Hamba Ideal dan Esensi Salat dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj: Telaah Tafsir Bayani QS al-Isra’/17: 1

Bahasa di dalam al-Qur’an sangatlah unik, seluruh kata demi kata dalam al-Qur’an memiliki makna tersendiri. Dalam kajian tafsir, salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengurai makna ayat adalah tafsir bayani. M. Quraish Shihab menjadi mufassir yang menggunakan pendekatan bayani dalam penafsirannya. Tafsir Bayani dalam perspektif Quraish Shihab adalah menjelaskan makna-makna yang dikandung oleh kosakata dan susunannya yang dirangkai oleh ayat sehingga menjadi sejelas mungkin sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah swt, namun tentu saja sesuai dengan kemampuan manusia (Shihab,2024: xiii).

Dalam menggali makna-makna al-Qur’an berdasarkan prinsip tafsir bayani, Quraish Shihab melakukannya dengan beberapa tahap. Pertama, mempelajari kosakatanya, kedua, menganalisis makna dasar dari susunan huruf-huruf yang terhimpun oleh satu kata dan ketiga, menghimpun ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama untuk menarik makna yang dimaksud oleh al-Qur’an (Shihab,2024: xv). Olehnya, melalui pendekatan bayani, maka akan mendapatkan petunjuk yang jelas mengenai makna yang tersembunyi di dalam ayat al-Qur’an. Salah satunya contoh yang akan ditampilkan dan diulas dalam artikel ini ialah makna-makna kunci dalam QS al-Isra’/17: 1 serta hubungannya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, lalu kaitannya dengan konsep penghambaan dan salat sebagai hadiah terbaik bagi umat Islam.

Bacaan Lainnya
Analisis Tafsir Bayani QS al-Isra’/17: 1

M. Quraish Shihab dalam peringatan Isra’ Mi’raj yang diadakan di masjid Istiqlal, menyatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa agung yang bisa dikatakan sebagai dialog antara Rasulullah saw., dengan para nabi dan yang paling dahsyat adalah dialog langsung dari Allah swt. dengan bahasa langit. Salah satu ayat yang menjadi kunci dan selalu menjadi ayat yang disampaikan dalam momentum Isra’ dan Mi’raj adalah QS al-Isra’/17: 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjid al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang membingungkan karena sulit diterima oleh nalar manusia, bahkan ada yang meragukan terjadinya peristiwa ini (Fahmi, 2019: 154). Peristiwa tersebut merupakan salah satu mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi. saw. Perjalanan dalam Isra’ dan Mi’raj bukan hanya menjadi bukti kebesaran Allah swt. melainkan mengandung makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam.

Al-Biqai dalam komentarnya yang dinukil pada Tafsir al-Misbah menghubungkan QS al-Isra’/17: 1 dengan akhir ayat surah sebelumnya yakni surah al-Nahl yang mana akhir surah tersebut menekankan kesucian Allah swt. dari segala macam kekurangan serta membuktikan kesempurnaan-Nya dengan menunjukkan kekuasaan dan menciptakan hal-hal agung. Kemudian pada awal surah al-Isra diuraikan kejadian luar biasa yakni Isra’ sekaligus menyucikan diri-Nya dari segala dugaan yang mengira bahwa Yang Mahakuasa tidak memiliki kuasa atas peristiwa Isra’ Mi’raj itu. (Shihab, vol. vi, 2022: 9). Akhir surah al-Nahl menguatkan sekaligus menunjukkan bahwa kejadian luar biasa yang diceritakan di awal surah Al-Isra’ memperlihatkan keagungan Allah swt. dan kesempurnaan-Nya.

Bahasa unik yang digunakan dalam pembukaan QS al-Isra’/17: 1 adalah kata سُبْحٰنَ, Kata ini biasanya digunakan untuk menunjukkan keheranan atau keajaiban terhadap sesuatu. Peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Nabi saw. merupakan peristiwa yang menakjubkan sekaligus mengherankan karena peristiwa tersebut diluar kebiasaan manusia. Olehnya, QS al-Isra’: 1 menggunakan kata سُبْحٰنَ untuk menunjukkan peristiwa agung tersebut yang merupakan salah satu bukti ke-Mahakuasa-an Allah swt. (Shihab, vol. vi, 2022: 10-11).

Kataاَسْرٰى  serupa dengan kata  سَرٰى yang berarti perjalanan malam, kata ini tidak membutuhkan objek, namun karena pada kata بِعَبْدِهٖ terdapat huruf “ba” yang diartikan “hamba-Nya” menjadikan kata asraa membutuhkan objek. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan Isra’ dilakukan oleh satu pihak sebagai subjek (Allah swt.) kepada suatu objek yaitu hamba-Nya (Nabi Muhammad saw.) Olehnya penggunaan huruf “ba” pada ayat ini menjadi isyarat bahwa perjalanan Isra’ merupakan perjalanan di bawah bimbingan Allah swt. Allah-lah yang memperjalankan Nabi saw. dengan kehendak dan kekuasaan-Nya (Shihab, vol. vi, 2022: 12).

Kata  عَبْدِهٖditerjemahkan sebagai “hamba-Nya”, sebagai penyebutan yang kembali kepada Nabi saw. sebagai objek yang diperjalankan oleh Allah swt. dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Al-Ragib al-Asfahani membagi makna ‘abd kedalam tiga jenis, (1) sosok yang diperjualbelikan atau diperbudak, (2) hamba yang telah diciptakan Allah swt. (3) hamba dalam aspek ibadah dan pelayanan, jenis ini terbagi menjadi dua yaitu hamba yang benar-benar mengikhlaskan ibadahnya karena Allah swt. dan hamba bagi dunia dan isinya. Olehnya, benarlah ungkapan yang menyatakan bahwa tidak semua manusia dapat dikatakan sebagai hamba Allah swt. (al-Asfahani, 1412 : 656-658).

Shihab dalam perayaan Isra’ Mi’raj di masjid Istiqlal menyatakan bahwa kata ‘abd dalam bentuk jamaknya terbagi menjadi beberapa makna, diantaranya العَا بِدُ yang berarti hamba Allah swt. yang taat dan dekat kepadanya, kata عَبِيْدُ  yang berarti durhaka kemudian kata عِبَاد  yang berarti hamba yang taat dan mau atau sudah kembali kepada Allah swt. Kata عَبْدٌ sendiri pada Q.S. al-Isra’/ 17: 1 bentuk jamaknya adalah العَا بِدُ.

Kemudian kata لَيْلًا, kata ini secara sepintas seakan tidak diperlukan lagi karena telah ada kata أَسْرَى yang berarti perjalanan malam. Kata  لَيْلًا disini berbentuk nakirah dengan tanwin yang menunjukkan makna “sedikit”, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah saw. terjadi hanya beberapa saat dari malam bukan sepanjang malam. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, Rasulullah saw, ketika kembali dari perjalanan tersebut masih menemukan kehangatan dalam pembaringannya (di tempat tidurnya), demikian cepatnya (Shihab, vol. vi, 2022: 13).

Kemudian الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ  yang bermakna mesjid yang dihormati kemudian الْاَقْصَا yang memiliki makna sebagai tempat sujud terjauh yaitu bait al-maqdis di Palestina, ada juga yang mengartikan tempat sujud terjauh adalah di langit ketujuh. Hanya saja hal ini susah untuk dipahami. Rangkaian QS al-Isra’/17: 1 menguraikan mengenai terjadinya Isra’ Nabi saw. Namun dalam ayat ini tidak disinggung mengenai Mi’rajnya Nabi saw., Mi’rajnya Nabi saw. termaktub dalam ayat lain salah, satunya dalam QS al-Najm/53: 12-15 (Shihab, vol. vi, 2022: 14-19).

Esensi ‘Abd dalam QS al-Isra’/17: 1

Firman Allah swt. dalam QS al-Isra’/17: 1 menyatakan bahwa Nabi saw. diperjalankan dalam Isra’ Mi’raj dan disebut sebagai hamba ((سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ bukan disebut Muhammad saw. ((سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِمُحَمَّدٍ. Penggunaan huruf “ba” memiliki variasi makna yang beragam diantaranya adalah ba’ al-ilshaq yakni kedekatan dan kelekatakan hakiki (Shihab, 2024: 7). Pertanyaan muncul kemudian apakah ba yang dimaksud dalam al-Isra’/17: 1 ini merupakan ba’ al-ilsahq sehingga dapat diartikan bahwa hanya hamba yang benar-benar dekat dengan Tuhan-nyalah yang bisa naik ke atas. Sehingga dapat membuka makna bahwa jika menjadi “hamba” yang dimaksud dalam ayat ini memiliki potensi sebagaimana diisra’ dan mi’raj-kanya Nabi saw.

Sosok ‘abd merupakan nama yang paling sempurna melukiskan sikap paling terpuji bagi seorang manusia, ia harus mencerminkan tiga makna kebahasaan yang paling menonjol yakni (1) menjadi hamba sahaya yang meyakini bahwa ia bukan pemilik sesuatu melainkan bahwa apa yang ia miliki adalah milik tuannya, (2) sebagai alat yang dapat digunakan untuk tujuan yang dikehendaki sang pemilik dan (3) pada saat yang sama, ia harus menyebarkan aroma harum dalam lingkungannya (Shihab, 2024: 139). Hal inilah yang dapat diteladani dari sosok Nabi saw. sebagai ‘abd/hamba paling ideal yang dengan keidealannya, beliau diperjalankan oleh Allah swt. dalam isra’ dan mi’raj.

Salat Sebagai Hadiah

Kisah Isra’ dan Mi’raj merupakan bahasa langit dan kesakralan dari Isra’ dan Mi’raj terus dikumandangkan oleh para ulama tanpa menjelaskan jalan menuju ke sana. Padahal hal tersebut adalah aspek yang lebih utama, tentu menjadi hal yang menarik jika yang diceritakan adalah proses untuk menuju Isra’ dan Mi’raj dengan menjadi “hamba” yang ideal melalui salah satu prosesnya yakni salat.

Asy-Sya’rawi sebagaimana dinukil dalam Tafsir al-Misbah berpendapat bahwa akhir surah al-Nahl menyatakan bahwa sebelum isra’ dan mi’raj masa-masa sulit dialami oleh Nabi saw. dan seakan menyatakan bahwa jiwa nabi Muhammad saw. dibentengi dengan menyatakan “Allah swt. beserta para muhsinin”. Peristiwa silih berganti menimpa Nabi saw. mulai dari meninggalnya paman beliau, Abu Thalib, yang peran ketokohannya sangat berpengaruh dalam dakwah beliau. Kemudian meninggalnya Khadijah, istri yang sangat beliau cintai. Kepergian kedua tokoh ini kemudian diberi dengan sebutan ‘am al-huzn atau tahun kesedihan. Kesedihan beliau bertambah dengan gangguan kaum musyrikin dalam dakwahnya (Shihab, vol. vi, 2022: 10).

Kesedihan berlipat-lipat yang dirasakan Nabi saw. sebelum Isra’ Mi’raj tersebut sebagaimana yang dikemukakan oleh Habib Ja’far kemudian dihibur oleh Allah swt. dengan memperjalankan Nabi saw. dalam Isra’ dan Mi’raj serta diberikan kado terindah untuk healing setiap saat ketika merasa bersedih yaitu melalui salat. Maka salat merupakan jalan untuk menghibur diri yang paling baik sebagai penghilang kegelisahan dan kesedihan serta merupakan benang merah yang menghubungkan hamba dengan Allah swt.

Meskipun demikian, esensi salat yang merupakan kado terbaik Tuhan melalui Isra’ dan Mi’raj tidak semua hamba-Nya merasakan efek luar biasa dari salat ini. Hal tersebut dikarenakan kadangkala seorang hamba hanya “melaksanakan” salat namun tidak “mendirikannya / أَقِمُوا”. Padahal Allah swt. meminta bukan hanya melakukan salat namun menegakkannya, salat seolah Tuhan hadir berada di hadapannya (Ja’far, 2024:14). Salat dengan aneka ketentuannya disimpulkan dengan kata أَقِمُوا yang pada akhirnya para ulama menyimpulkan bahwa perintah aqimu dalam konteks salat berarti melaksanakannya secara bersinambung sempurna rukun dan syaratnya, sunnah-sunnahnya dan etika serta tepat waktunya (Shihab, 2024: 185).

Meneladani Nabi saw. dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj dapat dilakukan dengan menjadi “hamba” yang sesuai dengan kriteria hamba yang ideal sebagaimana yang dimaksud ‘abd dalam konteks QS al-Isra’/17: 1 dan salah satu jalan yang ditempuh sekaligus sebagai hadiah terbaik yang diberikan Allah swt. adalah melalui aqimu shalah/ mendirikan salat.

Referensi

Al-Ashfahani, Raghib. Al-Mufradāt fī Gharīb Al-Qur ān, Bairut: al-Dar al-Syamiyah, 1412 H.

Al-Hadar, Ja’far Husein, Seni Merayu Tuhan, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2024.
Fahmi, Dzul. Historitas dan Rasionalitas Isra’ Mi’raj. Jurnal Al-Tafkir, Vol. XII, No. 2, 2019: 152-167.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Kesetasian Al-Qur’an. Cet. I. Tangerang Selatan:Lentera Hati, 2024.
Shihab, M. Quraish. Makna di Balik Kata: Mengurai Istilah Agama Menjejaki Akar Ilmu, Cet. I. Tangerang Selatan:Lentera Hati, 2024.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Bayani: Paradigma Bahasa dalam Kosakata Al-Qur’an, Cet. I. Tangerang Selatan:Lentera Hati, 2024.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *