Aristokrasi Mushaf ‘Utsmani: Menjawab Tuduhan Regis Blachere

Sikap kritis terhadap berbagai kajian ilmu yang dilakukan oleh Barat telah menjadi sumbangan besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kemajuan itu bisa kita lihat bagaimana mereka menjadi negara-negara yang mendominasi dalam pelbagai bidang dewasa ini. Namun, hal itu tidak berarti jika studi mereka diarahkan pada kajian ketimuran. Bukannya membangun, tapi malah mendekontruksi aspek-aspek yang sudah diyakni umat Islam sejak lama.

Di antara sekian banyak yang mereka permasalahkan ialah isu mengenai Mushaf ‘Utsmani. Mushaf hasil jerih payah Khalifah Ketiga ‘Utsman bin Affan (23 H/ 644 M – 35 H/ 655 M) mendapat serangan tajam oleh mereka (kaum orientalis). Mereka tak segan menggugat status, historisitas, dan otentisitas teks yang sudah diakui secara resmi ini. Salah satu tokoh orientalis terkenal dengan kajiannya dalam masalah ini ialah Regis Blachere. Blachere aktif menyuarakan gagasannya itu baik dari pemikiran maupun yang tertuang dalam bentuk tulisan.

Bacaan Lainnya

Profil Regis Blachere

Regis Blachere dilahirkan pada awal abad ke-20, tepatnya 30 juni 1900, di kota Paris, Prancis. Tahun 1915, ia pindah ke Maroko karena ayahnya yang dimutasikan dari pekerjaannya. Setelah tamat di sekolah tingkat keduanya di Casablanca, ia bekerja sebagai seorang penterjemah. Ia sempat menjadi tenaga pengajar di Madrasah Maula Yusuf di Rabat sebelum meneruskan pendidikan tingginya di Universitas Aljazair dan meraih gelar sarjananya tahun 1922.

Pada tahun 1935, ia menyelesaikan tesis dan doktoralnya di Universitas Sorbonne, Paris. Gelarnya diraih setelah ia mampu merampungkan dua kajiannya. Pertama mengkaji Abu Thayyib Al-Mutanabbi, penyair kenamaan Syiria abad 11 H dan yang kedua menerjemahkan kitab Tabaqat al-Umam, karya Sa’id Al-Andalusi dari bahasa Arab ke bahasa Prancis. (David Cohen, 1974; 1-2)

Keahliannya dalam bahasa Arab, membuatnya dinobatkan sebagai Guru Besar Filologi dan Sastra Arab Abad Pertengahan di Universitas Sorbonne di tahun 1950. Blachere juga pernah menjabat sebagai direktur Institute des Etudes Islamiques di Académie de Paris sejak 1956 sampai 1965, menjadi anggota Akademi Kairo dan Damaskus. Setahun sebelum ia meninggal pada 7 Agustus 1973, ia terpilih sebagai anggota Intitute de France pada 1972. Ia juga pernah menjabat sebagai direktur pada Centre de Lexicographie Arabe dan wakil presiden asosiasi bagi perkembangan kajian-kajian Islam. Ia meninggal pada tanggal 7 Agustus 1973.

Blachere dikenal sebagai tokoh yang sangat aktif menulis.  Karyanya diantara lain, Histoire de la Literature à la Fin du XVe Siecle yang bisa dibilang instrument penting dalam dunia sastra, Grammaire de l’Arabe Classique (1937), dan Dictionnaire Arabe-Français-Anglais dalam bidang linguistik. Le Problème de Mahomet (1952) Dans Les Pas de Mahomet yang bercerita mengenai Nabi Muhammad, Le Coran: Que Je Sais?, Introduction au Coran terbit tahun 1949 dan 1959, menyajikan metode kritik yang sangat tegas terhadap seluruh sumber—historis, filologis, literer—tentang Mushaf Al-Qur’an dan latar belakang penetapannya menjadi sebuah textus receptus, teks yang diakui secara resmi.

Pandangan Regis Blachere terhadap Mushaf ‘Utsmani

Dalam menelusuri peradaban ketimuran, Blachere sadar bahwa sastra yang telah lama ia geluti bukanlah satu-satunya jalan, melainkan ia hanya bagian dari sekelumit jalan yang harus diketahui. Baginya, pengetahuan akan fenomena sentral sejarah menjadi hal yang sangat urgen dalam memahami peradaban tersebut. Berangkat dari hal itu, Blachere mulai menekuni studi kesejarahan atau historiografi yang telah populer dalam kesarjanaan Barat sebelum ia hidup. (David Cohen: 1974: 5)

Setelah disiplin ilmu kesejarahan telah ia perdalam secara matang, Blachere mulai mengungkapkan pandangannya terhadap dunia ketimuran. Kendatipun sama dalam metode dengan para pendahulunya, seperti Theodore Noldeke (w. 1930), Arthur Jeffry (w, 1959), Gustav Weil (w. 1889) yang melakukan kritik historis. Namun, Blachere menghadirkan warna baru dalam pendekatannya, yakni kritik historis eksternal.

Melalui cara ini, dalam hal pengumpulan (kodifikasi) Al-Qur’an yang dilakukan ‘Utsman bin Affan, Blachere mengklaim adanya unsur ketegangan, motivasi politik, dan proyek etnisisme di balik peristiwa tersebut. Klaimnya lebih tertuju pada wilayah eksternal teks. Hal tersebut tentu berbeda dengan para sarjana sebelumnya yang lebih terpusat pada analisis internal, yang menggugat dokumen-dokumen berkenaan dengan kodifikasi tersebut.

Kepribadian perawi, kondisi sosio-historis masyakarat, bukti-bukti historis dan situasi tertentu di balik penyusunan sebuah teks menjadi asas dari kritikannya ini. Hasilnya, ia memperoleh sebuah kesimpulan bahwa adanya motif aristokrasi politik dalam diri ‘Utsman bin Affan di balik agenda pengkodifikasian mushaf. Penunjukkan kerabat atau orang loyalisnya dalam mengumpulkan mushaf dan dijadikannya mushaf Abu Bakar sebagai basis tekstual menjadi bukti kuat bagi Blachere terhadap adanya motif tersebut.

Blachere tidak menganggap karya-karya kuno sebagai sumber otentik. Keraguannya semakin jelas jika dalam penulisan rentetan karya tersebut tak diketahui identitas penulisnya, bagaimana teks itu lahir, dan seperti apa kondisi sosio masyarakat yang mengitari munculnya teks tersebut. Di sinilah peran besar Blacehere dengan kritik historis eksternalnya yang berusaha mendalami permasalahan tersebut. (Regis Blachere, 1959: 34)

Dengan metode tersebut, Blachere merekam kondisi-sosio politik kultural yang terjadi di masa khulafa ar-Rasyidin ketiga tersebut sebagai indikasi akan kelemahan akan figur khalifah sendiri. Meskipun, ‘Utsman dianggap sebagai seorang yang salih dan mulia, ia sangat mudah terpengaruh dengan orang sekelilingnya. Maka, bagi Blachere wajar saja jika segala tindakan ‘Utsman akan lebih cenderung ekslusif pada perlindungan orang di sekitarnya. Apalagi, dirinya berasal dari kaum aristokrat Mekkah, yakni keluarga Umayyah yang begitu disegani oleh masyarakat Arab kala itu.

Dampak pertama dari sikapnya itu terjadi pada pemilihan panitia pengkodifikasian mushaf Al-Qur’an. Komposisi anggota yang terdiri dari Sa’id bin Zaid (w. 59 H), Abd Al-Rahman bin Al-Harits (w. 43 H), dan Ibnu Al-Zubair (w. 73 H) yang merupakan orang asli Mekkah menjadi dugaan kuat adanya manifestasi kepentingan aristokrat ‘Utsman dalam kekuasaannya. Ditambah lagi ketiganya masih menjalin hubungan kekerabatan dengan khalifah sepertinya menjadi “lahan subur” bagi Blachere dalam mengkritik Mushaf ‘Utsmani. (Regis Blachere, 1959: 58)

Adapun ketuanya, Zaid bin Tsabit (w. 45 H) meski berasal dari Madinah/Ansar tidak menghalangi aristokrasi khalifah. Blachere beralasan bahwa sosok Zaid sendiri merupakan orang yang sangat loyalis dengan Khalifah ‘Utsman dan menolak keberpihakan ke siapapun selainnya termasuk kepada ‘Ali bin Abi Talib. Dari sini, agak wajar jika yang diangkat oleh khalifah dalam tugas ini mengindikasikan adanya keinginan ‘Utsman untuk melindungi sekaligus menanamkan pengaruh faksi Mekah dalam masyarakat Islam.

Selanjutnya, dalam hal menjadikan Mushaf Abu Bakar sebagai basis pengkodifikasian mushaf juga tak lepas dari motif aristokrasi ‘Utsman. Bagi Blachere, mushaf Abu Bakar merupakan mushaf pribadi yang memang dibuat untuk menghilangkan rasa inferior dalam diri khalifah terhadap mushaf-mushaf pribadi yang juga dimiliki oleh para sahabat lain. Sosok Abu Bakar yang dikenal sebagai khalifah yang suci dan dipilih melalui konsensus menjadi alasan di balik pengatribusian Mushafnya kepada Mushaf Abu Bakar. Tentunya, ini sebagai upaya peredaman munculnya api konflik dalam pemerintahan ‘Usman dan misi standarisasi teks agar dapat diterima. (Regis Blachere, 1959: 60)

Menjawab Tuduhan Blachere

Dua klaim yang diutarakan Blachere agaknya merupakan bentuk ketidakpahaman Blachere akan kesejarahan. Bahkan, kritikan menunjukkan adanya unsur subjektivitas dalam diri Blachere dalam kritikannya.

Ketika mengomentari panitia komisi, Blachere alpa seperti apa kapabilitas dan integritas dari keempat orang tersebut. Zaid bin Tsabit yang menjadi ketua komisi merupakan seorang pemuda yang cerdas, alim, hafiz, dan juga mendapat mandat langsung dari Nabi saw. sebagai penulis wahyu. Lebih lagi, ia juga ditunjuk oleh Abu Bakar dalam pengumpulan Al-Qur’an di eranya. Abdullah bin Zubair merupakan seseorang yang dikenal akan kedalaman ilmunya sehingga ia dijuluki abadillah. Demikian halnya dengan Sa’id bin Al-Ash, ia merupakan seseorang yang terfasih lisannya dan paling dekat lahjah-nya dengan Nabi saw. Sedangkan, Abdurrahman Al-Harits adalah seorang sahabat yang mulia dari kalangan Quraisy yang menikahi putri khalifah Usman. (Ibn Hajar al-Asqalani, 1910: tt)

Klaim Blachere ini juga semakin jelas tak berdasar jika kita melihat asal dari panitia tersebut. Dari keempat orang yang ada, Zaid bin Tsabit dan Ibnu Zubair mereka berasal dari Madinah, bukan lahir di Mekkah. Hal lain yang juga semakin memperkuat ialah adanya keterlibatan para sahabat lain selain empat orang tersebut seperti Ubay bin Ka’ab, Anas bin Malik, Kutsayir bin Aflah, dan Ibnu Abbas. Tak semua dari mereka orang Muhajirun, melainkan juga Ansar. (Subhi Salih. 1988: 79)

Sedangkan, penggunaan mushaf Abu Bakar sebagai basis tektsual dinilai sebagai bentuk aristokrasi politik sang khalifah juga merupakan rekasaya dan hasil imajinasi Blachere. Keberadaan mushaf Abu Bakar merupakan mushaf yang disepakati berdasarkan konsensus berbeda dengan mushaf para sahabat lainnya. Mushaf Abu Bakar yang ditulis oleh Zaid bin Tsabit yang disaksikan dan berada dalam bimbingan langsung oleh Nabi saw. Artinya, tulisan Zaid merupakan representasi dari Nabi saw.

Sedangkan mushaf para sahabat lain tak mendapat koreksian dari Nabi. Ketika wahyu turun, mereka mendengar dan mencatatnya tapi tidak disodorkan kepada Nabi. Mashahif tersebut hanya menjadi koleksi pribadi mereka. Oleh karenanya, kita akan mendapati banyak dalam tulisan mereka yang bukan bagian dari ayat tapi merupakan penafsiran dari Nabi. Masih tercantumnya ayat-ayat yang sudah dinaskh (diganti/dihapus). Begitu pula, dengan tartib susunannya yang masih menggunakan tartib nuzul (berdasarkan kronologi/asbab an-nuzul).  

Tambah lagi dengan peran Zaid bin Tsabit, ia menjadi sahabat penulis wahyu di zaman Nabi kemudian diangkat menjadi ketua komisi di era Abu Bakar. Pun, demikian halnya di era ‘Utsman, di mana ia mendapat tugas yang sama (sebagai ketua). Sederhananya, apa yang ditulis dan dikerjakan Zaid semuanya berada dalam satu jalur, tidak berbeda dan berlainan dari yang sebelumnya.

Dari sini jelas bahwa upaya Utsman mengkodifikasi mushaf tidak mengatasnamakan kepentingan pribadi sebagai penguasa, melainkan untuk kemaslahatan umat Islam bersama dan penyatuan umat Islam di bawah cara baca yang standar. Bukan sebagaimana yang diklaim oleh Regis Blachere. Selain itu, juga menghilangkan elemen-elemen yang non-Qur’an yang tertulis dalam mushaf-mushaf koleksi pribadi para sahabat yang biasanya mereka gunakan sebagai penjelasan teks yang didapat dari Syarh Nabi Muhammad SAW.

Ref:

David Cohen, “Regis Blachère (1900-1973)”. Journal Asiatique (JA). Vol. 262, 1974.

Ibn Hajar al-Asqalani, 1910. Al-Ishabah fi Tamziz al-Shahabah. Tt; Dar Sadr , vol. 4

Ibn Hajar al-Asqalani. 1910. Al-Ishabah fi Tamziz al-Shahabah. Tt; Dar Sadr , vol. 6.   

Régis Blachère. 1959. Introduction au Coran . Paris: G.P. Maisonneuve.

Shalih, Subhi. 1988. Mabahits fi Ulum Al-Qur’an. Dar Al-Ilmi Al-Malayin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *