Menyaksikan Yang Ilahi dalam Feminitas: Sachiko Murata Berbicara Perempuan dalam Islam

Bagaimana Islam Memandang Perempuan? Pertanyaan tentang bagaimana Islam memandang perempuan sering memicu perdebatan dan interpretasi yang beragam. Sachiko Murata, seorang sarjana Jepang yang mendalami Islam, menawarkan perspektif menarik melalui bukunya The Tao of Islam. Murata, yang lahir dan dibesarkan di Jepang, memulai perjalanan intelektualnya dengan menempuh pendidikan hukum di Universitas Chiba. Ketertarikannya pada Islam membawanya ke Iran, di mana ia menjadi satu-satunya wanita yang belajar di fakultas teologi di Universitas Tehran pada tahun 1970-an.

Pengalamannya belajar di bawah bimbingan para ulama tradisional Iran, ditambah dengan latar belakangnya dalam tradisi spiritual Timur, memberikannya perspektif unik dalam memahami Islam. Saat ini, sebagai Profesor di Stony Brook University, Amerika Serikat, Murata telah menghasilkan berbagai karya yang menjembatani pemahaman Islam antara Timur dan Barat.

Bacaan Lainnya

Konsep Dasar Menyaksikan Tuhan dalam Tradisi Islam-Sufi

Sebelum memahami pandangan Islam tentang perempuan, kita perlu mengerti terlebih dahulu bagaimana tradisi Islam memahami konsep “melihat” atau “menyaksikan” Tuhan. Dalam tradisi kearifan Islam yang diulas Sachiko Murata melalui bukunya The Tao of Islam (Murata, 1992:192), terdapat konsep fundamental bahwa Tuhan tidak dapat dilihat secara langsung dalam Esensi-Nya sendiri. Konsep ini berakar pada pemahaman bahwa Esensi Tuhan (dzat) bersifat transenden dan melampaui segala bentuk persepsi manusia.

Meski demikian, ini bukan berarti manusia sama sekali tidak bisa “menyaksikan” Tuhan. Para ulama menjelaskan bahwa kita dapat menyaksikan Tuhan melalui tanda-tanda dan manifestasi-Nya dalam alam semesta dan diri manusia sendiri. Pemahaman ini didasarkan pada konsep bahwa seluruh realitas adalah cerminan dari sifat-sifat Tuhan, dan melalui kontemplasi atas realitas ini, manusia dapat memperoleh pemahaman tentang Tuhan.

Perspektif ini mendapat elaborasi mendalam dari Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (Jilid 4, hlm. 294). Ia menegaskan bahwa meski Esensi Tuhan melampaui segala bentuk batasan dan pemahaman manusia, Tuhan telah memberikan jalan bagi manusia untuk mengenal-Nya. Murata (1992:192) menjelaskan lebih lanjut bahwa pengenalan ini dimungkinkan melalui konsep tajalli (manifestasi ilahiah), di mana setiap wujud di alam semesta merupakan lokus penampakan sifat-sifat Tuhan.

Konsep tajalli ini, sebagaimana dijelaskan William Chittick dalam The Sufi Path of Knowledge (Chittick, 1989:375), menjadi kunci penting dalam memahami relasi antara Tuhan dan ciptaan-Nya. Dalam tradisi sufi, tajalli dipahami sebagai proses di mana Tuhan menampakkan diri-Nya melalui berbagai tingkatan realitas, mulai dari yang paling spiritual hingga yang paling material. Ibn al-‘Arabi, yang dikutip Murata (1992:192), mengembangkan pemahaman ini lebih jauh dengan menyatakan bahwa kesaksian paling sempurna diberikan kepada manusia yang paling sempurna (al-insan al-kamil) dan mereka yang mengikuti jejaknya. Konsep ini menjadi penting karena memberikan kerangka teoretis untuk memahami bagaimana manusia, khususnya dalam konteks ini perempuan, dapat menjadi manifestasi kesempurnaan ilahiah.

Posisi Perempuan dalam Kosmologi Islam

Dalam pandangan Murata, posisi perempuan dalam Islam jauh lebih kompleks dan dalam daripada yang umumnya dipahami. Melalui penelitiannya terhadap teks-teks klasik Islam, ia menemukan bahwa tradisi spiritual Islam memiliki pemahaman yang sangat canggih tentang prinsip feminitas. Murata menggarisbawahi bahwa dalam kosmologi Islam klasik, alam semesta dipahami melalui prinsip dualitas yang saling melengkapi—yin dan yang, atau dalam istilah Arab, jamal (keindahan, feminitas) dan jalal (keagungan, maskulinitas). Kedua prinsip ini, menurutnya, sama-sama penting dan merupakan manifestasi dari kesempurnaan ilahiah. Perspektif ini membantah pandangan yang menganggap Islam merendahkan posisi perempuan.

Kesempurnaan Menyaksikan Tajalli Tuhan dalam Sosok Perempuan

Pemikiran tentang hubungan manusia dengan Tuhan dalam tradisi tasawuf menghadirkan perspektif yang mendalam dan unik, terutama ketika membahas konsep penyaksian Tuhan melalui sosok perempuan. Ibn al-‘Arabi, sebagaimana dikutip Murata (1992:193) mengajukan gagasan bahwa menyaksikan kehadiran Tuhan dalam diri perempuan merupakan bentuk penyaksian yang paling sempurna, sebuah pemikiran yang mungkin mengejutkan bagi sebagian orang. Untuk menjelaskan konsep ini, Ibn al-‘Arabi menggunakan metafora cermin yang tidak hanya memantulkan cahaya, tetapi juga mampu menyerap dan mengubahnya menjadi kehangatan – sebuah gambaran yang melambangkan kemampuan perempuan untuk menerima sekaligus memberi, menjadi pasif sekaligus aktif.

Pandangan ini diperkuat oleh Al-Jandi yang menyatakan bahwa kesempurnaan penyaksian ini terletak pada kemampuan perempuan sebagai lokus penerimaan yang juga mampu bertindak aktif, menciptakan keseimbangan unik antara menerima dan memberi. Lebih jauh lagi, Kashani memberikan perspektif yang lebih mendalam, sebagaimana dikutip pula oleh Murata (1992:193) dengan menyatakan bahwa puncak kesempurnaan penyaksian ini termanifestasi dalam hubungan intim, di mana terjadi perpaduan sempurna antara penerimaan dan aktivitas.

Pemahaman ini membawa kita pada kesimpulan bahwa dalam tradisi tasawuf, perempuan dipandang sebagai manifestasi sifat-sifat ilahiah yang paling lengkap dan sempurna. Konsep ini tidak hanya meninggikan kedudukan perempuan dalam dimensi spiritual, tetapi juga menunjukkan kedalaman pemikiran tasawuf dalam memahami hubungan antara manusia dan Tuhan. Dengan demikian, pemikiran para sufi ini memberikan perspektif baru dalam memandang kesucian dan kesempurnaan spiritual yang dapat ditemukan dalam sosok perempuan, sekaligus menantang pandangan-pandangan yang cenderung merendahkan kedudukan perempuan dalam konteks spiritual..

Implikasi Kontemporer dari Pemahaman Spiritual tentang Perempuan

Setelah memahami konsep-konsep spiritual yang mendalam tentang perempuan dalam tradisi Islam, pertanyaan krusial yang muncul adalah: bagaimana pemahaman ini dapat diterjemahkan ke dalam konteks kehidupan kontemporer? Bagaimana perspektif spiritual ini dapat berkontribusi dalam membangun relasi gender yang lebih setara dalam masyarakat Muslim modern?

Dalam pandangan para sarjana modern, pemahaman spiritual yang diwarisi dari tradisi Islam klasik ini membuka dimensi baru dalam memahami posisi perempuan. Perspektif ini melampaui pandangan konvensional yang seringkali mereduksi perempuan hanya sebagai entitas biologis atau sosial. Sebaliknya, tradisi spiritual Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sangat tinggi: sebagai manifestasi kesempurnaan ilahiah yang memiliki peran vital dalam spiritualitas Islam.

Pemahaman ini mendapat artikulasi yang menarik dari Abd al-Rahman Jami, seorang sufi Persia yang dikutip Murata (1992:193). Dalam penjelasannya yang lebih sederhana namun mendalam, Jami menegaskan bahwa dalam diri perempuan, manusia dapat menyaksikan Yang Nyata (al-Haqq) dalam manifestasi-Nya yang paling sempurna. Ini karena perempuan mewujudkan kesatuan paradoksal: sebagai pelaku sekaligus penerima, aktif sekaligus reseptif. Kesatuan ini, menurut Jami, mencerminkan kesempurnaan ilahiah yang melampaui dualitas.

Qaysari, yang juga dikutip Murata (1992:193), membawa pemahaman ini ke tingkat yang lebih radikal. Ia berargumen bahwa pada level realitas terdalam, tidak ada perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan. Maskulinitas dan feminitas, menurutnya, hanyalah manifestasi aksidental dari realitas fundamental yang sama. Pemahaman ini memiliki implikasi revolusioner untuk diskursus gender kontemporer, karena ia menyediakan basis metafisik untuk kesetaraan gender yang berakar dalam tradisi spiritual Islam itu sendiri.

Kontribusi Pandangan Feminis Muslim Kontemporer

Beberapa cendekiawan feminis Muslim kontemporer telah mengembangkan dan memperkaya perspektif spiritual yang diangkat oleh Murata ini. Amina Wadud, melalui karyanya Qur’an and Woman (Wadud, 1999:42-45), menunjukkan bagaimana pemahaman spiritual tentang feminitas dalam Islam dapat menjadi fondasi penting dalam membangun teologi feminis Islam. Menurutnya, konsep dualitas komplementer yang diangkat Murata memiliki akar yang kuat dalam Al-Qur’an dan tradisi Islam, sehingga dapat menjadi landasan teologis untuk memperjuangkan kesetaraan gender tanpa harus meninggalkan kerangka spiritual Islam.

Pemahaman spiritual ini juga diperkuat oleh studi historis Fatima Mernissi dalam The Forgotten Queens of Islam (Mernissi, 1993:107-110). Mernissi mengungkapkan bahwa penghormatan terhadap prinsip feminitas dalam Islam bukan sekadar konsep teoretis, tetapi telah terwujud dalam sejarah peradaban Islam. Ia menunjukkan bagaimana pada masa kejayaan Islam, perempuan memiliki peran signifikan dalam kepemimpinan politik dan spiritual, yang mencerminkan pengakuan terhadap kualitas feminin dalam tatanan sosial Islam.

Melengkapi kedua perspektif di atas, Sa’diyya Shaikh melalui karyanya Sufi Narratives of Intimacy (Shaikh, 2012:155-158) memberikan analisis tentang relevansi pemikiran Ibn al-‘Arabi bagi wacana gender kontemporer. Shaikh mendemonstrasikan bagaimana pemahaman sufi tentang feminitas, khususnya yang dikembangkan Ibn al-‘Arabi, dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun spiritualitas Islam yang lebih inklusif gender. Ia berargumen bahwa tradisi sufi menawarkan bahasa dan kerangka konseptual yang kaya untuk membicarakan kesetaraan gender dalam konteks spiritual, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam diskursus Islam kontemporer.

Pemahaman yang diangkat Murata ini mengajak kita untuk melihat persoalan gender dalam Islam dari sudut pandang yang lebih dalam dan spiritual. Alih-alih terjebak pada perdebatan tentang superioritas satu gender atas yang lain, perspektif ini menunjukkan bagaimana laki-laki dan perempuan dapat saling melengkapi dalam mencerminkan kesempurnaan ilahiah. Di tengah berbagai perdebatan tentang isu gender dalam Islam, pemahaman spiritual semacam ini dapat menjadi jembatan untuk membangun dialog yang lebih konstruktif dan pemahaman yang lebih seimbang.

Kontribusi Sachiko Murata dalam diskursus gender dan Islam sangatlah signifikan. Melalui penelitiannya yang mendalam terhadap teks-teks klasik Islam, ia tidak hanya menawarkan perspektif baru dalam memahami posisi perempuan dalam Islam, tetapi juga memberikan landasan teoretis yang kuat untuk kritik terhadap patriarki. Pemahaman spiritual yang ia angkat menunjukkan bahwa Islam, pada tingkat yang paling dalam, mengakui dan merayakan prinsip feminitas sebagai manifestasi kesempurnaan ilahiah. Di era di mana isu gender menjadi salah satu tantangan utama dalam masyarakat Muslim, pemikiran Murata menawarkan jalan tengah yang menjembatani tradisi dan modernitas, spiritualitas dan keadilan sosial. Perspektifnya membuka kemungkinan untuk membangun masyarakat Muslim yang lebih inklusif dan berkeadilan gender, tanpa harus meninggalkan warisan spiritual Islam yang kaya.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali. (t.t.). Ihya Ulumuddin (Jilid 4). Dar al-Ma’rifah.
Chittick, William C. (1989). The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination. State University of New York Press.
Ibn al-‘Arabi. (t.t.). Al-Futuhat al-Makkiyah. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyya.
Mernissi, Fatima. (1993). The Forgotten Queens of Islam. University of Minnesota Press.
Murata, Sachiko. (1992). The Tao of Islam: A Sourcebook on Gender Relationships in Islamic Thought. State University of New York Press.
Shaikh, Sa’diyya. (2012). Sufi Narratives of Intimacy: Ibn ‘Arabi, Gender, and Sexuality. The University of North Carolina Press.
Wadud, Amina. (1999). Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective. Oxford University Press.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *