Agama di Pusaran Kekerasan

merdeka.com

Agama pada dasarnya adalah hubungan antara hamba (person) dengan Tuhannya yang dalam hal ini, bukan sekelompok hamba, tetapi seorang hamba. Sang hamba ini lalu menyuarakan pengalaman spiritualnya itu beserta misi kemanusiaan yang ada di dalamnya, lalu hadirlah para pengikut awal (komunitas) yang sangat setia meski harus mengorbankan jiwa dan raga. Peran para pengikut awal ini sangat vital, sehingga tanpanya, agama pasti layu sebelum berkembang.

Seiring perkembangan agama yang semakin besar, maka penganut agama yang mulanya seragam karena hanya diisi oleh seorang penyeru awal dan para pengikut awal, mulai merambah berbagai macam pengikut dengan warna-warni dan strata sosial yang berbeda. Pada saat itu, agama sudah harus menjadi sebuah institusi atau organisasi, yaitu berisi orang-orang dengan peran berbeda-beda tetapi dengan tujuan yang hampir sama.

Bacaan Lainnya

Ketika menjadi institusi, maka agama sesungguhnya sudah mulai “cukup berbeda” dari agama pada awalnya, yaitu relasi hamba dengan Tuhannya. Ketika menjadi institusi, relasi hamba tidak hanya dengan Tuhan semata, tetapi juga dengan hamba lain dan juga dengan yang bukan hamba (bukan penganut agama yang sama). Selain itu, sebagai institusi, agama sudah menjadi semacam organisasi, punya anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, punya syarat keanggotaan, punya kebutuhan dana, dan bahkan punya seragam untuk membedakan dengan agama lain. Akhirnya lahirlah aku-kamu dan kami-kalian. Agama lalu berurusan dengan politik, ekonomi, budaya, dan juga penyelewengan-penyelewengan. 

Pada titik mana agama terjebak pada pusaran kekerasan? Ya, pada saat menjadi institusi. Makanya, tawuran akan mudah terjadi kala dua kelompok anak-anak berjumpa dengan keanggotaan yang khas masing-masing. Tetapi kala mereka berjumpa sebagai individu, barangkali mereka akan saling traktir es krim. Pada institusi, ada kebanggaan yang harus dijaga, ada kekuasan yang harus dipertahankan, ada dana yang harus terus mengalir, dan ada tradisi yang hendak dilestarikan.

Pada titik itulah dipahami makna QS. al-Hujurat/49: 14: Orang-orang Arab Badui berkata: Kami telah beriman. Katakanlah kepada mereka: Kamu belum beriman (tu’minû), tetapi katakanlah kami telah berislam (aslamnâ), karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Orang-orang beriman adalah mereka yang beragama pada tahap sebelum menjadi institusi. Sedangkan setelah menjadi institusi, secara keseluruhan disebut orang-orang Islam. Diketahui, pada waktu ayat tersebut turun, banyak kelompok masyarakat yang berbondong-bondong menyatakan keislamannya yang sesungguhnya politis karena keislaman mereka adalah untuk menggolongkan diri dengan koalisi orang Islam (Madinah) agar tidak mendapatkan gangguan dari oposisi di luar Islam; seiring semakin kuatnya posisi Madinah akibat kemenangan perang terus-menerus. Apakah mereka benar-benar beriman? Itu urusan keempat.

Upaya untuk mengeluarkan agama dari pusaran kekerasan adalah upaya untuk menggiring mentalitas keberagamaan kepada: 1) keberagamaan para pengikut awal, yaitu mereka yang benar-benar merasakan bahwa agama yang mereka anut adalah agama yang membebaskan, mengasihi, merangkul, egaliter, dan seterusnya; dan 2) keberagamaan (bahkan) pembawa agama itu sendiri, yaitu yang mencerap langsung pencerahan kepada Yang Maha Pengasih sebagaimana digambarkan di dalam QS. ad-Dhuha/93: 6-11: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi (mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu, Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Maka terhadap anak-anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik (nya). Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).

QS. ad-Dhuha/93: 6-11 adalah gambaran misi kaum beriman, yaitu menolong yang lemah, menunjuki yang kebingungan, mencukupi yang kekurangan, pantang berlaku sewenang-wenang, pantang menghardik, dan tidak henti-hentinya bersyukur. Kaum berislam belum tentu memiliki visi dan misi yang serupa karena satu hal: jebakan institusi di dalam pusaran kekerasan.

Persoalannya, mungkinkah mengembalikan keadaan umat beragama kepada—minimal—keberagamaan pengikut awal dan—maksimal—keberagamaan pembawa agama itu sendiri; sedangkan kini umat beragama telah terlanjur berapada pada era institusi dengan segala kompleksitasnya? Tentu saja mungkin karena yang dimaksud mengembalikan di sini bukanlah benar-benar kembali tetapi secara mentalitas kembali ke sana dengan cara merenungkan kembali ajaran-ajaran agama itu sendiri, lewat pedidikan dan pendampingan. Jika tidak mungkin kembali, maka tentu saja QS. al-Hujurat/49: 14 sudah tidak berlaku kini, tetapi kan tidak mungkin tidak berlaku karena Al-Qur’an abadi.

Keluhan beberapa pemikir Islam seperti Asghar Ali Engineer, Hassan Hanafi, Mahmoud Mohamed Taha, dan sebagainya yang meratapi betapa Islam telah kehilangan elan vitalnya atau telah kehilangan Makkiyyah dan lebih menonjol Madaniyyahnya sesungguhnya adalah kegelisahan untuk kembali kepada Islam pra-institusionalisasi, pra-aku-kamu, dan pra-kami-kalian. 

Kesimpulannya, untuk mengeluarkan agama dari pusaran kekerasan, harus ada upaya untu merangkak dari keberislaman kepada keberimanan dan dari institusionalisasi kepada para pengikut awal atau bahkan sampai kepada kenabian, eh, kesufian.[]

Editor: AMN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *