Diskusi akan penetapan produk hukum fiqih tentu saja disahkan dalam keadaan moderasi. Sasarannya, produk fiqih yang dilahirkan bertujuan tidak memberatkan serta beracuan kesejajaran dan kesetaraan. Lewat ungkapan lain, hukum fiqih yang dilahirkan bersifat kompatibel dan serasi dengan kondisi masyarakat. (Karim: 2020, 88) Seperti menghadap kiblat dalam sholat, al-Qur’an menguraikan perintah menghadap kiblat dengan jelas. Namun, dalam furu’iyah ilmu fiqih muncul berbagai ikhtilafat (perbedaan) mengenai cara menghadap kiblat dalam sholat. (Zainul: 2018,62)
Profil Ali al-Shabuni
Muhammad Ali bin Jamil al-Shabuni atau lebih dikenal dengan Imam Ali al-Shabuni muncul kala tahun 1928 pada Aleppo, Suriah. Beliau ialah lulusan dua kampus terkenal dengan kredibelitasnya, yaitu Universitas Ummul Qura’ (Makkah) dan Universitas al-Azhar (Mesir). Adapun Imam Ali al-Shabuni meneruskan pendidikan hingga mendapat (S2) dalam bagian Peradilan Islam kemudian menapaki doctoral dengan biaya Kementrian Wakaf Syiria. Setelah menghabiskan masa tersebut, Imam Ali al-Shabuni mengajar pada dua kampus, yaitu Fakultas Syari’ah Umm al-Qura serta Fakultas Ilmu Pendidikan Islam pada Universitas King Abdul Aziz (Putri: 2019)
Karakteristik Tafsir Rawai’ al-Bayan
Tilikan pada tafsir di zaman kontemporer tetaplah tinggi dan selalu bertumbuh. Hal demikian dibuktikan dengan produk tafsir Imam Ali al-Shabuni, Rawai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an. Tafsir tersebut tergolong pada kategori maudhu’i. Adapun kajian yang menjadi fokus ialah ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an. Produk tafsir tersebut juga dianggap sebagai ringkasan dari corak tafsir yang serupa sebelumnya, yaitu Ahkam Al-Qur’an karya al-Jassas, Ahkam Al-Qur’an karya Ibnu ‘Arabi dan Ahkam Al-Qur’an karya al-Baihaqi. (Miatul: 2002)
Tafsir Rawai’ al-Bayan dikarang berdasarkan ayat-ayat ahkam (persoalan-persoalan hukum) dengan perpaduan gaya penafsiran klasik dan kontemporer. Imam Ali al-Shabuni juga memfasilitasi tafsirnya dengan pendapat ulama’ fiqih, hadis, bahasa, usul fiqih, tafsir serta menetapkan kesimpulan pribadi akan sekian pendapat yang disebutkan. Tasfir yang dimaksud tercetak dalam 2 jilid dengan jilid pertama berisi 40 bab dan jilid 2 berisi 30 bab pembahasan. (Nadlif: 2024,403)
Definisi al-Ahkam al-Syari’ah dan Asbabun Nuzul Q. S Al-Baqarah [2]: 142-145
Dalam linguistik, al-Ahkam al-Syari’ah merupakan pemisahan dari term al-hukm dan al-sya’riat. Al-Hukm diartikan sebagai al-Man’u (pencegahan), Qada’ (sebuah keputusan) dan al-Fasl (pemisah). (al-Tantawy: 2001, 45) Hukum disamakan dengan mencegah lantaran intstruksi yang menyuruh sesuatu otomatis melarang perkara yang sebaliknya. Hukum disamakan dengan keputusan lantaran ketetapan hakim yang bersifat mutlak. Adapun hukum disamakan dengan pemisah lantaran berguna mengukur serta membedakan kebijakan hukum (Mustafa: 2013, 30)
Sementara itu, term al-Syari’at (syariat) juga dikaitkan dengan hukum syar’i bersama penetapan objek hukum syar’i yang ditujukan pada mukallaf (hamba yang mencapai kewajiban beribadah dan meninggalkan seluruh larangan syari’at) seperti perintah dan larangan dalam agama. Juga, al-Syari’at dihubungkan dengan penetapan suatu hukum yang memiliki sifat mewajibkan, melarang atau mencegah, menganjurkan dan membolehkan. (Khallaf: 1994, 42) Maka, al-Ahkam al-Syari’ah dikenal sebagai hukum-hukum dalam agama Islam yang ditetapkan kepada pengikutnya.
Imam Ali al-Shabuni dalam penguraian asbabun nuzul ayat yang dimaksud mengutip 2 hadis shahih. Pertama, hadis riwayat Imam Muslim yang menunjukkan bahwa Bara’ bin ‘Azib sholat bersama Nabi Saw selama 16 bulan menghadap bayt al-maqdis hingga turun ayat Q. S Al-Baqarah [2]: 144. Pasca turun ayat tersebut, seseorang beranjak dari tempat tersebut dan melihat kaum Ansar sholat kemudian memberi kabar akan wahyu Nabi tersebut lalu mereka menghadap ke kiblat sebagaimana wahyu yang diterima Nabi Saw. (Muslim: 2013, 67)
Kedua, hadis terkutip dari tafsir Ibnu Katsir yang menunjukkan bahwa Nabi Saw sedang sholat di sekitar bayt al-maqdis dan sering melihat ke langit menanti perintah Allah Swt lalu seketika Allah Swt menurunkan wahyu Q. S Al-Baqarah [2]: 142-145. Kaum muslimin berkata, “Bagaimana dengan sholat kami selama menghadap bayt al-maqdis wahai Nabi Saw?”, kemudian Allah menurunkan ayat “…Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” (Katsir, 83)
Penetapan al-Ahkam al-Syari’ah dalam Tafsir Rawai’ al-Bayan
Pertama, Apa yang dimaksud dengan Masjidil Haram dalam Al-Qur’an? Dalam menguraikan jawaban tersebut, Imam ali al-Shabuni menguraikan sekian pendapat, bahwa yang diinginkan dari Masjidil Haram adalah arah kiblat, seluruh masjid yang ada di muka bumi, kota Makkah dan masjid al-haram. (Shabuni: 2007, 88)
Kedua, Apakah wajib menghadap kiblat (secara mutlak) atau hanya sekadar menghadap arah kiblat dalam sholat? Beliau menjawab, menghadap kiblat adalah wajib keculai pada sholat khauf serta sholat sunnah ketika menunggangi hewan dan di atas kapal. Imam Ali ali-Shabuni juga menguraikan sekian pendapat mazhab, seperti Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali yang menuntut bahwa sholat seseorang wajib menghadap kiblat secara mutlak (tidak cukup dengan arah saja). (Shabuni: 2007, 88)
Ketiga, Apakah sah sholat seseorang yang berada di atas Kakbah? Beliau mengutip pendapat Imam Syafi’i dan Imam Hanbali bahwa, tidak sah sholat seseorang yang sholat di atas Kakbah. Adapun pendapat Imam Hanafi adalah membolehkan sholat di atas Kakbah (dimakruhkan). (Shabuni: 2007, 91)
Keempat, Ke arah mana pandangan seseorang ketika mendirikan sholat? Beliau mengutip pendapat Imam Maliki bahwa, seseorang yang mendirikan sholat menghadap ke arah depan. Adapun pendapat jumhur ulama’, seseorang yang mendirikan sholat disunnahkan menghadap ke arah sujud. Juga pendapat lain, seperti menghadapkan pandangan ke arah sujud ketika berdiri, menghadap ke arah kaki ketika ruku’, menghadap ke arah hidung ketika sujud dan menghadap ke arah pangkuan ketika duduk (iftirasyi maupun tawarruk). (Shabuni: 2007, 91)
Proses hukum yang diamalkan umat Islam bersifat kredibel, hal demikian diistilahkan dengan al-Ahkam al-Syari’ah. Adapun sumber hukum yag dimaksud berasal dari Nabi Saw serta ijtihad para ulama’. Sehingga, hukum dalam syari’at yang diterapkan umat Islam merupakan hukum yang adil dan menyejahterakan serta tidak ditemukan keraguan pada sanadnya.
Daftar Pustaka
Arifin, Zainul. “Toleransi Penyimpangan Pengukuran Arah Kiblat”, Elfalaky: Jrnal Ilmu Falak, Vol. 02, No. 01 (Juni: 2018), 62.
Faqih, Abdul Karim. “Moderasi Fiqh Penentuan Arah Kiblat: Akurasi Yang Fleksibel”, Jil: Lournal Of Islamic Law, Vol. 01, No. 01 (Februari: 2020), 88.
Khallaf, Abdul Wahhab. Ilmu Usul Fiqh. Semarang: Dina Utama, 1994.
Nadlif, Ahmad. “Kajian Tafsir Rawa’iul Bayan terhadap Al-Qurtubi tentang Batasan Mengusap Kepala saat Wudhu: Analisis Intertekstual Julia Kristeva”, AL-FURQAN: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol. 07, No. 02 (Desember: 2024), 403.
Naysaburi (al), Abu Husyan Muslim bin Hajaj al-Qusyairi. Sha>hih al-Muslim. Arab: Mamlakat ‘Arabiyat al-Sa’udiyah, 2013.
Qudsia, Miatul. “Mengenal Rawai’ Al-Bayan, Tafsir Ayat Ahkam Karya Ali Ash-Shabuny”, dalam https://tafsiralquran.id/mengenal-rawai-al-bayan-tafsir-ayat-ahkam-karya-ali-ash-shabuny/; (diakses pada 2 November 2024)
Salma, Putri. “Metodologi Penafsiran Surah Al-Fatihah Menurut Muhammad Ali Ash-Shobuni Dalam Tafsir Rawai’ul Al-Bayan Fi Tafsir Ayat Al-Ahkam Min Alquran”, (Skripsi—UIN Sumatera Utara, 2019)
Shabuni (al), Muhammad Ali. Rawa’i al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an. Kairo: Dar al-Shabun, 2007.
Tantawiy (al), Mahmud Muhammad. Usu>l Fiqh al-Isla>miy. Mesir: al-Maktabah al-Wahbah, 2001.
Zulhas’ari Mustafa, “Determinasi Al-Ahkam Al-Syar’iyah Dalam Tradisi Hukum Islam”, Al-Daulah: Jurnal Hukum dan Perundangan Islam, Vol. 01, No. 02 (Juni: 2003), 31.





