Ketika Julian Huxley pertama kali memperkenalkan istilah “transhumanisme” pada tahun 1957, ia membayangkan masa depan di mana “spesies manusia dapat melampaui dirinya sendiri, bukan hanya secara sporadis, melainkan dalam totalitasnya, sebagai kemanusiaan” (Bostrom, 2005, hlm. 17). Visi ini, yang awalnya tampak seperti fiksi ilmiah, kini telah berkembang menjadi gerakan intelektual yang serius dengan implikasi mendalam bagi pemahaman kita tentang hakikat manusia. Transhumanisme meyakini bahwa melalui kemajuan bioteknologi, nanoteknologi, kecerdasan buatan, dan rekayasa genetik, manusia dapat dan seharusnya mengatasi keterbatasan biologisnya untuk mencapai tahap eksistensi yang lebih unggul.
Nick Bostrom, seorang filsuf dari Universitas Oxford dan pendiri Institute for Future of Humanity, telah menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh dalam gerakan transhumanis. Dalam karyanya yang berjudul “A History of Transhumanist Thought,” Bostrom menjelaskan bagaimana pasca teori evolusi Darwin, kita dapat “memandang versi kemanusiaan saat ini bukan sebagai titik akhir evolusi melainkan sebagai fase awal” (Bostrom, 2005, hlm. 3).
Pandangan revolusioner ini membuka pintu bagi aspirasi-aspirasi ambisius transhumanisme: perpanjangan umur radikal hingga keabadian, peningkatan kapasitas kognitif melampaui batas alamiah, pengunggahan pikiran ke substrat digital, dan penciptaan kecerdasan super yang melampaui kemampuan otak manusia.
Menghadapi gelombang pemikiran transhumanis ini, tradisi Islam dengan sumber utamanya Al-Qur’an menawarkan perspektif yang patut dipertimbangkan. Artikel ini mengajak kita menjelajahi dialog antara visi transhumanis dan pemahaman Al-Qur’an tentang hakikat manusia. Melalui pendekatan tafsir tematik terhadap ayat-ayat kunci seperti penciptaan manusia dalam bentuk terbaik (At-Tin 95:4), misteri ruh (Al-Isra’ 17:85), dan konsep kekhalifahan (Al-Baqarah 2:30), kita akan menemukan kerangka evaluatif yang dapat memperkaya diskusi global tentang masa depan kemanusiaan di era teknologi
Visi dan Aspirasi Transhumanisme
Untuk memahami transhumanisme dengan lebih mendalam, kita perlu mengenal pemikiran Nick Bostrom sebagai salah satu arsitek intelektual utama gerakan ini. Bostrom, yang juga mendirikan World Transhumanist Association (sekarang Humanity+) pada tahun 1998 bersama David Pearce, telah mengembangkan kerangka filosofis yang melandasi aspirasi transhumanis (Ostberg, 2025). Ia berpendapat bahwa kita berada di ambang revolusi teknologi yang akan memungkinkan manusia untuk mengatasi batasan-batasan biologis yang selama ini dianggap tak terhindarkan.
Dalam pandangan Bostrom, perbedaan antar manusia yang saat ini terasa begitu besar sebenarnya sangatlah kecil dalam skala kemungkinan yang lebih luas. Ia menulis: “Jika kita membayangkan sebuah ruang di mana semua pikiran yang mungkin dapat direpresentasikan, kita harus membayangkan semua pikiran manusia sebagai sebuah klaster kecil dan cukup rapat dalam ruang itu” (Bostrom, 2012, hlm. 3). Artinya, transhumanisme melihat potensial pengembangan manusia jauh melampaui variasi yang ada saat ini.
Aspirasi transhumanis mencakup beberapa domain utama. Pertama, perpanjangan umur radikal hingga keabadian, yang diperjuangkan oleh berbagai lembaga penelitian anti-penuaan. Kedua, peningkatan kognitif melalui integrasi teknologi dengan otak manusia, sebagaimana dipelopori oleh perusahaan-perusahaan yang mengembangkan antarmuka otak-komputer. Ketiga, pengunggahan kesadaran (mind uploading) ke platform digital, yang dipopulerkan oleh para futuris teknologi yang menggambarkan kondisi manusia saat ini sebagai “versi 1.0” yang memerlukan peningkatan (Özyılmaz, 2025, hlm. 4).
Konsep yang sangat penting dalam pemikiran Bostrom adalah “tesis ortogonalitas” yang menyatakan bahwa “kecerdasan dan tujuan akhir adalah dua sumbu ortogonal yang memungkinkan agen-agen bervariasi secara bebas” (Bostrom, 2012, hlm. 3). Dengan kata lain, kecerdasan super yang mungkin diciptakan dalam masa depan transhumanis tidak serta merta akan memiliki nilai-nilai atau tujuan yang selaras dengan kebaikan manusia. Implikasi dari tesis ini berpotensi menimbulkan masalah etis yang serius, karena pengembangan kecerdasan tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan bisa menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan.
Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an: Kesempurnaan dan Potensi
Al-Qur`an memberikan pandangan yang mendalam tentang hakikat manusia. Dalam Surah At-Tin 95:4, Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kesempurnaan fisik, tetapi juga mencakup dimensi spiritual, intelektual, dan moral manusia. Meskipun tidak tepat untuk menafsirkan ayat ini sebagai upaya untuk menentang Islam dalam memajukan umat manusia, ayat ini tentu saja merupakan indikasi betapa berbedanya kedua pandangan dunia tersebut dalam hal cara mereka memandang ciptaan dan status manusia (Mobayed, 2017).
Al-Maraghi dalam tafsirnya memperluas makna “ahsani taqwim” (bentuk terbaik) dengan menjelaskan bahwa manusia “dikhususkan dengan akal dan kemampuan membedakan, serta kesediaan untuk menerima ilmu dan pengetahuan, dan kemampuan menemukan berbagai cara yang memungkinkannya memiliki kekuasaan atas semua makhluk” (Al-Marâghî, 1431, hlm. 195). Keistimewaan ini menempatkan manusia pada posisi unik dalam hierarki ciptaan.
Menghadirkan perspektif yang lebih dinamis, Rasyid Ridha menyoroti potensi pengembangan manusia yang hampir tidak terbatas: “Dengan kekuatan ini, manusia memiliki potensi yang tidak terbatas, keinginan yang tidak terbatas, pengetahuan yang tidak terbatas, dan tindakan yang tidak terbatas. Meskipun individunya lemah, secara kolektif ia dapat bertindak dalam alam semesta tanpa batas dengan izin Allah.”(Rida, 1990, hlm. 217). Pandangan Rasyid Ridha ini menawarkan titik temu yang menarik dengan aspirasi transhumanis. Keduanya mengakui potensi manusia untuk terus berkembang dan mengubah dunia di sekitarnya. Namun, perbedaan mendasar terletak pada konteks dan orientasi pengembangan tersebut. Rasyid Ridha menempatkan pengembangan potensi manusia dalam kerangka “dengan izin Allah” dan tanggung jawab kekhalifahan, sementara transhumanisme cenderung melihatnya sebagai proyek otonomi manusia tanpa batas.
Misteri Ruh dan Batasan Pengetahuan Manusia
Salah satu tantangan paling mendasar bagi aspirasi transhumanis, khususnya ide pengunggahan kesadaran ke platform digital, adalah masalah hakikat kesadaran dan ruh manusia. Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra` 17:85 “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Ayat ini menegaskan bahwa ada dimensi eksistensi manusia yang melampaui pemahaman rasional kita. Menurut Ar-Razi, ruh adalah “wujud yang berbeda dari benda-benda dan aksiden-aksiden…ia adalah substansi sederhana yang tidak terbentuk kecuali dengan perintah Allah.” Lebih jauh, ia berpendapat bahwa “ketidaktahuan tentang hakikat sesuatu tidak berarti penyangkalan terhadap keberadaannya,”(Al-Râzi, 1420, hlm. 392) sebuah peringatan penting bagi pendekatan reduksionis terhadap kesadaran manusia.
Menariknya, Bostrom sendiri tampaknya mengakui adanya kompleksitas dalam masalah kesadaran. Dalam tulisannya tentang kecerdasan buatan super, ia mencatat bahwa “kecerdasan buatan dapat jauh kurang manusiawi dalam motivasinya dibandingkan dengan makhluk luar angkasa (yang) muncul melalui proses evolusi dan karenanya dapat diharapkan memiliki jenis motivasi yang khas dari makhluk yang berevolusi” (Bostrom, 2012, hlm. 2). Pengakuan ini menunjukkan kesadaran akan kesenjangan antara kecerdasan artifisial dan pengalaman kesadaran yang muncul melalui proses biologis.
Kesenjangan ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika kita tidak sepenuhnya memahami hakikat kesadaran dan ruh kita sendiri, bagaimana kita bisa yakin bahwa kesadaran itu dapat dipindahkan ke medium digital atau substrat non-biologis lainnya? Para kritikus transhumanisme sering menunjukkan bahwa pengunggahan pikiran mungkin hanya akan menghasilkan salinan dari pola-pola neural kita, bukan perpindahan sejati dari “aku” yang mengalami.
Kekhalifahan dan Tanggung Jawab Manusia
Al-Qur’an memposisikan manusia sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah 2:30. Konsep kekhalifahan ini memberikan dimensi teleologis yang kaya pada eksistensi manusia, manusia tidak hanya ada, tetapi ada untuk tujuan tertentu dalam rencana kosmik Sang Pencipta.
Rasyid Ridha menjelaskan bahwa keheranan para malaikat ketika Allah mengumumkan penciptaan khalifah di bumi muncul dari “pemahaman mereka tentang makna khalifah dan apa yang diimplikasikannya tentang pengetahuan tidak terbatas dan kehendak mutlak”(Rida, 1990, hlm. 217). Ini menunjukkan bahwa konsep kekhalifahan bukan sekadar status, melainkan peran aktif yang melibatkan pengembangan potensi kognitif dan kreatif manusia yang luar biasa.
Lebih jauh, Rasyid Ridha mengamati bagaimana peran kekhalifahan ini telah termanifestasi dalam sejarah manusia: “Efek-efek manusia dalam kekhalifahan ini telah tampak di bumi, dan kita menyaksikan keajaiban ciptaannya dalam mineral dan tumbuhan, di darat dan laut dan udara. Ia berinovasi, menemukan, mengeksplorasi… hingga ia telah mengubah bentuk bumi, menjadikan yang kasar menjadi halus, yang tandus menjadi subur” (Rida, 1990, hlm. 217). Bagi para pemikir Muslim kontemporer, konsep kekhalifahan ini memiliki implikasi penting bagi pemahaman tentang tubuh dan identitas manusia. Dalam tradisi hukum Islam, tubuh manusia dipandang sebagai amanah (titipan) dari Allah, bukan milik absolut manusia (Kurnaz, 2024, hlm. 9). Dengan kata lain, manusia bukanlah pemilik mutlak atas tubuhnya sendiri, melainkan pemegang amanah yang bertanggung jawab atas apa yang dititipkan kepadanya.
Pandangan ini menciptakan tegangan dengan konsep “kebebasan morfologis” dalam transhumanisme, yaitu gagasan bahwa setiap individu memiliki hak mutlak untuk mengubah tubuhnya sesuai keinginannya. Jika tubuh adalah amanah, maka modifikasinya bukan sekadar masalah preferensi pribadi, tetapi melibatkan pertimbangan tanggung jawab terhadap Pemberi amanah.
Namun, ini tidak berarti bahwa Islam menolak semua bentuk peningkatan teknologis. Pandangan Rasyid Ridha tentang kemampuan transformatif manusia menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengubah dan meningkatkan kondisi adalah bagian dari peran kekhalifahan. Para pemikir Muslim kontemporer menggarisbawahi bahwa yang penting adalah batasan-batasan etis dan tujuan transformasi tersebut, yakni apakah untuk memenuhi tanggung jawab kekhalifahan atau sekadar memuaskan hasrat individual tanpa batas?
Dialog Konstruktif: Titik Temu dan Perbedaan
Meskipun terdapat perbedaan mendasar antara pandangan dunia transhumanis dan perspektif Al-Qur’an, ada beberapa area di mana dialog konstruktif dapat berlangsung. Bostrom sendiri mengakui adanya titik temu potensial: “Ada kesamaan lain antara biokonservatif dan transhumanis. Keduanya sepakat bahwa kita menghadapi prospek realistis bahwa teknologi dapat digunakan untuk mengubah kondisi manusia secara substansial di abad ini” (Bostrom, 2005, hlm. 23).
Salah satu titik temu yang menarik adalah pengakuan bersama tentang potensi manusia yang belum sepenuhnya terealisasi. Baik Al-Qur’an maupun transhumanisme melihat manusia sebagai makhluk dengan kapasitas luar biasa untuk berkembang dan bertransformasi. Perbedaannya terletak pada arah dan batasan transformasi tersebut, apakah mengikuti desain dan tujuan ilahi, atau melampauinya menuju horizon yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Titik temu lain adalah keprihatinan bersama tentang penderitaan manusia. Meskipun berangkat dari pemahaman metafisik yang berbeda, baik tradisi Islam maupun transhumanisme berbagi komitmen untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Teknologi-teknologi yang bertujuan menyembuhkan penyakit, mengurangi rasa sakit, dan memperbaiki kondisi hidup dapat diapresiasi dari kedua perspektif, selama tetap menghormati martabat manusia sebagai ciptaan Allah.
Perbedaan fundamental terletak pada pandangan tentang batasan dan tujuan akhir eksistensi manusia. Transhumanisme, dengan visi posthuman-nya, menantang batasan-batasan yang dianggap oleh tradisi keagamaan sebagai bagian intrinsik dari kondisi manusia, seperti kefanaan dan keterbatasan kognitif. Para kritikus dari perspektif Islam melihat upaya transhumanis untuk melampaui keterbatasan ini sebagai reduksi eksistensi manusia menjadi sekadar algoritma yang dapat direkayasa (Bouzenita, 2018, hlm. 225).
Menariknya, kritik terhadap visi transhumanis tidak hanya muncul dari perspektif keagamaan. Bahkan dalam tradisi filosofis non-religius, terdapat kritik terhadap aspirasi transhumanis untuk melampaui tubuh. Para pemikir dalam tradisi Nietzschean, misalnya, membela pemahaman holistik tentang tubuh, di mana jiwa dan roh tidak terpisah dari pengalaman jasmaniah (Merlo, 2019, hlm. 54–55). Kritik ini mengingatkan bahwa kesadaran manusia mungkin tidak dapat dipisahkan dari pengalaman tubuh.
Penutup: Memperkaya Visi Masa Depan Kemanusiaan
Melalui dialog antara perspektif Al-Qur’an dan transhumanisme, kita menemukan bahwa keduanya menawarkan wawasan berharga tentang hakikat dan potensi manusia. Alih-alih saling meniadakan, kedua perspektif ini dapat saling memperkaya dan mengimbangi. Transhumanisme menantang kita untuk berpikir melampaui batasan-batasan yang selama ini kita anggap tak terhindarkan, membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi pengembangan potensi manusia. Namun, tanpa dimensi spiritual dan moral yang ditawarkan oleh perspektif religius seperti Islam, visi ini berisiko terjebak dalam materialisme reduktif yang menyederhanakan kompleksitas manusia.
Di sisi lain, perspektif Al-Qur`an mengingatkan kita bahwa manusia bukanlah sekadar mesin biologis yang dapat direkayasa sesuka hati, melainkan makhluk dengan dimensi spiritual dan tujuan transenden. Namun, tanpa keterbukaan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perspektif ini berisiko menjadi kaku dan tidak responsif terhadap tantangan dan peluang zaman.
Keseimbangan antara pengakuan terhadap potensi transformatif manusia dan penghormatan terhadap dimensi spiritual dan moral kemanusiaan dapat menjadi landasan untuk pengembangan teknologi yang benar-benar melayani kebaikan manusia secara utuh. Sebagaimana diakui Rasyid Ridha, manusia memiliki kapasitas luar biasa untuk mengubah dunia di sekitarnya. Namun kapasitas ini mencapai puncaknya bukan ketika manusia memposisikan diri sebagai pencipta otonom, melainkan sebagai khalifah yang bertanggung jawab.
Referensi
Al-Marâghî, A. bin M. (1431). Tafsîr al-Marâghî (Vol. 30). Maktabah wa Maṭba‘ah Mustafâ al-Bâbî al-Halabî wa Awlâduh.
Al-Râzi, F. al-Dîn. (1420). Mafâtîẖ Ghayb (Tafsîr Kabîr) (Vol. 21). Dâr Iẖyâ’ al-Turâts al-’Arabi.
Bostrom, N. (2005). A History of Transhumanist Thought. Journal of Evolution and Technology, 14(1), 1–25.
Bostrom, N. (2012). The Superintelligent Will: Motivation and Instrumental Rationality in Advanced Artificial Agents. Minds and Machines, 22(2), 71–85. https://doi.org/10.1007/s11023-012-9281-3
Bouzenita, A. I. (2018). “The Most Dangerous Idea?” Islamic Deliberations on Transhumanism. Darulfunun Ilahiyat, 29(2), Article 2. https://doi.org/10.26650/di.2018.29.2.0031
Kurnaz, S. (2024). Transhumanism as a Challenge for Islamic Law. Journal of Ethics and Emerging Technologies, 34(2), Article 2. https://doi.org/10.55613/jeet.v34i2.158
Merlo, J. (2019). Zarathustra and Transhumanism: Man is Something to Be Overcome. Scientia et Fides, 7(2), Article 2.
Mobayed, T. (2017). Immortality on Earth? Transhumanism through Islamic Lenses. Yaqeen Institute for Islamic Research. https://yaqeeninstitute.org/read/paper/immortality-on-earth-transhumanism-through-islamic-lenses
Ostberg, R. (2025, Maret 19). Transhumanism | Definition, History, Ethics, Philosophy, & Facts | Britannica. https://www.britannica.com/topic/transhumanism
Özyılmaz, E. (2025). Transhumanism and Qur’an-Centered Human Conception: A Contemporary Approach. International Journal of Emerging Multidisciplinaries: Social Science, 4(1), Article 1. https://doi.org/10.54938/ijemdss.2025.04.1.394
Rida, M. R. (1990). Tafsir Al-Manar (Vol. 1). Al-Hay’ah Al-Misriyyah Al-’Ammah li Al-Kitab.





