Problematika kebangsaan ini memang menjadi problem yang multidimensional bahkan terus berkembang dari waktu ke waktu. Mulai dari problem kemiskinan, problem penduduk, problem dan lain sebagainya. Syamsul Anwar (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah) dalam kata pengantar Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah menyebutkan:
Bangsa indonesia termasuk umat islam di dalamnya yang merupakan bagian terbesar, menghadapi bejibun problem dan permasalahan. Daftar persoalannya amat panjang, sejak dari problem kemiskinan, kesempatan kerja yang sempit, sumber daya yang belum memadai dan jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain, masih rendahnya indeks pembangunan manusia, persepsi mengenai relasi gender yang masih bias, penegakan hukum yang belum berkeadilan, masalah hak asasi manusia, maraknya praktik korupsi yang merusak sendi kehidupan ekonomi dan sosial bangsa, penyelenggaraan negara yang belum memenuhi tuntutan good governance, pertikaian kelompok di tengah masyarakat, kerusuhan sosial yang sering terjadi yang menggambarkan kualitas moral dan budaya yang belum tinggi, fenomena bermunculannya aliran keagamaan sempalan, masalah lingkungan hidup, merajalelanya tingkat kriminalitas seperti pembunuhan, kekerasan dalam rumah tangga termasuk terhadap anak, jual beli manusia (human traficking), degradasi komitmen moral akibat pragmatisme yang berlebihan, semakin meningkatnya perilaku konsumeristik dan gaya hidup hedonis dalam masyarakat, perjudian, pengaruh dan peredaran narkoba, sampai banyaknya musibah yang terjadi karena faktor alam maupun karena manusianya itu sendiri. (Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022)
Artikel ini akan berfokus pada bagaimana “core value kebangsaan” dirumuskan dalam Tafsir At-Tanwir Muhamamadiyah. Dalam kaitan itu, artikel ini mempertimbangkan penggunaan teori Agensi dari Antony Giddens. Isu yang hendak di-tackle pada artikel ini ialah domain epistemologis dari Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah dalam mengontekstualisasi nilai kebangsaan yang terkandung dalam sejumlah ayat dalam tafsir juz 1 dan 2.
Giddens dan Agensi
Adapun pandangan Giddens tentang agensi terangkum dalam beberapa poin berikut ini: a) dualitas struktur atau struktur sosial tidak hanya membatasi tindakan manusia, namun juga memungkinkan memproduksi sesuatu yang baru; b) agensi bermakna sebagai kemampuan bertindak secara sadar dan reflektif; c) reflektivitas atau kemampuan manusia dalam merefleksikan pengalaman dan mengubah pandangan berdasarkan apa yang mereka pahami; d) reproduksi praktik sosial atau struktur sosial bisa dipertahankan atau dibuat kembali; e) struktur sebagai aturan dan sumber daya; f) kontinuitas dan perubahan sosial; g) tindakan terkait ruang dan waktu.(Anthony Gidden, 1984).
Dalam konteks tafsir, seorang penafsir berperan sebagai agen sosial yang memiliki kekuatan untuk mempertahankan atau mengubah struktur masyarakat melalui penafsirannya. Dengan demikian, tafsir bukan sekadar aktivitas keilmuan, tetapi juga aksi sosial-politik yang memengaruhi realitas.
Memperbincangkan Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah tentu sangat menarik. Tafsir yang mulai diterbitkan pada tahun 2016 ini menggunakan metode tahlili cum maudhui.(Ilham, 2025). Terkait corak (laun), dalam berbagai pandangan para peneliti, tafsir ini memiliki corak yang berbeda-beda, beberapa menyebutnya dengan corak adabi ijtima’i, ada juga yang menyebutnya bercorak ilmi (Nurdin Zuhdi & Indal Abror, 2021), peneliti yang lain menyatakan coraknya campuran di antara corak yang ada.(Syamsul Hidayat, 2017).
Atas keunikannya ini banyak peneliti tertarik untuk mengulik lebih dalam Tafsir At-Tanwir. Namun, atas dasar artikel ini, penulis menawarkan satu corak baru yaitu corak kebangsaan (wathani). corak kebangsaan (wathani) ini agaknya menjadi corak tepian dalam tafsir ini. Argumentasinya adalah penafsiran yang membahas nilai-nilai kebangsaan dalam Tafsir At-Tanwir ini dijelaskan pada ayat yang secara tekstual tidak berhubungan dengan pembahasan kebangsaan. Lebih lanjut hal ini membutuhkan penelitian yang serius dan sistematis, dikarenakan corak kebangsaan (wathani) ini belum terdapat dalam nomenklatur corak pada Fan Ulumul Tafsir.
Core Value Kebangsaan dalam Tafsir At-Tanwir juz 1 dan 2
Ibadah yang benar dan Taat Hukum
Ayat-ayat yang terkelompokkan pada sub ini ditafsirkan dalam tema “Puasa Ramadan dan Beberapa Aspek Hukumnya” dengan sub tema “Kewajiban Berpuasa”. Tafsir QS. Al-Baqarah/2:183 menjelaskan bahwa di Indonesia, meskipun banyak orang rajin berpuasa, praktik korupsi tetap marak, menunjukkan bahwa puasa sering dilakukan hanya sebagai ritual tanpa dampak spiritual yang mendalam. Agar puasa benar-benar membentuk insan bertakwa, diperlukan keikhlasan dan kesungguhan dalam menjalankannya, bukan sekadar rutinitas.(Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022: 101)
Selanjutnya Tafsir QS. Al-Baqarah/2:270 yang menerangkan bahwa zhulm (kezaliman) adalah kegelapan hati yang membuat seseorang tidak bisa membedakan baik-buruk, seperti dalam nafkah dan nazar negatif, sehingga Allah tidak menolongnya—baik di dunia (misalnya: politisi korup yang dihina) maupun akhirat. Sebaliknya, orang yang berbuat benar mendapat dukungan dan pujian yang jauh lebih bernilai daripada keuntungan sesaat.(Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022: 380)
Kepemimpinan yang berkualitas dan Keterbukaan
Tafsir QS Al-Baqarah/2:247 mengurai terkait analisis Abu Nasr Al-Farabi dalam Ārā’u Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah menegaskan bahwa kepemimpinan yang baik harus digerakkan oleh visi kenabian seperti keteladanan, integritas, dan kecerdasan spiritual (al-‘aql al-mustafād) agar organisasi atau negara mencapai kekokohan. Pemimpin ideal bukan sekadar pengendali, tapi juga figur yang menciptakan al-ma’mūrah(masyarakat makmur dan stabil), baik secara politik, ekonomi, maupun sosial. Tanpa kepemimpinan berbasis nilai ilahiah, mustahil terwujud tatanan masyarakat yang adil dan berkelanjutan.(Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022:326-327)
Adapun Tafsir QS Al-Baqarah/2:6-7 menjelaskan bahwa sikap tertutup (kufr) termasuk fanatisme buta dan penolakan terhadap kebenaran dari pihak lain, akan melahirkan konflik dan ketidakharmonisan sosial. Sebaliknya, keterbukaan dalam kepemimpinan dan kerjasama adalah prinsip vital untuk menghindari permusuhan dan menciptakan harmoni, terutama dalam masyarakat plural.(Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022: 80-81)
Keadilan dan keseimbangan
Tafsir QS. Al-Baqarah/2: 191 menjelaskan bahwa Secara historis, Allah membolehkan perlawanan terhadap kaum musyrik Makkah karena kezaliman mereka yang ekstrem, seperti penyiksaan, perampasan harta, dan pengusiran paksa, yang menunjukkan bahwa penindasan terutama yang disertai penentangan terhadap tauhid itu lebih keji daripada pembunuhan. Di era modern, penindasan serupa dilakukan oleh penguasa atau orang kaya yang mengeksploitasi rakyat lemah, sehingga penegakan hukum ilahi yang adil menjadi solusi mendesak untuk menghentikan ketidakadilan ini.(Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022: 155)
Persatuan dan tolong menolong
Tafsir QS Al-Baqarah/2: 213 menjelaskan bahwa manusia awalnya merupakan umat yang bersatu dalam ajaran tauhid (ummatan wāhidatan), namun perpecahan muncul akibat hawa nafsu dan pelanggaran hak orang lain yang didorong kedengkian. Eksploitasi dan keserakahan tanpa batas inilah yang menghancurkan kesatuan umat manusia dan memicu konflik berkepanjangan.(Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022: 201-202) Selanjutnya, penafsiran. QS Al-Fatihah: 5-7, terdapat dalam tema “Jalan Hidup” dengan sub tema “Hidup dengan Jalan Beribadah kepada Allah” yang menjelaskan prihal ibadah secara umum namun dalam Tafsir At-Tanwir diupayakan hadir kontekstualisasinya. Isti’anah (memohon pertolongan hanya kepada Allah) dan mu’awanah (tolong-menolong antar manusia) saling terkait, seperti saat pasien berobat ke dokter (mu’awanah) sambil tetap bersandar pada Allah untuk kesembuhan (isti’anah). Seluruh anggota masyarakat wajib bekerja sama dan tolong menolong membangun kesejahteraan rakyat dan negara.(Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022: 41-42)
Kesetaraan
Tafsir QS. Al-Baqarah/2: 148 menegaskan bahwa, mengakui keberagaman orientasi masyarakat melalui konsep hak kepemilikan (li=dalam ayat ini) yang harus dihormati, menunjukkan sistem sosial Islam yang egaliter dan majemuk. Dalam struktur masyarakat modern, setiap warga terlepas dari latar belakangnya memiliki hak dan kewajiban setara untuk membangun kebudayaan demi kemajuan bersama. (Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2022: 17)
Agensi Penafsir berdasarkan Teori Antony Giddens
Tafsir-tafsir tersebut di atas secara sederhana lahir karena agensi yang dimiliki penafsir Muhammadiyah baik perorangan maupun kelembagaan dalam merespons krisis nilai kebangsaan di Indonesia. Tafsir At-Tanwir secara khusus dinilai memiliki kemampuan memengaruhi warga Muhammadiyah yang ingin mengetahui Islam Muhammadiyah melalui tafsir Muhammadiyah tersebut.
Tidak hanya itu, masyarakat merasa Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah bisa dijadikan sebagai rujukan dalam diskusi akademis maupun ceramah-ceramah agama. Tafsir tersebut kemudian mampu memupuk nilai kebangsaan. Ia mampu membangun struktur bangunan warga Muhammadiyah secara khusus dan masyarakat secara umum tentang sikap kebangsaan Muhammadiyah. Pemahaman itulah yang nantinya menjadi struktur sosial warga Muhammadiyah. Muhammadiyah mencipta, dan memperbaharui, memengaruhi sejarah. Oleh karena itu, melalui produk tafsirnya, agensi Muhammadiyah menjadi semakin kuat, terutama di lingkup masyarakat yang terafiliasi secara langsung dengan Muhammadiyah.
Daftar Pustaka
Gidden, Anthony. (1984). The Constitution of Society . University of Callifornia Press,.
Hidayat, Syamsul. (2017). Tafsir jama’i untuk pencerahan umat, Telaah Tafsir At-Tanwir Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jurnal Wahana Akademika, Volume 4(Nomor 2,), 245–256.
Ilham. (2025). Tafsir At-Tanwir Berupaya Mengintegrasikan Tradisi Klasik dan Modern. Https://Muhammadiyah.or.Id/2024/12/Tafsir-at-Tanwir-Berupaya-Mengintegrasikan-Tradisi-Klasik-Dan-Modern/.
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2022). Tafsir al-Tanwir : jilid 1. Suara Muhammadiyah.
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2022). Tafsir al-Tanwir : jilid 2. Suara Muhammadiyah.
Zuhdi, Nurdin & Abror, Indal. (2021). TAFSIR AT-TANWIR MUHAMMADIYAH Teks, Konteks dan Integrasi Ilmu Pengetahuan. Bildung .





