Representasi Karl Marx dalam Tafsir Al-Azhar Buya Hamka : Tafsir Sosialisme, Materialisme dan Perlawanan Kelas

Buya Hamka, yang memiliki nama lengkap Haji Abdullah Malik Abdul Karim Amrullah (1908-1981) mendedahkan dirinya untuk menulis tafsir monumental yang kerap dikenal dengan Tafsir Al-Azhar. Ia merupakan wujud ulama kontemporer yang berhasil menggugah dunia dengan kapasitas cakrawala keilmuannya yang berbasis Nusantara-sentris. Kegigihannya menggeluti teks Al-Qur’an tercipta dari mileu yang bernuansa agamis, baik dari internal keluarga maupun lingkungan sekitar.

Tentu dalam hal ini Hamka tidak bisa terlepas dari realitas sosial dan pergumulannya dengan teks keagamaan. Keresahan-keresahan yang ia rasakan secara eksplisit ditorehkan dalam bentuk tulisan, sekalipun juga dengan lisan (Jamarudin, 2019). Basis keilmuannya tidak perlu dipertentangkan lebih dalam, karena ia telah menggugah spiritual dan pemahaman bangsa Indonesia dengan hanya membaca karyanya, tafsir Al-Azhar.

Bacaan Lainnya

Kemudian sebagai ulama yang hidup di era kemerdekaan Indonesia, Hamka menyaksikan langsung pengaruh ideologi-ideologi Barat, termasuk sosialisme dan komunisme Marx, terhadap masyarakat Muslim. Melalui tafsirnya, Hamka memberikan analisis mendalam tentang posisi ajaran Marx dalam perspektif Islam, menunjukkan baik kritik maupun apresiasi terhadap aspek-aspek tertentu dari pemikiran sang filsuf Jerman tersebut.

Selain itu, ia tidak hanya menafsirkan Al-Qur’an dari sisi teologis dan spiritual, tetapi juga menghadirkan refleksi sosial dan politik kontemporer ke dalam tafsirnya. Terbukti ia menyinggung ideologi modern, termasuk sosialisme dna komunisme yang diasosiasikan dengan pemikiran Karl Marx.

Menukil dari penjelasan diatas, tulisan ini hendak menelaah posisi Karl Marx dalam penafsiran hamka terhadap ayat-ayat tertentu yang ada di Tafsir Al-Azhar. Kemudian tentu juga artikel ini bersifat deskriptif, kritis-analitik dengan menyajikan ayat-ayat secara tematik dan relevan dengan tema yang telah ditetapkan.

Argumentasi penulis yakni sementara sedikit jumlah penafsir yang menjadikan karl Marx sebagai contoh untuk menafsirkan ayat, khususnya tafsir yang satu zaman dengan Buya Hamka. Sehingga dengan ini tampak bagaimana Hamka menyikapi peperangan ideologi materialistik dan kegaduhan sosial di era hangatnya kemerdekaan Indonesia.

Serta melalui penafsiran sejumlah ayat, Hamka menunjukkan bagaimana marxisme bersinggungan, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai islam, sekaligus mengakui sisi-sisi tertentu dari Karl Marx yang mencerminkan aspirasi keadilan sosial. Oleh karena itu, artikel ini memiliki kontribusi yang cukup sentral sebagai acuan utama dan bersifat praktis untuk membahas posisi Karl Marx dalam tafsir-tafsir di era modern atau kontemporer.

 

 

Pergeseran Otoritas: Dari Figur Spiritual ke Ideologi Material

Al-Baqarah 64: Transformasi Loyalitas Spiritual

Dalam menafsirkan Al-Baqarah ayat 64 yang berbicara tentang perjanjian Bani Israil dengan Allah, Buya Hamka melihat paralel dengan kondisi umat Islam modern yang mengalami pergeseran otoritas. Menurut Hamka, sebagaimana Bani Israil yang melanggar perjanjian dengan Allah, sebagian umat Islam telah mengalami transformasi loyalitas dari figur spiritual Muhammad saw ke figur ideologis seperti Karl Marx. Dan Ia juga menyebutkan bahwa Bani Israil lalai terhadap esensi agama sebagai peneduh hati. Hanya dengan segelintir ideologi dan uang mereka menjadikan agama sebatas formalitas ucapan (HAMKA, 2019).

Kemudian Hamka mengidentifikasi bahwa Islam telah “ditukar” dengan nasionalisme jahiliyah atau sosialisme ilmiah ala Marx. Pergeseran ini menunjukkan krisis spiritual di mana otoritas keagamaan digantikan oleh otoritas ideologis. Marx, dengan materialisme historisnya, menawarkan solusi duniawi yang tampak konkret, sementara ajaran Islam dianggap kurang relevan untuk mengatasi persoalan sosial-ekonomi modern.

