberikan warna tersendiri pada diksi eksegetis Ibn Barrajān. Struktur bahasa dan istilah-istilah teologis yang diserap dari terjemahan Mozarab diolah sedemikian rupa agar selaras dengan tata bahasa dan terminologi Qur’ani. Proses penyerapan dan penyesuaian leksikal ini memperlihatkan betapa fleksibel sekaligus selektifnya sang mufasir dalam mengolah materi eksternal.
Prinsip Hegemoni Qur’ani: Batas dan Perluasan Otoritas Epistemik
Gagasan utama yang mendasari hermeneutika Ibn Barrajān adalah prinsip hegemoni Qur’ani (Qur’anic hegemony). Prinsip ini menempatkan Al-Qur’an sebagai muhaymin atau batu ujian epistemologis tertinggi untuk menguji keabsahan materi kitab-kitab suci terdahulu. Berbeda dengan mayoritas mufasir yang menggunakan prinsip ini untuk menolak teks non-Qur’ani, Ibn Barrajān justru memanfaatkannya sebagai instrumen legitimasi untuk mengintegrasikan narasi Biblikal yang sejalan dengan wahyu Islam.
Kerangka epistemik ini juga ia terapkan secara radikal pada kritik hadis, di mana suatu riwayat bernilai ḍa‘īf dari segi isnad tetap dapat diterima secara matan jika memperoleh konfirmasi dari Al-Qur’an. Penerapan ganda ini menunjukkan konsistensi metodologis Ibn Barrajān dalam menguji semua data keagamaan sekunder—baik hadis maupun teks Alkitab—melalui saringan kebenaran Al-Qur’an. Dalam pandangannya, kebenaran dari mana pun asalnya akan menemukan resonansi dalam teks suci Islam.
Pergeseran metodologis tersebut sekaligus merefleksikan kedekatan epistemik Ibn Barrajān dengan skripturalisme Zahiri yang menaruh perhatian mendalam pada keutuhan teks (naṣṣ). Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pilar tunggal validasi, ia berhasil memperluas batas-batas otoritas bacaan tanpa kehilangan pijakan teologisnya. Hal ini membuktikan bahwa pengakuan terhadap kebenaran eksternal tidak harus mengorbankan supremasi kitab suci utama.
Tiga Strategi Hermeneutik dalam Mengurai Paradoks Teks
Untuk menyelaraskan diskrepansi antara narasi Qur’ani dan Biblikal, Ibn Barrajān mengoperasikan tiga strategi interpretatif yang sangat terstruktur. Pertama, ia menerapkan kontekstualisasi historis-klimatologis untuk menjelaskan perbedaan faktual antarkitab suci. Perbedaan penggambaran neraka antara Al-Qur’an yang menekankan siksaan panas dan Injil yang menyebutkan siksaan dingin serta kegelapan dipahami sebagai adaptasi pedagogis ilahi terhadap kondisi geografis dan psikologis audiens penerima wahyu masing-masing.
Strategi kedua diwujudkan melalui interpretasi alegoris (ta’wīl) untuk mengurai kerumitan narasi penciptaan dan kejatuhan manusia. Perbedaan rincian cerita dalam Kitab Kejadian—seperti keberadaan Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan—diselesaikan melalui pembacaan simbolis yang menafsirkan kedua pohon tersebut sebagai manifestasi dari perintah dan larangan ilahi. Melalui pendekatan metaforis ini, pertentangan lahiriah antarteks berhasil ditarik ke dalam kesatuan makna spiritual yang lebih dalam.
Strategi ketiga adalah akomodasi paradoks (bilā kayf) ketika teks-teks tersebut berbenturan dengan prinsip tanzīh atau kesucian Al-Qur’an. Ketika teks biblikal dan riwayat hadis sama-sama menyepakati suatu gagasan sensitif—seperti penciptaan manusia sesuai citra Tuhan—Ibn Barrajān memilih untuk menerima kebenaran kedua premis tersebut tanpa memaksakan harmonisasi rasional yang artifisial. Pendekatan ini mencerminkan kerendahan hati epistemik dalam menghadapi rahasia-rahasia ilahi yang melampaui logika manusia.
Komparasi Hermeneutik: Ibn Barrajān versus Ibn Hazm
Kajian Casewit mempertegas kontras hermeneutik yang tajam antara Ibn Barrajān dan pendahulunya di Andalusia, Ibn Hazm (w. 456/1064). Meskipun keduanya disinyalir memanfaatkan korpus terjemahan Arab Mozarab yang berasal dari silsilah tekstual serupa, pemanfaatan eksegetis mereka bertolak belakang secara mendasar. Perbedaan horizon pemikiran ini menghasilkan dua model interaksi yang saling bersaing dalam sejarah penafsiran Islam.
Ibn Hazm mengoperasikan teks Alkitab secara polemik melalui doktrin taḥrīf untuk membuktikan kontradiksi internal dan kepalsuan Alkitab. Baginya, Alkitab adalah objek kritik yang harus dibongkar cacat tekstualnya demi menegaskan superioritas Islam. Pembacaan konfrontatif ini bertujuan utama mematahkan klaim kebenaran lawan bicara dalam arena apologetika.
Sebaliknya, Ibn Barrajān memperlakukan teks biblikal secara irenis sebagai sarana untuk memperdalam makna dan horizon spiritual Al-Qur’an. Alih-alih mencari celah kontradiksi, ia berupaya menemukan titik-titik temu yang dapat memperkaya wawasan tafsirnya. Kontras ini memperlihatkan bahwa sumber tekstual yang sama dapat melahirkan dua sikap hermeneutik yang berseberangan, tergantung pada premis dan tujuan teologis sang mufasir.
Catatan Akhir: Penilaian Kritikal atas Metodologi Casewit
Artikel Yousef Casewit memberikan kontribusi signifikan dalam memetakan ulang lanskap hermeneutika Al-Qur’an di Andalusia dengan membuktikan bahwa interaksi intertekstual antarkitab suci pernah berlangsung secara konstruktif di luar bingkai polemik. Penelitiannya berhasil merekonstruksi ketelitian metodologis seorang mufasir sufi yang sering kali terabaikan dalam sejarah tafsir arus utama. Karya ini membuka cakrawala baru dalam memahami kompleksitas hubungan Islam-Kristen pada Abad pertengahan.
Namun, karya ini menyisakan beberapa catatan kritis yang memerlukan klarifikasi lebih lanjut. Asumsi Casewit mengenai adanya hubungan langsung antara hermeneutika Ibn Barrajān dan mazhab Zahiri Ibn Hazm masih tergolong spekulatif dan belum didukung oleh bukti historis yang cukup kuat. Penjajaran kedua tokoh tersebut berisiko mengabaikan latar belakang tasawuf yang amat dominan dalam pembentukan kerangka pemikiran Ibn Barrajān.
Identitas Jurnal
Judul Jurnal : A Muslim Scholar of the Bible: Prooftexts from Genesis and
Matthew in the Qur’an Commentary of Ibn Barrajān of Seville
(d. 536/1141)”
Penulis : Yousef Casewit
Jurnal : Journal of Qur’anic Studies
Volume : 18
Nomor : 1
Tahun terbit : 2016
Halaman : 1-44
Penerbit : Edinburgh University Press
DOI : 10.3366/jqs.2016.0221
Bahasa : Inggris





