Sebagai seorang akademisi, kyai, sekaligus rektor UIN Sunan Kalijaga (2016-2020), Yudian Wahyudi menghidupkan pesan surah Adh-Dhuha dalam konteks transformasi akademik. Kebijakannya dalam program beasiswa, seperti mendirikan Program Postdoktoral dan Beasiswa Sunan Kalijaga: International Postdoctoral Research Program menjadi bukti nyata dalam aplikasinya (Saidurrahman, 2019: 31).
Perlu diketahui, tafsir lisan ini penulis dapatkan melalui pengamatan langsung saat Yudian memberikan sambutan sebagai Rektor pada acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tahun 2017. Pada momen tersebut, ia mengaitkan konsep ūlā dan ākhirah dengan visi dan program akademik. Dalam pandangan Vansina, momen ini digambarkan sebagai tafsir lisan (Vansina, 2014:viii).
Dalam sambutannya, Yudian memaparkan bahwa term ākhirah memiliki makna masa depan, tidak melulu berkaitan pada akhirat yang berkonotasi surga atau neraka. Alasannya, karena pada ayat ini, term ākhirah disandingkan dengan ūlā (Amin, 2008: 11). Hal ini akan terlihat berbeda, manakala disandingkan dengan term dar atau yaum yang menunjukkan hari akhir (Asy-Syathi’, 1990: 36).
Saat pertama kali mendengar tafsir progresif ini, penulis -sebagai mahasiswa baru- merasa seolah sedang membuka lembaran baru dalam memahami al-Qur’an. Bagaimana tidak, selama di pesantren, kitab-kitab tafsir seperti Jalalain diajarkan sebagai sesuatu yang sakral, hampir tak tersentuh untuk dipertanyakan. Namun, ternyata tafsir bukan sesuatu yang kaku, ia bisa bergerak, berubah, dan menyesuaikan dengan zaman.
Apakah tafsir harus tetap seperti yang diajarkan para ūlāma terdahulu? Apakah kita tidak boleh mempertanyakan ūlāng makna-makna yang terkandung di dalamnya? Pertanyaan inilah yang muncul di benak penulis saat pertama mendengar penjelasan tafsir kelisanan Yudian Wahyudi.
Ternyata, tafsir bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja dengan taklid buta, tetapi bisa dikontekstualisasikan sesuai dengan tantangan zaman. Inilah yang menjadi daya tarik dari pendekatan tafsir kontekstual, sebagaimana diperkenalkan dalam Jihad Ilmiah-nya Yudian Wahyudi saat itu (Wahyudi, 2007: 273).
Lalu, bagaimana ayat ini dimaknai oleh Yudian? Artikel ini akan mengeksplorasi reinterpretasi makna ūlā dan ākhirah menurut perspektif Yudian serta relevansinya dalam upaya transformasi akademik di lingkungan Perguruan Tinggi dan dalam kehidupan secara umum.
Makna Ūlā dan Ākhirah dalam Tafsir Tradisional Dalam tafsir klasik, term ūlā dan ākhirah sering dipahami secara linier sebagai masa lalu dan masa depan, atau dunia (saat ini) dan akhirat (kelak). Mufassir klasik seperti Ath-Thabari menekankan bahwa ayat ini adalah janji Allah kepada Nabi Muhammad saw, yang–dalam sabab nuzul-nya—saat itu tengah menghadapi masa-masa sulit (Shihab, 2002: 325). Ia menjelaskan:
يقول تعالى ذكره: وللدار الآخرة، وما أعد الله لك فيها، خير لك من الدار الدنيا وما فيها. يقول: فلا تحزن على ما فاتك منها، فإن الذي لك عند الله خير لك منها.
Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan sungguh, negeri akhirat serta apa yang Allah siapkan di dalamnya lebih baik bagimu dibanding negeri dunia dan segala isinya. Maka janganlah engkau bersedih atas apa yang telah luput darimu, karena apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagimu daripadanya.’
Ath-Tabari menekankan janji Allah kepada Nabi Muhammad, yang saat itu tengah menghadapi masa-masa sulit. Kehilangan wahyu selama beberapa waktu membuat Nabi dirundung kesedihan, bahkan menjadi cibiran para penentangnya (Ath-Thabari, 2001: 488). Ayat ini turun sebagai penghibur sekaligus penguat bahwa masa depan akan jauh lebih baik dibandingkan masa sulit yang tengah beliau alami.
Namun, perspektif menarik datang dari Ibnu Asyur. Ia tidak hanya melihat ākhirah sebagai kehidupan setelah kematian, tetapi juga sebagai perwujudan peningkatan kualitas hidup yang berkelanjutan. Menurutnya, janji Allah dalam ayat ini tidak hanya merujuk pada pahala di akhirat, tetapi juga pada perubahan bertahap dalam kehidupan Nabi Muhammad yang selalu menuju ke arah lebih baik. Ia menjelaskan:
يُفِيدُ أنَّ حالاتِهِ تَجْرِي عَلى الِانْتِقالِ مِن حالَةٍ إلى أحْسَنَ مِنها
Dengan demikian, ia membuka ruang bahwa perjalanan hidup manusia tidaklah statis, melainkan dinamis dan selalu bergerak ke arah kemajuan (Asyur, 1984: 397). Ini selaras dengan gagasan bahwa setiap fase kesulitan (ūlā) akan diikuti oleh fase yang lebih baik (ākhirah), baik dalam konteks spiritual, sosial, maupun akademik.
Pendekatan Ibnu Asyur ini memperkaya pemahaman tentang QS. Adh-Dhuha [93]:4, dengan menunjukkan bahwa janji Allah tidak hanya berlaku dalam ranah ukhrawi, tetapi juga dalam dinamika kehidupan duniawi. Tafsir ini memberikan optimisme bagi siapa saja yang tengah berjuang dalam fase sulit, bahwa masa depan akan membawa kebaikan selama ada usaha dan keyakinan.
Reinterpretasi Makna Ūlā dan Ākhirah oleh Yudian
Berdasarkan pendekatan kontekstualnya, Yudian mengangkat dimensi filosofis dan praktis dari tafsir ūlā dan ākhirah. Ia menegaskan bahwa kedua kata tersebut tidak hanya berkaitan dengan urutan waktu, tetapi juga memiliki makna simbolis yang relevan dengan kehidupan manusia.
Dalam pandangannya, ūlā merepresentasikan fase-fase awal kehidupan yang penuh tantangan, sedangkan ākhirah adalah janji Allah tentang kemajuan dan pencapaian yang akan datang (Fadhliyah, 2020: 281). Sebagai pemimpin akademik, Yudian menerjemahkan makna ūlā dan ākhirah dalam pengembangan lingkungan Perguruan Tinggi.
Saat menyampaikan pidato akademiknya, Yudian menyinggung para dosen muda sebagai ‘yatim’ dan ‘sa’i’l. Penulis sempat bertanya-tanya, apa maksudnya? Yudian menjelaskan bahwa para dosen ini ‘yatim’ karena kurang diperhatikan dalam upaya mereka menjadi profesor, sementara mereka juga sa’il karena harus terus mencari dana untuk riset dan publikasi ilmiah.
Bagi Yudian, akademisi bukan hanya tentang mengajar di kelas, tetapi juga tentang bagaimana mereka didukung untuk berkembang dan berkontribusi lebih luas. Ia menilai bahwa banyak dosen berada dalam kondisi yang disebutnya sebagai “yatim” dan “sa’il.” Mereka dianggap yatim karena kurangnya perhatian dari pimpinan terkait pengembangan karier mereka, khususnya dalam upaya menjadi profesor.
Yudian memahami kondisi ini berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa. Dengan visi membangun ākhirah yang lebih baik, ia mendirikan program Sunan Kalijaga: International Postdoctoral Research Program. Langkah ini adalah bentuk nyata dari reinterpretasi ūlā sebagai fase tantangan menuju ākhirah berupa transformasi akademik yang lebih progresif.
Relevansi Ūlā dan Ākhirah dalam Transformasi Akademik Perjalanan akademik bukan sekadar pencapaian gelar, tetapi juga proses pendewasaan intelektual yang menuntut kesabaran dan ketekunan. Jika ūlā merepresentasikan fase awal yang penuh tantangan, maka ākhirah adalah simbol dari pencapaian yang lebih tinggi, baik dalam aspek keilmuan maupun pengaruh sosial.
Dalam konteks akademik, setiap mahasiswa yang memūlāi jenjang S1 berada dalam fase ūlā, dengan berbagai ujian akademik dan adaptasi terhadap dunia intelektual. Seiring waktu, perjalanan ini berlanjut ke jenjang S2, kemudian S3, dan akhirnya menuju pencapaian sebagai akademisi yang mapan, bahkan profesor.
Namun, perjalanan ini tidak hanya berbicara tentang transisi formal dari satu jenjang ke jenjang lainnya. Setiap tingkatan membawa tantangan yang berbeda, mūlāi dari memahami dasar-dasar keilmuan di S1, memperdalam analisis di S2, hingga berkontribusi dalam riset dan pemikiran baru di S3.
Pandangan ini memberikan semangat baru bagi sivitas akademika untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dalam menciptakan ekosistem akademik yang inklusif dan progresif (Wahyudi, 2017: 153). Dengan kata lain, setiap pencapaian akademik selalu diawali dengan fase ūlā yang penuh tantangan dan perjuangan, tetapi dengan kesabaran dan usaha, ākhirah yang lebih baik akan menanti.
ebih lanjut, ia juga menjelaskan menjadi rektor (ākhirah) lebih baik daripada guru besar (ūlā). Mencapai posisi guru besar lebih baik daripada hanya sekedar doktor. Begiru seterusnya ia memahami makna dan ide yang terkandung dari ayat ini. Dengan demikian, usaha reinterpretasi makna ūlā dan ākhirah oleh Yudian di atas menawarkan perspektif yang relevan dalam transformasi akademik (Fadhliyah, 2020: 289).
Perjalanan hidup adalah rangkaian ūlā dan ākhirah yang silih berganti. Tidak ada keberhasilan tanpa proses panjang yang melelahkan. Sebagaimana mahasiswa yang berjuang dari jenjang S1 ke S2, kemudian S3, dan akhirnya menjadi profesor, setiap fase adalah ujian. Tafsir ini (semoga) menginspirasi kita untuk terus melangkah maju, karena ākhirah selalu menjanjikan kebaikan yang lebih besar.
Referensi
Amin, S.M. (2008) Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah.
Asy-Syathi’, A.A. bintu (1990) Tafsir Al-Bayani Li Al-Qur`an Al-Karim, Jilid 1. Mesir: Dar al-Ma’arif.
Asyur, M.T.I. (1984) ‘At-Tahrir Wa At-Tanwir, Juz 30’. Tunisia: Dar at-Tunisiah li an-Nasyr, p. 397.
Ath-Thabari, I.J. (2001) Jami’ al-Bayan ’an Ta’wil Ay al-Qur’an. Mesir: Markaz al-Bahs wa al-Dirasat al-Arabiyah al-Islamiyah.
Fadhliyah, L. (2020) ‘PENAFSIRAN PROF. DRS. KH. YUDIAN WAHYUDI, BA., MA., PH.D. TENTANG SURAH AL-DUHA DAN SIGNIFIKANSINYA PADA KEHIDUPAN’, in A. Baidowi (ed.) Tafsir al-Qur’an di Nusantara. Bantul: Lembaga Ladang Kata, pp. 271–300.
Saidurrahman and Tarigan, A.A. (2019) REKONSTRUKSI PERADABAN ISLAM: Perspektif Prof. K.H. Yudian Wahyudi, Ph.D. Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP.
Shihab, M.Q. (2002) Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume 15, Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Vansina, J. (2014) Tradisi Lisan sebagai Sejarah, terj. Astrid Reza. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Wahyudi, Y. (2007) Jihad Ilmiah dari Tremas ke Harvard. Yogyakarta: Pesantrean Nawasea Press.
Wahyudi, Y. (2017) Jihad Ilmiah Kedua: Dari Harvard ke Yale dan Princeton. Yogyakarta: Nawasea Press.





