Seandainya Ada Sejarah Terjemahan Al-Quran

Telah banyak karya ilmiah yang membahas tentang terjemahan Al-Qur`an, tetapi biasanya diproduksi oleh pihak di luar Kemenag RI. Tidak jarang karya ilmiah itu menamai terjemahan Al-Qur`an atau tafsir yang dikeluarkan oleh Kemenag RI dengan “tafsir agama mazhab negara”. Beberapa karya ilmiah menyoroti bagaimana sebuah tema (misalnya jihad atau gender) mengalami dinamika di dalam serial terjemahan versi Kementerian Agama RI. Biasanya yang hendak dibuka dalam karya ilmiah itu adalah ideologi di balik lahirnya terjemahan itu atau ideologi yang memengaruhi dinamika pemaknaan terhadap sebuah tema. Selain itu, tentu saja, dilacak latar belakang dari ideologi tersebut.

Jika seandainya ada bahasan tentang terjemahan Al-Qur`an yang dikeluarkan oleh Kemenag RI sendiri, maka itu adalah sesuatu yang spesial karena terjemahan tersebut adalah produksi Kemenag RI sendiri. Tidak mungkin menghalangi pandangan umum bahwa sangat mungkin terjadi di sana ada bias kepentingan yang kental tetapi tetap saja salah satu yang paling otoritatif untuk berbicara tentang sebuah subjek adalah subjek itu sendiri. Subjektivitas tidak mungkin dihindari tetapi bukankah ada data-data yang bisa mengonfirmasi setiap sejarah atau mengkonfrontirnya? Dalam  hal ini, subjektivitas dan objektivitas bukan lagi hal yang cukup relevan untuk diperdebatkan.

Bacaan Lainnya

Saat nantinya memang lahir sejarah terjemahan Al-Qur`an versi Kemenag RI, maka dua hal yang harus diterima yaitu sejarah tersebut adalah bentuk tutur bahasa dan itu adalah satu hal dan hal yang lain adalah realitas penerjemahana Al-Qur`an dalam bahasa Indonsia. Tutur bahasa bukanlah cermin yang secara apa adanya merefleksikan realitas (Chris Barker, 2004: 177). Tutur bahasa adalah objek dependen sedangkan realitas adalah objek independen.

Sebuah peristiwa tidak pernah terjadi begitu saja. Selalu ada latar belakang di balik setiap peristiwa yang mengakibatkan terjadinya. Sebuah peristiwa juga bisa disebut sebagai kristalisasi dari latar belakangnya sehingga sesungguhnya sebuah peristiwa sekaligus merekam latar belakangnya sendiri dan juga merekam peristiwa-peristiwa lain yang berada di sekelilingnya. Ada serangkaian iklim kultural, sosial, politis, atau apapun yang melatarbelakangi sebuah peristiwa (Mun`im Sirry, 2021: 7). Itu yang harus dilacak.

Memang latar belakang yang hadir di setiap peristiwa membuat peristiwa hanyalah akibat dari latar belakangnya. Namun, ketika sebuah peristiwa sudah terjadi, maka dia pun akan menjadi latar belakang bagi peristiwa yang hadir setelahnya. Begitu seterusnya. Jadi, semuanya tidak lebih daripada rangkaian peristiwa-peristiwa. Ringkasnya, bagaimana sebuah terjemahan Al-Qur`an bisa terbentuk dan bagaimana sebuah terjemahan Al-Qur`an membentuk peristiwa-peristiwa setelahnya? Peristiwa setelah terjemahan Al-Qur`an bisa dalam bentuk bagaimana Kemenag RI sendiri memandang hasil terjemahan tersebut dan bisa pula salam bentuk bagaimana masyarakat merespon, memanfaatkan, bahkan memengaruhi masyarakat itu sendiri. Bagian tentang memengaruhi masyarakat ini penting karena tujuan terjemahan adalah untuk masyarakat. Bila tidak berdampak kepada masyarakat, tujuan terjemahan tidak tercapai.

Pada kasus terjemahan Al-Quur`an, peristiwa yang dimaksud bukan hanya peristiwa terbitnya terjemahan Al-Qur`an itu dalam sebuah buku, tetapi peristiwa hadirnya setiap kata atau pilihan kata yang hadir di setiap ayat Al-Qur`an. Salah satu latar belakang terjemahan Al-Qur`an adalah ide-ide yang hendak dimuat di dalam terjemahan itu sendiri. Ide-ide itu sendiri adalah anak kandung dari realitas yang melingkupinya . Karena itu, layak ditelusuri bagaimana hubungan antara ide dengan kata-kata yang hadir dalam terjemahan? Bagaimana hubungan antara realitas dengan ide dan dengan kata-kata yang hadir di dalam terjemahan? Apakah kata-kata dalam terjemahan itu adalah ungkapan dari apa sebenarnya yang dimaksud oleh Al-Qur`an atau lebih merupakan ungkapan keinginan para pemilik ide-ide? Apapun yang hadir dalam terjemahan Al-Qur`an adalah kristalisasi dari ide-ide yang menjadi latar belakangnya. Namun, apakah kata-kata tersebut telah berhasil menampung dan mengungkapkan ide-ide tersebut? (Dani Cavallaro, 2004, 9)

Pada akhirnya, sejarah yang dituturkan adalah cerita yang berisi karakter, tindakan, dan alur (Steph Lawler, 2021, 45). Karakter bisa dalam bentuk manusia dan bisa pula bukan manusia. Kemenag RI atau Lajnah adalah karakter. Ada sejarah panjang di sana yang membentuk karakternya. Para pejabat yang berwenang dalam terbitnya sebuah terjemahan Al-Qur`an juga adalah karakter-karakter penting. Di sana ada Menteri Agama, Dirjen, Kalajnah, dan seterusnya. Tindakan juga adalah unsur penting di dalam sejarah. Tindakan adalah gerakan dalam waktu tertentu atau perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang waktu tertentu. Setiap edisi terjemahan Al-Qur`an adalah tindakan karena itu adalah gerakan dan juga perubahan.

Jika sebuah sejarah yang dituturkan hendak diciptakan bermakna, maka harus ada alur yang jelas di dalamnya. Alur adalah bingkai yang membuat setiap peristiwa dan episode-episode dalam peristiwa tersebut menjadi bermakna. Alur seperti apa yang hendak disampaikan dalam penyusunan sejarah terjemahan Al-Qur`an ini penting ditekankan dari awal. Banyak karya ilmiah yang membahas tentang terjemahan Al-Qur`an tetapi jika Lajnah yang membuatnya, tidak akan pernah sama dengan karya-karya ilmiah yang ada. Barangkali bagi Lajnah, ada bagian-bagian dari serangkaian peristiwa terjemahan yang harus ditampilkan dan ada yang tidak perlu.

Bagaimanapun peristiwa-peristiwa sekitar terjemahan adalah peristiwa acak yang hanya bisa dipahami lewat bingkai alur yang dibuat. Sebagaimana terjemahan adalah versi Kemenag RI, maka sejarah tentangnya juga adalah versi Kemenag RI atau paling tidak versi Lajnah. Subjektivitas Lajnah harus hadir di sana. Lajnah adalah subjek sekaligus objek sejarah terjemahan Al-Qur`an jika sejarah disusun oleh Lajnah. Apapun yang hendak disampaikan oleh Lajnah tentang terjemahan Al-Qur`an, maka di sejarah dengan alur versi Lajnah inilah tempatnya. Lewat sejarah terjemahan, Lajnah hendak menciptakan identitas terjemahan Al-Qur`an sekaligus menjelaskannya.

Lebih daripada itu, sejarah terjemahan Al-Qur`an yang hendak dibuat haruslah memiliki visi bagi masa depan, terutama visi bagi upaya penerjemahan Al-Qur`an itu sendiri. Sebuah sejarah yang dituturkan tidak cukup dengan tujuan menjelaskan masa lalu, tetapi juga harus menjadi suluh bagi masa depan. Misalnya, visi tentang seperti apa seharusnya terjemahan Al-Qur`an di masa datang dengan perubahan yang sangat cepat dan era yang tidak lagi sama. Sejarah tidak hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana mengatasi masa depan (Shindunata, 2017: xiv-xv).

Saat sebuah tuturan bahasa tentang sejarah terjemahan Al-Qur`an telah terbit, maka terbentuk sebuah rumusan identitas terjemahan Al-Qur`an. Namun, sejarah masih tetap berlanjut selama bumi belum kiamat. Rumusan tersebut nantinya juga akan menjadi bagian dari sejarah yang akan ditelaah oleh generasi selanjutnya. Jadinya, identitas sesungguhnya dari terjemahan Al-Qur`an itu juga masih terus-menerus dalam upaya formasinya. Itu adalah hal yang adil. Ide-ide di balik setiap edisi terjemahan Al-Qur`an mungkin adalah refleksi dari dinamika zamannya yang senantiasa berubah. Tidak ada jaminan bahwa di masa depan ide-ide tersebut akan tetap seperti itu adanya karena zaman terus berubah. Konsekuensinya, terjemahan Al-Qur`an pun akan terus berubah.

Bahan Bacaan

Shindunata, “Jurnalisme Sejarah P. Swantoro”, dalam P. Swantoro, Masa Lalu Selalu Aktual, Jakarta: Gramedia, 2017.

Chris Barker, Cultural Studies: Teori dan Praktik, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004

Steph Lawler, Identitas: Perspektif Sosiologis, Yogyakarta: Cantrik Pustaka, 2021

Dani Cavallaro, Critical dan Cultural Studies, Yogyakarta: Niagara, 2004

Mun`im Sirry, Rekonstruksi Islam Historis: Pergumulan Kesarjanaan Mutakhir, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Press, 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *