Suara, Tubuh, dan Komunitas: Membaca Praksis Al-Qur’an dalam Tiga Karya Sarjana Barat

Salah satu diskursus yang banyak diminati oleh para sarjana Barat dalam kajian al-Qur’an era kontemporer adalah pendekatan deskriptif sosio-antropologis (Ichwan, 2013: 108). Pendekatan ini dilakukan dengan menjadikan fokus kajian ke ranah penerimaan atau resepsi umat Islam terhadap al-Qur’an. Diantara sarjana Barat yang bergelut di bidang ini, terdapat tiga tokoh dengan masing-masing karyanya yang akan menjadi objek material dalam tulisan ini.

Ketiganya adalah Anne Rasmussen (Women, the Recited Qur’an, and Islamic Music in Indonesia), Anna M Gade (Perfection Makes Practice: Learning, Emotion, and Recited Qur’an in Indonesia), dan Rudolph T Ware (The Walking Qur’an: Islamic Education, Embodied Knowledge, and History in West Africa). Tulisan ini hendak mereview tiga buku tersebut dan membandingkannya satu sama lain.

Bacaan Lainnya

Pertama, buku Women, the Recited Qur’an, and Islamic Music in Indonesia karya Anne K. Rasmussen, seorang pakar di bidang etnomusikologi dan musik Timur Tengah. Karya ini berisi pengamatannya terhadap praktik musik religi di Indonesia. Rasmussen melaksanakan riset ini selama tiga tahun (1996-1999) sebagai peneliti Fullbright. Sebagaimana judulnya, buku ini secara mendalam mengulas bagaimana perempuan Muslim di Indonesia berkontribusi dan mengambil peran aktif dalam dunia seni suara Islam.

Ada dua poin utama dalam kajiannya, yaitu tradisi tilawah al-Qur’an dan nilai ritual dari aneka musik bernuansa Islami seperti qasidah, gambus, dan rebana. Ketertarikan Rasmussen untuk menjajaki kemungkinan melakukan kajian tentang tradisi tilawah al-Qur’an di Indonesia muncul setelah berkenalan dengan terjemahan al-Qur’an bahasa Inggris, Zafrullah Khan (1991), kamus Indonesia-Inggris, John M. Echols dan Hassan Shadily (1994) dan buku Kristina Nelson, The Art of Reciting the Qur’an (1986). Karya yang terakhir, ia jadikan sebagai panutan guna melihat perbandingan antara tradisi di tilawah Mesir dengan di Indonesia (Rasmussen, 2010: xiii).

Rasmussen mengadopsi pendekatan etnografi dan etnomusikologi dengan positioning bukan hanya sebagai pengamat dari luar, akan tetapi ikut dalam komunitas yang diteliti. Ia menempatkan dirinya sebagai peneliti juga sekaligus menjadi bagian dari jaringan sosial dan musikal komunitas Muslim. Hal ini terlihat dari keterlibatannya di pelbagai pesantren, pertunjukan tilawah dan musik Islam, dan pusat-pusat pelatihan Qur’an misalnya Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) di Jakarta. Dalam penelitiannya, ia mengamati para qari maupun qoriah seperti Maria Ulfah menjadi sosok sentral dalam perkembangan seni tilawah di Indonesia.

Buku ini berasumsi bahwa suara pembacaan al-Qur’an memuat makna spiritual yang sangat kuat, dan bahwa perempuan memiliki ruang menjadi pemain aktif dalam mengekspresikan ajaran agama. Rasmussen mengatakan: “Perempuan jelas merupakan pemain di panggung seni kreatif dan pertunjukan Islam. Aktivitas mereka sebagai pembaca al-Qur’an, terlebih lagi dalam budaya Qur’an yang hidup di Indonesia, memang merupakan ciri khas wilayah ini, di mana firman Allah diwujudkan dan diberlakukan oleh para perempuan” (Rasmussen, 2010: 5).

Pernyataan ini secara eksplisit menempatkan posisi perempuan sama dengan laki-laki, bukan manusia kelas dua. Selain itu, argumen tersebut mengasumsikan bahwa dalam hal urusan seni dan musik, Indonesia sangat beragam dan terbuka terhadap budaya lokal.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak ada dikotomi antara tilawah dan musik Islam, justru keduanya bagian dari spektrum praktik keagamaan yang saling melengkapi. Ia juga menyoroti festival MTQ bukan hanya sekadar ajang perlombaan, tetapi sebagai ekpresi nasionalisme keagamaan yang menggabungkan seni, agama dan negara. Namun, yang urgen dari buku ini adalah perempuan Muslim Indonesia memainkan peran penting dalam membentuk Islam yang moderat dan terbuka terhadap budaya.

Selanjutnya adalah buku Perfection Makes Practice: Learning, Emotion, and Recited Qur’an in Indonesia karya Anna M Gade. Buku ini merupakan sebuah studi mendalam mengenai praktek membaca dan menghafal al-Qur’an di Indonesia, khususnya di Makassar dan Jakarta di era 1990-an. Gade memulai kajiannya dengan melihat satu fenomena bahwa masyarakat Indonesia mempunyai minat belajar al-Qur’an yang sangat tinggi.

Minat tersebut ditunjukkan melalui antusiasme mereka dalam praktik pembacaan dan penghafalan al-Qur’an yang tidak melulu terbatas pada lembaga tradisional seperti masjid dan pesantren, tetapi juga merambah ke media elektronik hingga kompetisi nasional. Melalui fenomena ini, ia menyoroti bagaimana praktik pembacaan dan penghafalan al-Qur’an bukan hanya sekadar kegiatan ritual belaka, tetapi juga proses afektif, pedagogis, dan sosial yang menempa identitas keagamaan.

Sebagai seorang yang concern di bidang antropologi, Gade melihatnya dengan sudut pandang etnografis. Hal ini ditunjukkan dengan ia ikut terlibat dan berpartisipasi langsung terhadap praktik pembelajaran dan penghafalan al-Qur’an umat Islam di Indonesia. Ia melakukan pengamatan, wawancara, dan turut andil dalam kegiatan pembelajaran al-Qur’an, kompetisi MTQ, serta berinteraksi dengan guru, peserta, dan komunitas muslim.

Gade berasumsi bahwa pembelajaran membaca dan menghafal al-Qur’an di Indonesia adalah praktik yang berkaitan erat dengan aspek emosional, makna, dan motivasi. Praktik inilah yang menempa kaum muslim memaknai kesalehan, pendidikan, dan ekspresi keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk membaca fenomena keagamaan di Indonesia, Gade menyebut penggunaan teori Clliford Geertz mengenai konsep agama, yaitu (1) suatu sistem simbol yang berfungsi untuk (2) membangun suasana hati dan motivasi (moods and motivations) yang kuat, meresap, dan tahan lama dalam diri seseorang dengan (3) merumuskan konsepsi-konsepsi tentang tatanan umum eksistensi dan (4) membalut konsepsi-konsepsi ini dengan aura faktualitas sehingga (5) suasana hati dan motivasi tampak realitas secara unik (Gade, 2004: 51). Melalui teori inilah, Gade mengungkap makna dibalik simbol-simbol dari praktik MTQ, aneka bacaan al-Qur’an, dan model pembelajaran al-Qur’an, sarat dengan moods and motivations, yang mendorong seseorang tetap melakukan dan  melestarikannya.

Sedari awal hasil penelitian Gade dapat terbaca melalui judul bukunya Perfection Makes Practice, yang secara sederhana dapat diartikan bahwa kesempurnaanlah yang melahirkan latihan. Menurutnya, motivasi utama belajar al-Qur’an di Indonesia adalah keinginan untuk mencapai “perfection” yakni bacaan al-Qur’an yang sempurna (tajwidnya benar, bacaan fasih, dan nada atau lagu yang merdu dan indah).

Motivasi ini justru menjadi pemantik utama lahirnya latihan dan proses pembelajaran yang berkelanjutan. Selain itu, Gade juga mengemukakan bahwa kompetisi MTQ dan model pembelajaran di Indonesia telah membentuk suatu pengalaman tersendiri dan berpengaruh pada pelatih, kontestan, dan juri dan sebagainya (Gade, 2004: 220). Dalam buku ini, Gade mampu menjelaskan dinamika hubungan antara belajar, emosi, dan penghayatan dalam tradisi al-Qur’an di Indonesia.

Terakhir, karya Rudolph T Ware yang bertajuk The Walking Qur’an: Islamic Education, Embodied Knowledge, and History in West Africa. Buku ini menelusuri sejarah dan praktik pendidikan Islam di Afria Barat. Ware berfokus pada pembelajaran al-Qur’an tradisional dengan penekanan pada pengetahuan yang diwujudkan secara fisik yang dikenal dengan istilah embodied knowledge.

Meskipun model pembelajaran seperti ini mendapatkan kritik dan narasi negatif dari dunia Barat karena dianggap telah usang, tidak relevan dengan zaman, dan mengandung unsur kekerasan. Namun, Ware tertarik dan takjub terhadap murid-murid di sekolah al-Qur’an tersebut yang menceritakan pengalaman mereka bukan sebagai trauma, tetapi sebagai kebanggaan (Ware, 2014: xv)

Buku ini ditulis dari sudut pandang antropologi dengan pendekatan sejarah, dan dekolonial. Hal ini tampak dari bagaimana Ware memandang sekolah al-Qur’an di Afrika Barat bukan sekadar institusi agama, tetapi sebagai praktik budaya dan sosial yang membentuk identitas dan tubuh Muslim. Adapun pendekatan sejarah dapat terlihat melalui uraiannya mengenai jejak sejarah pendidikan Islam di Afrika Barat dari abad ke-11 hingga kolonial dan pascakolonial (Ware, 2014: 85-215).

Sementara pendekatan dekolonial tampak dari posisi Ware yang mengkritik dan menolak narasi kolonial dan pendidikan modern Barat yang mendeskripsikan pendidikan al-Qur’an tradisional sebagai tempat kebodohan, primitif, kejam dan tidak mendidik. Justru sebaliknya, Ware menimpali bahwa tradisi pendidikan Islam memiliki epistemologi tersendiri, sehingga hal tersebut masuk akal dalam kerangka dunia Islam dan tidak bisa dihakimi dengan penilaian Barat.

Ware berasumsi bahwa dalam tradisi Islam di Afrika Barat ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi diwujudkan dalam tubuh dan perilaku melalui sikap disiplin, pengorbanan, bahkan hukuman fisik. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa anggapan kolonial dan pendidikan modern Barat terhadap sekolah al-Qur’an salah kaprah karena mengabaikan nilai-nilai internal, tujuan spiritual, dan epistemologi pendidikan Islam lokal. Sehingga tradisi Islam lokal di Afrika Barat sah dan tidak lebih rendah dari Arab atau Barat.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pendidikan Islam tradisional di Afrika Barat tidak hanya mendidik murid untuk menghafal al-Qur’an, namun juga membentuk tubuh, akhlak dan jiwa mereka agar menjadi perwujudan dari nilai-nilai Qur’ani. Tindakan-tindakan seperti menulis ayat di alwah (papan), menggerakkan tubuh di kala hafalan, sampai meminum air cucian tinta ayat, semuanya bertujuan untuk menginternalisasi pengetahuan. Menurutnya, sekolah al-Qur’an yang dikritik oleh dunia Barat, ternyata merupakan sarana pembentukan karakter, dimana tujuan akhirnya adalah menjadikan muridnya sebagai The Walking Qur’an.

Ketiga buku ini mencoba memberikan pemahaman tentang living Qur’an melalui suara, tubuh, dan komunitas dalam konteks budaya yang berlainan. Meski berpijak dari latar geografis yang berbeda, baik Rasmussen, Gade, maupun Ware sama-sama menegaskan bahwa Islam itu bukan hanya tentang aspek normatif, tetapi juga praktik hidup yang diejawantahkan melalui tubuh, suara, dan komunitas yang sangat erat dengan praktik sehari-hari. Ketiganya bisa dikategorikan menggunakan sudut pandang etnografi tetapi dengan fokus yang berbeda, yakni Rasmussen dengan musik dan gender, Gade fokus pada praktik dan piety, serta Ware yang menyoroti tubuh dan perlawanan atas kolonalisasi pengetahuan.

Dengan pendekatan etnomusikologi dan kajian gender, Rasmussen mengungkap bagaimana perempuan Muslim Indonesia mengekspresikan identitas keagamaan dan kesalehan melalui sarana seni suara dan musik religi seperti tilawah, qasidah, gambus, dan rebana. Selain itu, ia juga menyoroti bahwa suara bukan semata-mata media seni saja, tetapi juga menjadi panggung bagi perempuan Muslim di Indonesia untuk berkontribusi dan berperan penting sebagai agen dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang moderat dan terbuka terhadap budaya lokal.

Sedangkan Gade dengan pendekatan antropologis mengangkat dunia pendidikan al-Qur’an di Indonesia. Melalui konsep mood and motivation, ia memaparkan bahwa motivasi untuk meraih derajat perfection, melahirkan latihan dan disiplin spiritual secara kontinyu hingga menjadi pemantik utama pembentuk kesalehan. Menurutnya, praktik pembacaan dan pembelajaran al-Qur’an tidak berhenti pada taraf menguasai teknisnya, melainkan proses afektif dan sosial yang merefleksikan hubungan terhadap Tuhan dan komunitasnya.

Adapun Ware menyoroti lembaga pendidikan Islam tradisional di Afrika Barat, khususnya di Senegal dan Gambia. Ia melihatnya dengan kacamata sejarah dan dekolonial. Ware mengemukakan bahwa pendidikan al-Qur’an tersebut tidak akan dapat dipahami bila diukur menggunakan parameter pendidikan Barat modern. Dengan kata lain, tradisi Islam punya epistemologi sendiri yang membentuk kerangka dunia Islam. Ware menjelaskan bahwa model pendidikan tersebut pada akhirnya menghasilkan pengetahuan yang diwujudkan atau embodied knowledge lewat latihan tubuh.

Dengan demikian, hasil kajian Rasmussen, Gade, dan Ware memposisikan praktik Islam sebagai pengalaman sosial yang sarat akan makna dan kedalaman spiritual. Ketiga buku ini  memberikan perspektif yang saling melengkapi dalam melihat bagaimana Islam atau al-Qur’an hidup di tengah masyarakat. Ini juga menunjukkan bahwa penting membaca Islam tidak hanya melalui teks, tetapi juga melalui praktik, pengalaman, dan relasi sosial penganutnya.

Referensi:

Gade, Anna M, Perfection Makes Practice: Learning, Emotion, and Recited Qur’an in Indonesia (USA: Hawai Press, 2004)

Ichwan, Moch Nur and Ahmad Muttaqien, Islam, Agama-Agama dan Nilai Kemanusiaan; Festschrift untuk Amin Abdullah (Yogyakarta: CISForm, 2013)

Rasmussen, Anne K, Women, the Recited Qur’an, and Islamic Music in Indonesia (California: University of California Press, 2010)

Ware, Rudolph T, The Walking Qur’an: Islamic Education, Embodied Knowledge, and History in West Africa (USA: University of North Carolina, 2014)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *