Teologi Islam sejak masa klasik umumnya bersifat teosentris, menekankan aspek ketuhanan secara mutlak dan menempatkan manusia dalam posisi pasif terhadap kehendak Ilahi. Pendekatan ini melahirkan pemikiran teologis yang cenderung normatif, metafisik, dan kurang menjawab persoalan-persoalan sosial-kemanusiaan yang dihadapi umat Islam di era modern. Hassan Hanafi seorang pemikir muslim kontemporer dari Mesir mengusung proyek besar “Turāts wa al-Tajdīd” (Tradisi dan Pembaruan) yang berupaya merekonstruksi teologi Islam agar lebih membumi dan kontekstual.
Hassan Hanafi menawarkan pergeseran paradigma dari teosentrisme menuju antroposentrisme, yakni dari fokus pada Tuhan menuju fokus pada manusia sebagai subjek sejarah dan agen transformasi sosial. Menurut Hanafi, Islam harus dibaca tidak semata sebagai doktrin ilahiyah yang statis, melainkan sebagai proyek humanisasi yang menuntut pembebasan, keadilan, dan keterlibatan aktif umat dalam realitas sosial-politik (Hassan Hanafi, 1988: 59-67). Ini tercermin dalam gagasannya tentang al-lāhūt al-thawrī (teologi revolusioner) yang menempatkan wahyu sebagai sarana perubahan dan pembebasan masyarakat tertindas, bukan semata untuk kontemplasi metafisik (Hassan Hanafi, 1980: 55-60).
Dengan pendekatan hermeneutik dan historis-materialis, Hanafi tidak hanya menafsirkan kembali turāts (warisan intelektual Islam), tetapi juga menantang otoritas lama yang menjadikan teologi sebagai alat status quo. Dalam hal ini, rekonstruksi teologi Hanafi menjadi relevan untuk menjawab kebutuhan umat Islam akan pemikiran yang kontekstual dan transformatif, terutama dalam menghadapi tantangan modernitas, sekularisme, dan ketimpangan sosial di dunia Islam kontemporer.
Sekilas Biografis dan Intlektual Hassan Hanafi
Hassan Hanafi lahir di kota Kairo, Mesir pada tahun 13 Februari 1935, berdarah Maroko. Kakeknya berasal dari Maroko dan neneknya dari kabilah Bani Mur yang diantaranya menurunkan Bani Gamal Abdul Nasser, presiden Mesir kedua. Saat berusia 5 tahun, Hassan Hanafi sudah hafal Al Qur’an (Achmad Baidlowi, 2009: 38). Pendidikannya diawali di pendidikan dasar, tamat tahun 1948, kemudian di Madrasah Tsanawiyah Khalil Agha, Kairo, selesai tahun 1952.
Sejak masa remaja, Hanafi aktif dalam diskusi-diskusi Ikhwanul Muslimin. Selain itu ia juga mempelajari pemikiran-pemikiran sayyid Quthb (1906-1966) tentang keadilan sosial dan keislaman. Hanafi memperoleh gelar sarjana mudanya dari Universitas Kairo, Jurusan Filsafat Fakultas Adab tahun 1956. Kemudian ia melanjutkan ke Universitas Sorbonne Perancis dengan konsentrasi kajian pemikiran Barat modern dan pra-modern.
Selama sekitar satu dekade di Prancis (1956-1966), Hanafi mendalami berbagai tradisi pemikiran Barat, termasuk fenomenologi Edmund Husserl (1859-1938), pemikiran pembaruan Jean Guitton (1901-1999), analisis kesadaran Paul Ricoeur (1913-2005), dan pengaruh Louis Massignon (1883 1962). Masa ini membentuk hubungan ambivalen Hanafi dengan peradaban Barat menghargai aspek rasionalisme dan pencerahan sembari tetap kritis terhadapnya. Hanafi menyelesaikan program Master dan Doktoral pada 1966 (A. Khudori Sholeh, 2004: 65).
Karier akademisnya dimulai pada 1967 sebagai dosen di Universitas Kairo, naik pangkat menjadi Lektor Kepala (1973), dan akhirnya Profesor Filsafat (1980). Hanafi juga mengajar di berbagai universitas internasional sebagai dosen tamu, termasuk di Prancis, Belgia, Amerika Serikat, Kuwait, Maroko, Jepang, dan Uni Emirat Arab. Ia juga menjadi penasihat program di Universitas PBB di Jepang (1985-1987).
Di luar dunia akademis, Hanafi aktif dalam berbagai organisasi, menjabat sebagai Sekretaris Umum Persatuan Masyarakat Filsafat Mesir, anggota Ikatan Penulis Asia-Afrika, dan Wakil Presiden Persatuan Masyarakat Filsafat Arab. Kontribusi pentingnya dalam pemikiran Islam kontemporer termasuk memprakarsai dan memimpin jurnal progresif al-Yasar al-Islami (kiri Islam) pada 1981, yang menjadi wadah penyebaran gagasan-gagasan pembaharuannya.
Konsep Pemikiran Teologi Hassan Hanafi
Hassan Hanafi mengajukan rekonstruksi teologi Islam dengan metode penafsiran metaforis-analogis terhadap konsep-konsep teologi klasik. Transformasi ini bertujuan menggeser paradigma dari teosentris menjadi antroposentris, menjadikan ajaran Islam lebih membumi dan relevan dengan realitas sosial manusia. Pemikiran utamanya berpusat pada reinterpretasi konsep dzat Tuhan, sifat-sifat Tuhan, dan tauhid (Hassan Hanafi, 1988: 59-67).
Dalam pandangan Hanafi, konsep dzat dan sifat Tuhan bukanlah untuk meningkatkan kesucian Tuhan, melainkan memberikan kesadaran eksistensial bagi manusia. Deskripsi Tuhan tentang dzat-Nya memberikan pelajaran tentang kesadaran diri, sementara sifat-sifat-Nya memberikan kesadaran terhadap lingkungan (Hassan Hanafi, 1977: 103-115). Hanafi secara radikal mengubah terminologi teologis yang sakral menjadi materialistis dan antropologis untuk mengalihkan pandangan umat Islam dari metafisika ke realitas empirik (Hassan Hanafi, 1980: 75-89).
Hanafi menafsirkan sifat-sifat Tuhan sebagai pelajaran etis untuk manusia. Sifat wujud ditafsirkan sebagai tuntutan eksistensi manusia; qidam sebagai kesadaran historis; baqa sebagai dorongan untuk tindakan konstruktif dan pelestarian alam; mukhalifatul lil-hawadits dan qiyamuhu bi-nafsih sebagai kemandirian manusia; dan wahdaniyah sebagai kesatuan eksistensial manusia (Hassan Hanafi, 1983: 17-32). Konsep tauhid dimaknai ulang bukan sekadar keesaan Tuhan tetapi kesatuan pribadi manusia yang bebas dari dualisme perilaku serta kesatuan sosial tanpa diskriminasi kelas, ras, dan ekonomi (Hassan Hanafi, 1989: 124-136).
Rekontruksi Pemikiran Teologi Hassan Hanafi
Hassan Hanafi mengembangkan proyek transformasi teologi Islam dari paradigma teosentris menuju antroposentris sebagai upaya menjadikan agama relevan dengan persoalan sosial kontemporer. Rekonstruksi teologis Hanafi tidak dimaksudkan untuk mengesampingkan aspek ketuhanan, melainkan untuk mengaktifkan nilai-nilai keimanan sebagai landasan etik dan motivasi tindakan dalam memperjuangkan keadilan sosial (Hassan Hanafi, 1988: 59-67). Proyek ini didorong oleh dua alasan: Kebutuhan akan kerangka teologis yang jelas di tengah pertarungan ideologi global, dan urgensi mengembangkan teologi yang bersifat praktis-transformatif, bukan sekadar teoretis (Hassan Hanafi, 1980: 13-28).
Untuk mengatasi keterbatasan teologi klasik yang terpisah dari realitas sosial, Hanafi menawarkan dua pendekatan analitis: Analisis bahasa dan analisis realitas. Melalui analisis bahasa, ia melakukan reinterpretasi terminologi teologis untuk mengungkap dimensi empiris dan historisnya, sementara melalui analisis realitas, ia mengkaji konteks sosio-historis kemunculan teologi dan pengaruhnya terhadap kehidupan Masyarakat (Hassan Hanafi, 1989: 76-93). Dalam mengoperasionalkan pendekatan tersebut, Hanafi menggunakan kombinasi tiga metode berpikir: Dialektika, fenomenologi, dan hermeneutika (Hassan Hanafi, 1991: 84-97).
Metode dialektika digunakan untuk mengontekstualisasikan doktrin teologis dengan realitas konkret, sebagaimana ia menganalogikan upayanya dengan apa yang dilakukan Marx terhadap Hegel “membalikkan” teologi agar “berjalan di kakinya” (Hassan Hanafi, 1989: 123-144). Meski terinspirasi paradigma dialektis, Hanafi tetap kritis terhadap materialisme dialektis Marx yang dinilainya gagal memberi arahan kemanusiaan yang tepat (Hassan Hanafi, 1981: 205-217). Sementara itu, pendekatan fenomenologis diterapkan untuk memahami realitas Islam secara obyektif dan otentik, bebas dari distorsi perspektif orientalisme (Hassan Hanafi, 1988: 132-146). Metode ketiga, hermeneutika digunakan untuk menjembatani teks wahyu dengan konteks realitas sosial, mengubah logos menjadi praksis, dan memindahkan fokus dari Tuhan kepada manusia sebagai agen perubahan Sejarah (Hasssan Hanafi, 1996: 195-211).
Melalui rekonstruksi metodologis ini, Hanafi berupaya menjadikan teologi Islam tidak sekadar dogma keagamaan yang statis, melainkan ilmu perjuangan sosial yang dinamis, menggeser paradigma dari teks menuju konteks, dari determinisme takdir menuju kebebasan kehendak, dan dari kontemplasi teoretis menuju aksi transformatif.
Dampak dan Kontroversi Pemikiran Hassan Hanafi
Pemikiran Hanafi walaupun kontroversial, bahkan sampai menyeretnya ke dalam penjara, namun telah menginspirasi banyak umat muslim. Pemikirannya tentang al-Yasar al-Islami tidak menghilang begitu saja. Pemikiran Hanafi membuka persepsi banyak orang, bahwa umat Islam bisa menandingi Barat. Peradaban Barat yang penuh dengan doktrin imperialisme, zionisme, dan kapitalisme harus dilawan dengan pemikiran-pemikiran yang progresif, salah satunya adalah rekonstruksi Teologi antroposentris.
Terlepas apakah pemikiran besar Hanafi akan bisa direalisasikan atau tidak, jelas gagasan Hanafi adalah langkah berani dan maju dalam upaya untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam mengejar ketertinggalannya di hadapan Barat. Walaupun, ada anggapan miring yang menyebutkan bahwa rekonstruksi teologi yang dilakukan oleh Hanafi dengan cara mengubah term-term teologi yang bersifat spiritual-religius menjadi sekadar material duniawi.
Proyek antroposentrisme teologis Hanafi telah memantik diskursus intelektual yang luas di berbagai belahan dunia Islam. Di Indonesia sendiri, pemikiran Hanafi telah diterjemahkan dan dikaji secara intensif oleh berbagai akademisi dan aktivis Muslim progresif (A. Khudori Sholeh, 2004: 41).
Catatan Akhir
Hassan Hanafi merupakan pemikir Muslim kontemporer dari Mesir yang melakukan rekonstruksi mendasar terhadap pemikiran teologis Islam. Melalui proyek besarnya “Turāts wa al-Tajdīd”, ia berupaya menggeser paradigma teologi Islam dari teosentrisme menuju antroposentrisme. Transformasi ini bertujuan menjadikan ajaran Islam lebih relevan dengan persoalan sosial-kemanusiaan di era modern.
Rekonstruksi teologi Hanafi tidak bermaksud meniadakan aspek ketuhanan, melainkan mengaktifkan nilai-nilai keimanan sebagai landasan etik dan motivasi tindakan transformatif. Ia menafsirkan konsep-konsep teologis klasik seperti dzat Tuhan, sifat-sifat Tuhan, dan tauhid secara metaforis-analogis untuk memberikan kesadaran eksistensial dan tanggung jawab sosial bagi manusia.
Pendekatan metodologis Hanafi mengombinasikan tiga metode berpikir: Dialektika, fenomenologi, dan hermeneutika. Melalui analisis bahasa dan realitas, ia berupaya mengungkap dimensi empiris dan historis dari terminologi teologis, mengkaji konteks sosio-historis kemunculan teologi, dan menghubungkan teks wahyu dengan konteks realitas sosial.
Dengan demikian, teologi Islam dalam pemikiran Hanafi tidak lagi bersifat normatif-metafisik yang terlepas dari realitas, melainkan menjadi ilmu perjuangan sosial yang memosisikan manusia sebagai subjek sejarah dan agen transformasi. Upaya ini menjadi sangat relevan untuk menjawab tantangan modernitas, sekularisme, dan ketimpangan sosial di dunia Islam kontemporer.
Referensi
Baidlowi, Achmad. “Tafsir Tematik Menurut Hassan Hanafi.” Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 10, No. 1, Januari 2009. Yogyakarta: Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.
Hanafi, Hassan. Al-Din wa al-Thawrah fi Misr 1952-1981. Kairo: Maktabah Madbuli, 1989.
Hanafi, Hassan. “Al-Yasar al-Islami wa al-Wahdat al-Wataniyyah.” Dalam Al-Din wa al-Thawrah fi Misr. Jilid 8. Kairo: Maktabah Madbuli, 1989.
Hanafi, Hassan. Al-Turāts wa al-Tajdīd: Mawqifunā min al-Turāts. Beirut: al-Markaz al-‘Arabī li al-Buḥūth wa al-Nashr, 1980.
Hanafi, Hassan. Dirasat Falsafiyyah. Kairo: Maktabah al-Anglo al-Misriyyah, 1988.
Hanafi, Hassan. Dirasat Islamiyyah. Kairo: Maktabah al-Anglo al-Misriyyah, 1981.
Hanafi, Hassan. “Method of Thematic Interpretation of the Quran.” Dalam Stefan Wild (ed.), The Quran as Text. Leiden: Brill, 1996.
Hanafi, Hassan. Min al-‘Aqidah ila al-Thawrah. Kairo: Maktabah Madbuli, 1988.
Hanafi, Hassan. Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab. Kairo: Al-Dar al-Fanniyyah, 1991.
Hanafi, Hassan. Religious Dialogue and Revolution: Essays on Judaism, Christianity, and Islam. Kairo: Anglo-Egyptian Bookshop, 1977.
Hanafi, Hassan. “Ta’wil al-Zahiriyyat.” Dalam Qadaya Mu’asirah fi Fikrina al-Mu’asir. Beirut: Dar al-Tanwir, 1983.
Sholeh, A. Khudori. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.





