Adam adalah salah satu tokoh yang sangat fenomal yang Allah ciptakan. Umat Islam mengimaninya sebagai manusia pertama yang Allah ciptakan kemudian dijadikan sebagai khalifah di bumi. Selain dinobatkan sebagai manusia pertama Adam juga dinobatkan sebagai Nabi dan Rasul pertama serta bapak semua manusia (Ahmad Al-Usairy, 1997).
Kisah tentang Adam dan istrinya Hawa telah banyak diceritakan dalam Al Qur’an serta penafsiran terkait surga yang ditempati oleh Adam dan istrinya Hawa juga telah banyak dibahas dalam tafsir-tafsir baik klasik maupun kontemporer. Sangat sulit untuk menemukan jawaban atas pertanyaan dari kisah Adam tersebut, apakah ia berada di surga yang abadi yang tidak ada peraturan di dalamnya atau hanya surga sebagai tempat ujian saja.
Ayat tentang kisah Adam dan Hawa yang berada di surga sebelum diturukan ke bumi tersebut terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 35.
وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!”
Mengenai surga Adam dan Hawa mayoritas ulama menafsirkan bahwa surga tersebut adalah surga yang abadi (jannah al-khuld) atau jannah al-ma’wa. Namun banyak juga di antara para mufassir menafsirkan bahwa surga itu adalah bukan surga yang di akhirat karena di dalamnya masih ada larangan dan godaan yang memungkinkan manusia berbuat kesalahan, sesuatu yang tidak terjadi di surga abadi.
Makna Jannah menurut ulama Mahmud Yunus dalam kamusnya menjelaskan lafadz jannah terbentuk dari kosa kata yang berakar pada fonem j-n-n berarti menutup atau tertutup (Mahmud Yunus, 2009: 92). Artinya yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusia. Alif Kurdi menjelaskan dalam artikelnya bahwa lafadz janin dimaknai sebagai bayi yang masih dalam kandungan ibunya karena ia masih tertutup perut ibunya (Kurdi, 2020). Sedangkan dalam Mu’jam al-Washith lafadz jannah bermakna kebun.
Biografi Singkat Habib Saggaf dan Profil Tafsir Nurul Iman Habib Saggaf BSA kecil lahir di kampung Bada, Dompu-Nusa Tenggara Barat pada 15 Agustus 1945. Diwaktu kecil, beliau belajar kepada ilmu agama kepada saudara kandung dari neneknya yaitu Syekh Muhammad bin Ali Al Mushalli dan Syaikh Mahdali bin Syaikh Manshur salah seorang cucu ulama besar Bima yaitu Syaikh Abdul Ghani.
Selepas belajar kepada Syaikh Muhammad dan Syaikh Mahdali beliau berangkat ke Malang untuk belajar kepada Habib Abdul bin Ahmad bilfaqih pendiri ponpes Darul Hadits. Dimasa di Darul Hadits Habib Saggaf muda terkenal sebagai pribadi yang rajin dan ulet dalam belajar, sehingga tak heran jika beliau dapat menguasai seluruh ilmu dengan waktu yang singkat.
Selesai di Darul Hadits beliau berangkat ke Timur Tengah belajar kepada Syaikh Muhammad Balqaid, Syakh Nadzimul Arsy, Syaikh Ahmad As-Segaf, Syaikh Muhammad Al-Maghrabi serta I’tikaf di Masjidil Haram selama 5 tahun. Pada dekade 1982-an beliau menerima bai’at dari Syaikh Muslih Mranggen Demak yang merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyah Qadiriyah.
Dalam perjalanan dakwahnya Habib Saggaf sudah 3 kali mendirikan pesantren: Ar Rahmah, Dompu (1973-1975), Darul Ulum, Surabaya (1986-1988) dan Al Ashriyyah Nurul Iman (1998-sekarang) (Nurul Iman, 2022: X-XII). Di pondok yang terakhir inilah beliau mengkader santri-santri dengan Pelajaran-pelajaran agama terutama tafsir Al-Qur’an dan juga pelajaran-pelajaran umum seperti sekolah formal biasa.
Tafsir Nurul Iman merupakan sebuah karya monumental dari pondok pesantren Nurul Iman yang mana tafsir ini ditulis melalui keterangan dan penjelasan Habib Saggaf ketika mengajar tafsir. Dalam tafsir ini Habib Saggaf mempunyai dua rujukan utama yaitu kitab Tafsir Jalalain dan Tafsir Showi. Penulisan tafsir ini juga atas perintah dari beliau yaitu menganjurkan untuk menulis (mentranskrip) kegiatan pengajian.
Tafsir ini ditulis dengan menggunakan bahasa lisan sesuai dengan apa yang beliau jelaskan kepada para santri, oleh karena itu tafsir ini banyak kandungan akan nasihat kepada santri-santri serta corak tafsir ini lebih condong ke corak sufi dan ilmi. Habib Saggaf banyak mengkritik apa yang ada dalam Tafsir Jalalain dan Tafsir Showi, karena di dalamnya tiak sesuai atau sudah tidak relevan lagi dengan zaman ini (Dar At-Tafsir, 2022: V)
Pandangan Habib Saggaf tentang surga yang dihuni Adam dan Hawa Di atas telah diterangkan bahwa surga Adam dan Hawa merupakan hal yang sulit untuk dicari titik temunya, karena memang di Al-Qur’an sendiri hanya dijelaskan secara umum saja tanpa menjelaskan surga yang abadi atau hanya sebagai tempat cobaan dan ujian saja. Imaduddin Abu Fida dalam kitabnya Qashashul Anbiya menjelaskan, perbedaan pendapat ini baiknya diabaikan saja (Imaduddin Abu Fida, 2013:49)
Masih dalam kitab Qashashul Anbiya bahwa jumhur menyatakan bahwa surga tersebut adalah surga akhirat dalam artian surga yang abadi, dengan alasan bahwa lafadz al-jannah mengandung alif lam yang mana itu menunjukkan bahwa jannah di situ adalah ma’rifat yang merujuk pada surga akhirat yaitu jannatu al-ma’wa (Imaduddin Abu Fida, 2013:49).
Abu Musa bin Hazm, Abu Muhammad bin Atiyah, Abu Qasm serta Al-Mawardi menolak pendapat di atas. Menurut mereka bahwa terkait surga Adam ada dua pendapat, yang pertama surga khuld (abadi) dan yang kedua adalah surga yang sudah disiapkan oleh Allah sebagai tempat pemberi ujian. Selain itu ada yang berpendapat bahwa surga tersebut merupakan langit yang kedua, karena Adam dan Hawa diturunkan di langit yang kedua.
Senada dengan Imadudin Abu Fida, Quraish Shihab tidak memperdebatkan terkait surga Adam. Quraish Shihab berkata “yang terpenting dalam pemaknaan jannah itu adalah suatu tempat yang dipenuhi dengan pepohonan” (Quraish Shihab,2017:189). Di manapun letak surga itu bukanlah persoalan yang penting karena hal itu bukan tujuan dari pemaparan dalam konteks ayat ini.
Sementara itu ulama yang memperdebatkan masalah ini karena ada beberapa alasan seperti: kenapa masih ada larangan sedangkan disurga bebas mau apa saja, surga itu tempat yang kekal namun justru Adam dikeluarkan serta di surga iblis tidak bisa masuk karena sudah diharamkan tapi justru iblis masuk dan menggoda Adam. Selain itu ada yang memperdebatkan terkait makna lafadz “habatha” yaitu turun derajatnya.
Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya Tafsir Asy-Sya’rawi menjelaskan terkait makna habatha yaitu terdapat makna zahir dan makna batin. Secara zahir diartikan sebagai turun dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang rendah. Sedangkan secara batin ialah ia telah turun dari pandanganku, artinya turun derajat dan harga dirinya (Asy Sya’rawi,1991:270). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa menurut beliau ialah bukan surga yang di akhirat.
Berbeda dengan syekh Mutawali Asy-Sya’rawi, Habib Saggaf bin Mahdi, beliau berpendapat bahwa surga yang dihuni Adam sebelum diturunkan ke bumi ialah surga akhirat. Surga itu hanya sebagai tempat ujian mereka saja, oleh karena itu hanya sementara karena hakikatnya manusia itu diciptakan untuk menempati buminya Allah (Dar AtTafsir, 2022:221).
Adapun larangan yang ada di surga itu merupakan sejarah, andai kata tidak ada sejarah seperti ini maka tidak ada ceritanya Adam. Selain itu yang dimaksud dengan surga yang akan menjadi tempat pembalasan orang-orang yang taat ialah setelah kiamat tiba.
Akhir Kata Perdebatan mengenai surga Adam sebelum diturunkan ke bumi telah menjadi diskusi yang panjang di antara ulam dan mufassirin. Secara umum terbagi menjadi dua: surga di akhirat, pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama. Selain itu lafadz jannah sering diartikan sebagai surga akhirat yang abadi. Yang kedua adalah surga yang ada di bumi yaitu sebuah taman yang indah disertai pepohonan yang rindang.
Dua pendapat itu sama-sama memiliki argumentasi yang kuat dan memiliki sudut pandangnya masing-masing. Akan tetapi yang terpenting ialah bukan di mana letaknya surga Adam tersebut melainkan hikmah dibalik kisah tersebut, yaitu terkait ujian, ketaatan, konsekuensi serta awal mula khalifah di bumi.
Referensi
Asy Sya’rawi, Mutawali. 1991. Tafsir Asy Sya’rawi, Kairo: Dār Akhbāral-Yaum.
Attafsir, Dar.2022. Tafsir Nurul Iman, Bogor: Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School.
Fida, Imadudin Abu. 2013. Terjemah Qashashul Anbiya, Jakarta Timur: Ummul Qura.
Kurdi, Alif Jabal. “Kajian Semantik: Makna Kata Jannah dalam Al-Qur’an”. Dalam website tafsiralquran.id: Kajian Semantik: Makna Kata Jannah dalam Al-Qur’an.
Shihab, Quraish. 2017. Tafsir Al Misbah, Tangerang: PT. Lentera Hati.





