Mengkaji Fikih Lewat Tafsir: Review Tafsir Rawa’i al-Bayān karya Ali al-Sabuny

Disiplin ilmu Al-Qur’an menegaskan bahwa, interpretasi Al-Qur’an dilewati melalui sekian cara, seperti kecondongan mufassir pada konteks bahasa, akidah, tasawuf, fikih dan lain sebagainya. Dalam konteks tafsir, hasil interpretasi yang condong pada fikih dikenal dengan istilah tafsir ahkam. Maknanya, metode yang dipraktikkan ialah menyingkap maksud Al-Qur’an berdasarkan aspek hukum. Adapun, di antara produk tafsir dengan pendekatan fikih yang popular di zaman modern ialah tafsir Rawa’i al-Bayan karya Imam Ali al-Shabuny. (Suharta: 2024)

Profil Pribadi al-Sabuny

Bacaan Lainnya

Sejarah menyebutkan, Universitas al-Azhar melahirkan produk ulama’ yang terkenal dan mu’tabar. Imam Ali al-Sabuny sebagai alumni menorehkan banyak karya tulis yang tersebar luas, (Yusron: 2026, 74) seperti Ikhtisar Tafsir ibn Kathir, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, Safwat al-Tafasir dan sebagainya. (Fahimah: 2021, 124) Selain itu, al-Sabuny juga diketahui memiliki analisa (interpretasi) yang mendalam. Bahkan, ia dipanggil dengan al-qalam  al-sayyar (pena yang mengalir) sebab kegemaran beliau dalam menulis serta keberhasilan beliau dalam membenarkan ajaran Al-Qur’an. (Suhaimi: 2020, 152)

Selayang Pandang Tafsir Rawa’i al-Bayan

       Di antara karya agung (magnum opus) Imam al-Sabuni ialah tafsir Rawa’i al-Bayan tafsir Ayat al-Ahkam. Sebagai pujian, kitab tersebut dilengkapi dengan pendapat ulama’ klasik dan ulama’ modern. Adapun kitab yang dimaksud menggunakan metode maudhu’i serta diiringi dengan 70 pembahasan dalam  40 kajian pada bab pertama dan 30 kajian pada bab kedua. (Shabuni: 1980, 11) Rinciannya, ayat Al-Qur’an yang dikaji sebanyak 248 ayat yang tersebar pada 21 surat, yaitu al-Baqarah 20 tema, Ali Imran 2 tema, An-Nisa 7 tema, Al-Maidah 4 tema, At-Taubah 2 tema, Al-Anfal 3 tema, Al-Hajj 1 tema, An-Nur 9 tema, Luqman 1 tema, Al-Ahzab 7 tema, Saba’ 1 tema, Shad 1 tema, Muhammad 2 tema, Al-Hujurat 1 tema, Al-Waqiah 1 tema, Al-Mujadalah 2 tema, Al-Mumtahanah 1 tema, Al-Jum’ah 1 tema, At-Thalaq 2 tema, dan Al-Muzammil 1 tema. (Qudsia: 2020)

Interpretasi al-Sabuni pada ayat-ayat fiqih acap kali dikaitkan bersama 4 mazhab fiqih (al-mazahib al-arba’ah). (Syafruddin: 2010, 123) Dalam analisisnya, disertakan juga pembahasan bahasa (linguistik), sebab turunnya ayat (asbabun nuzul), hukum-hukum syariat (al-ahkam al-syar’iyyah), kesimpulan hukum (istinbat} al-ahkam) dan hikmah di balik syariat yang ditetapkan (hikmat al-tasyri’). (Khairuddin: 2017, 108) Sebagai kekurangan, tafsir tersebut tidak menyertakan sanad periwayatan yang dikutip. Adapun, kelebihannya yaitu menggabungkan sekian analisis dalam pelbagai metode sehingga pembaca memiliki wawasan yang luas. (Zilfaroni: 2014)

Contoh Analisis Tematik Fikih (menggali ketentuan Fikih dalam basmalah)

 Pada mukaddimah tafsir, memulai dengan interpretasi surat al-Fatihah secara detail dan mendalam. Adapun ciri khas pada tafsir yang dimaksud ialah uraian al-ahkam al-syar’iyyah. Sebagai contoh, al-Sabuny menafsirkan basmalah dengan sekian tahapan, yaitu tafsiran secara umum, pembahasan linguistik dan hukum-hukum fikih yang berkaitan, yaitu

Apakah basmalah termasuk ayat dalam al-Qur’an?

Ulama’ bersepakat bahwa, lafadz basmalah yang disebutkan dalam Q. S al-Naml [27]: 30 merupakan bagian dari ayat al-Qur’an. Adapun ulama’ berselisih mengenai basmalah dalam al-Fatihah, apakah ia termasuk dalam surat tersebut? Demikian juga apakah ia termasuk dalam awal setiap surat? Dalam Mazhab Syafi’i, basmalah termasuk pada surat al-Fatihah serta termasuk dalam setiap awal surat. Berbeda dengan Mazhab Maliki, basmalah dianggap bukan termasuk pada al-Fatihah juga bukan setiap awal dari surat.

Menurut Imam Hanafi, basmalah merupakan salah satu ayat dari al-Qur’an namun bukan termasuk ayat dari al-Fatihah. Alasannya, ayat tersebut diturunkan guna memisahkan antar surat. Pasca menguraikan sekian aliran mazhab, al-S{a>bu>ny juga menyertakan dalil-dalil yang digunakan oleh tiap mazhab untuk berargumen demikian. Sehingga, pembaca mengetahui cara setiap Imam Mazhab ber-istinbat (merumuskan) suatu hukum berdasarkan riwayat yang ada dengan ciri khas masing-masing mazhab.

Apa hukum membaca basmalah dalam sholat?

Merujuk pada mazhab Imam Malik, saat sholat fardlu baik sirr maupun jahr tidak diperkenankan membaca basmalah. Sementara itu, membaca basmalah hanya diperkenankan pada sholat nafilah (sunnah). Dalam mazhab Imam Hanafi, basmalah dibaca pada setiap rakat dengan sirr (pelan/lirih) baik dalam al-Fatihah maupun surat-surat lainnya. Adapun, Imam Syafi’i berpandangan bahwa membaca basmalah hukumnnya wajib pada sholat sirr maupun jahr.

Apakah membaca al-Fatihah wajib dalam sholat?

Dalam konteks ini, para ahli fikih berselisih menjadi dua golongan. Pertama, golongan Mazhab Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali berkomentar bahwa, membaca al-Fatihah merupakan syarat sah sholat serta meninggalkannya berarti tidak sah kecuali dengan uzur syar’i. Kedua, golongan Mazhab Imam Tsauri dan Mazhab Hanafi berkomentar bahwa, sholat seseorang tanpa membaca al-Fatihah tidaklah batal, sekalipun al-Fatihah dibacakan dengan tidak fasih sholat tersebut tetap sah. Adapun yang wajib adalah kegiatan membaca tetap ada sekalipun hanya membaca 3 ayat al-Qur’an.

Apakah makmum perlu membaca al-Fatihah di belakang imam? 

Pada pembahasan ini, ulama’ ahli fikih bersepakat bahwa makmum yang mendapati imam sedang rukuk maka bacaan makmum telah ditanggung oleh imam. Adapun, perkara makmum apakah perlu membaca al-Fatihah di belakang imam diperselisihkan oleh para ahli fikih. Imam Syafi’i dan Imam Hanbali berkomentar, membaca al-Fatihah bagi makmum adalah wajib pada sholat jahr maupun sholat sir. Adapun Imam Malik berkomentar bahwa membaca al-Fatihah hukumnya wajib pada sholat sirr dan tidak wajib pada sholat jahr. Sementara itu, Imam Hanafi berpendapat bahwa tidak perlu membaca al-Fatihah bagi makmum pada sholat sirr maupun jahr. (Shabuni: 2007, 43)

 

Referensi

Al-Shabuni, Abu al-Wafa’ ’Ali ibn Muhammad ibn Ahmad. Rawa’i al-Bayan Fi Tafsir Ayat al-Ahkam. Vol. 1. Kairo: Dar al-Sabuny, 2007.

Al-Shabuni, Muhammad Ali. Rawai’ul Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam Min Al-Qur’an,. Vol. 1. Damaskus: Maktabat al-Ghazali, 1980.

Fahimah, Siti. “Tafsir Shawa Al Tafasir Dan Ra’wi Al Bayan Karya Ali As-Shobuni.” Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir 4, no. 1 (30 Juni 2021): 124–37. https://doi.org/10.58518/alfurqon.v4i1.1785.

Khairuddin, Fiddian. “PARADIGMA TAFSIR AHKAM KONTEMPORER Studi Kitab Rawai’u al-Bayan Karya ‘Ali al-Shabuniy.” Syahadah: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Keislaman 5, no. 1 (Desember 2017): 108–30. https://doi.org/10.32520/syhd.v5i1.129.

Qudsia, Miatul. “Mengenal Rawai’ Al-Bayan, Tafsir Ayat Ahkam Karya Ali Ash-Shabuny,” 23 November 2020. https://tafsiralquran.id/mengenal-rawai-al-bayan-tafsir-ayat-ahkam-karya-ali-ash-shabuny/.

Suhaimi, Suhaimi. “Pemikiran Kebahasaan Syeikh Al-Shabuni dalam Kitab Shafwat Al-Tafasir: Analisis terhadap Penafsiran Surat Al-Fatihah.” Jurnal Ilmiah Al-Mu’ashirah 17, no. 2 (30 Juli 2020): 151. https://doi.org/10.22373/jim.v17i2.9076.

Suharta. Dinamika penafsiran ayat ahkâm munâkahât: tinjauan terkait ayat ayat pernikahan, perceraian, hak perempuan, dan anak-anak. Cetakan pertama. Praya, Lombok Tengah, NTB: Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia, 2024.

Syafruddin. Metode Tafsir Ahkam. Padang: Hayfa Press, 2010.

Yusron, Muhannad. Studi Kitab Tafsir Kontemporer. Padang: Teras, 2006.

Zilfaroni. “Metode Muhammad Ali al-Shâbuni dalam Tafsir Rawâi’ al-Bayân ‘Tafsir al-Ayat al-Ahkâm Min al-Qur’ân,’” 14 November 2014. https://www.zilfaroni.web.id/2012/11/metode-muhammad-ali-al-shabuni-dalam.html.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *