Dalam menggali makna-makna al-Qur’an berdasarkan prinsip tafsir bayani, Quraish Shihab melakukannya dengan beberapa tahap. Pertama, mempelajari kosakatanya, kedua, menganalisis makna dasar dari susunan huruf-huruf yang terhimpun oleh satu kata dan ketiga, menghimpun ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama untuk menarik makna yang dimaksud oleh al-Qur’an (Shihab,2024: xv). Olehnya, melalui pendekatan bayani, maka akan mendapatkan petunjuk yang jelas mengenai makna yang tersembunyi di dalam ayat al-Qur’an. Salah satunya contoh yang akan ditampilkan dan diulas dalam artikel ini ialah makna-makna kunci dalam QS al-Isra’/17: 1 serta hubungannya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, lalu kaitannya dengan konsep penghambaan dan salat sebagai hadiah terbaik bagi umat Islam.
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang membingungkan karena sulit diterima oleh nalar manusia, bahkan ada yang meragukan terjadinya peristiwa ini (Fahmi, 2019: 154). Peristiwa tersebut merupakan salah satu mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi. saw. Perjalanan dalam Isra’ dan Mi’raj bukan hanya menjadi bukti kebesaran Allah swt. melainkan mengandung makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam.
Al-Biqai dalam komentarnya yang dinukil pada Tafsir al-Misbah menghubungkan QS al-Isra’/17: 1 dengan akhir ayat surah sebelumnya yakni surah al-Nahl yang mana akhir surah tersebut menekankan kesucian Allah swt. dari segala macam kekurangan serta membuktikan kesempurnaan-Nya dengan menunjukkan kekuasaan dan menciptakan hal-hal agung. Kemudian pada awal surah al-Isra diuraikan kejadian luar biasa yakni Isra’ sekaligus menyucikan diri-Nya dari segala dugaan yang mengira bahwa Yang Mahakuasa tidak memiliki kuasa atas peristiwa Isra’ Mi’raj itu. (Shihab, vol. vi, 2022: 9). Akhir surah al-Nahl menguatkan sekaligus menunjukkan bahwa kejadian luar biasa yang diceritakan di awal surah Al-Isra’ memperlihatkan keagungan Allah swt. dan kesempurnaan-Nya.
Bahasa unik yang digunakan dalam pembukaan QS al-Isra’/17: 1 adalah kata سُبْحٰنَ, Kata ini biasanya digunakan untuk menunjukkan keheranan atau keajaiban terhadap sesuatu. Peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Nabi saw. merupakan peristiwa yang menakjubkan sekaligus mengherankan karena peristiwa tersebut diluar kebiasaan manusia. Olehnya, QS al-Isra’: 1 menggunakan kata سُبْحٰنَ untuk menunjukkan peristiwa agung tersebut yang merupakan salah satu bukti ke-Mahakuasa-an Allah swt. (Shihab, vol. vi, 2022: 10-11).
Kataاَسْرٰى serupa dengan kata سَرٰى yang berarti perjalanan malam, kata ini tidak membutuhkan objek, namun karena pada kata بِعَبْدِهٖ terdapat huruf “ba” yang diartikan “hamba-Nya” menjadikan kata asraa membutuhkan objek. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan Isra’ dilakukan oleh satu pihak sebagai subjek (Allah swt.) kepada suatu objek yaitu hamba-Nya (Nabi Muhammad saw.) Olehnya penggunaan huruf “ba” pada ayat ini menjadi isyarat bahwa perjalanan Isra’ merupakan perjalanan di bawah bimbingan Allah swt. Allah-lah yang memperjalankan Nabi saw. dengan kehendak dan kekuasaan-Nya (Shihab, vol. vi, 2022: 12).
Kata عَبْدِهٖditerjemahkan sebagai “hamba-Nya”, sebagai penyebutan yang kembali kepada Nabi saw. sebagai objek yang diperjalankan oleh Allah swt. dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Al-Ragib al-Asfahani membagi makna ‘abd kedalam tiga jenis, (1) sosok yang diperjualbelikan atau diperbudak, (2) hamba yang telah diciptakan Allah swt. (3) hamba dalam aspek ibadah dan pelayanan, jenis ini terbagi menjadi dua yaitu hamba yang benar-benar mengikhlaskan ibadahnya karena Allah swt. dan hamba bagi dunia dan isinya. Olehnya, benarlah ungkapan yang menyatakan bahwa tidak semua manusia dapat dikatakan sebagai hamba Allah swt. (al-Asfahani, 1412 : 656-658).
Shihab dalam perayaan Isra’ Mi’raj di masjid Istiqlal menyatakan bahwa kata ‘abd dalam bentuk jamaknya terbagi menjadi beberapa makna, diantaranya العَا بِدُ yang berarti hamba Allah swt. yang taat dan dekat kepadanya, kata عَبِيْدُ yang berarti durhaka kemudian kata عِبَاد yang berarti hamba yang taat dan mau atau sudah kembali kepada Allah swt. Kata عَبْدٌ sendiri pada Q.S. al-Isra’/ 17: 1 bentuk jamaknya adalah العَا بِدُ.
Kemudian kata لَيْلًا, kata ini secara sepintas seakan tidak diperlukan lagi karena telah ada kata أَسْرَى yang berarti perjalanan malam. Kata لَيْلًا disini berbentuk nakirah dengan tanwin yang menunjukkan makna “sedikit”, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah saw. terjadi hanya beberapa saat dari malam bukan sepanjang malam. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, Rasulullah saw, ketika kembali dari perjalanan tersebut masih menemukan kehangatan dalam pembaringannya (di tempat tidurnya), demikian cepatnya (Shihab, vol. vi, 2022: 13).
Kemudian الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ yang bermakna mesjid yang dihormati kemudian الْاَقْصَا yang memiliki makna sebagai tempat sujud terjauh yaitu bait al-maqdis di Palestina, ada juga yang mengartikan tempat sujud terjauh adalah di langit ketujuh. Hanya saja hal ini susah untuk dipahami. Rangkaian QS al-Isra’/17: 1 menguraikan mengenai terjadinya Isra’ Nabi saw. Namun dalam ayat ini tidak disinggung mengenai Mi’rajnya Nabi saw., Mi’rajnya Nabi saw. termaktub dalam ayat lain salah, satunya dalam QS al-Najm/53: 12-15 (Shihab, vol. vi, 2022: 14-19).
Sosok ‘abd merupakan nama yang paling sempurna melukiskan sikap paling terpuji bagi seorang manusia, ia harus mencerminkan tiga makna kebahasaan yang paling menonjol yakni (1) menjadi hamba sahaya yang meyakini bahwa ia bukan pemilik sesuatu melainkan bahwa apa yang ia miliki adalah milik tuannya, (2) sebagai alat yang dapat digunakan untuk tujuan yang dikehendaki sang pemilik dan (3) pada saat yang sama, ia harus menyebarkan aroma harum dalam lingkungannya (Shihab, 2024: 139). Hal inilah yang dapat diteladani dari sosok Nabi saw. sebagai ‘abd/hamba paling ideal yang dengan keidealannya, beliau diperjalankan oleh Allah swt. dalam isra’ dan mi’raj.
Kesedihan berlipat-lipat yang dirasakan Nabi saw. sebelum Isra’ Mi’raj tersebut sebagaimana yang dikemukakan oleh Habib Ja’far kemudian dihibur oleh Allah swt. dengan memperjalankan Nabi saw. dalam Isra’ dan Mi’raj serta diberikan kado terindah untuk healing setiap saat ketika merasa bersedih yaitu melalui salat. Maka salat merupakan jalan untuk menghibur diri yang paling baik sebagai penghilang kegelisahan dan kesedihan serta merupakan benang merah yang menghubungkan hamba dengan Allah swt.
Meskipun demikian, esensi salat yang merupakan kado terbaik Tuhan melalui Isra’ dan Mi’raj tidak semua hamba-Nya merasakan efek luar biasa dari salat ini. Hal tersebut dikarenakan kadangkala seorang hamba hanya “melaksanakan” salat namun tidak “mendirikannya / أَقِمُوا”. Padahal Allah swt. meminta bukan hanya melakukan salat namun menegakkannya, salat seolah Tuhan hadir berada di hadapannya (Ja’far, 2024:14). Salat dengan aneka ketentuannya disimpulkan dengan kata أَقِمُوا yang pada akhirnya para ulama menyimpulkan bahwa perintah aqimu dalam konteks salat berarti melaksanakannya secara bersinambung sempurna rukun dan syaratnya, sunnah-sunnahnya dan etika serta tepat waktunya (Shihab, 2024: 185).
Meneladani Nabi saw. dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj dapat dilakukan dengan menjadi “hamba” yang sesuai dengan kriteria hamba yang ideal sebagaimana yang dimaksud ‘abd dalam konteks QS al-Isra’/17: 1 dan salah satu jalan yang ditempuh sekaligus sebagai hadiah terbaik yang diberikan Allah swt. adalah melalui aqimu shalah/ mendirikan salat.





