Kiai Sholeh Darat, Aksara Pegon, dan Tafsir sebagai Instrumen Pencerahan Islam Nusantara

Dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara, peran ulama lokal dalam mentransformasikan ajaran-ajaran Islam ke dalam kehidupan masyarakat memiliki arti yang penting. Salah satu tokoh sentral dalam proses ini adalah Kiai Sholeh Darat, seorang ulama dari Semarang abad ke-19 yang berperan besar dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat awam Jawa. Khususnya melalui karyanya Fāʾid ar-Raḥmān fī Tarjamah Tafsīr Kalām al-Mālik ad-Dayyān.

Kiai Sholeh Darat tidak hanya menyampaikan ajaran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa, tetapi juga menggunakan aksara Pegon sebagai medium yang khas dan strategis. Pegon adalah aksara Arab yang dimodifikasi untuk menulis bahasa daerah di Indonesia, terutama bahasa Jawa. Dalam konteks ini, tulisan ini mengkaji bagaimana Kiai Sholeh Darat mengadaptasi strategi dakwah berbasis lokal dan kultural, dengan aksara Pegon sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni kolonial dan sebagai sarana pencerahan, termasuk pengaruhnya terhadap tokoh nasional seperti R.A. Kartini.

Bacaan Lainnya

Aksara Pegon dan Jawi sebagai Media Transmisi Ilmu Islam

Aksara Pegon dan Jawi memiliki sejarah panjang dalam perkembangan intelektual Islam di Nusantara. Aksara Pegon adalah bentuk modifikasi huruf Arab yang disesuaikan dengan fonologi bahasa Jawa, sementara aksara Jawi berfungsi serupa dalam tradisi Melayu. Kedua aksara ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen budaya dan keilmuan yang memungkinkan Islam diterjemahkan dalam konteks lokal.

Sejak abad ke-16, aksara ini telah digunakan secara luas oleh para ulama. Di tanah Jawa, tokoh-tokoh seperti Kiai Ahmad Rifa’i, Kiai Sholeh Darat, dan KH. Bisri Mustafa aktif menulis dalam aksara Pegon (Ridwan dkk., 2015: 161). Sementara di kawasan Melayu, tokoh seperti Hamzah Fansuri (1550-1615 M) dan Syekh Arsyad al-Banjari (1710-1812 M) menggunakan aksara Jawi dalam karya-karya sufistik dan fikih. Penggunaan bahasa lokal dan aksara yang dimengerti masyarakat menjadi strategi efektif untuk menyampaikan pemahaman keislaman secara luas. Perbedaan keduanya pada perbedaan bahasa yang digunakan. Jika Pegon menggunakan bahasa Jawa, Sunda, dan Madura. Sementara aksara Jawi masyhur menggunakan bahasa Melayu.

Islah Gusmian (2013: 45) menegaskan bahwa penggunaan aksara lokal dalam penulisan tafsir mencerminkan strategi para ulama untuk mendekatkan ilmu kepada rakyat. Di samping sebagai bentuk perlawanan kepada kolonial yang melarang penduduk pribumi untuk belajar dan berkembang. Ini Juga merupakan bentuk penerjemahan budaya yang canggih, karena bukan hanya menerjemahkan bahasa, tetapi juga mentransformasikan cara berpikir teologis ke dalam kerangka lokal.

Tafsir Fāʾid ar-Raḥmān: Karya Pencerahan Kiai Sholeh Darat

Masa kelahiran dan pertumbuhan Kiai Sholeh Darat bertepatan dengan periode krusial dalam sejarah Nusantara, di mana tensi antara perlawanan pribumi dan ekspansi kolonial Belanda mencapai titik kulminasi. Kondisi ini secara signifikan mempengaruhi pembentukan worldview dan metodologi dakwahnya di kemudian hari, yang mengedepankan pendekatan kultural tanpa mengabaikan semangat perlawanan terhadap hegemoni kolonial.(Aziz, 2021: 78-80)

Di dalam sejarah Islam Nusantara abad ke-19, munculnya Syekh Muhammad Shalih bin Umar as-Samarani, atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Sholeh Darat. Ia menjadi titik penting dalam perkembangan intelektual Islam di Jawa. Lahir pada tahun 1820 M/1235 H di Desa Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara Jawa Tengah. Kehadirannya mencerminkan pertemuan yang harmonis antara tradisi pesantren di Jawa dengan arus pembaruan Islam yang datang dari Haramayn. (Muslih, 2019: 38)

Salah satu warisannya yang monumental adalah Tafsir Fāʾid ar-Raḥmān, tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon yang berisi tafsir Al-Quran dengan metode penafsiran isyari dari QS. al-Fatihah hingga an-Nisa saja yang dibagi menjadi dua jilid. Hal itu bukan karena unsur kesengajaan, namun karena Kiai Sholeh Darat wafat terlebih dahulu sebelum sempat menyelesaikan tafsirnya pada tahun 1903.

Karya tafsirnya ini ditujukan bagi masyarakat awam agar bisa memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an yang selama ini hanya dibaca secara tartil tanpa dimengerti. Walaupun jika penulis kaji secara saksama, dalam kitab tafsirnya tersebut, Kiai Sholeh sering menggunakan istilah dalam bahasa Arab yang mungkin memang sebuah idiom baku sehingga ia tidak merasa perlu untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal. Seperti halnya dapat di lihat pada foto teks aslinya cetakan terbaru yang telah ditahkik oleh Dr. H. Habib Kamil, S.Ag, M.Ag salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di bawah pada lafal “Hudur”, “Hudur daiman”, “Birrububiyah”, “Bil-’ubudiyyah”, dan “Daimul Hudur”.

 

Foto Kitab Tafsir Fāʾid ar-Raḥmān Bagian Makna Isyari

Penulisan Tafsir Fāʾid ar-Raḥmān ini berangkat dari kegelisahan Kiai Sholeh terhadap kondisi umat Islam yang terasing dari makna Al-Qur’an. Tafsir ini juga dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kolonialisme Belanda membatasi akses masyarakat pribumi terhadap ilmu agama, bahkan terhadap bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.

Kiai Sholeh menjadikan aksara Pegon sebagai pilihan strategis. Di satu sisi, Pegon mampu menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat Jawa dengan bahasa mereka sendiri. Di sisi lain, tulisan Pegon tidak mudah dibaca oleh pemerintah kolonial yang tidak memahami struktur fonetis bahasa Jawa dalam huruf Arab, sehingga menjadi semacam bentuk coded resistance (perlawanan terselubung).

Pengaruh Kiai Sholeh Darat terhadap R.A. Kartini

Kiai Sholeh Darat tidak hanya dikenal sebagai guru dari para pendiri ormas besar seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk pandangan keislaman R.A. Kartini. Berdasarkan kajian Ali Mas’ud Kholqillah (2018: 107), Kartini menghadiri pengajian Kiai Sholeh Darat di Pendopo Bupati Demak. Pengajian tersebut berisi penjelasan tafsir surat al-Fatihah dalam bahasa Jawa Pegon. Tafsir ini membuka cakrawala berpikir Kartini, yang sebelumnya merasakan agama sebagai doktrin yang gelap dan membelenggu.

Kartini mengungkapkan rasa syukurnya karena akhirnya bisa memahami isi Al-Qur’an. Pengalaman ini tercermin dalam ungkapan yang menjadi judul kumpulan suratnya: Habis Gelap Terbitlah Terang. Ungkapan ini memiliki resonansi spiritual dan teologis, yang dapat dikaitkan dengan QS. al-Baqarah [2]: 257: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya (min azh-zhulumāt ilā an-nūr) (Ahmad, 2012: 79).”

Walaupun nama Kiai Sholeh tidak eksplisit disebut dalam surat-surat Kartini, pengaruhnya terhadap perubahan paradigma keislaman Kartini sangat signifikan. Ia memperkenalkan Islam sebagai agama yang rasional, penuh kasih sayang, dan tidak bertentangan dengan kemajuan akal budi perempuan.

Aksara Pegon sebagai Perlawanan Budaya terhadap Kolonialisme

Lebih jauh, Pegon bukan hanya sarana komunikasi keagamaan, tetapi juga bentuk perlawanan budaya terhadap hegemoni kolonialisme Barat. Dalam konteks politik kolonial, segala bentuk pendidikan dan komunikasi diawasi dan diarahkan agar tidak menimbulkan kesadaran kritis. Penggunaan Pegon secara sadar oleh Kiai Sholeh dan ulama lainnya merupakan bentuk resistensi kultural terhadap upaya dominasi tersebut.

Muchoyyar HS (2002: 79) mencatat bahwa penggunaan bahasa Jawa dalam huruf Arab Pegon merupakan strategi untuk menyampaikan pesan-pesan penting tanpa diketahui penjajah. Strategi ini menunjukkan kecanggihan para ulama dalam menyiasati tekanan politik dan kebudayaan.

Dalam kerangka ini, teori Benedict Anderson (2006: 24) dalam Imagined Communities relevan untuk dibawa. Anderson menekankan bahwa bahasa dan bentuk-bentuk komunikasi lokal memainkan peran penting dalam membentuk kesadaran kolektif dan imajinasi nasional. Aksara Pegon dan Jawi menjadi bagian dari print capitalism Islam lokal yang membentuk identitas komunitas muslim Nusantara di tengah penjajahan.

Islam Nusantara yang Membumi dan Adaptif

Kiai Sholeh Darat melalui Fāʾid ar-Raḥmān dan penggunaan aksara Pegon, menunjukkan bahwa Islam di Nusantara tumbuh dalam ruang budaya yang kaya, adaptif, dan kontekstual. Penggunaan bahasa lokal, strategi tafsir membumi, serta keterlibatan dengan dinamika sosial seperti emansipasi perempuan menunjukkan bahwa Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran universal, tetapi juga sebagai kekuatan lokal yang menyentuh kehidupan konkret masyarakat lokal.

Aksara Pegon dan Jawi, dengan segala keterbatasannya, menjadi penanda kuat dari upaya intelektual dan spiritual untuk menjadikan Islam relevan, ramah, dan inklusif sesuai zaman dan tempatnya. Kajian dan pelestarian terhadap warisan ini tidak hanya penting untuk historiografi, tetapi juga untuk membangun kembali jembatan antara Islam dan realitas lokal hari ini. Khususnya di Jawa dan Indonesia pada umumnya.

Referensi

Ahmad Rifa’i Hasan, Islam, Jawa, dan Kartini: Kajian Hermeneutika Historis terhadap Tafsir al-Fātiḥah karya Kiai Shaleh Darat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.

Anderson, Benedict. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso, 2006.

Aziz, Munawir, “Politik Pendidikan Islam: Kiai Sholeh Darat dan Kolonialisme Belanda.” Journal of Indonesian Islam 15, no. 1 (2021).

Gusmian, Islah. Khazanah Tafsir Indonesia: Dari Hermeneutika hingga Ideologi. Yogyakarta: LKiS, 2013.

Kholqillah, Ali Mas’ud. Kartini dan Tafsir Al-Fatihah: Membaca Peran Kiai Sholeh Darat dalam Pencerahan Keagamaan. Semarang: Pustaka Aksara, 2018.

Muchoyyar, H.S. Kiai Sholeh Darat: Pejuang yang Dilupakan. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002.

Muslih, Muhammad. “Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX M.” Jurnal Studi Islam 11, no. 2 (2019).

Ridwan, M., dkk. Tafsir Lokal dan Dinamika Keilmuan Islam Nusantara. Yogyakarta: SUKA Press, 2015.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *