Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan merasakan emosi. Di era digital, emosi tidak lagi terbatas pada pengalaman individual, melainkan dapat menyebar secara cepat melalui media sosial, grup percakapan, maupun berbagai platform digital lainnya. Ketakutan, kecemasan, kemarahan, hingga kegembiraan dapat menyebar dari satu individu kepada individu lain tanpa harus terjadi kontak langsung. Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai emotional contagion atau penularan emosi (Herrando, 2021: 2).
Konsep emotional contagion menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk meniru ekspresi, bahasa tubuh, dan respons emosional orang lain sehingga emosi tersebut secara perlahan menjadi bagian dari pengalaman emosional dirinya. Dalam konteks masyarakat digital, proses ini berlangsung semakin cepat karena informasi dapat tersebar dalam hitungan detik dan menjangkau jutaan orang secara bersamaan (Barsade, 2002: 647).
Menariknya, meskipun istilah emotional contagion berasal dari psikologi modern, gejala serupa sebenarnya dapat ditemukan dalam berbagai kisah Al-Qur’an. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an tidak hanya memuat informasi sejarah, tetapi juga menggambarkan dinamika psikologis para nabi, keluarga mereka, dan masyarakat yang hidup pada masa tersebut. Allah Swt. membekali para nabi dengan berbagai sarana untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Penguatan emosional yang mereka terima memungkinkan mereka untuk tetap menyampaikan risalah dan menghadapi berbagai ujian dengan akhlak yang mulia (makârim al-akhlâq). Dengan kata lain, kekuatan para nabi bukan terletak pada ketiadaan emosi, melainkan pada kemampuan mereka mengelola emosi tersebut dengan bimbingan ilahi.
Kisah-kisah para nabi dan tokoh dalam Al-Qur’an bukanlah cerita yang jauh dari realitas manusia, melainkan cerminan pengalaman emosional yang juga dialami oleh setiap orang. Ketakutan, kesedihan, harapan, dan ketenangan menjadi bagian penting dari pesan moral yang disampaikan Al-Qur’an. Oleh karena itu, pembacaan terhadap kisah-kisah Al-Qur’an melalui perspektif emotional contagion dapat menghadirkan pemahaman baru mengenai bagaimana emosi terbentuk, menyebar, dan dikelola dalam kehidupan manusia.
Memahami Emotional Contagion dalam Perspektif Psikologi
Istilah emotional contagion pertama kali dipopulerkan oleh Elaine Hatfield, John T. Cacioppo, dan Richard L. Rapson dalam karya mereka yang berjudul Emotional Contagion (1993). Mereka menjelaskan bahwa manusia secara tidak sadar cenderung meniru ekspresi wajah, intonasi suara, gerak tubuh, dan perilaku emosional orang lain. Proses peniruan ini kemudian menghasilkan pengalaman emosional yang serupa pada individu yang mengamatinya (Hatfield, 1993: 96).
Menurut Hatfield et al., mekanisme ini bekerja melalui proses automatic mimicry dan afferent feedback, yaitu respons spontan yang membuat seseorang ikut merasakan emosi yang sedang diekspresikan oleh orang lain. Dengan demikian, ketika seseorang berada dalam lingkungan yang dipenuhi kecemasan, ia berpotensi ikut merasakan kecemasan meskipun tidak mengalami peristiwa yang sama secara langsung.
Penelitian Barsade menunjukkan bahwa emosi yang dimiliki satu individu dapat menciptakan efek berantai (ripple effect) dalam sebuah kelompok (Barsade, 2002: 670). Emosi tersebut memengaruhi suasana kolektif, pola komunikasi, dan cara kelompok mengambil keputusan. Fenomena ini semakin terlihat pada era media sosial ketika berita, gambar, maupun video dapat memicu respons emosional massal dalam waktu singkat.
Dalam perspektif Islam, emosi tidak dipandang semata-mata sebagai fenomena biologis. Emosi merupakan bagian dari fitrah manusia yang dapat menjadi sarana ujian sekaligus jalan menuju kedekatan kepada Allah. Oleh karena itu, Al-Qur’an tidak menghapus emosi manusia, tetapi mengarahkan dan mengelolanya agar tetap berada dalam koridor yang benar (Mohamed, 2020).
Emotional Contagion dalam Kisah Ibu Musa
Salah satu kisah Al-Qur’an yang memperlihatkan dinamika penyebaran emosi adalah kisah ibu Nabi Musa AS dalam QS. al-Qashash/28: 7-13. Pada masa itu, Fir’aun mengeluarkan kebijakan pembunuhan terhadap bayi laki-laki Bani Israil karena khawatir akan muncul ancaman terhadap kekuasaannya (Sipahutar, 2024: 143). Situasi tersebut menciptakan ketakutan kolektif di tengah masyarakat.
Al-Qur’an menggambarkan bagaimana ibu Musa mengalami ketakutan yang sangat mendalam ketika harus menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil demi menyelamatkan nyawanya (Dakake, 2024: 98). Allah berfirman bahwa hati ibu Musa menjadi kosong dan hampir saja membuka rahasia mengenai Musa jika Allah tidak meneguhkan hatinya (QS. al-Qashash/28: 10). Gambaran ini menunjukkan kondisi emosional yang sangat kuat dan berpotensi memengaruhi orang-orang di sekitarnya.
Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan bahwa kegelisahan ibu Musa merupakan bentuk kasih sayang seorang ibu yang sangat manusiawi. Namun Allah mengubah kecemasan tersebut menjadi ketenangan melalui janji bahwa Musa akan dikembalikan kepadanya (Hamka, 1990: 5304). Di sini terlihat bahwa emosi tidak hanya dapat menyebar secara negatif, tetapi juga dapat ditransformasikan melalui keimanan dan tawakal.
Dari perspektif emotional contagion, ketakutan ibu Musa tidak hanya dirasakan secara individual. Saudari Musa ikut mengawasi perjalanan sang bayi, sementara keluarga mereka hidup dalam suasana penuh kekhawatiran (Al-Anshari, 2026: 173). Akan tetapi, ketika Allah meneguhkan hati ibu Musa, ketenangan tersebut juga memengaruhi tindakan anggota keluarga yang lain. Kisah ini menunjukkan bahwa ketenangan spiritual dapat menjadi penangkal penyebaran ketakutan yang berlebihan.
Emotional Contagion dalam Kisah Maryam
Kisah Maryam dalam QS. Maryam/19:16-33 juga memberikan gambaran yang kaya mengenai dinamika emosi manusia. Maryam menghadapi situasi yang sangat berat ketika harus mengandung dan melahirkan Nabi Isa AS tanpa kehadiran seorang suami (Shihab, 2024: 204). Al-Qur’an menggambarkan bahwa Maryam merasakan kesedihan dan kecemasan hingga berkata, “Alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dan dilupakan” (QS. Maryam/19: 23). Ayat ini menunjukkan kedalaman emosi yang dialami Maryam ketika menghadapi kemungkinan stigma sosial dari masyarakat.
Menurut beberapa tafsir kontemporer, ungkapan tersebut bukan menunjukkan kelemahan iman Maryam, melainkan respons emosional dalam menghadapi tekanan yang besar (Nurlaila, 2025: 290). Namun Al-Qur’an kemudian memperlihatkan bagaimana Allah menenangkan Maryam melalui pertolongan-Nya. Ketenangan yang diberikan Allah mengubah rasa takut menjadi keberanian untuk menghadapi masyarakat.
Dalam perspektif psikologi, kisah Maryam menunjukkan bahwa emosi negatif tidak harus berakhir pada kehancuran psikologis. Sebaliknya, dukungan spiritual dapat mengubah kesedihan menjadi keteguhan. Nilai ini sangat relevan bagi masyarakat modern yang sering menghadapi tekanan sosial melalui ruang digital.
Kisah Nabi Yunus dan Pengelolaan Emosi
Narasi Nabi Yunus AS juga memperlihatkan pentingnya pengelolaan emosi. Nabi Yunus AS meninggalkan kaumnya yang menolak atas seruan dakwahnya dalam keadaan kecewa, sampai ia menghadapi konsekuensi berat hingga berada dalam perut ikan. Dalam kondisi tersebut, ia melakukan refleksi mendalam melalui doa yang terkenal: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim” (QS. al-Anbiya’/21: 87).
Menurut Hamka, pengalaman Nabi Yunus AS adalah percobaan Tuhan kepada hamba-hamba Nya yang beriman (Hamka, 1990: 4633). Dan doa tersebut menjadi titik balik yang mengubah keadaan psikologis Nabi Yunus. Penyesalan dan kesedihan yang sebelumnya mendominasi dirinya bertransformasi menjadi kesadaran spiritual yang lebih sabar dan tidak tergesa-gesa. Doa inilah yang membawa ia pada keselamatan. Kisah ini memperlihatkan bahwa emosi negatif dapat dihentikan melalui refleksi, taubat, dan kedekatan kepada Allah.
Membaca Qashash Al-Qur’an melalui Hermeneutika Gadamer
Untuk menghubungkan kisah-kisah tersebut dengan realitas kontemporer, artikel ini menggunakan pendekatan hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Salah satu konsep utama Gadamer adalah fusion of horizons atau peleburan cakrawala, yaitu pertemuan antara horizon masa lalu dari teks dan horizon masa kini dari pembaca dalam proses memahami makna (Hardiman, 2015: 163).
Dalam konteks qashash Al-Qur’an, horizon teks mencakup latar historis para nabi dan masyarakat masa lalu. Sementara itu, horizon pembaca mencakup pengalaman hidup masyarakat modern yang menghadapi tantangan baru seperti media sosial, banjir informasi, dan penyebaran hoaks.
Melalui proses fusion of horizons, kisah ibu Musa tidak hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai gambaran universal tentang kecemasan manusia. Demikian pula kisah Maryam dapat dibaca sebagai refleksi atas tekanan sosial yang masih dialami banyak perempuan hingga saat ini. Dengan cara ini, Al-Qur’an tetap relevan sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat modern tanpa kehilangan konteks historisnya.
Relevansi terhadap Ketakutan Kolektif di Era Digital
Era digital menghadirkan bentuk baru penyebaran emosi. Berbagai isu yang viral di media sosial sering kali memunculkan ketakutan kolektif sebelum fakta-fakta yang sebenarnya diketahui. Fenomena ini dapat dilihat pada berbagai kasus hoaks, rumor penculikan anak, isu bencana, maupun teror pocong sebagai modus kejahatan pencurian yang sedang menjadi perbincangan publik di Indonesia akhir-akhir ini.
Dalam kasus-kasus tersebut, ketakutan tidak muncul karena pengalaman langsung, tetapi karena paparan informasi yang berulang. Semakin banyak orang yang menunjukkan rasa takut, semakin besar kemungkinan emosi tersebut menyebar kepada orang lain. Inilah bentuk nyata emotional contagion dalam masyarakat digital.
Al-Qur’an menawarkan prinsip penting untuk menghadapi fenomena tersebut melalui konsep tabayun. Dalam QS. Al-Hujurat/49: 6, umat Islam diperintahkan untuk memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya (Al-Qarni, 2008: 153). Prinsip ini menjadi sangat relevan dalam menghadapi arus informasi digital yang bergerak sangat cepat.
Selain tabayun, Al-Qur’an juga mengajarkan sabar, tawakal, dan dzikir sebagai sarana regulasi emosi. Nilai-nilai tersebut membantu individu agar tidak mudah terbawa kepanikan kolektif yang sering kali muncul akibat informasi yang belum tentu benar.
Penutup
Fenomena emotional contagion menunjukkan bahwa emosi manusia dapat menyebar dan memengaruhi perilaku kolektif. Meskipun konsep ini lahir dari psikologi modern, gejalanya telah tergambar dalam berbagai kisah Al-Qur’an, di antaranya pada kisah ibu Musa, Maryam, dan Nabi Yunus. Narasi-narasi tersebut memperlihatkan bagaimana ketakutan, kesedihan, dan kecemasan muncul serta bagaimana emosi tersebut dapat diubah menjadi ketenangan melalui keimanan kepada Allah.
Melalui pendekatan hermeneutika Gadamer, kisah-kisah tersebut dapat dibaca kembali dalam konteks masyarakat digital masa kini. Hasil pembacaan menunjukkan bahwa nilai-nilai Qurani seperti tawakal, sabar, dzikir, dan tabayun memiliki relevansi yang sangat kuat dalam menghadapi ketakutan kolektif yang berkembang di era media sosial. Dengan demikian, qashash Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kisah sejarah, tetapi juga sebagai sumber kebijaksanaan untuk mengelola emosi dan membangun ketahanan sosial di tengah derasnya arus informasi digital.
Referensi
Al-Anshari, Amin. Abnâ al-Anbiyâ (Kayfa Rabba al-Anbiyâ Abnâ’ahum), Mesir: Dâr al-Lu’lu’ah, 2026.
Al-Qarni, Aidh. Tafsir Al-Muyassar. Jakarta: Qisthi Press, 2008.
Barsade, Sigal G. “The Ripple Effect: Emotional Contagion and Its Influence on Group Behavior,” dalam Administrative Science Quarterly Journal, Vol. 47 No. 4 Tahun 2002.
Dakake, Maria Massi. “Shelter from the Tyrant: The Women Who Saved Moses in the Qur’an and in Nushrat Amin’s Commentary,” dalam Journal of Feminist Studies in Religion, Vol. 40 No. 1 Tahun 2024.
Hamka. Tafsir Al-Azhar, Jilid 6, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, t.th.
Hardiman, F. Budi. Seni Memahami (Hermeneutika dari Scleiermacher sampai Derrida). Yogyakarta: PT Kanisius, 2015.
Hatfield, Elaine., John T. Cacioppo, Richard L. Rapson, “Emotional Contagion,” dalam Current Directions in Psychological Science Journal, Vol. 2 No. 3 Tahun 1993.
Herrando, Carolina dan Efthymios Constantinides, “Emotional Contagion: A Brief Overview and Future Directions,” dalam Frontiers in Psychology Journal, Vol. 12, 2021.
Mohamed, Yasien. “Perspectives on Islamic Psychology: al-Raghib al-Isfahani on the Healing of Emotions in the Qur’an,” 2020 dalam https://yaqeeninstitute.org/read/paper/perspectives-on-islamic-psychology-healing-of-emotions-in-the-quran
Nurlaila, Siti dan Muhammad Alif. “Emotions in the Qur’an: A Thematic Study of Verses on Self-Control,” dalam Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol. 5 No. 2 Tahun 2025.
Shihab, M. Quraish. Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an (Makna dan Hikmah). Tangerang Selatan: Penerbit Lentera Hati, 2024.
Sipahutar, Rahmat Taufik. Motivasi Intrinsik dalam Al-Qur’an (Analisis Pengulangan Kisah Nabi Musa, Fir`aun dan Banî Isrâîl), Tesis, Universitas PTIQ Jakarta, 2024.
Zaki, Imran. “Al-Quran-Stories of Prophets and Emotional Intelligence,” 2021 dalam artikel https://traversingtradition.com/2021/12/27/al-quran-stories-of-prophets-and-emotional-intelligence/