Perbandingan Konsep Sosialisme Marx dan Islam

Al-Baqarah 177: Hakikat Kebajikan Sejati

Ketika menafsirkan Al-Baqarah ayat 177 yang mendefinisikan hakikat kebajikan, Hamka melakukan komparasi mendalam antara konsep sosialisme Marx dan ajaran Islam. Ayat ini menyebutkan bahwa kebajikan bukan sekadar ritual, tetapi beriman kepada Allah, hari akhir, dan memberikan harta kepada yang membutuhkan.

Hamka melihat bahwa Marx dan Islam sama-sama memperhatikan keadilan sosial dan kepedulian terhadap kaum miskin. Namun, perbedaan fundamental terletak pada motivasi dan tujuan akhir. Sosialisme Marx bersifat materialistik dan mengabaikan dimensi spiritual, sementara Islam menegakkan keadilan sosial sebagai manifestasi keimanan kepada Allah. Islam tidak hanya menuntut redistribusi kekayaan, tetapi juga transformasi spiritual yang menghasilkan kepedulian sosial yang tulus sehingga islam tapak mengantisipasi maraknya paham antroposentrisme (HAMKA, 2019).

Marx, Kapitalisme, dan Stratifikasi Sosial

Al-Baqarah 272: Kritik terhadap Sistem Ekonomi

Dalam Al-Baqarah ayat 272 tentang sedekah dan bantuan kepada fakir miskin, Hamka melihat relevansi dengan kritik Marx terhadap kapitalisme. Hamka mengapresiasi analisis Marx tentang eksploitasi kelas pekerja oleh pemilik modal dan pembentukan stratifikasi sosial yang tidak adil (HAMKA, 2019).

Namun, Hamka menegaskan bahwa Islam telah lebih dahulu memberikan solusi komprehensif melalui sistem zakat, sedekah, dan prinsip-prinsip ekonomi Islam yang dipercaya mengatasi problem kemanusiaan secara global (Bariyah et al., 2023). Sementara Marx menawarkan revolusi kelas sebagai solusi, Islam menawarkan transformasi kesadaran yang menghasilkan keadilan ekonomi tanpa kekerasan. Demikian merupakan potret paradigma yang menyongsong humanisme berkemajuan dengan menunjukkan perlawanan penindasan terhadap kaum proletariat.

At-Taubah 103: Materialisme versus Spiritualitas

Dalam menafsirkan At-Taubah ayat 103 tentang zakat yang mensucikan dan membersihkan jiwa, Hamka mengkritik materialisme Marx yang mengabaikan dimensi spiritual manusia. Marx memang berhasil menganalisis kontradiksi dalam sistem kapitalis dan menjadi “penggugah mental perlawanan rakyat proletariat”, namun solusi yang ditawarkan tetap berkutat pada level material.

Hamka menegaskan bahwa “maksud ajaran Karl Marx ialah hendak memperbaiki nasib manusia yang telah sangat menderita karena tabiat loba tamak dan bakhilnya kelas yang mempunyai.” Meskipun tujuan ini mulia, pendekatan Marx yang materialistik tidak mampu mengubah sifat dasar manusia yang serakah.

Hamka menganggap Marx sebagai vis a vis pahlawan, karena ia mengapresiasi ajaran hirarki sosial Marx sebagai upaya memperkuat harga diri dan menjadikan sebuah resistensi terhadap penindasan rakyat kecil (Hamka, 2003b).

Identitas Yahudi Marx dan Implikasinya

An-Nisa 46 dan 94: Genealogi Ideologi

Hamka tidak mengabaikan latar belakang etnis Marx sebagai keturunan Yahudi. Dalam menafsirkan An-Nisa ayat 46 dan 94, dia mengaitkan resistensi terhadap komunisme dengan sejarah panjang konflik antara Islam dan Yahudi. Hamka melihat bahwa ideologi komunis yang dibawa Marx tidak terlepas dari konteks historis dan kultural Yahudi yang kompleks.

Namun, Hamka tidak terjebak dalam antisemitisme. Dia lebih fokus pada kritik ideologis daripada identitas etnis. Yang dikritik adalah materialisme dan ateisme dalam ajaran Marx, bukan asal-usul etnisnya (Hamka Prof. Dr, 2015).

Pertentangan Kelas dalam Perspektif Islam

Al-An’am 116 dan Al-Kahf 98: Sosialisme sebagai Fenomena Modern

Hamka mengakui bahwa Marx mengajarkan pertentangan kelas sebagai motor sejarah, namun Islam menawarkan perspektif yang berbeda. Dalam Al-An’am ayat 116, Hamka menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kebersamaan dan persatuan, bukan pertentangan (Prof. DR. Hamka, 2003).

Mengenai asal-usul komunisme, Hamka dengan tegas menyatakan: “Dan yang lebih terang lagi, yang menimbulkan ajaran Komunis itu, pada mulanya bukanlah orang Rusia, tetapi seorang Yahudi di Jerman bernama Karl Marx.” Pernyataan ini menunjukkan pentingnya memahami genealogi intelektual sebuah ideologi (Hamka, 2003a).

Martabat Manusia: Antara Islam dan Marxisme

Ar-Rum 21: Konsep Kemuliaan Manusia

Dalam Ar-Rum ayat 21, Hamka menemukan perbedaan fundamental antara Islam dan Marxisme dalam memandang manusia. “Pokok ajaran agama ialah bahwa manusia itu adalah makhluk Allah paling dimuliakan oleh Tuhan, ditinggikan derajatnya di muka bumi.”

Marxisme melihat manusia dari sudut pandang ekonomi dan kelas sosial, sementara Islam melihat manusia dari sudut pandang kemuliaan yang diberikan Allah. Perbedaan ontologis ini menghasilkan pendekatan yang berbeda dalam mengatasi persoalan sosial (Hamka, 2014).

Sintesis dan Refleksi Kritis

Buya Hamka menunjukkan sikap yang nuansa dalam menghadapi pemikiran Marx. Dia mengapresiasi analisis Marx tentang ketidakadilan kapitalisme dan kepeduliannya terhadap nasib kaum tertindas. Namun, dia menolak solusi yang ditawarkan Marx karena mengabaikan dimensi spiritual manusia.

Hamka melihat bahwa Islam telah memberikan solusi yang lebih komprehensif: keadilan sosial yang berlandaskan spiritual, sistem ekonomi yang berkeadilan, dan transformasi individu yang menghasilkan masyarakat yang harmonis. Tidak seperti Marx yang menganjurkan revolusi kelas, Islam mengajarkan evolusi kesadaran yang menghasilkan perubahan sosial yang berkelanjutan.

Kesimpulan

Analisis Buya Hamka terhadap Karl Marx dalam Tafsir Al-Azhar menunjukkan kematangan intelektual seorang ulama yang mampu berdialog dengan pemikiran modern tanpa kehilangan identitas Islam. Hamka tidak menolak begitu saja pemikiran Marx, tetapi melakukan sintesis kritis yang mengambil aspek positif sambil menolak yang bertentangan dengan Islam.

Relevansi analisis Hamka tetap terasa hingga kini, di era globalisasi dan kapitalisme lanjut. Kritik terhadap materialisme Marx dan apresiasi terhadap kepedulian sosialnya memberikan perspektif yang seimbang bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan ideologi modern. Islam, menurut Hamka, bukan anti-perubahan sosial, tetapi menawarkan paradigma perubahan yang lebih fundamental: transformasi spiritual yang menghasilkan keadilan sosial yang berkelanjutan.

Dengan demikian, Tafsir Al-Azhar tidak hanya berfungsi sebagai penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga sebagai dialog peradaban yang menunjukkan vitalitas pemikiran Islam dalam merespons tantangan zaman.

Referensi

Bariyah, O. N., Rohmah, S., Hakim, L., & Safwah, M. (2023). Zakah for Development and Civilisation (Analysis of HAMKA’s Thought in Tafsir Al Azhar). Indonesian Conference of Zakat-Proceedings, 685–697.

HAMKA, P. D. (2019). Tafsir Al-Azhar Jilid 1. In Ayat-Ayat Konservasi Lingkungan.

Hamka, P. D. H. A. A. K. A. (2003a). Tafsir al-azhar. In Singapore: Kerjaya Printing Industries. https://www.academia.edu/download/70191859/Tafsir_Al_Azhar_04.pdf

Hamka, P. D. H. A. A. K. A. (2003b). Tafsir Al Azhar Jilid O4 Surat Al-A’raf, Al-Anfal, At-Taubah.

Hamka, P. D. H. A. A. K. A. (2014). Tafsir Al-Azhar Jilid 7 (Vol. 1). Pustaka Al-Kautsar.

Hamka Prof. Dr. (2015). Tafsir Al-Azhar: Jilid 9.

Jamarudin, A. (2019). The prospect of human in the exegeticaL work: A study of Buya Hamka’s Tafsir al-Azhar. Ulumuna: Journal of Islamic Studies Published by State Islamic University Mataram. Vol. 23, No. 1, 2019, p. 24-47, 23(1), 24–47.

Prof. DR. Hamka. (2003). Tafsir Al-Azhar Jilid 3 (Surah al-maidah dan surah al-an’am). In Pustaka Nasional PTE LTD Singapura.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *