History Of Idea dan Keniscayaan Konstruktivisme dalam Analisis Produk Tafsir

Produksi sebuah ide dalam bentuk teks tidak akan terlepas dari ruang dan waktu. Kesadaran si penulis yang bersifat primordial – bagi Heidegger, lalu pemahaman yang bersifat primordial (Hardiman, 2015: 122) – dan natural menuntunnya dalam mewarnai teks yang ia hasilkan. Kesadaran tersebut terbentuk melalui pengalaman akan sesuatu di mana sesuatu itu menimpa, meliputi, menerpa, dan mentransformasikan si penulis (Bagir, 2011: 163). Misalnya, seorang yang tumbuh pada lingkungan ideologi tertentu akan berpikir, bertindak, dan terartikulasi dalam bingkai ideologi tersebut (Hardiman, 2015: 118).

Dalam memahami sebuah teks, seseorang tidak bisa langsung memahami apa yang tertulis dalam teks melalui penangkapan indranya, namun harus melalui lompatan zaman di mana teks tersebut diproduksi dan bagaimana ia mempengaruhi masa setelahnya (Hardiman, 2015: 123). Bagi Heidegger, cara kerja tafsir seperti ini merupakan bagian dari hermeneutika faktisitas yang memosisikan interpretasi sebagai kerja proyektif (Hardiman, 2015: 124).

Bacaan Lainnya

Cara kerja yang demikian menyebabkan teks tidak lagi dipotret secara positivistik yang hanya mencari obyektivitas semata, karena hal ini akan membawa sebuah analisis yang mereduksi makna. Atas dasar tersebut, aliran konstruktivisme dalam paradigma ilmu mulai muncul ke permukaan dan mengajukan gagasan bahwa realitas merupakan bangunan yang holistik dan meaningful disebabkan konflik dan dialektika yang dikandungnya.

Realitas bagi konstruktivisme adalah konstruksi mental berdasarkan pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik – tidak seperti positivisme yang cenderung general – serta tergantung pada orang yang melakukannya. Alhasil, hubungan pengamat dan objek menjadi satu kesatuan (Muslih, 2016: 94). Senada dengan paradigma konstruktivisme tersebut, pemahaman dan interpretasi sebagai manifestasinya—bagi Heidegger tidak lagi memisahkan subjek dan objek (Bagir, 2011: 152).

Model Analisis History of Idea Arthur O. Lovejoy

Dalam menganalisis teks, perspektif History of Idea dapat digunakan sebagai salah satu pisau analisis dalam melacak apa yang disebut positivisme sebagai “fakta historis”. Ia memberikan tawaran tersendiri dalam pembacaan teks tafsir di tengah giat pembacaan objektif teks yang kokoh di bawah fondasi pemikiran Schleiermacher dan Dilthey. Gagasan yang digagas oleh Arthur O. Lovejoy ini menawarkan konsep bahwa sebuah ide bukanlah sumber dari realitas, namun ia melihat ide sebagai produk dari realitas.

Lovejoy berangkat dari sebuah keraguan apakah ide mendahului realitas atau realitas yang melahirkan ide (Randall, 1963: 475). Pernyataan bahwa ide bagi Plato – the good (Pierre Grimes, 1997) – mendahului realitas memberikan kesan bahwa ide tidak akan berubah oleh keadaan apa pun. Sebagai jawaban dari keraguan tersebut, Lovejoy  mencoba menganalisis variasi term “Romanticisms” yang mengalami dinamika pada konteks yang berbeda.

Analisis yang ia lakukan mengarahkannya dalam melahirkan gagasan “kompleksitas ide”. Gagasan ini menemukan bahwa makna “Romantic” mengalami dinamika pada wilayah dan konteks yang berbeda-beda. Ia mengalami perubahan dan pergeseran makna dari waktu ke waktu (Randall, 1963: 476).

Dalam bukunya, The Meaning of Romanticism for The Historian of Ideas, ia menemukan adanya perbedaan makna term “Romanticism” antara Early German Romanticism dan pendapat lain tentang “Romanticism” (Lovejoy, 1941: 258). Adanya konsiderasi Lovejoy terhadap sejarah dan signifikansinya kepada pemaknaan yang lahir di masa selanjutnya menjadi niscaya. Hal ini sekaligus mendukung interpretasi proyektif dalam Faktisitas Heidegger.

Dalam konsep History of Idea, seorang peneliti harus cermat dalam menentukan term yang sering muncul dan krusial dalam teks dengan analisis logis. Analisis ini dilakukan dengan meneliti secara cermat istilah-istilah yang mencerminkan ide pokok dan mengidentifikasinya, sehingga ide tersebut dapat diidentifikasi di mana ia muncul, seperti di konteks yang berbeda, menggunakan label atau frasa yang berbeda, atau di aliran pemikiran yang berbeda (Lovejoy, 1941: 262).

Cara ini membantu peneliti dalam menentukan apa dan bagaimana ide-ide yang berbeda diekspresikan oleh penggunanya melalui term-term tertentu dan bagaimana term-term tersebut saling berhubungan, karena bisa saja sebuah kata, teori, atau frasa digunakan oleh penulis berbeda dengan nalar yang berbeda pula. Kedua, mencari hubungan dari ide-ide tersebut. Pencarian hubungan ini didasari pada tiga landasan; landasan logis, psikologis, dan historis. (Lovejoy, 1941: 264).

Landasan logis menghubungkan satu ide dengan ide yang lainnya dengan menelusuri implikasi atau antitesis dari ide-ide tersebut. Caranya adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut; apa yang secara logis diasumsikan oleh ide ini?, apa maksudnya? ide apa yang secara implisit berbeda dengan ide tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk menemukan implikasi dari ide tersebut.

Namun, dalam menemukan implikasi dan hubungan antar ide, sering kali ditemukan aspek-aspek yang tidak cukup logis, seperti tendensi dan kecenderungan penulis yang dapat diidentifikasi oleh peneliti melalui kesamaan idenya dengan ide-ide pendahulunya atau penggunaan term yang ambigu dengan maksud untuk membangkitkan ide-ide lain. Meski demikian, aspek psikologis cenderung bersifat dugaan (hipotesis), sehingga kemungkinan perspektif subjektif peneliti lebih besar dari pada perspektif objektif peneliti (Lovejoy, 1941: 265).

Setelah menemukan hubungan logis dan psikologis antar ide, peneliti kemudian dituntut untuk kembali ke data-data sejarah dalam rangka mengobservasi sejauh mana hubungan logis antara ide-ide tersebut. Pada dasarnya, ide-ide tersebut merupakan manifestasi operasional dari kecenderungan pemikiran suatu zaman. Oleh karena itu, hubungan psikologis ikut mempengaruhi pembentukan ide-ide tersebut, sehingga peneliti perlu mengamati bagaimana hubungan psikologis ini bisa terlihat dari pikiran para juru bicaranya (Lovejoy, 1941: 266).

Jika beruntung, maka peneliti akan membedakan satu ide yang secara genetik berbeda dengan yang lain. Temuan ini kemungkinan membuka ruang bagi peneliti untuk mengakses sisi alamiah dari transisi pemikiran yang dengannya, satu ide dapat memunculkan ide lain yang berbeda dan kombinasi apa yang dilakukan dalam prosesnya menghasilkan kompleksitas ide (Lovejoy, 1941: 266).

History of Idea sebagai Alat Analisis Produk Tafsir

Adanya kompleksitas ide dan bagaimana tiga landasan dalam mencari hubungan antara ide dilibatkan menunjukkan bahwa subjek tidak bisa melihat objek apa adanya seperti yang diidealkan oleh positivisme, bukan juga subjek hanya melibatkan diri dengan objek dalam proses pengamatan sebagaimana yang diidealkan post-positivisme. Kompleksitas ide itu meniscayakan adanya konstruksi dalam produksi ide, termasuk produksi teks tafsir sebagai hasil interpretasi mufasir.

Dalam khazanah keilmuan tafsir, history of idea bukanlah sesuatu yang baru. Ia pernah disematkan kepada karya Ignaz Goldziher, Madzāhib at-Tafsīr al-Islāmī. Penyematan tersebut dilakukan oleh Mustaqim dengan alasan karena karya Goldziher memaparkan secara historis dinamika fokus kajian dalam karya-karya tafsir dari awal mula ia dibukukan (masa tadwīn) sampai modern. Singkatnya, Mustaqim menyebut dinamika tersebut sebagai bentuk sejarah ide, di mana idenya adalah fokus kajian dalam karya-karya tafsir sesuai dengan periodisasinya (Mustaqim, 2010: 22-24).

Atas dasar pijakan yang sudah disusun oleh Goldziher, Mustaqim mencoba mengonstruksi sejarah ide tersebut dalam bentuk epistemologi perkembangan tafsir yang diadopsi dari karya-karya Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur. Dengan pendekatan historis-filosofis model strukturalisme genetic, Mustaqim tidak hanya menjadikan unsur dari teks sebagai satu-satunya objek penelitian, namun ia mengikutsertakan akar-akar historis dan kondisi sosio-historis tokoh dalam pembacaannya (Mustaqim, 2010: 28).

Catatan Akhir

Seseorang yang meneliti produk pemikiran secara umum dan produk penafsiran secara khusus tidak bisa hanya dengan kacamata positivistik saja, namun kacamata konstruktivisme yang meniscayakan adanya bangunan yang menjadi struktur sebuah objek kajian berupa akar historis ataupun kondisi sosio-historis, menjadi unsur yang jika diabaikan akan menghasilkan kecacatan dalam hasil penelitian

Pada akhirnya, melalui tulisan ini, penulis menegaskan bahwa kajian terhadap produk tafsir menjadi semakin dinamis ketika tracing terhadap sejarah menjadi salah satu langkah kerja penelitian terhadap suatu karya tafsir. Dengan kata lain, pembacaan terhadap karya tersebut tidak hanya fokus pada hasil penafsirannya saja dan kemudian hasil penafsiran tersebut menjadi satu-satunya dasar pemahaman kita terhadap suatu hasil penafsiran, namun unsur yang mengonstruksi hasil penafsiran tersebut menjadi objek yang harus ditelusuri.

Referensi

Bagir, Haidar (2011). “ Perolehan Pengetahuan sebagai Pengalaman Eksistensial “Subjektif”” dalam Dari Kosmologi ke Dialog: Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme, Ihsan Ali-Fauzi dan Zainal Abidin Bagir (ed.). Jakarta Selatan: Mizan.

Hardiman, F. Budi (2015). Seni Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius.

Lovejoy, Arthur A. (1941). “The Meaning of Romanticism for the Historian of Ideas” dalam Journal of the History of Ideas. Vol 2, No. 3.

Muslih, Mohammad (2016). Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Lesfi.

Mustaqim, Abdul (2010). Epistemologi Tafsir Kontemporer.Yogyakarta: LKiS.

Randall, John Herman (1963). “Arthur O. Lovejoy and the History of Ideas” dalam Internasional Phenomenological Society. Vol. 23, No. 4.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *