Tafsir sebagai Cermin Keresahan Sosial Mufasir Sunda: Membaca Surah al-Humazah dalam Ayat Suci Leunyeupaneun

Tafsir dan Realitas Sosial

Tafsir sering dipahami hanya sebagai penjelasan atas makna ayat-ayat Al-Qur’an. Padahal dibalik sebuah tafsir, terdapat pengalaman sosial, kegelisahan zaman, dan latar budaya mufasir yang ikut memengaruhi cara membaca ayat. Karena itu, tafsir tidak lahir di ruang kosong. Tafsir tumbuh bersama realitas masyarakat yang dihadapi penulisnya. Dalam konteks ini, tafsir lokal menjadi menarik karena memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an dipahami melalui bahasa dan pengalaman sosial tertentu.

Salahsatu contoh menarik, penulis temukan dalam Tafsir Ayat Suci Leunyeupaneun karya Moh. E. Hasim. Ketika menafsirkan surah al-Humazah, Hasim tidak hanya menjelaskan ancaman bagi pengumpat dan pencela, tetapi juga menghadirkan potret sosial masyarakat Sunda sekitarnya yang akrab dengan budaya gunjing, sindiran, dan kesombongan sosial. Di titik ini, tafsir berubah menjadi ruang refleksi sosial. Al-Qur’an dibaca bukan hanya sebagai teks normatif, melainkan sebagai kritik terhadap perilaku masyarakat.

Surah al-Humazah dalam Tafsir Moh. E. Hasim

Dalam penafsirannya, Moh. E. Hasim menggambarkan humazah dan lumazah sebagai perilaku suka membuka aib, mencela, dan merendahkan orang lain. Menariknya, penjelasan tersebut tidak disampaikan secara abstrak, melainkan melalui ilustrasi yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Hasim menghadirkan contoh percakapan sehari-hari, fitnah antartetangga, juga kebiasaan membicarakan keburukan orang lain dalam ruang riung sosial. Karena itu, penulis merasa bahwa ayat tersebut sedang berbicara langsung dengan kehidupan mereka (Moh. E. Hasim, 2005: 288).

Pilihan gaya seperti ini memperlihatkan kecenderungan corak adabi ijtima’i dalam tafsir Hasim yang tidak terjebak pada pembahasan bahasa atau perdebatan teologis yang rumit, tetapi lebih menekankan dimensi moral dan sosial dari ayat. Surah al-Humazah dibaca sebagai kritik terhadap kerusakan relasi sosial yang lahir dari kesombongan dan hilangnya etika dalam bermasyarakat.

Kritik terhadap Budaya Ngupat dan Cacawad

Kegelisahan utama Hasim tampak pada budaya ngupat dan cacawad yang dianggap biasa dalam kehidupan sosial. Dalam tafsirnya, Hasim menggambarkan bagaimana seseorang dengan mudah mengomentari keburukan orang lain, merendahkan penampilan, bahkan memfitnah tanpa rasa bersalah. Misalnya ketika menjelaskan perilaku perempuan yang gemar membicarakan tetangganya, atau orang yang senang menjatuhkan martabat orang lain dengan sindiran dan fitnah (Moh. E. Hasim, 2005: 288-289).

Tradisi gunjing dalam ruang sosial dipandang bukan sekedar kebiasaan kecil, tetapi penyakit moral yang perlahan merusak hubungan antarmanusia. Karena itu, disini terlihat bahwa Surah al-Humazah dibaca Hasim sebagai kritik terhadap kerusakan moral masyarakat. Dalam penjelasannya, Hasim menghubungkan turunnya Surah al-Humazah dengan tokoh-tokoh Quraisy seperti Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf yang dikenal gemar menghina Nabi Muhammad saw (Moh. E. Hasim, 2005: 289-290).

Melalui kisah tersebut, Hasim ingin menunjukkan bahwa ancaman Al-Qur’an tidak hanya berlaku bagi tokoh masa lalu, tetapi juga bagi siapa saja yang meniru perilaku serupa. Karena itu, Surah al-Humazah dibaca bukan sekadar sebagai kisah historis, melainkan sebagai peringatan moral yang tetap relevan bagi kehidupan sosial manusia hingga hari ini.

Dengan ciri khasnya, Hasim menggunakan bahasa Sunda yang sangat lisan dan emosional. Mufasir ini menghadirkan suasana percakapan masyarakat secara hidup sehingga kritik yang disampaikan terasa dekat dan nyata. Penulis tidak hanya diajak memahami isi ayat, tetapi diajak ikut merasakan tekanan moral dari tafsir tersebut.

Kritik terhadap Kesombongan dan Materialisme

Selain mengkritik budaya ghibah, Hasim juga menyoroti manusia yang mabuk oleh harta dan kekuasaan. Digambarkannya orang-orang yang sibuk menghitung harta dan kekayaan, membanggakan gedung dan tanah, seolah merasa dirinya akan hidup selamanya karena memiliki kuasa dan materi (Moh. E. Hasim, 2005: 289).

Moh. E. Hasim juga menggambarkan watak manusia yang merasa dirinya paling benar karena memiliki kekuasaan dan kedudukan. Dalam salah satu ilustrasinya, diceritakan seorang raja zalim yang merampas barang bawaan rakyat kecil hanya karena keserakahan dan kesombongannya. Bahkan kesalahan kecil dari bawahan dibalas dengan tamparan dan kemarahan (Moh. E. Hasim, 2005: 288-289).

Kisah ini menunjukkan bahwa kesombongan tidak hanya melahirkan sikap merendahkan orang lain, tetapi juga melahirkan kekerasan dan penindasan sosial. Terlihat jelas keresahan Hasim terhadap mentalitas materialistik yang menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan. Kesombongan sosial dipandang sebagai sumber lahirnya penghinaan terhadap orang lain.

Dalam konteks tersebut, pandangan Hasim terhadap surah al-Humazah ini bukan hanya sebagai ayat tentang akhirat, tetapi juga kritik terhadap manusia yang kehilangan kesadaran moral akibat ambisi duniawi, juga kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan yang mengabaikan nilai kemanusiaan.

Apa yang disampaikan penulis Tafsir Ayat Suci Leunyeupaneun ini terasa relevan dengan kondisi masyarakat modern saat ini. Budaya pamer kekayaan, status sosial, dan kekuasaan masih menjadi bagian dari kehidupan publik, bahkan diperkuat dengan media sosial. Tafsir ini memperlihatkan bahwa Al-Qur’an tetap hidup dan mampu membaca problem sosial lintas zaman.

Bahasa Sunda sebagai Media Dakwah Sosial

Bagian kekuatan terbesar tafsir ini juga terletak pada penggunaan bahasa Sunda yang komunikatif dan dekat dengan masyarakat. Hasim tidak menggunakan bahasa yang terlalu tinggi atau akademik, melainkan memilih gaya tutur yang cair dan akrab. Pilihan diksi seperti ngupat, cacawad, dan hawek menjadikan tafsir terasa hidup. Bahasa lokal disini bukan hanya sekedar alat penerjemahan, namun juga menghadirkan pesan Al-Qur’an secara emosional dan kontekstual.

Dengan pendekatan ini, Hasim memperlihatkan bahwa bahasa daerah memiliki kekuatan besar dalam dakwah. Pesan moral Al-Qur’an menjadi lebih mudah dipahami karena disampaikan melalui pengalaman budaya masyarakat sendiri. Maka tafsir Sunda menjadi bukti bahwa lokalitas adalah strategi jalan penting untuk menyebarkan pesan wahyu dalam kehidupan sosial masyarakat dan tidak bisa dipandang hanya sebagai karya periferal.

Tafsir sebagai Cermin Keresahan Sosial

Jika diperhatikan lebih jauh, tafsir Moh. E. Hasim sebenarnya memperlihatkan kegelisahan sosial seorang mufasir terhadap zamannya. Kritik terhadap ghibah, kesombongan, kerakusan harta, dan kekuasaan menunjukan bahwa Hasim sedang merespons realitas sosial yang ia saksikan disekitarnya. Tafsir menjadi ruang tempat keresahan yang diproyeksikan melalui ayat-ayat Al-Qur’an. Karena itu, tafsir bukan hanya penjelasan makna teks, tetapi juga cermin pengalaman sosial penulisnya.

Disinilah letak penting membaca tafsir dalam pendekatan sosial. Tafsir dapat dipahami sebagai produk intelektual yang lahir dari interaksi antara wahyu dan realitas keseharian masyarakat. Dalam hal ini, surah al-Humazah ditafsirkan oleh Hasim melalui pengalaman sosial masyarakat Sunda di lingkungannya yang akrab dengan kebiasaan menggunjing, hierarki sosial, dan mentalitas materialistik. Dengan demikian, tafsir lokal memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an hidup dan berdialog dengan masyarakat di ruang budaya tertentu.

Penafsiran surah al-Humazah dalam Tafsir Ayat Suci Leunyeupaneun menunjukan bahwa tafsir lokal memiliki kedalaman sosial yang kuat. Moh. E. Hasim tidak hanya menjelaskan ancaman bagi pengumpat dan pencela, tetapi juga menghadirkan kritik terhadap sosial masyarakat yang dipenuhi ghibah, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap harta. Melalui bahasa Sunda yang hidup dan komunikatif, tafsir ini berhasil menjadikan Al-Qur’an terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.

Tafsir Hasim ini juga memperlihatkan bahwa Al-Qur’an selalu dapat dibaca secara kontesktual sesuai dengan problem sosial zamannya. Tafsir menjadi ruang refleksi moral sekaligus kritik budaya yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, membaca tafsir lokal seperti seperti Ayat Suci Leunyeupaneun bukan hanya penting untuk memahami khazanah tafsir Nusantara, Sunda khususnya. Tetapi juga untuk melihat bahwa Al-Qur’an tidak hadir di ruang yang jauh dari kehidupan manusia.

Referensi

Hasim, Moh. E. Ayat Suci Lenyepaneun Juz ‘Amma. Jilid 30. Bandung: Pustaka, 2005.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *