Biografi Singkat Anregurutta Abdul Muin Yusuf
Anregurutta Abdul Muin Yusuf, atau Anregurutta Kali Sidenreng, adalah ulama Bugis kelahiran Rappang, Sidrap, 21 Mei 1920. Ia dibesarkan di tengah tradisi keilmuan Islam yang kuat, dengan ayah dari Wajo yang bernama Muhammad Yusuf dan ibu dari Rappang bernama Hj. Sitti Khadijah. Sejak dini ia menempuh pendidikan agama, hingga menimba ilmu di dalam dan luar negeri. Kiprahnya dikenal luas dalam dunia pendidikan dan tafsir Al-Qur’an. (H. Muhammad Ruslan, 2007: 73)
Pada usia 10 tahun, Anregurutta menempuh pendidikan di Inlandsche School pada pagi hari dan Madrasah Ainur Rafie pada sore hari. Setelah lulus pada 1933, ia melanjutkan studi di Madrasah Arabiyah Islamiyah (kini Perguruan As’adiyah) di Sengkang, yang saat itu dipimpin oleh Anregurutta Muhammad As’ad. Di sana, ia belajar bersama tokoh-tokoh ulama Bugis lainnya seperti AGH Abdurrahman Ambo Dalle dan AGH Abdul Pabbaja (H. Muhammad Ruslan, 2007: 73)
Setelah menyelesaikan pendidikannya disana, beliau melanjutkan pendidikannya di Normal Islam Majene. Pendidikan terakhir beliau yaitu di Darul Falah atau Al-Falah Makkah, sebuah perguruan tinggi dibawah naungan langsung pemerintah Arab. Beliau mengambil jurusan perbandingan Madzhab. Perjalanan akademiknya tidak hanya menunjukkan keuletannya, tetapi juga menggambarkan ketangguhan dan kesiapannya menghadapi tantangan zaman.
Keberhasilannya dalam menempuh pendidikan tidak hanya membuktikan kapasitas intelektualnya, tetapi juga menjadikannya sosok yang dihormati di kalangan akademisi Islam. Keilmuan yang diperolehnya di berbagai tempat membentuknya menjadi seorang ulama yang tidak hanya menguasai ilmu fiqh dan perbandingan mazhab, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam terhadap tafsir Al-Qur’an. (H. Muhammad Ruslan, 2007: 73)
Sebagai seorang ulama dan pendidik, Anregurutta Abdul Muin Yusuf memberikan kontribusi besar dalam pengembangan keilmuan Islam, khususnya di Sulawesi Selatan. Beliau aktif dalam dunia pendidikan dan dakwah, menyebarkan pemahaman Islam yang moderat dan kontekstual. Kiprahnya dalam dunia tafsir juga memberikan warna tersendiri dalam khazanah intelektual Islam di Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat Bugis.
Melalui pemikiran dan karya-karyanya, Abdul Muin Yusuf terus dikenang sebagai sosok yang berperan penting dalam menyebarkan ilmu dan nilai-nilai Islam. Keuletannya dalam menimba ilmu dan kegigihannya dalam menghadapi tantangan menjadikannya teladan bagi generasi penerus, terutama dalam memahami dan mengembangkan pemikiran Islam di Nusantara.
Peran Anregurutta Abdul Muin Yusuf sebagai pendidik
Gerakan dakwah beliau dimulai setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Al-Falah pada tahun 1949 dengan jurusan perbandingan mazhab. Pada tahun yang sama, beliau mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), sebuah lembaga pendidikan Islam yang berkembang pesat meskipun hanya bertahan selama lima tahun.
Pada era Orde Baru, beliau mendirikan Yayasan Madrasah Pendidikan Islam (YMPI) yang tetap eksis hingga saat ini. Selain itu, beliau juga merintis Sekolah Menengah Islam (SMI) yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Guru Islam (SGIA), lalu menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA), dan akhirnya bertransformasi menjadi Sekolah Persiapan IAIN (SP-IAIN) sebelum ditutup pada tahun 1974. (Hendra, dkk., 2022: 415)
Tidak berhenti di situ, Anregurutta KH. Abdul Muin Yusuf mendirikan Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqa di Benteng, Baranti, pada 1974, sebagai upaya mencerdaskan masyarakat yang saat itu masih dipengaruhi animisme dan minim pendidikan agama. Pesantren ini kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang membentuk generasi berakidah kuat. (Hendra, dkk., 2022: 415)
Selain berperan dalam dunia pendidikan, beliau juga memiliki keterlibatan dalam ranah politik sebagai sarana dakwah dan penyebaran nilai-nilai Islam melalui keteladanan dan kebijakan. Komitmennya terhadap pendidikan dan dakwah tercermin dalam dedikasinya membangun serta mengembangkan berbagai lembaga pendidikan Islam. Keberlanjutan lembaga-lembaga tersebut menjadi bukti nyata kontribusi beliau dalam membentuk masyarakat yang religius dan beradab. (Hendra, dkk., 2022: 416)
Pandangan Anregurutta Abdul Muin Yusuf terhadap Beberapa Ayat-Ayat Pendidikan
Tafsir Q.S. al-Taubah ayat 122
وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٞ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Anregurutta mengatakan “kuammeng i saisanna wawang mateppe e engka mapahang ri agamana sappai paddissengeng asellengeng e aja namancaji manemmi pammusu lawai bali e nayyakiya sitinaja toi engka mancaji guru mappangaja rilao-laona bicara asellengeng e kuammeng i napahang madeceng i tomateppe e agamana“. (Abdul Muin Yusuf, 4, 1988: 409)
Menurut Anregurutta, ayat ini menekankan pentingnya adanya sekelompok orang dalam suatu negara atau wilayah yang tetap fokus mengajarkan dan mendalami agama. Tidak semua harus terjun langsung sebagai pembela agama di medan perjuangan, agar tidak terjadi kekosongan dalam pendidikan agama. Tujuannya adalah agar sebagian dapat memperdalam ilmu, lalu memberi pemahaman yang benar kepada para pembela agama, sehingga perjuangan mereka dilandasi pemahaman yang tepat. (Abdul Muin Yusuf, 4, 1988: 409)
Tafsir Q.S. al-Kahfi: 66
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا
Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”
Anregurutta mengatakan“makkedai paimeng nabi musa maeloka maccoe ri idi kuammeng i tapagguruka paddissengeng napagguruwangekki puang alla taala nengka uwala bokong matoroi gaukku koromai paddissengeng makkegunai enrengnge amala saleh”
Ayat ini mengisahkan tentang Nabi Musa yang meminta untuk ikut serta dan belajar dari Nabi Khaidir. Dalam penjelasannya, Anregurutta menegaskan pentingnya berguru kepada orang yang tepat, agar kita dapat dibimbing menjadi pribadi yang lebih baik, memahami hakikat agama, dan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Ilmu yang didapatkan dari guru yang tepat akan menjadikan kita berguna bagi sekitar bahkan menjadi pencerah ditengah-tengah kegelapan. (Abdul Muin Yusuf, 6, 1988: 276)
Tafsir Q.S. al-Mujadalah: 11
Pada ayat ini Anregurutta mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim yaitu
لاَ يُقِيْمَنَّ أَحَدُكُمْ رَجُلاً مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ ، وَلكِنْ تَوَسَّعُوْا وَتَفَسَّحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ
Anregurutta mengatakan “aja nasuroi salasewwammutu menna tettong seddie onrowanna natudangiro onronna naiyyakiya sagenaiwi enreng e siesako nasagenaiwi puang alla taala pammasena riko mena”
Menurut Anregurutta, hadis ini mengajarkan agar seseorang tidak menyuruh orang lain berdiri demi mengambil tempat duduknya, melainkan saling memberi ruang agar yang lain dapat duduk. Siapa yang memudahkan saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. (Abdul Muin Yusuf, 10, 1988: 831)
Apabila tempat atau lokasi dari kegiatan itu sempit maka saran Anregurutta mengatakan salah seorang berdiri untuk mengatur dengan baik cara duduk orang agar bisa lebih luas dan memuat banyak orang. “tettong no riolo muatoro i tudangeng kuammeng i namasagena onronge”.
Anregurutta juga mengutip dari al-Qurtubi yang mengatakan bahwa Allah swt memperjelas bahwa betapa tingginya derajat orang-orang yang beriman di sisi Allah swt karena Ilmu dan keimanan bukan karena orang yang terlebih dulu hadir di majelis untuk menuntut ilmu. Sebab Allah swt mengetahui segala yang kita perbuat. (Abdul Muin Yusuf, 1988: 832)
Referensi
Ruslan, Muhammad, Ulama Sulawesi Selatan Biografi Pendidikan & Dakwah,
(Makassar: Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi
Selatan, 2007)
Hendra, Nurhidayat Muhammad Said, dan St. Nasriah, Pemikiran dan gerakan Kh Abdul Muin Yusuf di Kabupaten Sidenreng Rappang, Jurnal Mercusuar, Makassar : UIN Aauddin Makassar 2022
Yusuf, AG. K.H. Abdul Muin. Tafsir Muin Tafsere’ Aqorang Mabbahasa ogi, jilid 4 (Makassar: MUI Provinsi Sulawesi Selatan).
Yusuf, AG. K.H. Abdul Muin. Tafsir Muin Tafsere’ Aqorang Mabbahasa ogi, jilid 6 (Makassar: MUI Provinsi Sulawesi Selatan).
Yusuf, AG. K.H. Abdul Muin. Tafsir Muin Tafsere’ Aqorang Mabbahasa ogi, jilid 10 (Makassar: MUI Provinsi Sulawesi Selatan).





